
Nafsah saat ini sedang berjalan mundar-mandir di dalam kamarnya, sedari tadi ia sedang mengkhawatirkan keadaan Hasby, dirinya sudah menelpon ke no Hasby hampir puluhan kali, namun tetap tidak tersambung juga.
" Aduh...kakak kemana sih? kan gua juga yang khawatir..." ucap Nafsah sambil terus menelpon Hasby.
biasanya Nafsah tidak akan secemas ini jika Hasby pulang telat, tapi ada perasaan tidak enak yang muncul dihatinya, jadi ia segera mungkin menelpon Hasby untuk memastikan Kakaknya baik-baik saja, kekhawatirannya makin bertambah ketika teleponnya tidak tersambung ke ponsel Hasby sampai beberapa kali.
" Apa gua telpon Zyan aja ya...tapi nanti dia bakal kerepotan...mending gua telpon kak Ardi aja..."
Nafsah kemudian mencari nomor yang diketahui sebagai nomor Ardi untuk menelponnya, setelah menunggu sejenak, telepon itu akhirnya tersambung ke ponsel Ardi.
" Hallo..." ucap Nafsah.
" Hallo juga Naf...ada apa?" ucap Ardi yang berada di sebrang telepon.
" Ini kak, aku mau nanya...kak Hasby ada di rumah kamu gak?.." ucap Nafsah
" dia gak ada di rumah aku,soalnya abis pulang dari kampus, dia langsung pergi kerja, dan kita gak ketemu lagi nyampe sekarang..." ujar Ardi menjelaskan.
" oh, gak ada ya...ya udah gak papa, maaf ya aku jadi ganggu..."
" enggak ganggu kok, malah kakak seneng, bisa ngedenger suara indah kamu kalau lagi teleponan kayak gini..hehehe..." ucap Ardi sambil tertawa kecil.
" apaan sih...sebel tau dengernya...". ucap Nafsah yang sebenarnya tersenyum tipis.
" oh iya...ngomong-ngomong Hasby kemana?" tanya Ardi.
" Aku juga gak tau...dari tadi di telponin tapi gak diangkat-angkat..."
" Coba nanti kakak yang telpon, mungkin aja dia lagi sibuk jadi gak ngangkat telepon dari kamu..." ucap Ardi.
" Ya udah, makasih ya udah mau bantu aku, dan maaf juga...jadi ganggu waktu kak Arid deh..." ucap Nafsah.
mendengar Nafsah memanggilnya dengan sebutan Arid, Ardi sedikit bereaksi kala itu.
" Nafsah...nama aku Ardi, bukan Arid..."
" Ya...ini panggilan aku ke kak Ardi, tapi...kalau kak Ardi gak suka gak papa..."
__ADS_1
" eh...enggak,enggak,enggak...aku malahan seneng kok dipanggil kayak gitu sama Nafsah cantik...hehehe..."
" hm? emang aku cantik dimata kamu?..." tanya Nafsah dengan malu-malu.
" Wih....bukan cantik lagi...tapi caaaannnnntik banget..." ucap Ardi memanjangkan kata-katanya.
" Masa..."
" Iya..."
" Udah ah, Nafsah tutup dulu telponnya, udah malem..."
" yah...emang kenapa kalau nelponnya lamaan gitu..."
" Sekarang udah malem...mending kak Arid langsung tidur,tapi jangan lupa solat isya dulu...ya udah ya...aku tutup dulu...dah...."
" Tapi___...."
Tut...tut...tut...
dari percakapan mereka di telpon tadi, Ardi terdiam sejenak mengingat panggilan yang Nafsah ucapkan padanya, memang senang rasanya mendapat reaksi balasan dari apa yang ia lakukan sebelumnya.
semenjak SMA,Ardi selalu mencari cara untuk mendekati Nafsah dengan cara yang halus. Mulanya Nafsah juga tidak terlalu memperhatikan Ardi dan memperlakukannya sama dengan laki-laki lain, tapi lama-kelamaan karena melihat kelembutan Ardi, serta tidak pernah melakukan hal buruk terhadapnya, pada saat itu juga hati Nafsah perlahan luluh oleh Ardi, dan hasilnya seperti sekarang ini, Nafsah lebih terbuka padanya dan bisa dikatakan merespon kode yang Ardi berikan untuknya.
' kayaknya Nafsah cantik udah mulai luluh deh...ini kesempatan gua buat lebih mantap lagi....' batin Ardi.
***
" Apa kepala lo masih sakit?" Tanya Rafa pada Hasby yang sedari tadi terus memegangi kepalanya.
saat ini, di ruangan hanya ada dirinya dan Hasby saja, beberapa waktu lalu Zihan dan Jordan kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Hasby dan pergi ke hotel tempat Vanesa berada setelah Hasby memberitahu mereka.
walau kepalanya sakit saat itu, tapi ia masih bisa menahannya dan tidak menimbulkan ekspresi sedang kesakitan dihadapan Zihan dan Jordan, beda hal nya dengan saat ini, rasa sakit yang ia derita sedikit meningkat dari yang sebelumnya.
" Kak, boleh gak gua minum lagi obatnya?" tanya Hasby yang terus memegangi kepalanya.
" Gak boleh Hasby...nanti kan bisa over dosis...".
__ADS_1
walaupun Rafa berkata seperti itu, tapi sebenarnya ia ingin sekali membantu Hasby dengan cara memberikan obat pereda sakit, tapi sebelumnya Hasby telah meminum obat tersebut sebelum kedatangan Zihan dan Jordan.
Saat Rafa masih menghawatirkan keadaan Hasby dan Hasby nya sendiri sedang menahan rasa sakit, beberapa detik kemudian terdengar ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan.
mendengar suara ketukan pintu tersebut, Hasby secepat mungkin mengubah ekspresinya supaya terlihat baik-baik saja, sementara Rafa sekarang berjalan untuk membukakan pintunya.
saat pintu itu dibukakan oleh Rafa, Ada seorang Wanita yang berdiri dengan senyuman di sana, Wanita ini tidak tinggi, memiliki rambut pirang panjang yang terurai dan bertubuh kecil.
" Ci...Cika!..." ucap Rafa yang terbata-bata.
" Hehe...kaget?..." ucap perempuan itu yang diketahui namanya sebagai Cika.
***
setelah Zihan dan Jordan mengunjungi Hasby, mereka kemudian pergi ke hotel tempat Vanesa berada. ketika sampai disana, Jordan dan Zihan telah menemukan Vanesa sedang bersiap untuk pergi ke rumah sakit.
dan pada saat itu pula, Vanesa bertanya pada Jordan dimana mobil yang ia, Zihan dan Hasby naiki sebelumnya untuk menanyakan ponselnya yang tertinggal, dan Jordan menjawab bahwa mobil itu masih ada di depan rumah sakit, saat dirinya dengan Zihan pulang kerumah, keduanya tidak menggunakan mobil tersebut, melainkan memanggil Afdal untuk menjemput mereka dan mereka juga masih belum menurunkan barang yang ada didalamnya satupun termasuk ponsel Vanesa.
setelah berbincang sejenak dengan ayah dan ibunya,Vanesa kini keluar dari hotel menuju rumah sakit, angin malam begitu dingin, menghembus ke helai pakaiannya yang membuatnya sedikit menyingkap, cuaca kali ini memang dibilang kurang bersahabat, terlihat dari suhu yang ada, di tandakan bahwa sebentar lagi akan turun hujan seperti sore tadi.
walaupun sudah pukul 10:00 malam, orang-orang yang ada disana terbilang cukup ramai untuk dimalam hari, penyebabnya karena terdapat lingkungan rumah sakit di sana, wajar jika terkadang ada satu bahkan banyak orang yang berlalu lalang.
Vanesa kini sudah sampai di parkiran yang mana terdapat 5 mobil terjejer disana dan l satunya adalah mobilnya. Ia kemudian membuka pintu mobilnya yang berada paling ujung dan masuk ke bangku bagian belakang, disana terdapat tas kecil berwarna merah yang tergeletak dan segera saja ia mengambilnya.
merasa urusannya sudah selesai, Vanesa berniat untuk segera pergi ke rumah sakit, namun tidak disengaja ia melihat satu buah ponsel yang ia kira sebagai ponsel Hasby.
karena niatnya ingin menjenguk Hasby, jadi sekalian saja Vanesa membawa Ponsel tersebut. Baru saja dirinya keluar mobil dan hendak berjalan, tiba-tiba ada suara deringan ponsel, suara itu bukan berasal dari ponsel miliknya, melainkan dari ponsel Hasby. Vanesa pun mengangkat telepon tersebut.
" Hallo...Hasby...." ucap orang yang ada disebrang telepon. orang ini berjenis kelamin laki-laki, karena terdengar dari suaranya yang sedikit berat dan besar. Vanesa tidak menjawab melainkan diam menunggu orang yang ada di sebrang telepon berkata lagi.
" Hasby...lo ada di sana kan? heh...lo kemana aja sih?kenapa belom pulang-pulang...Nafsah khawatir banget tuh di rumah----". Orang yang ada di sebrang telepon terus saja mengomeli Hasby yang sebenarnya itu adalah Vanesa, dirinya saat ini sedikit merasa risih pada perkataan laki-laki satu ini, saat melihat nama kontaknya, dia menemukan nama ' Ardi bawel ' di sana.
' Pantes aja Hasby kasih nama bawel...ternyata orang ini cerewet banget ...' Ucap Vanesa di dalam Hati.
Karena merasa risih, Vanesa kemudian menutup telpon itu, sebelum berkata pada si laki-laki bawel di sebrang telepon, yang ternyata adalah Ardi, Sahabat Hasby.
" Maaf, saya bukan Hasby...Hasby nya lagi sibuk...". Dan segera saja ia menutup teleponnya.
__ADS_1