Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu

Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu
76# Nyaman


__ADS_3

Diusahakan baca chapter sebelumnya ya...


***


Tidak terasa oleh Vanesa dan Hasby, mereka kini sudah berbincang sekitar setengah jam dari waktu sebelumnya, dengan mengungkapkan isi hati yang selama ini dipendam, perasaan Vanesa entah kenapa terasa lebih lega dan pikirannya terasa lebih ringan.


" Gua... mau ngucapin terima kasih buat lo, karena... udah dengerin semua cerita dan curhatan gua " ucap Vanesa.


" Aku dengan senang hati buat dengerin semua cerita kamu kok, ya... asal kamu nya aja uang harus terbuka ".


" Hm... gua usahain ".


tidak lama setelah Vanesa berkata seperti itu, dirinya saat ini baru teringat dengan perintah Jordan tentang Hasby yang diperbolehkan bekerja di perusahaan Nur. Karena terus memikirkan tentang rencana pernikahannya, Vanesa kala itu menjadi lupa tentang hal ini, waktu tadi ayahnya juga sempat menelpon, tapi karena sedang diperjalanan, panggilan itu pun berakhir tidak terjawab.


" Ya ampun... gua baru inget!, kenapa bisa lupa sih? ". ucap Vanesa memijat keningnya.


" Lupa kenapa? " tanya Hasby.


" Kemaren ayah bilang, lo mulai besok udah bisa kerja di group Nur, sebenarnya sih mulai dari hari ini juga boleh, tapi guanya yang lupa bilang ".


" Tapi... aku kan belum lulus S1, emang boleh?... ".


" Gampang... entar kita tanya, lagian ayah bilang terserah lo mau kerjanya kapan ".


" Kalau menurut aku... mending sementara waktu jangan dulu masuk kerja, soalnya kan tanggung... sekitar 2 atau 3 bulan lagi aku bakalan magang... ".


" Magang dimana? ".


" Kayaknya di perusahaan bokapnya si Ardi ".


" Em... kalau gak salah...nama direkturnya pak Setiawan kan? ".


" Iya... ".


" Ya udah, urusan kerjaan entar kita bahas besok "

__ADS_1


" Kita mau ke rumah keluarga Lits? ". tanya Hasby.


" Betul... jadi mau gak mau besok lo harus absen ".


" Bisa gak bahas nya pas pulang kuliah?, tahun ini absen aku udah banyak banget... kalau enggak dibantuin sama om Bayu... mungkin udah dari dulu di DO ".


" Banyak apaan? perasaan bulan ini cuma seminggu deh... ".


" Itu udah ngelewatin rata-rata... normalnya kan cuma 2 sampai 3 hari, belum ditambah pas waktu aku di rumah sakit dulu, hampir sebulan tau... "


" Terserah... gua gak mikirin, yang kerja lo ini kan? ".


" Memang... tapi kan gajinya buat kamu ".


" Hah? gua? ... apa hubungannya? ".


" Ya berhubungan lah... sekarang kan kamu tinggal di rumah aku, perlu di biayain... masa aku kasih kamu makan batu?... terus kalau ngandelin uang dari ayah kamu kan gak enak, dimana coba harga diri aku sebagai seorang suami? ".


sedikit tidak menyangka kalau Hasby memiliki pemikiran seperti itu, Vanesa menilai bahwa Hasby adalah orang yang selalu bertanggung jawab. Sudah menjadi kewajiban seorang suami untuk menafkahi keluarga nya, dengan mendengar ucapan pria yang ada di depannya ini, Vanesa baru menyadari bahwa dia adalah orang yang mandiri, tidak mengandalkan kekuatan ekonomi yang difasilitasi oleh ayahnya, Hasby ini lebih memilih bekerja dari pada duduk diam saja.


tanpa mereka ketahui, Nafsah, Firdan dan Ardi sudah melihat keduanya sejak pertama kali mereka berbicara, agak kaget karena baru menyadarinya, Hasby dan Vanesa yang awalnya saling memandang, kini membalikan posisi mereka ke arah yang berlawanan.


" Ehem, ehem... kenapa gak dilanjutin ceritanya?, perasaan tadi enjoy-enjoy aja lu pada..." ucap Firdan.


" Iya nih... lanjutin aja, gak papa kok... kita disini gak bakalan ganggu ". kali ini Ardi yang berbicara.


" Ih... kalian ini gimana sih, kita ini sekarang lagi ganggu tau... aku nyesel lho nongol sekarang, kalau enggak kan mereka bakalan lanjutin obrolannya..." tutur Nafsah ikut-ikutan menggoda kakaknya.


suasana saat ini menjadi canggung bagi Vanesa dan Hasby, sementara bagi ketiga biang keroknya, yaitu Nafsah, Firdan serta Ardi malah tertawa kecil melihat tingkah keduanya.


karena malu digoda oleh mereka bertiga, Vanesa pun berniat untuk pergi lebih dulu, dengan wajah datar khas dirinya, ia pun pamit pada ketiga biang kerok tadi. Meski terlihat biasa-biasa saja, terlihat pipi Vanesa yang saat itu nampak merona, itu mungkin efek karena ia malu.


setelah keberadaan Vanesa tidak ada lagi, Nafsah, Firdan dan Ardi kini menghampiri Hasby. Dilihat dari raut wajahnya, mingkin suasana Hasby yang beberapa waktu lalu baik-baik saja, kini menjadi sedikit kacau.


" Cie...yang lagi ngambek gara-gara bininya minggat ". ucap Ardi yang kini berada di samping Hasby.

__ADS_1


" Apaan si? gak jelas lo Di ". jawab Hasby.


" Yah... dia marah, haha... sorry dong sob... kita kan gak niat buat bikin bini lo pergi " ucap Firdan.


" Iya kak, kita niatnya gak kayak gitu kok... tapi kalian nya aja yang punya pemikiran lain..." tutur Nafsah.


karena selalu digoda oleh ketiganya, kini Hasby lebih memilih ke kamarnya, belum hilang rasa lelah dari perjalanan tadi, rasa sakit kepalanya sedikit bertambah, belum lagi dia mendapat begitu banyak omong kosong dari dua sahabat dan satu adiknya ini.


" Udah,udah,udah... kalian ngomongnya gak ada paedah, mendung gua mandi... ". ucap Hasby yang saat itu beranjak pergi.


melihat pria itu pergi dengan wajah kusut, Nafsah, Firdan dan Ardi tertawa setelah keberadaan Hasby tak terlihat lagi, sudah jelas bahwa pria yang satu ini sedang menikmati apa itu kenyamanan yang sesungguhnya, tapi Hasby sendiri masih terus menyangkalnya.


" Haha... lagi marah dia, lucu gua liatnya ". ucap Firdan.


" Sama... si Vanesa nya juga malah malu-malu kucing " tutur Ardi.


***


Malam, pukul 21:00


" Urgh... kapan ya rasa sakit ini bakalan reda? ".


saat ini, dikarenakan banyak kegiatan yang membuat tubuh Hasby lelah, penyakit yang selama ini ia idap kembali kambuh. Dengan rasa sakit yang mungkin lebih kuat dari sebelumnya, Hasby sendiri hanya bisa menahan walaupun sudah meminum obat.


tidak lama setelah itu, Nafsah datang setelah ia mengetuk pintu terlebih dahulu, reaksinya sedikit panik ketika melihat kakaknya duduk dengan posisi kedua tangan yang terus memegang kepala.


" Kak Hasby... Kamu gak papa? obatnya udah diminum belum? " tanya Nafsah yang kini duduk di samping Hasby.


" Aku gak papa... cuma... entah kenapa efek obatnya agak lambat akhir-akhir ini...." ucap Hasby.


melihat kondisi Hasby seperti ini, Nafsah tahu persis apa penyebab lambatnya efek obat yang dia minum, dengan semakin ganasnya tumor yang Hasby derita, kemungkinan khasiat obat yang kakaknya konsumsi tidak terlalu efektif lagi.


" Kak, ada sesuatu yang aku mau omongin... "


_____________________________

__ADS_1


Jumpa di chapter selanjutnya ....


__ADS_2