Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu

Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu
105# Percakapan Jordan dan Panji


__ADS_3

Vanesa merawat Hasby yang demam dengan penuh perhatian dan kelembutan. Di malam hari, wanita itu menjaga suaminya semalaman dengan mengompres keningnya menggunakan air bersuhu sedang, selain dia memberikannya penanganan terbaik, Nafsah juga ikut berperan untuk berganti jaga guna tidak membuat Vanesa terlalu lelah.


Hingga pada pukul 12 malam, Nafsah dan Vanesa memutuskan untuk menginap di kamar kakaknya dan tidur dengan kasur lantai. Nafsah baru saja terlelap, tidak dengan Vanesa yang saat ini sedang duduk di kursi dekat ranjangnya Hasby, wanita itu menyuruh sang adik ipar untuk tidur terlebih dahulu agar tidak terlambat esok hari, kan tidak lucu jika dirinya dihukum telat karena terlambat bangun habis menjaga orang sakit, terlebih Hasby dan Vanesa kan masih mendapat cuti yang diizinkan langsung oleh Bayu sebagai pemilik Universitas.


“ Hasby, Hasby.. kamu kenapa ya suka nyembunyiin rasa sakit? padahal kan tinggal ngomong aja, toh bukannya ngurangin rasa khawatir, kamu yang tertutup ini malah bikin orang tambah was-was tau gak “.


Vanesa mengusap lembut kepala Hasby, pemuda tertidur itu mungkin tidak sadar dan tidak merasakan tangan Vanesa yang membolak-balik rambutnya, ditengah kegiatan tersebut, vanesa tersenyum, nampak menikmati wajah tampan Hasby yang imut meski masih ada rona pucat. Dari situ Vanesa teringat tentang kilas balik pertemuan mereka, yang mana saat pertama kali Hasby menjemputnya ke bandara, Ia mempunyai sifat yang bisa dibilang sangat menyebalkan, Vanesa tertera, entah kenapa dirinya merasa salut pada Hasby yang dapat menahan emosi kala itu, terlebih mendapat kelakuan yang tidak pantas dan bentakan setiap saat, mungkin jika Vanesa jadi Hasby, dirinya tidak akan pernah sesabar pria yang kini sedang berbaring.


“ Haha... kamu inget gak Hasby? Waktu pertama kali kita ketemu aku super jutek lho, bahkan ngeselin nya minta ampun, kok bisa ya kamu sesabar itu? “. Gumam Vanesa.


“ Hm... jadi Nostalgia deh, pas kejadian kamu nganter aku ke mall, terus insiden penjahat itu, kabar kamu dan aku dijodohin... terus kamu sama aku ke KAU, terus kita jalan-jalan... ternyata udah banyak kejadian banget ya selama ini “. Lanjutnya.


Vanesa tersenyum, kembali menatap dan mengelus rambut Hasby. “ Semoga kamu bisa sembuh ya... my husband “.


Disaat yang bersamaan, kini tengah masuk seorang wanita yang baru habis dari dapur ke kamarnya, dan disamping itu muncul seorang pria yang baru keluar dari kamar mandi, badan tegapnya tertutup handuk dari batas pinggang sampai lutut, rambutnya basar dan wajahnya nampak segar, ia berjalan menuju meja dan mengambil alat pengering.


“ Ibu abis dari mana? “ Tanya pria itu ditengah kegiatan mengeringkan rambut.


“ Dari dapur, ibu abis masak sesuatu... katanya anak kita mau kesini siang nanti, jadi ibu siap-siap deh “.


“ Iya kah?, dia sama tunangannya gak? “.


“ Gak tau juga tuh “.


Kring...kring...


Ditengah pembicaraan, salah satu ponsel mereka berbunyi, mereka cukup heran siapa orang yang menelpon di pagi hari seperti ini, namun tidak terlalu mempermasalahkan, si Wanita langsung mengambil ponsel tersebut yang berada di atas nakas.


“ Ayah, ada telpon nih “. Ucap seorang wanita.


“ Dari siapa? “.


“ Em... eh!, ini dari bang Panji, Yah “.


Seketika itu juga, pria yang awalnya sedang memakai baju bergegas mendekat ke arah wanita tadi, dilihatnya layar ponsel dan menampilkan nama ‘Tuan Panji’, yaitu orang yang menelponnya saat ini. Tidak menunggu lebih lama, pria itu segera mengangkat telepon. Dan sedikit informasi, dia itu ternyata adalah Jordan, ayah dari Vanesa, sementara wanita yang berada disampingnya adalah Zihan.


“ Halo? “. Ucap Jordan mengawali obrolan, sementara Zihan memilih untuk duduk di kasur.


“ Hallo Jodi, maaf saya ganggu, apa kamu lagi sibuk? “. Ucap orang di sebrang telepon. Kalian tau Panji?, dia itu pamannya Hasby dan Nafsah. Kakak dari mendiang ibunya, Hany.


“ Oh... gak papa kok bang, saya lagi senggang, ngomong-ngomong ada perlu apa bang Panji nelpon pagi-pagi? “.


“ Saya mau ngomongin perihal Hasby “.


“ Hasby? Memangnya dia kenapa? “.


“ Apa kamu tau kalau dia lagi sakit? “.


“ Ha? sakit kenapa? apa dia kecapean karena kejadian tempo hari? “.


“ Ini bukan karena hal itu, masalahnya dia sudah sakit sejak lama “.

__ADS_1


“ Sakit sejak lama?, maksudnya? “.


“ Dia punya penyakit keras “


Deg


“ Apa?! “


Jordan mematung, tubuhnya membeku seolah tidak bisa digerakkan dengan bebas, jantungnya berpacu cepat, terkejut sekaligus tidak menyangka dengan apa yang ia dengan dari Panji, apa maksud dari Hasby punya penyakit keras?, bukankah selama ini pemuda itu terlihat sehat-sehat saja?, tapi... tidak mungkin kan Panji membual tentang fakta tersebut, berarti selama ini Hasby menyembunyikan penyakitnya rapat-rapat?.


“ Bang... apa bener yang dibilang abang itu kenyataan?, saya liat anak itu selalu sehat dan baik-baik aja, tapi kenapa tiba-tiba saya denger kalau dia punya penyakit? “. Tanya Jordan membuat Zihan mengernyitkan dahi.


‘ Sebenernya mereka lagi ngebahas siapa? kok ngomongin perihal penyakit sih? ‘. Batin Zihan.


Karena tidak bisa mendengar ucapan Panji di sebrang telepon, Zihan hanya bisa mengamati pembicaraan satu arah dari Jordan saja. Lama suaminya berbicara, Zihan mengambil sebuah buku sambil membagi fokus untuk mendengarkan obrolan suaminya, sedikit hal yang ia mengerti saat ini, sepertinya Jordan diberitahu oleh Panji bahwa seseorang yang dikenalnya mengalami suatu penyakit, dari alur percakapan, Presdir dari group ‘Syah’ itu meminta kerjasama Jordan untuk membujuk orang yang bersangkutan agar mau melakukan operasi, dan sekitar 10 menit kemudian, pria yang berada di sampingnya itu pun mengakhiri telepon dengan helaan nafas.


“ Huft... hah... Ya ampun, kenapa dia nyembunyiin hal itu? “ Ucap Jordan sambil mengusap kasar wajahnya.


“ Ada apa Yah? “.


Jordan menengok, melihat kearah Zihan yang memanggil namanya beberapa detik yang lalau, dikala ia tatap mata istrinya, Jordan khawatir ketika ia harus menjelaskan fakta tentang Hasby pada wanita ini, jika tebakannya tidak salah, Zihan pasti akan sangat terkejut dibuatnya.


“ Jadi gini Zihan... sebenarnya... “


***


Hasby membuka mata, pandangannya menangkap atap-atap rumah yang bernuansa warna putih, sudah jelas ia sedang berada dikamar, sedikit demi sedikit mengumpulkan nyawa yang masih berkeliaran di alam mimpi, pemuda itu bangkit mendudukkan tubuh dengan perasaan dan kondisi badan yang terasa lebih fresh dari kemarin malam.


Hasby menutup mulut, mencegah teriakan yang awalnya hendak keluar dari kerongkongan, posisi apa-apaan ini?, bukankah istrinya terlihat sangat imut ketika dia sedang tidur?, terlebih wajahnya yang damai membuat Hasby merasa gemas sampai ingin sekali rasanya dia mencubit pipi Vanesa, tapi sayangnya dia tidak bisa, karena kalau melakukan hal tersebut tidur wanita disampingnya bisa marah.


Dengan pelan, Hasby mengulurkan tangannya menuju kepala Vanesa, dielusnya rambut lembut sang istri, permukaan itu terasa sangat halus dan nyaman untuk dibelai.


“ Engh.... “.


Vanesa terusik, Hasby panik dan hendak menarik tangannya untuk menjauh dari Vanesa, namun tepat sebelum pemuda itu melakukan hal tersebut, tangan wanita yang saat itu tertidur dengan cepat mencekal pergelangan lengan Hasby.


“ Kok berenti~ kenapa gak lanjut aja? “ Ucap Vanesa dengan kondisi mata tertutup masih mengantuk.


Hasby yang melihat itu hanya tertawa tanpa suara, sepertinya wanita yang ada di sampingnya ini sudah menjadi gadis manja, terlebih melihat raut wajahnya yang lelah, Hasby menduga kalau Vanesa telah menjaganya semalaman.


“ Kalau mau tidur jangan di situ Van... sini di kasur “. Ucap Hasby sambil kembali mengelus rambut Vanesa.


“ Aku udah ‘PW’ By... gini aja deh “.


‘ Ya Allah... istri gue kenapa imut gini sih?, pake segala manggil nama gue ujungnya doang lagi, kan kesannya kayak panggilan sayang ‘. Batin Hasby dengan kondisi wajah yang warnanya sudah seperti kepiting rebus.


“ Vanesa... nanti kamu masuk angin, kan gak lucu kalau aku baru juga sembuh malah kamu yang gantian sakit “.


“ Iya deh~ “.


Vanesa bangkit dari posisi awal, ia mengucek matanya sejenak dan naik ke ranjang, meski awalnya sedikit gugup, Hasby sang pemilik kasur itu nampak sedikit kaget namun setelahnya tersenyum ketika melihat Vanesa nampak nyaman tidur di kasurnya. Dilihat jam dinding yang saat ini menunjukan pukul 4 pagi, Hasby bersandar di kepala ranjang sambil menunggu adzan subuh tiba, seraya waktu berjalan dengan cepat, perhatian Hasby tidak pernah lepas dari Vanesa yang saat ini menggenggam pelan tangannya.

__ADS_1


“ Haha... pasti dia cape karena jaga gue semaleman “. Gumam Hasby.


Beberapa menit kemudian, ditengah kegiatan yang tidak ada bosannya bagi Hasby menatap Vanesa, waktu adzan subuh yang ditunggu-tunggu pun tiba, segera setelah itu Hasby bangkit dan berwudhu hendak melaksanakan solat, hingga sampai pada kegiatannya yang mengenakan sarung dan menggelar sajadah, Hasby pun memulai sholatnya dengan diawali takbiratul ihram.


~


Pukul 6 pagi


Nafsah kini sedang bertempur dengan alat masak, tapi daripada bertempur, gadis itu mungkin lebih cocok dengan bersahabat dengan alat masak, karena hasil makanannya yang sangat enak, bukan tidak mungkin semua benda yang berada di dapur adalah teman sehari-hari Nafsah. Ditengah kegiatan menggoreng tahu dan tempe untuk ia campurkan ke bahan telur balado, Hasby datang dengan kondisi rambut basah tanda bahwa dia telah mandi, dari situ perhatian Nafsah kini tertuju sepenuhnya pada sang kakak, dirinya sempat khawatir karena kemarin malam Hasby menderita demam yang lumayan parah, namun ia bersyukur kalau pria yang ada didepannya kini baik-baik saja.


“ Kamu udah baikan kak? “ tanya Nafsah meninggalkan masakannya.


“ Alhamdulillah... kakak udah baikan, maaf yang udah buat kamu khawatir “.


“ Kamu gak usah minta maaf kak, oh iya by the way kak Vanesa mana? Kok belum turun “.


“ Dia ada di kamarnya, mungkin sekarang lagi mandi... dan... kakak mau nanya nih Naf “.


“ Nanya apaan? “.


“ Si Vanesa kemarin malam cukup tidur gak? “ Tanya Hasby setelah mendudukkan tubuh di kursi meja makan.


“ Em... aku gak tau pasti kak, soalnya aku cuma nemenin kak Vanesa sampe jam 12 aja, hehe.. “ Jawab Nafsah dengan cengengesan.


“ Ya ampun... berarti kalian begadang dong, harusnya pikirin diri kalian sendiri “.


“ Ya mau gimana lagi, namanya juga khawatir kan gak bakalan inget apa-apa “.


“ Huft... hah... entar jangan sampe ngulang hal ini lagi ya, kebiasaan deh... untungnya kalian gak apa, gimana kalau_... hm?, bau gosong apaan nih? “.


Hasby dan Nafsah diam sejenak mencari sumber bau gosong, hingga satu detik kemudian keduanya menoleh serempak ke arah kuali yang kini sudah memunculkan banyak asap.


“ Kakak makanannya gosong!!!! “.


“ Nafsah makanannya gosong!!!! “.


Ucap mereka bersamaan.


Nafsah mematikan kompor, dengan cepat ia tiriskan tahu yang sudah tak berbentuk itu, makanan yang awalnya hendak ia masak dengan enak hancur lebur menjadi abu, meskipun aslinya tidak sampai hancur, namun warna gosongnya ini nih yang tidak dapat Nafsah anggap sebagai makanan.


“ Yah... kakak sih ngajak aku ngobrol, jadi gosong kan “. Ucap Nafsah menggerutu.


“ Lah kok aku yang salah? “. Tanya Hasby bingung, padahal dari tadi ia tidak melakukan apa-apa lho.


“ Kalau kamu gak ngajak aku ngobrol kan pasti gak bakalan kayak gini, untung aja enggak semua hangus karena sisanya digoreng duluan “.


Hasby kebingungan, sebenarnya siapa sih orang yang bersalah tentang hal ini?, padahal menurut pengamatan nya, Hasby hanya masuk ke dapur dan mendapat pertanyaan dari Nafsah bagaimana untuk keadaannya, ya tentu saja Hasby kala itu langsung menjawab dan melanjutkan obrolan, toh dia mana tahu kalau Nafsah tengah menggoreng sesuatu yang mudah cepat gong.


‘ Kok malah gue yang disalahin sih? ‘.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2