
Upaya Hasby menyembunyikan rahasia yang sempat tertutup rapi kini menjadi berantakan karena pertemuannya dengan Rendi, awalnya Ia sudah percaya diri dengan kemampuan aktingnya yang bisa menyembunyikan luka di bahu waktu itu, meskipun lukanya sudah sembuh, namun tetap saja telah meninggalkan bekas yang bisa dibilang cukup jelas.
Saat menceritakan kejadian tempo hari, Nafsah berusaha keras untuk menahan amarah didepan banyak orang yang saat ini sedang berkunjung ke rumah, jika dihitung, dengan kapasitas ruangan yang sempit berisikan lebih dari sepuluh orang menurutnya cukup kejam mempermalukan sang kakak di depan banyak orang.
“ Jadi... kamu waktu itu gak ngasih tau aku karena takut aku khawatir? “ Tanya Nafsah dijawab dengan anggukan oleh kakaknya.
Semua orang yang ada disana menganggukkan kepala dan mulai memaklumi alasan Hasby menyembunyikan kebenaran, namun tetap saja hal yang dilakukan oleh Hasby itu adalah salah. jika mereka berada di posisi Nafsah, tentu saja akan melakukan hal yang sama, terlebih ketika mengetahui bahwa anggota keluarga terdekat menyembunyikan hal yang bisa dibilang cukup besar sangat membuat hati dongkol.
“ ya udah lah... mau gimana kagi? Masa lalu gak bisa diulang, tapi luka kamu sekarang gak papa kan kak? “ Tanya Nafsah.
“ Aku baik-baik aja... jadi kamu bisa tenang “
Hasby tersenyum di dalam hati, meskipun Nafsah marah, namun pada dasarnya wanita itu kesal karena khawatir, walaupun sudah berkali-kali Ia bersyukur karena mempunyai Nafsah sebagai adiknya, namun jika mengingat support wanita itu ketika Ia berjuang di masa lalu, rasanya tidak cukup sekali dalam sehari untuk terus bersyukur.
Seusai pembahasan tetang masa lalu, Bayu dan Panji memperkenalkan kembali orang yang mereka bawa, untuk Lyn dan Rendi, mereka memperkenalkan diri sebagai anak pertama dan anak kedua, sementara wanita berkerudung silver yang ada di samping Panji merupakan istrinya sebagai Nadia.
“ Ok, semua orang disini bawa temen ataupun keluarga ya... dan... mungkin disini saya adalah orang satu-satunya yang datang sendirian “ Ucap Bayu.
“ Eh? Iya juga yah... Emang keluarga Om bayu mana? Anak om mana? “ Tanya Ardi dengan polosnya.
“ Haha... Bayu kan bujang lapuk, ya kali bisa punya anak, mau berojol dari mana? “ Ucap panji sambil tertawa.
“ Hei... Jangan ngomong apa adanya juga kali, gua kan walaupun gak punya bini bukan karena enggak laku “
Semua yang ada disana kini tertawa, ditemani dengan makanan yang sebelumnya Nafsah buat, Hasby dan yang lain menikmati obrolan dengan suka ria.
***
Sore... pukul 15:00
Ketika hari menjelang sore, Panji dan Bayu beserta orang yang dibawa oleh mereka pamit undur diri, bukan karena tidak betah dengan keadaan disini, mereka pulang dengan alasan ada pekerjaan yang sebelumnya ditunda dan harus segera di selesaikan. Untuk Ardi, Firdan dan Savira, mereka berniat pulang nanti malam, katanya ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Hasby, Nafsah dan Vanesa.
Untuk Jordan, Ia hendak pulang bersama yang lainnya, namun ketika dirinya teringat akan satu hal, pria itu membiarkan yang lain pulang terlebih dahulu dan menyisakan dirinya seorang dari perwakilan keluarga Lits.
“ Hasby... “ Ucapnya yang saat ini sedang duduk di sofa.
“ Saya ada satu hal yang harus disampaikan ke kamu, tapi untuk itu... apa kita bisa bicara empat mata? “
Dari pertanyaan Jordan dan alur perkataan yang Ia ucapkan, Hasby tau bahwa pria itu ingin membahas tentang hal yang tadi pagi tidak dapat Nafsah sampaikan, meskipun dirinya tahu bahwa moment ini akan datang, namun ketika menghadapinya secara langsung, entah kenapa hatinya berdebar dan muncul perasaan gugup.
__ADS_1
Sama halnya dengan Hasby, Nafsah yang mendengar diam-diam juga ikut panik dan takut, Ia sudah tau tentang apa yang akan dibicarakan oleh Hasby dan Jordan, namun ketika firasat buruk datang secara sekilas, Nafsah khawatir jika Hasby memiliki pemikiran lain, apa yang harus Ia lakukan?.
Pergi ke lantai dua, Hasby memberitahu adiknya agar yang lain jangan dulu ke atas sebelum Ia dan Jordan turun, untuk menjaga kerahasian informasi, Hasby mengajak Jordan untuk pergi ke kamarnya, sementara itu, kali ini Nafsah mengajak mengobrol 4 mata juga dengan Vanesa,
Sewaktu Ia tahu pertama kali, Jordan berkata bahwa hal ini tidak diketahui sama sekali oleh Vanesa. Bahkan wanita ini tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini. Maka dari itu, mereka menyepakati bahwa ketika Jordan membahas hal ini dengan Hasby, Ia meminta Nafsah untuk memberitahu Vanesa juga tentang semua hal yang selama ini disembunyikan, ini mungkin menyedihkan, dimana si orang tua menyembunyikan kebenaran besar yang di tutup rapat dari anaknya, tapi meskipun begitu, Jordan melakukan hal ini demi kebaikan Vanesa, karena tidak ingin menyeret putri kesayangannya, Ia pun menyimpan beban ini bersama Zihan berdua saja.
Di kamar Hasby...
“ Silakan ngomong om, saya jamin disini yang bisa denger pembicaraan cuma kita doang “ Ucap Hasby yang kini duduk di kursi sementara Jordan duduk di sofa.
“ Hasby... sebelum saya mulai, saya mau minta maaf sebesar-besarnya sama kamu “
“ Kalau boleh tau sekarang... sebenarnya hal apa yang ayah angkat sembunyiin sampai-sampai kayak gini?... “ Tanya Hasby.
“ Jadi... Ceritanya dimulai dari belasan tahun yang lalu “
Jordan mulai menceritakan kebenaran pada Hasby.
***
Vanesa terdiam cukup lama setelah Ia mendengar cerita dari Nafsah, tidak pernah Ia duga dan sangka, Ayahnya yang sejak dulu Ia kenal sebagai pekerja keras ternyata adalah seorang yang serakah dan telah mengambil hak milik orang lain.
“ Nafsah... “ Ucap Vanesa setelah sekian lama diam.
“ Aku minta maaf mewakili ayah aku... aku__... “
“ Gak papa kak... kak Vanesa gak usah minta maaf, semua ini udah berlalu, walaupun... aku sempat kesal sama Om Jordan, tapi... kak Vanesa kan gak ada sangkut pautnya sama hal ini “
“ Tapi tetep aja Nafsah, kamu sama Hasby jadi hidup kayak gini gara-gara keluarga aku... kalau aja ayah gak ngelakuin hal ini... mungkin kalian... “
Vanesa berhenti berbicara dan berakhir menutup wajahnya dengan kedua tangan, mengetahui fakta ini membuatnya merasa malu bukan kepalang, selama ini... ternyata Ia hidup dengan uang orang lain, bahkan yang lebih menyakitkan nya, harta yang orang tua nya punya ternyata milik suami kontraknya.
“ Kak Vanesa... “ Nafsah memegang punggung Vanesa.
Meletakan kedua tangan, Vanesa kini menatap Nafsah dengan air mata berlinang, meskipun Ia sangat malu sekarang ini, namun didalam hati Ia bertekad menjanjikan sesuatu. “ Nafsah... meskipun bisa dibilang ini kesalahan ayah aku, tapi jika aku bisa bantu... aku bisa coba__... “
“ Syut... udah kak, gak papa... kamu gak usah terseret ke masalah ini, aku juga berusaha buat lupain hal ini, Om Jordan sempet ngomong kalau Ia bakalan balikin semua hak yang sebelum nya punya almarhum ayah ke kak Hasby... “
“ Hah? Itu bagus Nafsah... “
__ADS_1
“ Tapi aku tolak... “ Nafsah tersenyum disusul dengan Vanesa yang nampak kaget.
“ Kenapa kamu tolak?... apa kamu gila? Kenapa kamu gak langsung terima aja? Kenapa kamu gak suruh ayah buat langsung bikin surat pindah kuasa? “
“ Aku nunggu keputusan Kak Hasby... “
Nafsah bicara kalau dirinya tidak terlalu berhak untuk menerima semua aset perusahaan kembali ke tangannya, disini Hasby lah yang paling berhak dan kuat kedudukannya untuk menerima semua itu, bukan hanya sebagai lelaki, ditambah kakaknya itu adalah putra sulung di keluarganya.
“ terus? Apa hasby udah nerima semua hak nya? “
Nafsah menggelengkan kepala yang membuat Vanesa bingung.
***
“ Dan... kira-kira Hasby sama ayahnya si Vanesa lagi ngomongin apa ya? “ tanya Ardi pada Firdan.
“ Ya mana gua tau... “
“ Lu kepo amat Di, itu kan bukan urusan kita “ kali ini Savira berbicara sambil memainkan rambut poninya.
“ Iya juga sih... “
Ardi penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Hasby dan Jordan, tidak hanya pada mereka, ia juga cukup merasa ingin tahu kenapa setelah Nafsah membawa Vanesa ke dapur tadi, sikapnya menjadi sedikit murung, meskipun Ia tahu bahwa biasanya wanita itu tidak banyak bicara dan cuek-cuek saja.
Tidak lama setelah Vanesa dan Nafsah kembali dari dapur, kedua pria yang sebelumnya dibahas kini turun dari lantai dua, dengan penasaran Firdan, Ardi, dan Savira kini bergegas melihat raut wajah keduanya, namun jika dilihat lebih jelas, sepertinya tidak ada kejadian besar, ayah dari Vanesa dan kakaknya Nafsah mengobrol santai seolah tidak membahas satu hal yang serius.
“ Kayaknya mereka enjoy-enjoy aja deh “. Ucap Ardi setengah berbisik dan hanya terdengar oleh Firdan.
“ Iya, yah... kayaknya kita terlalu negatif thinking deh “. Jawab Firdan.
“ Ah, itu mah elo aja kali yang punya pikiran buruk, gue mah enggak ya “.
“ Lah, bukannya yang punya asumsi jelek nya itu elu ya Di? “.
“ Iya kah? , enggak deh... lo kai Dan “
“ Dih, ni anak amnesia dadakan bukan sih? “ Ucap Firdan dengan menggelengkan kepala, heran dengan sikap Ardi yang tidak tahu malu itu.
Bersambung
__ADS_1