
" Naf...Nafsah... Nafsah kamu kenapa bengong?".
Ucapan Savira kini membuat Nafsah terbangun dari lamunannya, sambil memperbaiki ekspresi, Nafsah mulai bertanya apa yang ia lewatkan.
" eh...maaf kak, tadi kakak nanya apaan ?... " ucapnya
Savira memang merasa heran dengan tingkah lakunya, sama hal nya dengan Hasby, Nafsah juga jadi sering melamun ketika di ajak bicara olehnya, apalagi mengenai tentang penyebab masuknya Hasby ke rumah sakit.
Savira, Ardi dan Firdan sudah sering kali menanyakan penyebab apa yang membuat kondisi Hasby seperti itu, dan Nafsah hanya menjawab singkat bahwa kepala Hasby terbentur saat ingin menyelamatkan Vanesa dari penculikan waktu itu. Walaupun penjelasan Nafsah belum membuat Savira puas, tapi dirinya tidak memaksakan hal ini. Namun, seiring waktu berjalan, Savira semakin ingin tau apa masalah yang di hadapi Hasby dan Nafsah belakangan ini.
" Nafsah... kamu juga belakangan ini kenapa jadi sering bengong sih?... coba jelasin sama aku, mungkin aja aku ada solusi... " ucap Savira.
" Eh... aku gak papa kak, aku... tadi mikirin tugas yang belum dikerjain..." ucap Nafsah agak canggung.
" Kamu jangan boong Nafsah..." kali ini Ardi yang berucap.
" Kita tau kalau kamu punya masalah lain...dan kalau hal ini nyangkut sama Hasby... muka kamu udah jawab semuanya... " lanjut Firdan.
" Dan satu lagi... tolong kamu jangan boong sama kita.. " ucap Savira.
Nafsah kali ini sedikit di lema antara ia harus memberitahu kejadian sebenarnya atau tidak, jika ia memberitahu tentang perjodohan kakaknya, ia takut Hasby akan marah, tapi sebaliknya, jika ia tidak memberi tahu Ardi, Savira dan Firdan, maka mereka akan terus bertanya nantinya.
" Nafsah... percaya sama kita, kalau misal masalah ini berat sekalipun, kita bakalan bantu kalian semampu kami... " ucap Savira.
Setelah mempertimbangkan cukup lama, Nafsah akhirnya berniat memberitahu mereka bertiga.
" Jadi...kejadian nya kayak gini...waktu minggu kemarin, majikannya kak Hasby, nyonya Zihan sama tuan Jordan bilang kalau____..... "
" AAAAAAAAARGH!!!!!!!!......."
sebelum Nafsah menyelesaikan kata-katanya, secara tiba-tiba ada suara teriakan yang berasal dari lantai dua, suara itu sudah di ketahui oleh ke empat nya bahwa pemiliknya adalah Hasby.
" Hasby?!... " " Hasby?!... "
" Hasby?!... " " Kakak?!..."
ucap mereka bersamaan.
Nafsah, Ardi serta Savira dan Firdan segera berlari pergi ke lantai dua, mendengar teriakan Hasby yang begitu keras, pikiran ke empatnya saat ini di penuhi oleh hal-hal yang negatif. Karena panik, ke empatnya langsung melontarkan berderet pertanyaan pada Hasby yang saat ini posisinya sedang duduk di sofa ruangan atas.
" Hasby, kenapa lo teriak?... " ucap Ardi.
" Apa lo kenapa-napa? ... " kali ini Firdan yang berbicara.
" Kamu gak papa kan?... " ucap Savira.
" Apa penyakit kamu kambuh lagi? " lanjut Nafsah.
" Kalian ini kenapa si?... " ucap Hasby.
krik... krik... krik.. krik...
suasana terasa hening saat Nafsah dan lainnya mulai menyadari keanehan yang terjadi, melihat Hasby yang kondisinya baik-baik saja, serta tidak terlihat kesakitan, Nafsah dan yang lain mulai mengerutkan dahi, malah sekarang ini Hasby terlihat biasa-biasa saja serta lebih bugar.
" Hasby...lo gak papa kan? " tanya Firdan.
" Gua gak papa... " jawabnya.
__ADS_1
" Kepala lo apa gak sakit? " ucap Ardi.
" Enggak... "
" Apa ada sakit yang lain?... " ujar Savira
" Gak ada... "
" Apa penyakit kamu kambuh lagi? " Kali ini Nafsah yang bertanya.
" Enggak Nafsah.... "
" TERUS KENAPA TADI LO TERIAK?!!!...." ucap mereka berempat secara bersamaan.
" eh buset...suara kalian kenceng amat sih.. bisa budek tau kuping gua... " ucap Hasby sambil mengelus pelan telinganya.
" Ya lagian kamu teriak kenceng banget tadi, kira aku ada apaan..." ucap Savira.
" Emang aku kenapa? " tanya Hasby dengan wajah tidak bersalah.
" Lo tu teriak nya kenceng banget Hasby, gua kaget tau dengernya..." ujar Firdan
" Untung aja gua gak jantungan... " lanjut Ardi.
" Lah... gua kan gak tau kalau teriakan gua itu bikin kaget lo semua... " ucap Hasby.
" Ya teriaknya jangan kenceng juga kali kak... kita khawatir tau, lagian kamu teriak karena apa si?..." tanya Nafsah.
" Oh... itu, aku lagi liat film horor... " ucapnya sambil menunjuk ke arah televisi yang menyala.
Nafsah dan yang lain melihat ke arah tangan Hasby menunjuk, Hasby juga menambahkan kalau dirinya tadi teriak karena melihat bagian yang seramnya.
" Ini bukan salah gua...salah kalian sendiri sih yang terlalu khawatir... " ucap Hasby yang kembali menonton televisi.
" Huh!...dasar Hasby... ".
sambil mengumpati kejadian tadi, Ardi, Savira serta Firdan, kini ikut duduk di sofa yang satunya lagi, berlari dengan tergesa-gesa tadi membuat ketiganya cukup lelah, sama juga dengan Nafsah, tapi ia memilih diam dengan keadaan cemberut setelah duduk di sebelah Hasby.
" Udah...kejadian tadi biarlah berlalu, mending kita nonton sambil nyemil, biar gua deh yang ambilin... " ucap Hasby menawarkan.
" Ealah... sok baik lu Hasby... " ujar Firdan mengejek.
" Ya... sekalian kan buat ucapan minta maaf karena udah buat kalian kaget... ia gak Nafsah?... " ucapnya sedikit menyenggol legan Nafsah dan adiknya hanya mengangguk mengiyakan.
" Ya udah... kalo gitu gua ambil dulu makanan nya ya, ayo Nafsah... kamu ikut. " ucap Hasby yang langsung menarik tangan Nafsah tanpa menunggu jawaban darinya.
" Ih... kamu ngambilnya kan bisa sendiri, ngapain coba harus di anter segala, kayak anak kecil tau..." ucap Nafsah pada Hasby ketika mereka sudah menuruni tangga.
" Gak papa... kalau aku gak bawa kamu, nanti mereka bakalan nanya lagi tentang yang tadi... ".
mendengar ucapan Hasby tadi, Nafsah menghentikan langkahnya, jika Hasby tahu kalau dirinya ingin memberikan penjelasan pada Savira, Ardi serta Firdan tentang perjodohannya, berarti Hasby sudah mengetahui percakapan mereka berempat dari awal.
" Kamu... kamu tau kak?!... " ucap Nafsah.
" Semua termasuk obrolan kalian pas lagi di meja makan... " ucap Hasby sambil berbalik menghadap Nafsah.
" Berarti... kamu tadi pura-pura tidur ya? " tanya Nafsah yang di balas anggukan oleh kakaknya.
__ADS_1
" Huh.... dasar tukang nguping, jadi kakak sengaja kan, buat ngagetin kita semua, supaya aku gak jadi kasih tau mereka?... " ucap Nafsah memastikan.
" Gimana?... cerdaskan aku?..." ucap Hasby dengan senyum kebanggaan.
" Cerdas si cerdas... tapi gak usah ngagetin aku setengah mati juga kali... "
" Ya mau gimana lagi?... " Setelah berkata seperti itu, Hasby kini melangkah ke dapur dan setelahnya duduk di kursi meja makan.
Nafsah awalnya masih diam di tempat karena memikirkan suatu hal, namun sesegera mungkin mengejar sang kakak dan duduk di sampingnya.
" Ngomong-ngomong... kamu gak niat ngasih tau mereka?... lagi pula kan kak Ardi, kak Savira sama kan Firdan itu sahabat kakak, jadi wajar dong kalau aku kasih tau hal ini sama mereka... " ucap Nafsah.
Sebelum menjawab, Hasby menuangkan air ke dalam gelas dan setelah itu berkata " Aku bukan gak mau kasih tau mereka... tapi .... ".
bukannya menyelesaikan kata-kata, Hasby sekarang ini malah meneguk gelas berisi air yang ia tuangkan tadi, perbuatannya ini membuat kening Nafsah mengerut, karena penasaran, ia akhirnya berinisiatif untuk bertanya.
" Tapi kenapa? ". tanya Nafsah.
" Untuk sekarang ini aku belum mau kasih tau mereka... " ucapnya.
" kenapa?... "
" Kenapa?.... karena... aku juga gak tau... " ujar Hasby yang beranjak dari kursi berniat mengambil makanan yang berada di dalam kulkas. Nafsah yang mendengarnya menjadi bingung, tapi setelah itu berbicara lagi pada kakaknya.
" Kamu itu aneh banget sih...kenapa kakak gak mau kasih tau mereka? sedangkan kamu sendiri gak punya alasan buat jelasin pendapat kakak itu..." ucap Nafsah.
" Ya... aku juga gak tau, yang pasti... entah kenapa hati kakak nolak buat kasih tau hal ini sama mereka, lagian kalau Savira tau aku dijodohin sama Vanesa... nanti dia bakalan patah hati lagi...".
Nafsah sedikit tersentak dengan perkataan Hasby yang satu ini, bukan seperti sebelumnya yang membuat ia bingung, perkataan kakaknya kali ini sangat tidak di sangka oleh Nafsah sama sekali.
" Kakak... jadi kamu... "
" Aku udah tau sejak lama... " ucap Hasby singkat.
Nafsah saat ini tercengang melihat fokus pada Hasby, ia sungguh tidak menyangka bahwa kakaknya menyadari kalau Savira menyimpan hati untuknya, Nafsah sebelumnya sempat menilai bahwa Hasby adalah orang yang sangat tidak peka, tapi nyatanya pemikiran itu salah.
" Tapi... bentar, bentar, bentar....kamu bilang kamu tau kan kalau kak Savira itu suka sama kamu? " tanya Nafsah dengan ekspresi keheranan.
" Iya... emang kenapa? "tanya balik Hasby.
" Kalau begitu, kenapa kamu gak terima dia aja?...apa coba kurangnya kak Savira? udah baik, cantik, dari keluarga konglomerat... dan yang pasti kamu udah kenal dia dari dulu... ".
" Justru itu karena aku udah kenal dia dari dulu, aku gak mau jalin hubungan sama Savira...".
" Loh?... emangnya kenapa? " tanya lagi Nafsah.
________________________________________________
Bagi kalian yang suka sama cerita ini, jangan lupa dukung author dengan cara Like, comen, rate dan kalau berkenan Vote ya...
oh ya, mungkin kalian ada yang masih bingung dimana letak ruang tamu, dimana letak tangga, dapur dan lainnya, kali ini aku bakalan kasih ilustrasi denah rumah Hasby nih. Gambar ini aku buat sendiri, tanpa nyontek, tanpa di kasih tau orang lain, pokoknya ini hasil aku murni ya.
Nah... jadi sekarang kalian gak terlalu bingung kan kalau udah tau letak ruangan nya, dan juga, maaf banget kalau gambarnya bisa di bilang kurang bagus, karena aku ini masih pemula, untuk chapter selanjutnya, aku masih belum tau kapan up nya, tapi kalian jangan khawatir, aku akan usahaain buat up kok...
__ADS_1
sampai di sini dulu ya...
Al setia...