Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu

Wanita Jutek Ku : Sakit Ku Tak Perlu Kau Tahu
79# Tempat tujuan


__ADS_3

PERHATIAN!!!!!


MOHON DIBACA!!!


maaf kalau aku ngeganggu kalian pas lagi scroll, tapi asal kalian tahu, tolong jangan pernah baca chapter yang ini, aku juga gak tau, tapi mungkin ada kesalahan teknis atau apa?, yang seharusnya muncul itu chapter 51 ( sekarang chapter 52 ), tapi yang nongol nya malah chapter 79, aneh kan?.


sumpah... aku juga baru nyadar, jadi buat para pembaca, tolong lewat aja ya, biar kalian gak pusing bacanya, ok?.


ya udah... silahkan baca lagi ke chapter selanjutnya...


__________________________________


" Kakak... kamu kenapa lama banget sih? " tanya Nafsah setelah Hasby dan Vanesa turun dari mobil.


" Maaf, tadi ibu angkat ngajak ngobrol agak lama..."


" Ya udah... sekarang kita langsung berangkat aja ". ucap Nafsah sambil menyeret Hasby masuk ke mobil Firdan.


" Eh,eh,eh... aku kan baru nyampe, lagian Vanesa kan___..."


" Udah, kamu diem dulu aja di sini ". ucap Nafsah.


sebelum Hasby menyelesaikan ucapannya, Nafsah terlebih dahulu menyela omongan dan langsung meminta izin kepada Vanesa, ini memang sangat mendadak, tapi Nafsah memberikan alasan pada Vanesa bahwa mereka akan segera menemui Bayu karena ingin membicarakan hal yang penting.


mungkin awalnya cukup aneh, seingat Vanesa kan sebelum ke rumah keluarga Lits, Hasby bilang padanya akan berbicara pada Bayu sebentar di ruang dosen dan hal penting yang ingin dibicarakan itu seharusnya sudah di rundingkan dong?, tapi Vanesa berpikir ya sudahlah, untuk apa ia memikirkan hal ini lebih jauh.


" Mungkin kita bakalan pulang malem, aku udah siapin makanan di kulkas, kalau kakak mau makan tinggal panasin aja ya... oh iya, sebelum magrib aku minta kak Vanesa kunci pintu sama tutup gorden...bukan maksud aku buat nyuruh-nyuruh kakak, tapi__...".


" iya, aku ngerti... pokoknya semua gorden harus di tutup kan? " ucap Vanesa menyela omongan Nafsah.


" Hehe iya, ya udah... kita berangkat dulu ya kak ".


setelah Nafsah mengatakan hal itu, ia pun masuk ke dalam mobil yang di sana sudah ada keberadaan Firdan, Ardi dan Hasby.


" Dah, kak... kalau kita udah mau pulang bakalan kabarin kok, kakak baik-baik ya di rumah... " ucap Nafsah melambai ke arah Vanesa dan di balas dengan senyuman tipis.


perlahan mobil yang dinaiki oleh Hasby dan Nafsah hilang dari pandangan, dan pada saat itu lah entah kenapa Vanesa baru pertama kalinya merasa kesepian, padahal ia sudah terbiasa sendiri waktu di luar negri dulu.


di dalam rumah yang biasanya dihiasi dengan perbincangan hangat Hasby dan Nafsah, kini menjadi sepi, apa mungkin karena sudah terbiasa, Vanesa seolah mulai rindu pada kedua adik kakak itu, padahal kan baru saja beberapa detik yang lalu mereka pergi.


" Ha... rumah sepi juga kalau gak ada mereka " gumam Vanesa dengan wajah datarnya yang tak lama kemudian masuk ke rumah.


***


sudah sekitar 3 jam sejak Hasby dan yang lain berangkat dari rumah, tapi mereka belum kunjung sampai karena tempat tujuan cukup jauh dari kota tempat nya Hasby, hari juga sudah mulai menjadi gelap karena lamanya perjalanan.


Firdan dan Ardi sudah banyak mencoba banyak hal untuk mengurangi rasa bosan, mulai dari menyalakan musik, bercerita, bermain game online, dan main catur bersama jika sedang bergantian menyetir dengan Hasby.


awalnya sih mereka baik-baik saja, walau merasa muak melihat jalanan dan kendaraan yang lalu-lalang, tapi ketika melihat warna wajah Hasby, mereka sedikit khawatir. Jika diperhatikan lebih seksama, warna yang semula putih cerah kini menjadi pucat pasi, sudah tentu mereka tahu alasannya kalau gejala penyakit Hasby akan timbul. Takut kalau-kalau Hasby drop, Nafsah, Firdan dan Ardi sependapat akan berhenti sejenak di pinggir jalan.

__ADS_1


" Kak... nih minum dulu " ucap Nafsah mengulurkan sebotol air setelah mereka duduk di kursi tepi jalan.


menerima botol dari Nafsah, Hasby tak langsung meminumnya karena sedikit merasa pusing. Berbeda dengan Nafsah yang berada di sampingnya, Firdan dan Ardi kini terlihat sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon.


setelah keduanya berbincang dengan sosok itu, mereka pun menghampiri Hasby dan duduk di sampingnya.


" Gua dapet info kalau Savira bakalan ikut ke sana " ucap Ardi mengawali percakapan.


" Savira? bukannya dia ada urusan sama mama Belin? " tanya Hasby.


" Kata dia sih urusannya udah selesai... kebetulan tempat tujuan kita itu gak jauh dari hotel yang ia tempatin ".


tidak menanyakan lebih jauh, Hasby hanya mengangguk mendengarnya, tapi setelah dipikir-pikir... kalau urusan Savira sudah selesai, otomatis kan dia pasti akan ikut pulang ke rumah Hasby. Dan pada saat itu juga Vanesa sudah ada di rumah yang sebelumnya Savira tidak mengetahui keberadaan wanita itu.


" Hah... kenapa gua bisa lupa sama hal ini?..." ucap Hasby memijat keningnya.


Ketiga orang yang ada disampingnya mengerutkan dahi ketika mendengar keluhan Hasby, pada saat itu hanya Nafsah lah yang dengan hati-hati bertanya pada nya.


saat menjelaskan, Hasby sempat minta tolong pada Firdan dan Ardi agar pura-pura terkejut ketika ia menceritakan ini pada Savira. Sudah sejak lama ia ingin memberitahukan hal ini pada wanita itu, dan mungkin waktu yang tepat adalah ketika mereka hendak pulang kembali.


" Gua udah dari dulu ngerasa bersalah nyembunyi in hal ini, jadi udah diputusin bakalan diungkap pas kita pulang nanti, jadi gua mohon kerja sama kalian " ucap Hasby.


" Tenang aja Has... lo bisa percaya sama kita " ujar Firdan.


" Yoi... mungkin... nanti gua bakalan jadi pangeran drama sementara ". tutur Ardi.


" Iya, soalnya gua bakalan akting yang pasti buat kalian takjub, jadi jangan kaget aja ya...".


" iya... percaya aja deh " tanggap Firdan dengan tatapan meremehkan.


" Lo belum tau sih kemampuan akting gua, tapi gak papa... kalian kan belum pernah liat gua kalau lagi adegan, jadi gua maklumin ".


" Lah? emang kak Ardi pernah maen drama? ". tanya Nafsah.


" Oh... pasti lah ... enggak ".


sudah hampir percaya Hasby, Firdan dan Nafsah ketika Ardi berkata ' pastilah ', tapi ujung kata ' enggak ' nya ini membuat kepercayaan mereka hancur.


" Kita kira pernah... " ucap ketiganya bersamaan.


***


" Hai semua... gua udah rindu banget tau sama kalian " ucap Savira ketika ia melihat ke empat temannya datang di tempat yang sudah di janjikan.


" Iya nih, gimana kabar kamu? apa urusan sama mama Belin udah beres?" tanya Hasby.


" Udah dong... tapi ternyata rumit banget ".


" Rumit? " tanya Firdan.

__ADS_1


" Iya, pokoknya nanti aja deh gua cerita, yang penting sekarang kita temuin kak Rafa dulu yuk ". ajak Savira.


sedikit heran karena mendengar Rafa berada di sini, setahu Hasby kan pria itu bekerja di rumah sakit yang ia tempati dulu, tapi kenapa tiba-tiba ada disini?.


ketika masuk lebih dalam, tempat terapi yang Nafsah bicarakan ini lebih tepatnya sebuah rumah sakit, yaitu rumah sakit yang bisa dibilang lebih besar dari rumah sakit pusat di kota Hasby.


Savira kemudian menjelaskan bahwa sebelum kedatangan mereka ke sini, dirinya bertemu dengan orang lain selain Rafa, diantaranya Haris, ayah Rafa sendiri dan dua orang lagi kenalan barunya, kalau tidak salah nama salah satunya adalah Lyn dan yang lain bernama Robert.


saat mendengar nama Lyn, Nafsah teringat dengan dokter yang waktu itu melakukan pertolongan pada Hasby ketika penyakit nya kambuh, tapi tidak mungkin kan Lyn yang satu ini adalah Dokter yang sama dengan waktu itu, secara kan nama Lyn itu tidak hanya satu dua orang.


" Awalnya gua gak nyangka aja, dokter yang hebat itu tenyata masih muda lho, padahal kalau menurut gua... dia itu dokter yang udah fropesional banget... " ucap Savira kagum.


" Hayo... jangan-jangan lo naksir sama dia ya... " ucap Ardi jahil.


tepat setelah mengatakan hal itu, sebuah pukulan mendarat di belakang kepala Ardi, tidak sampai situ, sebuah jeweran susulan kini menarik telinga Ardi.


" Enak ya lo ngomong... emangnya gua cewek mata keranjang kayak lo hah?! ".


" Aduh, aduh,aduh... Savira jangan kenceng-kenceng woi!!!, kuping gua mau putus! " ucap Ardi kesakitan.


" Lagian si lo maen jeplak-jeplok aja kalau ngomong, gini-gini juga ya... walaupun gua model kayak nenek sihir, gua kalau udah suka sama seseorang bakalan setia tau gak?! ". Ucap Savira tanpa melepaskan tangannya dari telinga Ardi.


" Iya,iya,iya... gua minta maaf Sav... tolong lepasin tangan lo dong... huaaaa... Nafsah cantik, tolongin aku dong...".


" Hehe... maaf kak, aku gak berani ngelawan Wonder women ". ucap Nafsah.


Berbeda dengan Firdan dan Nafsah yang menanggap kejadian ini lucu, secara tak diketahui, Hasby saat itu sedang memikirkan perkataan Savira beberapa detik sebelumnya.


saat kata ' gua kalau udah suka sama seseorang bakalan setia ' keluar dari mulutnya, Hasby kini teringat dengan perasaan wanita itu pada dirinya yang sudah lama di pendam. Mungkin Savira akan sedikit syok dan tidak mau bicara dengan Hasby untuk beberapa hari, mengingat ketika wanita sedang patah hati, pada saat itu lah emosional mereka akan memuncak.


tidak terasa oleh dirinya, Saat terlarut olah pikiran sendiri, mereka sudah sampai di depan pintu ruangan yang mereka tuju.


Tepat setelah membuka pintu, Hasby melihat ada empat orang yang memakai seragam putih yang sama, dua diantaranya dikenali dan dua orang lainnnya terasa asing. Tapi berbeda dengan Nafsah, selain Haris dan Rafa, ada satu orang lagi yang ia kenal belum lama ini dan kebetulan orang itu yang ia pikirkan tadi.


" Eh, kalian udah dateng... gimana? capek dijalan ber jam-jam buat nyampe sini? ". tanya Rafa setelah ke limanya memberi salam.


" Haduh... gua salut sama lo yang bisa bulak-balik dari kota A ke kota D, gua sama Firdan udah setengah mati ngehilangin rasa bosen itu kak, bisa-bisa kita berdua bakalan mabuk perjalanan ". ucap Ardi.


" Halah... emang lo nya aja yang lebay ".


" Perasaan lo gak percaya mulu, om Haris juga ngerasain apa yang saya rasain kan om? ". tanya Ardi penuh harap.


" enggak tuh " ucap Haris yang sengaja ingin membuat Ardi kesal.


" Huh... anak sama bapa sama aja " ucap Ardi.


_____________________________________


jumpa di chapter selanjutnya...

__ADS_1


__ADS_2