Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu

Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu
106# Candaan di pagi hari


__ADS_3

Saat ini, Vanesa tengah berjalan menuruni tangga, sejak seusai solat dan membersihkan badan tadi, dirinya ingin mengecek keadaan Hasby untuk sekedar melihat kondisinya, dan ketika ia membuka pintu kamar, orang yang hendak ia temui tidak ada dan menduga kalau dia sudah berada di dapur.


Melangkah menuju tempat yang dituju, Vanesa terhenti karena hidungnya menangkap bau gosong yang berasal dari dapur, segera setelah itu ia mempercepat langkah dan melihat Nafsah dan Hasby yang terlihat sedang beradu mulut.


“ Nafsah, ini ada apaan?, kok ada bau gosong “ ucapnya langsung bertanya ketika baru sampai.


“ Oh, kak Vanesa... ini kak, aku kan lagi masak tapi kak Hasby ngajak ngobrol, eh makanannya jadi gosong deh... “. Ucapnya.


“ Hey... jadi Kakak yang salah nih? Bukannya kamu yang gak fokus? “ Ucap Hasby membela diri.


“ Hmh!, kalau kakak gak ngomong duluan pasti aku gak bakalan meleng, jadi udah tau kan siapa yang salah? “.


Hasby hanya menghela nafas, sementara Vanesa tertawa kecil melihat tingkah mereka berdua, sepertinya pemuda yang ada disampingnya ini tidak bisa menang berdebat jika lawannya adalah perempuan, terlebih siapa pelakunya disini?, kalau dilihat dari sudut pandang manapun sudah pasti ini kesalahan Nafsah, tapi kenapa wanita itu yang berbuat Hasby yang disalahkan, dasar cewek, memang selalu ingin benar.


“ Haha... sabar ya Naf, udah gak udah dibahas lagi, toh makanan yang gosong udah gak bisa diapa-apain lagi, jadi ya udah lanjut yang lain aja... kini aku bantuin deh “.


“ Eh, padahal gak perlu lho kak, aku bisa sendiri kok “.


“ Gak papa, lagi senggang nih... jadi gak masalah dong kalau bantu dikit-dikit “.


“ Hehe, ya udah deh “.


Setelah itu, daripada Hasby diam memperhatikan, dia kini membantu sang adik hanya sekedar merapikan alat makan untuk mereka gunakan nanti, serta dilihat dari reaksi Vanesa yang gerak cepat untuk menemani Nafsah memasak, Hasby menduga kalau wanita itu melakukan hal tersebut dengan niatan mengalihkan perhatian adiknya agar tidak terlalu larut dalam pertengkaran, ia bersyukur karena Vanesa peka dan mulai mengetahui situasi sehingga mengambil langkah yang tepat untuk mengambil topik pembicaraan lain saat itu juga, sampai beberapa menit kemudian, ketika Hasby memilih mengamati kegiatan memasak dua orang yang ada didepannya, makanan pun tersuguh dengan asap yang masih mengepul.


“ Nah... makanan dah jadi, kak Vanesa silakan makan ya “. Ucap Nafsah kini duduk di samping Vanesa.


“ Wah... berarti kakak juga ***__... “.


“ Ets... untuk kak Hasby, kamu cuma boleh ambil lauknya satu aja, kenapa?, karena gara-gara kamu makanan yang sebelumnya gosong, jadi jatah kakak aku potong “.


Hanya menghela nafas, Hasby mengetahui kalau ending dari sarapan pagi ini akan seperti itu, meskipun sedikit kesal dan jengkel, namun ia tetap mensyukuri karena Nafsah masih memberinya makan, pernah suatu kejadian ia tidak diberi sarapan karena sudah membuatnya marah, dan itulah Nafsah, sang adik yang kalau sudah marah akan berubah dari adik lembut perhatian menjadi wanita cuek bebek bin ngeselin.


‘ Haha... ternyata mereka itu adik kakak yang lucu yah ‘ Batin Vanesa sambil terkekeh.


~


Di Rumah, kini hanya tinggal Vanesa dan Hasby saja yang tengah duduk di sofa sambil menonton acara televisi di ruang santai lantai 2. Untuk Nafsah, gadis itu sudah dari 20 menit yang lalu berangkat kuliah dengan Ardi yang menjemputnya, karena sedikit bosan, Vanesa pun membuka obrolan dengan posisi masih fokus ke arah tv.


“ Hasby... “ Tanya Vanesa pada Hasby yang posisinya kini bersandar ke sofa.


“ Hm “ Jawab pemuda itu singkat.


“ Bosen... “.


“ Terus kamu maunya apa? “. Tanya Hasby. memfokuskan pandangan pada wanita disampingnya.


“ Keluar yu “.


“ Boleh aja, mau keliling-keliling nyari jajan? “.


“ Gass!, aku mau beli yang pedes-pedes “. Ucapnya beranjak dari duduk dengan antusias.


“ Sabar dulu... liat jam deh, sekarang kan masih terlalu pagi, si amang tukang dagangnya aja belum buka warung, kamu mau beli apa nanti disono? “.


Vanesa menekuk wajah, meski perkataan Hasby benar adanya, namun ia tetap ingin pergi sekarang, karena kalau menunda lebih lama, dirinya pasti akan keburu mager dan tak jadi berangkat.


“ Hasby... sekarang aja yu, kalau entar nanti aku keburu males “.


“ Tapi si abangnya belum buka, kamu mau beli jajan ke amang-amang tak kasat mata? “.


“ Ih... kita jalan aja biar agak lamaan, tempatnya gak jauh ini kan? “.


“ Iya sih... “.


“ Ya udah, yuk siap-siap... kamu cepetan beres-beres By “.


“ Iya, iya “.


Vanesa pergi ke kamarnya, sementara Hasby menutup acara televisi dan pergi ke dapur terlebih dahulu untuk sekedar mengambil air minum, kedua orang itu dengan segera bersiap dan mengganti pakaian, untuk urusan mandi tenang saja, mereka bahkan sudah melakukan hal tersebut sebelum melaksanakan solat subuh.


“ Vanesa... kamu udah belum? “. Teriak Hasby ketika dirinya sudah siap dan menunggu di ruang tamu lantai pertama.


“ Bentar~... “.

__ADS_1


Selagi menunggu Vanesa turun, Hasby pergi untuk mengeluarkan motornya dari bagasi untuk sekedar memanaskan mesin.


“ Hasby aku udah siap, ayok! “ Ucap Vanesa yang kini memakai pakaian yang berbeda dari sebelumnya.


“ Ya udah, kamu tunggu diluar dulu “. Ucap Hasby.


Vanesa memiringkan kepala, mencoba untuk memfokuskan pendengaran, dan tak lama kemudian telinganya menangkap suara sebuah mesin motor yang menyala. “ Kamu nyalain motor By? “.


“ Iya, kan bentar lagi kita mau berangkat “.


Vanesa terdiam, bersamaan Hasby yang sama-sama menatapnya dengan kondisi yang serupa.


“ Hasby... bukannya kita mau jalan bukan naik motor? “.


“ Oh iya, ya... hehe lupa “.


Seketika itu juga, wanita yang berada didepan Hasby menepak jidat, apakah pemuda itu melupakan percakapannya yang masih hangat tadi sebelum berganti pakaian, kan Vanesa sudah bilang kalau mereka akan keluar dengan kondisi ‘jalan kaki’, bukankah Hasby sendiri yang bilang kalau berangkat terlalu pagi tidak akan karena bisa menemukan yang si amang tukang dagangnya sudah buka?, sungguh remaja pikun, padahal kalau tidak salah ingat usia Hasby hanya berbeda satu tahun darinya meski kuliahnya sudah mau tahun ke 4.


“ Dasar aki-aki, itu sih kerjaannya ngelamun terus mikirin masa depan... “.


Hasby tersenyum kikuk hingg terbesit ide jahil yang muncul di akalnya yang bulus. “ Hehe... kamu tau aja Van kalau aku lagi mikirin masa depan kita “.


Blush...


Wajah Vanesa memerah, wanita itu malu dan melangkah keluar agar Hasby tidak melihat kondisi mukanya, namun apalah daya karena pemuda itu sudah menyadari lebih awal dan melihat secara langsung.


“ Udah? “ Tanya Vanesa ketika Hasby sudah keluar seusai mengunci pintu.


“ Udah dong, ayo... “.


Hasby mengulurkan lengannya tanda ingin digandeng oleh Vanesa, seolah mengerti dan paham dari maksud uluran itu, sang istri meraih lengan Hasby lalu melangkah menuju tempat tujuan. Keduanya mengobrol banyak saat dijalan, dari seputar betah tidaknya Vanesa saat tinggal di rumah Hasby, lalu pembicaraan beralih ke nostalgia disaat keduanya masih belum berani mengungkapkan cinta mereka, sampai mereka bahkan merasa lucu ketika membahas perdebatan keduanya dimasa lalu tentang masalah sepele.


“ Ya ampun... berarti bener dong waktu itu kamu terpesona sama badan aku? “. Tanya Hasby ketika membahas perihal tubuh six pack nya.


“ Hehe, gimana ya?... emang cewek mana yang gak bakalan terpesona liat kayak gituan?, terlebih kalau gak salah inget... badan kamu waktu itu mulus lho By “.


“ Ouh... kamu mau liat lagi? “. Tanya Hasby.


“ Emang boleh ya? “.


“ Dasar jail! “ Ucap Vanesa sambil mencubit pinggang pria yang digandengnya.


“ Aw, sakit tau “.


“ Itu sih punya pikiran kotor... “.


“ Lah? Yang punya pikiran kotor siapa? kan aku cuma bilang ‘kamu mau liat lagi gak?’, Aku kan cuma nanya... gak salah dong? “.


Muka Vanesa kembali memerah seperti saat Hasby menggodanya sebelum berangkat tadi, sementara pria yang usil itu hanya tertawa lucu sambil merasa gemas sendiri.


“ Huh, kamu jahat “. Ucap Vanesa membuang wajahnya ke arah lain meski belum melepaskan gandengan dari Hasby.


“ Ululululu... istri aku jangan marah dong, entar cantiknya ilang diambil orang “.


“ Lah kok? ‘.


“ Mangkanya jangan ngambek “.


“ Kamu sih suka mancing-mancing “.


“ Haha... iya, iya udah dong ngambeknya, pipi kamu jadi ngembung tau, gemes deh liatnya “. Ucap Hasby yang kini mencubit pelan pipi Vanesa.


Kegiatan sepasang kekasih itu terus berlanjut, bukan kekasih sih namanya, mereka kan sudah suami istri, jadi panggilan yang cocok untuk keduanya adalah pasutri anyar, yang mana baru merasakan indahnya kehidupan sebagai pengantin baru setelah menyatakan cinta satu sama lain, meskipun asal kalian tahu saja, keduanya masih perawan dan perjaka.


***


Disisi lain, kini Ardi, Firdan dan Savira tengah berkutat dengan tugas mereka, selain masuk dalam prodi dan kelas yang sama dengan Hasby, ketiga orang itu terlihat nampak lelah dengan kertas-kertas yang ada dihadapannya.


“ Haduh... si Hasby belum bisa masuk kuliah sih, coba aja kalau dia bisa masuk lebih awal, kerja kelompok kayak gini pasti bakalan cepet kelar kalau ada tu anak “. Ucap Ardi mengeluh dengan jari yang masih sibuk mengutak-atik keyboard laptopnya.


“ Udah jangan ngeluh mulu... kerjain aja ngapa?, suka ngandelin orang lain aja lu jadi manusia “ Ucap Firdan.


“ Oh, ayolah Dan... justru karena gue manusia wajar kalau ngandelin orang lain, kan manusia itu mahkluk sosial, tidak bisa bekerja sendiri bro “.

__ADS_1


“ Kan lo gak kerja sendiri, ada gue sama Savira “.


“ Beda ceritanya lah... kalau ada tu anak jenius gue pasti bakalan bisa santuy dikit, hehe “.


“ Halah... emang itu mah elu nya aja yang males, dasar kungkang, kerjaannya selain maen game pasti molor di kamar “. Ucap Savira.


“ Eh tau aja si neng... pinter juga lu, jadi asisten gue aja deh biar bisa ngerjain semua tugas gue “.


“ OGAH!!! “.


Ketiganya masih fokus dengan kegiatan tugas dan job masing-masing, meskipun diselingi candaan dan gurauan maupun pertikaian, Ardi, Firdan dan Savira menyelesaikan tugas waktu menunjukan pukul 11 siang. Dan dari situ muncul kabar baik yang mereka tidak pernah menyangka hal tersebut sama sekali, dosen yang mengajar di kelas selanjutnya izin tidak masuk karena berhalangan, otomatis kegiatan kuliah mereka pun beres di jam itu juga.


“ Ya Allah... sepertinya engkau memberikan keringanan kepada hambamu yang diciptakan ganteng ini, terima kasih ya Allah... saya bakalan lebih rajin lagi deh “. Ucap Ardi.


“ Hah... dasar narsis lo jadi orang “. Ucap savira.


“ Kenapa Sav, lo iri ya sama kegantengan gue, atau... lo naksir sama gue karena wajah yang tanvan ini “.


“ HOWEKKK!!!, najis banget anjir!, narsis lo Ardi! “.


Savira dan Firdan merasa mual dan berbicara secara bersamaan, hal itu membuat Ardi diam tanpa ekspresi karena kejulidan dari kedua temannya, bisa-bisanya mereka kompak ketika mengumpati dirinya narsis, kalau bukan karena sudah berteman lama mungkin Ardi akan marah dan naik pitam, namun ia mau bagaimana lagi?, yang mengejeknya saja sahabat sendiri, jadi dia harus sabar dan berlapang dada menerima setiap perkataan nyeletit mereka, padahal satu diantara temannya yang julid sedang tidak masuk kuliah, apalagi nanti jika dia sudah ada setiap harinya.


“ Haduh... punya temen gini amat ya Allah... “. Ucap Ardi mengelus pelan dadanya.


“ Adanya gue yang harus ngomong gitu, kenapa ya gue dapet temen modelan kayak elu Di, narsis parah tau gak? “. Ucap Firdan.


“ Kan kenyataan Dan... masa lo gak nyadar sih kalau gue ganteng “.


“ Ganteng di ganteng, tapi gak usah tiap waktu diungkit juga kali, lama-lama gue jodohin juga lu sama janda pirang tetangga gue “.


“ Eh? jangan lah, entar Nafsah cantik siapa yang nikahi? “.


“ Masih banyak cowok yang lebih bagus dari elu Di “. Kali ini Savira berbicara dengan perhatian yang masih fokus pada ponselnya.


“ Yah... Sav, lo jangan ikut-ikutan juga dong... emang lu mau kalau sahabat lu ini comblangin sama si Firdan ke janda tak bersegel? ‘.


“ Bodo amat... urusan gue juga bukan kan? “.


“ Yah... kalau aja ada Hasby, pasti dia udah belain gue “.


“ NGAREP LU! “. Ucap Firdan dan Savira bersamaan.


~


“ Hachim! “.


“ Kamu kenapa Hasby? Dingin? “.


“ Oh, itu... aku gak papa kok Van, kayaknya ada yang lagi ngomongin aku deh “.


“ Masa sih? Emang beneran kayak gitu ya? “.


“ Mungkin... “.


Saat ini, kembali ke keadaan pasutri baru yang tengah kasmaran, Vanesa dan Hasby kini sedang duduk dibangku taman dibawah pohon rindang sambil memakan camilan. Beberapa menit yang lalu mereka pergi ke minimarket untuk sekedar membeli air minum dan ice cream, dan secara kebetulan ditengah jalan mereka berpapasan dengan abang-abang tukang cilok, hingga keduanya memutuskan untuk membeli makanan tersebut dan menyantapnya di taman sekarang ini.


“ Gimana? Enak? “ Tanya Hasby yang melihat Vanesa dengan lahap memakan jajanannya.


“ Enak, kamu mau coba? “.


“ Kan ini ada... “.


“ Itu kan beda, sini nih cobain dulu “. Ucap Vanesa sambil menyodorkan cilok hendak menyuapi.


Hasby tersenyum sebelum melahap cilok yang Vanesa sodorkan. “ Em... enak, yang kamu agak lumayan pedes ya “.


“ Tapi sensasinya beda kan, lebih wah dong... “.


“ Iya... beda sama yang punya aku, mau coba? “.Tanya Hasby melakukan hal sama seperti wanita yang berada disampingnya.


Vanesa mengangguk, lalu memakan benda yang disodorkan Hasby, wanita itu nampak senang, meskipun hanya dengan jajanan kecil seperti ini, mungkin gadis itu sudah lama tidak merasakan sensasi dan keadaan seperti ini, terlebih jika mengingat bahwa Vanesa adalah anak dari orang kaya yang tajir melintir, mungkin dirinya jarang atau bahkan tidak pernah jajan ke tukang jualan yang ada di pinggir jalan.


‘ Hm... mungkin kedepannya gue harus sering ngajak dia jalan-jalan, seru deh liat muka Vanesa yang antusias kayak gini ‘.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2