
Disarankan untuk baca chapter sebelumnya ya...
~
setelah Nafsah membuang cicak tersebut, kini Hasby mulai terlihat lebih tenang, setidaknya ia tidak lagi teriak-teriak seperti beberapa menit yang lalu.
Dalam posisi di peluk oleh Vanesa, saat ini Hasby baru menyadari bahwa tubuhnya sangatlah hangat, karena saking dekatnya, dia dapat merasakan detak jantung wanita itu dan merasakan hembusan nafasnya.
Tapi ada yang lebih ia rasakan dari hal ini, tepatnya tekstur permukaan yang empuk menempel pada lengan kanan bagian atas, setelah ia lirik sedikit demi sedikit, ternyata permukaan lembut itu adalah dada Vanesa yang mengganjal di tubuhnya.
memiliki perasaan campur aduk, antara malu dan takut ketahuan Vanesa, wajah Hasby kini merona karena terus merasakan sensasi lembut ini.
" Eh? kenapa muka lo merah?...apa lo demam? " ucap Vanesa sambil meletakkan tangannya ke kening Hasby.
" Tapi kok gak panas?... ".
belum menyadari kalau Hasby selalu menatap lekat ke arah dadanya, hal yang pertama kali tahu hal ini adalah Nafsah, awalnya sedikit terkejut, namun ia tidak berniat untuk langsung memarahi Hasby.
" Em... kak Vanesa " ucap Nafsah.
" Iya ".
" Kakak... baru abis mandi ya? ".
Alasan Nafsah menanyakan hal ini, karena ia melihat cara Vanesa mengenakan pakaian sangat terbuka, lebih tepatnya ia tidak memakai busana, melainkan mengenakan handuk yang menutupi area dada sampai lutut, serta terlihat rambut basahnya yang belum dikeringkan.
" Oh... iya, tadi belum sempat pake baju karena___ " Vanesa tidak melanjutkan kata-kata nya, melainkan diam mematung sejenak sebelum melemparkan tatapan nya pada Hasby.
Dia melihat bahwa pemuda yang ada di samping selalu menatap ke arah yang seharusnya tidak dia lihat, secara refleks dan tidak di sengaja, Vanesa mendorong Hasby sedikit kuat hingga pemuda itu terdorong.
" ARHG!!!...Hasby!... lo liat kemana!!?...".
" Eh?, itu... itu aku gak__... "
Tidak mendengar ucapan Hasby, Vanesa kini bergegas keluar dari kamar, dengan keadaan malu, dia pun membanting pintu kamarnya sampai-sampai suara itu terdengar oleh Hasby dan Nafsah.
" Kamu sih... kayaknya dia ngambek deh... "
" Tapi... aku gak sengaja Naf ".
" Mangkanya... jadi cowo tuh jangan mesum ".
" Namanya juga cowok normal, liat yang kayak gitu...ya...kehipnotis, dan... sayang juga kan ngelewatin pemandangan nya " ucap Hasby memalingkan wajahnya dari Nafsah.
" Hayo... dosa lho kak, dia kan bukan muhrim kamu ".
__ADS_1
tersadar bahwa yang ia lakukan adalah hal yang salah, Hasby menghela nafas kasar, sesekali tangan yang terdapat jarum infusan di dalamnya menjadi sakit, karena Vanesa mendorongnya tadi, akibatnya selang infus sedikit tertarik dan membuat tangan Hasby berdarah.
teringat akan suatu setelah mendengar Nafsah tadi, Hasby berniat untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Vanesa, hal ini memang tidak disangka-sangka olehnya, tapi ia sudah memikirkannya sejak beberapa hari yang lalu, dan sudah dapat menerima konsekuensinya jika akan ada konflik ketika pembahasan ini terjadi.
" Nafsah... aku mau ngomong sesuatu sama kamu ".
" Ngomong apaan? ".
" Ini tentang hubungan kakak sama Vanesa, kayaknya__..."
" Hah... mending kamu ceritanya nanti aja ya, aku takut telat masuk kuliah..., kakak jangan lupa banyak istirahat, terus gak boleh sering gerak ". ucap Nafsah sambil menuju keluar.
" Loh? tapi__... ".
" Udah nanti aja... ".
Tidak bisa menahan Nafsah, Hasby hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menatap kepergian adiknya.
' Kayaknya cerita nanti aja kali ya...' Batin Hasby.
°°°
dua hari sudah berlalu, Hasby masih belum masuk kuliah, kondisinya memang sudah membaik, ia dapat melakukan aktivitas seperti biasanya, namun sering kali kepalanya akan sakit secara tiba-tiba, jadi dia berencana untuk masuk ke kampus besok.
di samping hal itu, Ardi, Firdan dan Savira berencana untuk menjenguk Hasby hari ini, sebelumnya mereka akan berangkat kemarin, namun lagi dan lagi Nafsah memberikan alasan yang membuat mereka tidak jadi pergi, sehingga untuk kepergian kali ini, mereka berniat tidak memberi tahunya.
" Nafsah kamu kenapa sih? ". tanya Hasby pada adiknya yang sejak tadi selalu mundar-mandir.
" Kak, kita punya masalah besar, kita punya masalah besar!!!... ". ucap Nafsah sambil sedikit mencengkram hijabnya.
" Kamu bisa tenang dulu gak?, dan apa masalah?... "
" Kak Ardi, dia... dia sama yang lain mau datang kesini ".
" ...Em...terus? apa masalahnya?".
" Ka... kamu ini gimana sih kak? masa kamu lupa sih... ".
" Lupa kenapa? ".
Nafsah kini menepuk jidat nya sebelum ia memandang Hasby dengan kesal, sedikit jengkel dengan keadaan IQ kakaknya yang selalu rendah jika ada masalah, Nafsah mulai menjelaskan inti dari masalahnya.
dia berucap, kalau Ardi, Savira dan Firdan mengetahui keberadaan Vanesa di rumah mereka, bukan tidak mungkin ketiganya akan marah. Secara logika, mereka akan menganggap Hasby dan Nafsah tidak mempercayai mereka lagi, bisa saja mereka bahkan akan memutuskan hubungan, secara kan masalah ini adalah masalah yang sangat serius.
" Oh... ".
__ADS_1
" Oh?, kamu jawab oh doang setelah aku cerita panjang lebar?! ". tanya Nafsah dengan sedikit emosi.
" Kamu tenang aja Naf...aku bakalan cerita sendiri ke mereka bertiga kok ".
" Tapi... gimana kalau mereka marah dan mutusin hubungan sahabat kita? ". tanya Nafsu dengan nada pelan.
" Ini urusan aku sama mereka, kamu gak bakalan terlibat ".
" Kalau gitu ceritanya, mending kamu jangan cerita sama mereka, aku gak mau kalau kamu di benci ".
" Gak papa... aku udah mutusin buat bicara sama mereka, gak peduli sama konsekuensi yang aku terima, kakak gak mau selalu nyimpen kebohongan dari mereka... ya mungkin aja ini agak sulit buat Savira... ".
" Ya udah... kalau itu emang pilihan kakak...aku bakalan dukung ".
Hasby mengelus pelan hijab Nafsah yang menunduk, sedikit ada rasa bersalah di hatinya, masalah yang seharusnya ia tanggung sendiri membuat adik perempuannya ini terlibat, sebenarnya ia sudah lama ingin menceritakan yang sebenarnya pada ketiga sahabatnya, tapi selalu di halang oleh dinding ketakutan, berbeda dengan sekarang ini, dirinya sudah lebih memantapkan hati walaupun menerima risiko.
" Oh iya, Nafsah... aku dari kemaren-kemaren mau cerita tapi lupa mulu... ".
" tentang apa? ".
" Jadi gini... ".
Hasby menjelaskan pada Nafsah tentang isi pikirannya, dari rencana yang sudah lama ia buat. Hal ini berkaitan dengan Vanesa, karena Hasby berniat untuk menikah sirih dengannya, awalnya sih Nafsah kaget, namun setelah mendengar penjelasan Hasby, dia pun mulai setuju dengan saran itu.
alasan Hasby merencanakan hal ini, karena takut membuat gosip yang tidak-tidak di sekitar rumahnya, walaupun letak rumah Hasby ini terpencil, tapi tetap akan tidak pantas jika orang-orang melihat Vanesa yang selalu ada dirumahnya, terlebih lagi Vanesa selalu memakai pakaian yang sedikit terbuka, tidak jarang Hasby akan melihatnya setiap hari, selain orang yang muhrim, aurat perempuan kan tidak boleh dilihat oleh laki-laki.
" Terus... kamu kapan rencananya mau bawa dia ke Amil ( penghulu) ".
" Mungkin seminggu dari sekarang ".
" Oh... ".
saat Nafsah dan Hasby masih berbincang-bincang, terdengar suara bel rumah nya yang berbunyi, dirinya suara laki-laki yang memanggil nama mereka berdua.
" Assalamualaikum... Hasby... lo ada di rumah kan? ". ucap salah satu pria.
" Nafsah cantik... Assalamualaikum... ini aku, Ardi... ". ucap satunya lagi.
mendengar dari suara dua pria itu, Nafsah dan Hasby kaget karena mengetahui pemilik suara tersebut.
" Firdan... ". " Kak Ardi... ".
ucap mereka bersamaan...
________________________
__ADS_1
bagi like nya ya gaess...
jumpa di chapter selanjutnya...