
Sensasi yang Hasby rasakan kali ini adalah rasa sakit serta pusing yang menyerang secara bersamaan, walau masih sempat mempertahankan kesadaran diri,namun tetap saja matanya kini mulai mengabur dan nafasnya terputus-putus, meski dalam keadaan seperti itu,dirinya kini malah menghawatirkan kondisi Vanesa yang sedang menangis di depannya.
" Hasby...kamu bisa denger aku?...Hasby..." ucap Vanesa sambil terus menangis di depan Hasby.
" Udahlah...sekarang hari terakhir buat kalian berdua..." ucap pria yang ada dibelakang Hasby sambil tersenyum penuh kemenangan.
pria itu mengangkat tongkat yang ia pegang tinggi-tinggi dan bersiap memukul Vanesa,namun...sebelum tongkat itu mengenai Vanesa sendiri, Hasby lebih dulu memegang tongkatnya sebelum merampas tongkat tersebut.
alhasil,hal yang Hasby lakukan tadi membuat si pria kaget,sebelumnya ia menyangka bahwa Hasby akan segera pingsan karena ia sudah memperkirakan besar kekuatan dirinya pada saat memukul.
melihat sikap dari si pria,Hasby tidak melewatkan kesempatan, ia segera mungkin mengayunkan tongkat yang ada di tangannya kemudian di benturkan ke kepala si pria.
seketika itu juga, si pria langsung tumbang dengan bekas luka di kepala yang mengeluarkan banyak darah, dan pada saat itu pula Hasby langsung terjatuh sambil memegangi kepalanya.
Vanesa saat itu sangat khawatir pada Hasby,karena ingin tahu penyebab Hasby kesakitan,ia kini memeriksa kepala Hasby bagian belakang yang ia pegang saat ini, saat meraba daerah itu, ia mendapat sesuatu yang mengejutkan, ternyata...terdapat luka yang agak besar dan terlihat sudah banyak darah yang keluar.
" Hasby...kamu harus tahan...kamu gak boleh kenapa-napa...kamu gak boleh tidur...Hasby...dengerin aku...huhuhu..." ucap Vanesa sambil menggoyang-goyangkan tubuh Hasby yang terbaring.
" Nona...saya gak papa...mending nona sekarang lari sebelum penjahat-penjahat ini kabur..." ucap Hasby yang suaranya agak kecil.
" Gak...aku gak bakalan ninggalin kamu...kamu sekarang lagi luka..." ucap Vanesa yang bersi keras untuk berada di samping Hasby.
__ADS_1
" Nona...nona gak perlu khawatirin saya..."
" Pokoknya aku gak mau ninggalin kamu...aku akan cari bantuan...kamu harus tahan...kalau enggak aku bakalan pecat kamu..."
setelah Vanesa berkata seperti itu,Ia kini berteriak minta tolong di pinggir jalan,walaupun disana tidak ada satupun kendaraan yang lewat. Sambil terus berteriak,Vanesa kala itu masih terus menangis, pikirannya saat ini sangat khawatir pada Hasby.
di saat yang bersamaan, Zihan yang melihat hal itu langsung menghampiri Vanesa.
" Vanesa...kamu kenapa nangis? dan..mana Hasby?..." tanya Zihan.
walaupun dirinya berada di mobil,namun Zihan tidak melihat kejadian saat Hasby terkena pukulan oleh anak buahnya Gio, saat itu ia sedang menghubungi Jordan suaminya dan menjelaskan kejadian secara rinci padanya.
" Ibu...Hasby sekarang luka bu...dia...dia__..." ucapan Vanesa tidak terselesaikan karena tangisannya kini semakin mengeras.
" Udah...kamu jangan nangis lagi, sekarang dimana Hasby?, ibu pengen liat kondisinya..."
Vanesa lalu membawa Zihan ke tempat Hasby berada, memang jaraknya tidak jauh, tapi karena habis hujan, saat ini kabut putih bermunculan entah kenapa.
setelah beberapa langkah, Vanesa dan Zihan menemukan Hasby dengan keadaan yang berbeda, sebelum Vanesa meninggalkan dirinya tadi, ia terbaring sambil terus memegangi kepala dan terlihat begitu kesakitan, namun sekarang mereka berdua tidak menemukan hal itu pada Hasby, sekarang dia terlihat sedang duduk bersandar di sebuah pohon.
" Hasby...kamu gak papa kan nak?..." ucap Zihan yang kini sudah berada di dekat Hasby dan mulai memeriksa keadaannya.
__ADS_1
" Saya gak papa nyonya..." Jawab Hasby kali ini sambil tersenyum.
" Hasby...tolong kepala kamu hadapkan ke sebelah kiri..." ucap Zihan
" Gak papa nyonya...saya baik-baik aja..."
Hasby kali ini tidak membiarkan Zihan melihat luka di kepalanya, dan sekarang ia malah berdiri walaupun kelihatannya sedikit sempoyongan.
" Hasby...kamu lagi luka...jangan terlalu banyak gerak..." ucap Vanesa yang kini memegang tangan Hasby yang hampir jatuh kembali.
" Nona...nyonya...sebaiknya kita harus cepet pergi dari sini...takut nanti penjahat-penjahat ini bangun..." ucap Hasby.
" Kamu tenang aja nak...saya udah telpon polisi tadi dan udah nelpon ayah Vanesa, mereka bakalan datang secepatnya..." ucapnya
sebenarnya Zihan merasa salut pada Hasby saat itu, walaupun dirinya sedang terluka, tapi tetap saja pemuda yang ada dihadapannya bersi keras untuk tidak terlihat sedang merasa sakit, dan malah bilang dia baik-baik saja.
" Kalau begitu mending kita masuk kme mobil dulu...kita istirahat sebentar disana..."
Zihan, Vanesa dan Hasby pun kini berjalan menuju mobil, walau terlihat sempoyongan, Hasby tetap berjalan dengan di bantu oleh Vanesa yang memegang tangannya, sebenarnya hal yang dilakukan Vanesa tidak sepenuhnya membantu Hasby, dengan perbedaan tinggi mereka berbeda sekitar 15 cm, Vanesa lebih terlihat seperti sedang menggandeng tangan Hasby, tapi sedikit membantunya juga sih...karena dengan adanya yang menahan, jadi Hasby tidak akan terjatuh dengan keadaannya yang berjalan sempoyongan.
Hasby kini bersandar di bangku mobil bagian belakang, Vanesa yang kini berada disampingnya melihat dengan tatapan rasa bersalah, kalau saja Hasby tidak melindunginya dari pukulan, mungkin keadaannya tidak akan menjadi seperti sekarang.
__ADS_1