
saat mengusap kepala Hasby, Vanesa merasa bahwa rambut yang ia sentuh sangat lembut, biasanya rambut seorang pria bertekstur sedikit kasar dan helainya tebal, namun beda hal nya dengan rambut Hasby yang ia pegang sekarang, tidak hanya lembut, rambut Hasby juga hitam mengkilap serta sedikit lebih tipis dari rambut pria pada umumnya.
' Rambutnya lembut juga...malah lebih lembut dari rambut gua...'.
saat Vanesa merasa sudah mengamati kepala Hasby, ia berniat menarik dirinya, namun...ketika melihat wajah merah Hasby yang berada di hadapannya, seketika itu juga ia terdiam tanpa berkata apa-apa.
sama hal nya juga dengan Hasby yang hanya diam saja melihat wajah Vanesa, keduanya memiliki pemikiran masing-masing, jika Hasby merasa canggung karena jarak antara mereka berdua terlalu dekat, beda hal nya dengan Vanesa yang tertegun melihat wajah imut Hasby yang merah.
" uhuk...uhuk...uhuk...ekhkm...aduh, tenggorokan ayah kenapa gatel ya bu?..." ucap Jordan yang terbatuk-batuk membuat Vanesa dan Hasby tersadar dan langsung menjauhkan diri satu sama lain.
" Ayah...batuk nya pelanin dong...kan ganggu momen orang..." ucap Zihan dengan nada seperti orang yang sedang mengejek.
" Iya maaf bu...ayah gak sengaja..." ucap Jordan yang kini memasang senyum jahil.
setelah kejadian itu, Vanesa dan Hasby kini saling diam seribu bahasa, tidak ada percakapan diantara mereka, malah saling menjauh satu sama lain. karena merasa suasana hening akan terus berjalan, Zihan dan Jordan kemudian membawa Hasby masuk ke rumah sakit.
Hasby di rawat di ruang VIP yang di pesan oleh Jordan, saat membersihkan luka, hanya suster yang melakukan hal itu, karena dokter yang Jordan minta untuk merawat Hasby belum datang, dan masih dalam perjalan.
" Tuan...luka tuan Hasby gak papa...tapi saya belum tau penyebab sakit kepalanya...jadi mohon tunggu dokter aja yang periksa..." ucap suster pada Jordan yang sudah membersihkan luka Hasby.
" Iya...saya bakalan tunggu...terima kasih..." ucap Jordan
" Saya mohon pamit, Tuan... nyonya... nona... permisi..." ucap Suster itu sambil melangkah pergi ke luar ruangan.
ketika sang suster sudah keluar, kini Jordan, Zihan dan Vanesa menghampiri Hasby yang berbaring di kasur dengan keadaan kepala yang dibalut perban, selang infusan yang menempel di tangan, dan terdapat sedikit perban juga di bagian lain seperti di bagian tangan, leher dan bagian lainnya.
" Hasby...apa kepala kamu masih sakit?" tanya Zihan yang berada di samping Hasby.
" Sekarang udah mulai baikan nyonya..." ucap Hasby.
" Syukurlah..."
__ADS_1
Zihan dan Jordan kala itu terus saja menanyai kepada Hasby akan keadaannya, sesekali mereka juga menanyakan tentang kejadian bagaimana dirinya mendapat luka, Hasby hanya menjawab singkat bahwa dirinya tidak terlalu fokus menghadapi lawan dan terkena pukulan saat ia lengah, tidak menceritakan kejadian sebenarnya bahwa penyebab ia terkena pukulan adalah melindungi Vanesa, ia tidak ingin membuat Vanesa merasa bersalah padanya.
berbeda dengan pemikiran Hasby yang mengira ketika menyembunyikan kebenaran tentang kejadian itu akan membuat Vanesa tidak merasa bersalah, sebaliknya Vanesa malah sangat merasa bersalah, ia berpikir mungkin tujuan Hasby menyembunyikan kebenarannya agar dirinya tidak disalahkan, sehingga mengarang cerita yang sangat berbeda dari kenyataan.
waktu sudah menunjukan pukul 7 malam, dan pada saat itu Zihan dan Jordan pulang ke rumah, tadinya mereka juga tidak mau pergi, namun karena desakan dari Hasby supaya mereka tidak kelelahan, Zihan dan Jordan pun akhirnya meninggalkan ruangan.
beda dengan Vanesa, ia kali ini masih ada di dalam ruangan, tujuannya hanya ingin menemani Hasby agar dia tidak sendirian, walaupun Hasby sempat bilang tidak usah pada Vanesa, namun ia mendesak agar Hasby menuruti kemauannya.
" Hasby...kepala lo...apa masih sakit?" tanya Vanesa ketika disana tinggal mereka berdua.
" ya... sedikit sih..."
" Mau gua pijitin?..." ucap Vanesa
" hm...kalau nona gak keberatan saya___...." Belum Hasby menyelesaikan kata-katanya, Vanesa langsung mendekati Hasby dan mulai memijit kepalanya. walaupun mulanya kaget, karena Vanesa melakukan hal ini dengan tiba-tiba, tapi lama kelamaan ia mulai merasa nyaman oleh pijitan dari Vanesa, saking nikmatnya, ia sampai memejamkan mata, dan sesekali Hasby juga membuka matanya pula karena ingin melihat wajah Vanesa.
' ternyata dia ada sisi baiknya juga... dan...kenapa gua ngerasa dia makin cantik?...'.
lebih lama Hasby mengamati wajah Vanesa, lebih cantik pula Hasby menilai tentangnya, pertama kali ia bertemu dengan Vanesa, sikapnya itu sangat berbeda dengan Vanesa yang sekarang ada dihadapannya. Vanesa di mata Hasby ketika pertama kali bertemu adalah wanita cantik yang jutek dan galak, suka memerintah dan kurang sopan, namun Vanesa yang sekarang ada dihadapannya sangat lembut dan perhatian, walau terkesan dingin karena Vanesa terlihat tidak pernah tersenyum.
" Hasby..." ucap Vanesa.
perkataan Vanesa itu kini membuat Hasby tersadar. " Eh...iya nona..." ucap Hasby.
" Lo kenapa liatin gua mulu..."
" hah? saya...em,saya tadi...ngapain ya?..." ucapan Hasby kini gelagapan, ia juga tidak mengerti apa alasannya memandang wajah Vanesa dan merasa malu untuk mengakuinya.
" udah...gak usah di jawab..." ucap Vanesa.
" iya nona..." .
__ADS_1
setelah kejadian itu, suasana di dalam ruangan menjadi hening, tidak ada percakapan maupun suara dari Vanesa dan Hasby, sekitar 5 menit keheningan mengisi ruangan kini Vanesa berniat membicarakan sesuatu, tapi...
" Gua___.....". " Saya___...."
ucap mereka secara bersamaan
" Lo___....". " Nona__...."
mereka terus bicara secara bersamaan, dan selalu diam setelah berucap, sehingga kali ini Vanesa yang memulai percakapan lebih dulu.
" Maaf...". ucapan Vanesa yang baru saja dikeluarkannya tadi membuat Hasby menaikan alisnya, walau suaranya terkesan bergumam, tapi tetap terdengar jelas karena ruangan saat ini sedang hening.
" Kenapa nona minta maaf?..." ucap Hasby yang kebingungan.
" ya...gua minta maaf... penyebab lo kayak gini karena ngelindungi gua dari pukulan waktu itu, kalau aja lo gak ngehadang, mungkin gua yang bakalan luka..." ucap Vanesa sambil menunduk.
" Nona gak perlu minta maaf...itu tanggung jawab saya buat lindungin nona...dan saya saat ini baik-baik aja kok..." ucap Hasby.
perkataan Hasby kini membuat Vanesa sedikit tenang, sejak awal ia memang sangat merasa bersalah pada Hasby, dan sedang mengumpulkan keberanian untuk meminta maaf padanya.
" Ya...dan juga...makasih udah ngelindungi gua..." ucap Vanesa sambil tersenyum walau tidak terlalu lebar.
senyuman Vanesa membuat Hasby mematung seketika, ia baru pertama kali melihat wanita yang ada dihadapannya tersenyum, walaupun saat Vanesa tidak tersenyum sudah cantik, tapi jika wajahnya dihiasi dengan senyuman, bukan hanya cantik, namun juga anggun dan menenangkan hati.
menyadari Hasby kini mematung, Vanesa melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Hasby.
" Hasby...Hasby...lo kenapa bengong mulu dari tadi...apa kepala lo sakit lagi?..." ucapnya.
kesadaran Hasby kini kembali karena lambaian tangan Vanesa yang ada dihadapannya, seketika itu wajahnya langsung memerah, ia juga tidak tahu kenapa dirinya selalu memandang Vanesa tanpa berkedip.
"...eh? em...saya...___..."
__ADS_1
perlakuan Hasby saat ini membuat Vanesa tersenyum dan ingin mencubit wajah imut Hasby yang memerah, entah kenapa hatinya merasa senang saat ini. Hari-hari sebelumnya ia selalu di temani dengan kesepian, tidak ada teman mengobrol di dunia nyata, yang ada hanya teman chat di media sosial, itu pun belum tentu orangnya baik atau tidak, namun Vanesa hanya melampiaskan kebosanannya pada media sosial.
tapi kali ini berbeda, mengobrol dengan orang lain di dunia nyata sangat menyenangkan bagi Vanesa, walaupun saat tadi pembicaraan mereka tadi termasuk pembicaraan yang tidak menyenangkan, namun ketika melihat perilaku Hasby yang seperti salah tingkah itu, membuat Vanesa merasa hangat dan nyaman.