
kepulangan Hasby dan yang lain dijamu oleh Nafsah dan Vanesa dengan banyak jenis makanan, saat itu mereka memuji makanan nya enak seperti biasa, tapi setelah Nafsah mengatakan kalau semua makanan ini di masak oleh Vanesa, Hasby terkejut bukan main.
ia sangat tidak menyangka kalau Vanesa akan cepat belajar dalam memasak, memang sulit dipercaya, tapi bagi seorang yang sudah merasakannya langsung, rasa makanan yang pertama kali Vanesa buat dengan yang saat ini ia makan sangat jauh berbeda.
tepat setelah makan dan berkemas, Rafa saat itu mengeluarkan alat medis dan meng-infus Hasby. Kelihatan dari wajahnya, warna yang semula normal kini pucat kembali, entah efek lelah karena lama perjalanan, atau pun faktor lainnya, Rafa mulai memberikan pertolongan pertama agar kemungkinan hal yang tak diinginkan tidak terjadi.
sementara Rafa, Firdan dan Ardi tidur di kamar yang sama dengan Hasby, Savira masih sama seperti hari-hari sebelumnya, ia saat itu tidur di kamar Nafsah. Untuk Vanesa, tidak ada yang menumpang di kamarnya, mungkin karena belum terlalu akrab, jadi mereka masih canggung menawarkan diri untuk numpang tidur, terlebih apa Hasby akan mengizinkan jika para lelaki tidur dikamar Vanesa?, ya pasti tidak lah, dia kan istrinya.
Tengah malam....
Savira saat ini sedang berada di balkon depan kamar Nafsah, susah untuk memejamkan mata, dia masih teringat dengan ucapan Hasby tadi sore, awalnya sih ia menganggap Hasby itu hanya ber-omong kosong saja, tapi setelah mata nya melihat sendiri keberadaan Vanesa dirumah pria itu, hati Savira seolah disayat oleh belasan belati tajam.
Sudah dari dulu ia mencintai pria itu dalam diam, namun setelah dirinya membuka diri, takdir tidak berpihak pada Savira, karena saat itu Hasby sudah menemukan jodohnya sendiri.
selalu berputar di kepalanya akan ucapan itu, tangis yang selama ini ia tahan kini tumpah. Tanpa suara dan isak, Savira menangis dalam diam mengeluarkan banyak kesedihan. Ditemani suara derik serangga dan hembusan angin pelan, malam ini Bulan purnama bersinar menyaksikan Savira yang sedang menutup wajah.
hal ini diketahui oleh Nafsah, ia menunggu waktu yang tepat untuk memunculkan diri. Merasa iba karena salah satu temannya sedang patah hati, Nafsah tahu rasanya walaupun ia sendiri tidak pernah mengalami, tapi dengan melihat sekilas, Nafsah tahu betapa sakitnya hati Savira, terlebih naluri seorang wanita selalu terikat satu sama lain.
melihat Savira sedikit tenang dari sebelumnya, Nafsah pun melangkah dan berhenti di samping wanita itu ikut menatap langit.
" Eh? Kamu belum tidur Nafsah? ".
menyadari keberadaan Nafsah, Savira segera menyeka air matanya, tidak ingin memperlihatkan sisi lemah dirinya, Savira bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, tapi siapa yang bisa ia bohongi?, wajahnya saat itu sudah berkata jujur mewakili isi hatinya.
__ADS_1
" Aku minta maaf kak... " ucap Nafsah menatap Savira.
" Hm?, soal apa? ".
" Soal kak Hasby ".
tidak langsung menjawab Nafsah, Savira mendongkakkan kepalanya menghadap ke Bulan sambil tersenyum simpul, ia sedikit heran, untuk apa Nafsah meminta maaf padanya? apa untuk sedikit menghibur? atau menghilangkan rasa bersalah dia pada dirinya?.
" Kamu gak perlu minta maaf Naf... toh kamu gak salah kan? ". ucapnya.
" Tapi tetep kak... selama ini aku sama kak Hasby udah nge-rahasiain hal ini dari kalian semua, padahal kan gak semestinya ".
" Aku ngerti, jadi kamu gak perlu khawatir... tapi ya namanya cinta, agak sakit juga dengernya ". Ucap Savira tertawa kecil.
meskipun berkata seperti itu, dalam hati Nafsah, ia merasa berat mengeluarkan kata-kata tersebut, terlebih ia seperti akan merusak kebahagiaan kakaknya saat bertekad membantu Savira akan perasaannya, tapi untuk saat ini, hanyalah alasan itu yang dapat ia ungkapkan untuk membuat Savira tenang.
tidak sejalan dengan pikiran Nafsah, Savira menolak mentah-mentah tawarannya, meski hanya sebatas nikah kontrak, tapi jika sebagai teman, alangkah baiknya kalau Savira lebih baik menerima dari pada menyangkal kenyataan.
wanita itu lebih baik merasa patah hati daripada harus menjadi perusak rumah tangga sahabat sendiri. Tak apa ia kehilangan cinta lamanya, tak apa dia kehilangan kebahagiaan yang ia tunggu di waktu yang lama, tapi dia tidak bisa kehilangan seorang sahabat hanya karena egonya.
sambil terus berbicara, air mata yang keluar dari sudut dekat hidung bertambah banyak, disusul isak tangis yang mengeras, Nafsah saat itu menawarkan bahunya untuk disandar oleh Savira. Nafsah sendiri beruntung memiliki teman seperti Savira, tidak mementingkan diri sendiri, bahkan ia bisa merelakan cinta nya dari pada mendahulukan keinginannya.
malam itu, Savira menangis sejadi-jadi di pelukan Nafsah, meski derai air matanya membasahi pipi, meski isak tangis terdengar lebih keras walaupun tak sampai terdengar masuk ke dalam, saat ini, Savira melepaskan semua kesedihan di bawah cahaya rembulan.
__ADS_1
***
Keesokan paginya, Hasby dan yang lain sudah berkumpul di meja makan, kehadiran Rafa dan Savira kali ini menambah suasana menjadi lebih ramai. Untuk Vanesa, wanita ini berteman baik dengan mereka, meski terlihat jarang tersenyum dan tertawa, setidaknya dia bisa diajak mengobrol tanpa ada rasa sungkan.
sementara untuk Savira, entah ada kejadian apa, pagi ini dirinya terlihat lebih segar dan ceria, meski semua orang kecuali Nafsah tidak mengetahui kejadian malam kemarin, mata Savira saat ini nampak sedikit membengkak dan merah.
seperti hari-hari sebelumnya, Hasby, Nafsah dan Vanesa serta ketiga temannya pergi ke kampus dengan menggunakan mobil yang sama. Sementara mereka berangkat kuliah, Rafa saat itu sudah lebih dahulu pergi menuju ke rumah sakit kota C, melihat kondisi Hasby yang sudah stabil, Rafa berkata bahwa pria itu tidak lagi membutuhkan infus ataupun alat bantu bernafas. Meski begitu, Rafa menyarankan Hasby agar dirinya tidak terlalu lelah dalam menjalankan aktivitas.
waktu berjalan dengan cepat, matahari sudah bergerak sampai tepat di atas kepala, pada pukul satu siang setelah pulang sekolah, Hasby berangkat ke perusahaan Jordan untuk memulai karir barunya.
Di sana, ia disambut hangat oleh beberapa karyanya, karena berita kedatangan Hasby sebagai karyawan baru sudah diketahui semua orang yang ada di gedung ini, jadi tidak perlu ditanyakan lagi, yang datang pada tengah hari ke kantor adalah orang yang dibicarakan oleh Jordan kala itu.
tidak hanya baik, Hasby menilai bahwa semua karyawan yang ada disini juga ramah dan disiplin, terlihat dari cara mereka berbicara, bersikap dan bertindak, sepertinya Jordan dan Zihan sangat teliti ketika mereka sedang melakukan pemilihan karyawan.
hari ini Hasby tidak melakukan pekerjaan apapun, hanya berkeliling dan berkenalan dengan rekan lainnya, jadi hampir setiap sudut gedung ia datangi. Orang yang menemani nya berkeliling bernama Nathan, lebih tua lima tahun dengan nya, ia bekerja di bagian keuangan. Dia ditugaskan oleh Jordan karena orang tua itu sedang sibuk dengan berkasnya.
tidak hanya dekat dengan Nathan, Hasby saat itu mendapat teman baru seperti pak Anton, bu Reni, Devin dan Angel. Mereka adalah orang yang paling ramah dari yang lain, orangnya tidak sungkan dan asik diajak bicara.
wajar kalau Hasby disambut hangat oleh karyawan disini, selain ramah pula, tidak sedikit para wanita menilai Hasby adalah orang yang sangat tampan, terlebih salah satunya berusaha mencari perhatian dengan cara apapun, seperti hanya sekedar menyapa, mengajak berkenalan bahkan sampai ada yang meminta nomor telepon Hasby, ini memang agak canggung, tapi sebagai karyawan baru, dirinya hanya bisa mengangguk setuju.
_________________________________
jumpa di chapter selanjutnya...
__ADS_1