Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu

Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu
97# Harapan


__ADS_3

Pagi ini, masih dalam dekapan Hasby, Vanesa mulai menenangkan diri dengan berpikir bahwa pria yang ada didepannya sedang baik-baik saja dari awal, mimpi yang seakan nyata itu memang telah membuat mentalnya drop seketika, tapi jika membuka mata dan melihat senyum hangat Hasby yang menyambut, kali ini dirinya yakin bahwa pria itu adalah pria yang kuat dan dapat menahan penderitaannya.


Setelah beberapa menit tangisan keras menghilang, digantikan dengan isakan yang tersisa, Vanesa mulai melonggarkan pelukannya dari Hasby karena perasaan malu yang tiba-tiba datang, bagaimana tidak? Terakhir kali diingat, saat bangun tidur ia langsung merangkul tubuh orang dan mendadak menangis keras, jika seseorang melihat kejadian tersebut, bukan tidak mungkin mereka akan beranggapan bahwa dirinya sedang mencari perhatian dari kekasihnya, masih mending kekasihnya, ini tidak, meskipun Ia dan Hasby memiliki hubungan nikah kontrak, tapi Vanesa tidak tahu kalau pria itu menyukainya atau tidak.


“ Kamu udah baikan Van... “ Tanya Hasby.


“ Iya... aku... udah gak papa “ Ucap Vanesa yang sedikit menjauhkan diri.


“ Apa kamu mimpi buruk semalam? “ tanya Hasby.


Hanya dijawab dengan anggukan oleh Vanesa, Hasby beranggapan kalau mimpi buruk Vanesa ini cukup membuatnya histeris, dilihat dari reaksi saat bangun tidur tadi, mungkin wanita yang ada disamping bermimpi kehilangan seseorang yang Ia sayangi.


“ Gak papa... semuanya bakalan baik-baik aja kok, jadi kamu tenang aja ya...”


Sambil menatap lembut mata Vanesa, Hasby mengelus rambutnya yang nampak kotor dan lepek, tidak seperti nona muda yang tubuhnya terawat dan cantik, penampilan gadis itu tidak jauh dari orang yang malas mandi, meskipun ia tahu bahwa dirinyapun dalam kondisi yang saya, namun beberapa hari hanya mandi dengan air saja tidak cukup untuk mengilangkan kotoran di tubuh mereka, apalagi Hasby yang harus menghilangkan bau amis darah dari luka-lukanya yang kecil maupun sedang.


Disaat masih nyaman mengelus rambut Vanesa, Hasby dikejutkan dengan air mata yang kembali mengalir dari sudut mata gadis itu, dirinya cukup panik, apakah Ia melakukan kesalahan, apakah Ia membuat Vanesa tidak nyaman, pikirannya kali ini dipenuhi dengan kebingungan.


“ E... Vanesa, kamu kenapa? Apa ada yang sakit? Apa aku buat kesalahan? Kalau ada tinggal ngomong ya... aku minta maaf kalau aku salah, ok? “ Ucap Hasby dengan perkataanya yang panjang.


“ Aku takut Hasby... “


“ Takut kenapa? Apa mimpi kemarin malam keinget lagi? Kalau kamu mau cerita, aku siap dengerin, ok?... jadi kamu jangan nangis lagi ya... “


Tidak langsung menceritakan impiannya, Vanesa menghela nafas panajng sambil mnyeka air matanya yang jatuh tadi, setelah itu, dirinya mulai menceritakan tentang mimpinya yang disana Hasby meninggal dunia dalam keadaan mengucapkan sesuatu yang dirinya tidak dapat dengar. Saat itu perasaan vanesa seolah hancur bagai vas bungan yang dibanting keras hingga pecah, meskipun hanya mimpi, entah kenapa Vanesa merasa adega itu terasa nyata sekali.


“ Tenang, Vanesa... itu cuma mimpi doang koko, kamu gak perlu khawatir, buktinya akau baik-baik aja kan? “


“ Tapi...”


“ Shut....”


Hasby menghetikan ucapan Vanesa sambil menyentuh mulut gadis tersebut dengan jari telunjuknya, ia memberi nasehat bahwa mimpi itu hanyalah bunga tidur semata, tidak semua kejadian yang ada didalam mimpi akan menjadi kenyataan, bahkan dalam kasus khusus, kejadian yang berada di dalam mimpi sangat jarang sekali terjadi, jadi oleh karena itu Ia menghimbau agar Vanesa tidak perlu khawatir lagi.


“ tapi... itu bukan pertanda buruk kan Hasby? “


“ Enggak... malah aku denger dari orang, kalau kita mimpi saudara atau orang terdekat kita meninggal, itu tandanya orang tersebut bakalan panjang umur “


“ Beneran? “ Tanya Vanesa dengan wajah cerah.


“ Iya, masa aku boong sih?”


Hanya bisa menyenangkan Vanesa dengan ucapan seperti itu, Hasby menceritakan hal tersebut karena pernah mendengar dari seseorang mengenai mimpi seseorang meninggal, padahal nyatanya ia juga belum tahu pasti tentang kebenaran dibalik mimpi tersebut, setidaknya untuk saat ini Ia dapat membuat Vanesa berpikir positif.


‘ Maaf ya Vanesa... aku boong biar kamu gak nangis lagi ‘ Batin Hasby sambil tersenyum bersalah.


***


Nafsah berdiri diantara 3 pria dewasa yang saat ini saling menatap satu sama lain, bukan hanya Bayu dan pamannya Panji, tidak lama Ia mengakhiri pembahasan yang tadi dibicarakan, datang seseseorang yang diketahui bahwa Ia merupakan orang tua dari Vanesa, siapa lagi kalau buka Jordan.

__ADS_1


“ Kamu... bang Panji?! “ Ucap Jordan yang sedari tadi diam kini mumbuka suara.


Hanya keheningan yang menjawab pertanyaan Jordan, baik Bayu maupun Panji tidak menjawab sama sekali ucapan pria itu, terlihat dari sorot mata keduanya bahwa mereka seperti memiliki dendam tersembunyi, ditambah ekspresi dari Bayu, Nafsah tidak pernah melihat om angkatnya ini marah, apalagi dengan wajah yang seakan akan meledak kapan saja.


Tapi bukan Bayu namanya jika dia tidak berpikiran bijak, namun bukannya menjawab Jordan pria itu kini malah bertanya balik “ Kamu mau ngapain ke sini Jordan? “ Tanya Bayu.


“ Gua... maaf... maksudnya saya kesini niatan mau ikut cari tau tentang perkembangan pencarian tim penyelamat, tapi... entah kenapa bisa ketemu kamu... dan... bang... Pak Panji “ Ucap Jordan sedikit merendahkan suara.


Setelah Jordan berkata seperti itu, bagi Nafsah suasana saat ini sangatlah canggung sekali, tidak hanya tanpa perlakuan formal layaknya menyambut seseorang yang baru datang, Bayu dan Panji seakan tidak menginginkan keberadaan Jordan disini, mungkin jika saja dirinya tidak ada disini, Nafsah berpikir mungkin saja keadaan akan lebih buruk dari yang terlihat saat ini.


Berinisiatif untuk mencairkan suasana, Nafsah mempersilakan Jordan untuk duduk di kursi yang sebelumnya Ia duduki dan menyuruh kedua orang lainnya untuk duduk juga, sementara dirinya mencari alasan untuk memesan beberapa gelas minuman.


Setelah kepergian Nafsah, barulah panji berbicara untuk pertama kalinya. “ Lama gak ketemu Jorda “ Ucap Panji dengan wajah datarnya.


“ Iya Ba_... pak “


Percakapan kembali berhenti dan suasana menjadi hening, tapi tidak lama setelah itu Panji bertanya lagi pada Jordan. “ Gimana hidup kamu saat ini? Apa kamu bahagia?, atau... ada sesuatu yang bikin kamu gak menikmati semua? “ Ucap Panji.


Hanya bisa mengehala nafas, Jordan tahu makna tersirat dari pertanyaan itu, meskipun terkesan hanya bertanya basa-basi, namun dibalik kalimat ‘ ada sesuatu yang bikin kamu gak menikmati semua ‘, Jordan yakin bahwa pria yang ada didepannya ini membahas ke arah masa lalu yang pernah Ia perbuat sebelumnya.


“ Seperti yang anda bilang... saya gak bisa menikmati apa yang bukan hak saya, apalagi... saya punya penyesalan karena perbuatan saya itu... “


“ Ouh, apa iya? “


“ Ya... “


“ Mengingat masa lalu, apa kamu enggak bisa berpikir kalau dampak dari kejadian itu akan berpengaruh buruk sama orang yang bersangkutan? “ ucap Panji dan hanya dijawab dengan keheningan.


“ Awalnya saya kira kamu bakalan sadar, tapi enggak disangka, kesadaran kamu itu datang ketika semuanya sudah terlambat, meskpin saya masih bersyukur kamu bisa kembali menjadi seorang Jordan bukan lagi Jordan yang serakah, tapi ketika melihat penderitaan anak dari teman kamu yang baik itu... saya cukup kecewa karena kamu masih belum mengembalikan hak mereka “


Seketika itu juga, mata Jordan terbelalak, mendengar Panji yang menyebutkan seorang anak dari temannya membuat Ia terkejut bukan kepalang, ternyata selama ini pendapatnya tidak salah, tentang Bayu dan Panji yang mengetahui tentang keberaddaan anak-anak Risyad. Sudah sekian lama Ia mencari keberadaan mereka, kalau tidak salah, diantara anak Risyad yang Jordan ketahui, anak sulungnya bernama Fadil dan dirinya tidak cukup ingat untuk mengetahui nama dari adik perempuannya itu.


“ Bang Panji tau tentang anak Risyad?! Mereka dimana bang? Boleh saya ketemu sama mereka, apa mereka ada di kota ini?, atau... enggak, apa mereka ada di Indonesia atau di luar negri? “ Tanya Jordan


“ Sepertinya kamu cukup antusias ketika ngomongin mereka, apa kamu punya tujuan tersembunyi? Atau...”


“ Enggak bang, maksud saya... enggak pak, saya bukan ada maksud buruk, kalau boleh... apa saya bisa ketemu sama mereka, saya mau tebus semua kesalahan saya ke Risyad lewat anak-anak mereka, saya yakin, setelah Risyad dan Hani meninggal, mereka pasti hidup tanpa ada rintangan “


“ Punya hak apa kamu buat ketemu mereka? Apa kamu lupa siapa orang yang buat mereka kayak gitu? “


“ Saya tahu, saya tau kalau itu kesalahan terbesar yang pernah saya buat, tapi meskipun terlambat, izinkan saya untuk ketemu mereka pak, saya janji buat ngembaliin semua hak mereka, saya bersumpah... jadi... saya mohon... tolong pertemukan saya sama mereka”


Dengan sorot mata yang tulus, Jordan memohon pada Panji untuk dipertemukan dengan anak-anak Risyad, sudah cukup penderitaan yang mereka alami yang disebabkan olehnya, belum lagi rasa penyesalan yang semakin hari semakin menguat dan membesar, meskipun hidup dengan berkecukupan, pikirannya sangatlah bertolak belakang dengan kondisi keuangannya.


Merasa Iba dengan Jordan yang sedari tadi memohon, Panji melihat Bayu sejenak sebelum Ia melihat sorot mata pria yang ada dihadapannya, terdapat rasa penyesalan dan kesedihan yang besar terkandung didalamnya, sehingga dengan menghela nafas, Panji yang awalnya berniat mengusir Jordan kini tidak menyangka malah akan memberitahu Jordan siapa anak Risyad dan Hani sebenarnya.


“ Kami bakalan kasih tau kamu tentang keberadaan dan siapa anak dari Risyad dan Hani, tapi sebelum itu, kita prioritaskan Hasby dan Vanesa yang saat ini masih belum ketemu, saya dengan Vanesa itu anak kamu kan “ Tanya Panji dan dijawab oleh anggukan.


Setelah memutuskan untuk memprioritaskan pencarian Hasby dan Vanesa, Bayu yang sejak tadi diam kini mengajak Panji dan Jordan untuk pergi ke tempat kejadian, meskipun ketiganya masih canggung karen asudah lama tidak kumpul bersama, tapi demi tujuan, mereka membuang ego masing-masing.

__ADS_1


Tidak lama setelah kepergian mereka, kini datang seorang wanita yang menghampiri tempat duduk mereka sebelumnya, terlihat heran karena tidak menemukan satu orang pun, wanita itu adalah Nafsah yang sebelumnya izin pamit untuk mengambil air minum, dan terlihat jelas dirinya sedang membawa sebuah nampan yang terdapat tiga canggik teh disana.


“ Ini para om-om pada kemana? Maen ngilang aja... terus nasib teh nya ini gimana? “ Gumam Nafsah.


***


“ Vanesa... sini deh “ Ucap Hasby yang saat ini sedang duduk di atas sebuah batu.


Tepat setelah membersihkan badan dan makan dari hasil menangkap ikan di sungai, Hasby dan Vanesa berencana untuk mengelilingi hutan ini sejenak, meskipun disebut hutan, tapi daerah dekat sungai dan tebing ini lebih tepat di sebut tanah luas yang terdapat banyak pohon, rumput disini tidak terlalu tumbuh tinggi, sehingga tidak terlalu membuat Hasby dan Vanesa kesulitan saat melewatinya, cahaya mataharipun terpancar dengan baik meskipun pohon-pohon disini cukup tinggi.


“ Hasby... aku gak bisa naiknya “ Ucap Vanesa sedikit mendongkak.


“ Hehe... iya yah, aku lupa buat nuntun kamu “


“ Huh.... Itu sih, maen dulua aja, gak mikirin apa masih ada orang dibelakang? “ Ucap Vanesa cemberut.


“ Iya, iya, maaf... Sini, ulur tangan kamu biar aku tarik “


Sesuai instruksi dari Hasby, Vanesa mengulurkan tangannya dan segera disambut oleh pria itu, sedikit terhuyung karena berpindah pijakan, tapi dengan adanya topangan dari Hasby, Vanesa dengan cepat menyeibangkan tubuh meskipun sudah naik diatas batu besar tersebut.


“ Gimana? Bagus kan? “ Ucap hasby sambi menunjuk ke depan.


Saat mata Vanesa mengikuti arah tangan Hasby, dirinya cukup takjub dengan apa yang ia lihat saat ini, berdiri di atas batu besar ini membuatnya dapat melihat permukaan atas hutan dari sisi yang lebih luas. Di depan sana, selain hamparan pohn yang membentang, terdapat dia tebing yang mengapit hutan ini, terkesan seperti sebuah rawa tanpa air.


“ Wah... Hasby... pemandangannya bagus banget “ Ucap vanesa terpukau.


“ Iya kan, meskipun aku tumbuh di kota, tapi aku tau sedikit tentang hutan, selain sering kemping, aku juga pas SMP ikut kegiatan pramuka “


“ Ouh... kalau gak salah, yang malemnya itu bakalan ada acara api unggun ya? “


“ Kok kamu tau sih? “ tanya Hasby.


“ Ya... aku juga dulu pernah ikut, Cuma kalau urusan kemping... kayaknya aku Cuma pernah ikut sekali deh “


“ Pasti gak dapet izin dari ayah mertua “ Ucap Hasby dan dibenarkan oleh anggukan Vanesa.


Percakapan berhenti sejenak, dengan keduanya yang kini sibuk melihat pemandangan sekitar, masing-masing dari mereka kini memikirkan sesuatu. Dari sisi Vanesa, dirinya bersyukur kalau Hasby yang selama ini menemaninya sedang dalam keadaan baik-baik saja, meskipun terkadang lewat rasa khawatir, namun ketika melihat pria itu dapat beraktivitas tanpa hambatan membuat nya tenang sekaligus tenang.


Untuk Hasby, dirinya cenderung berpikir tentang Vanesa yang selama ini menjaga saat demam menyerang, meskipun mereka dapat melalui hal tersebut beberapa hari terakhir, tapi tetap saja, bagaimana jika ada hal yang lebih parah dari kemarin, tapi Hasby menghapus semua pemikiran buruk itu, mengingat bahwa Vanesa adalah wanita yang kuat, sehingga Ia tidak terlalu di buat khawatir olehnya, tapi masalahnya dari dirinya sendiri untuk saat ini.


Disaat masih terlarut dalam pikiran, ada sesuatu yang lewat dibenak Hasby, entah ia bisa atau tidak membicarakan hal ini pada Vanesa, yang pasti dirinya pernah dan tidak sekali dua kali untuk mengungkapkan ucapan ini pada wanita itu, namun terkadang terhalang oleh keadaan maupun pikiran.


‘ Ok, Hasby... ayo mulai, kalau bukan sekarang, mungkin lo gak akan dapet kesempatan lagi buat ngomong ke dia ‘ Batin Hasby berbicara pada diri sendiri


_____________________________________


Tetap dukung cerita ini ya...


jumpa di chapter selanjutnya

__ADS_1


__ADS_2