
" Tidak bertemu tapi bisa menyapa itulah dunia maya. Tidak terlihat bisa menjadi nyata itulah doa."
Seminggu Kemudian......
Raka sudah memutuskan untuk melupakan Mentary. Raka sudah memantapkan hati hanya pada Ambar. Walaupun akhir - akhir ini hubungan Raka dan Ambar semakin menjauh. Hubungan Raka dan Ambar tidak mesra seperti waktu pacaran. Bahkan Raka begitu sulit untuk bisa bertemu dengan Ambar. Ambar selalu memberi alasan kalau dia sibuk banyak pasien.
Raka yang merasa Ambar semakin menjauh dari dia. Sikap Ambar yang sekarang jauh berbeda dengan Ambar yang dulu saat pacaran. Walaupun begitu Raka tetap yakin ingin menikah dengan Ambar secepatnya. Bahkan Raka sudah tidak sabar ingin segera menikahi Ambar.
Malam Harinya........
Raka duduk di kursi depan teras rumahnya. Raka duduk sambil meminum secangkir kopi. Raka masih memikirkan uang hantaran yang belum cukup untuk memenuhi permintaan kedua orang tua Ambar.
Ceklek........Ceklek
Bapak yang membuka pintu lalu berjala ke arah teras rumah. Bapak melihat Raka yang duduk sedang melamun. Bapak duduk di kursi samping Raka tetapi Raka tidak menyadari keberadaan bapak.
" Mas," kata bapak.
" Raka," kata bapak.
" Raka Pratama." Bapak yang memukul bahu Raka.
Plak......Plak
" Eh ada bapak." Raka yang tersadar dari lamunannya.
" Mas dari tadi bapak panggil kok gak jawab sih. Mas lagi mikirin apa?" tanya bapak.
" Maaf pak mas lagi banyak pikiran nih." Raka yang wajahnya terlihat lesu.
" Mas pasti lagi mikirin soal uang hantarankan?" tanya bapak.
" Iya, kok bapak bisa tahu?" tanya Raka.
__ADS_1
"Bapak ini kan orang tua mas. Ngelihat mas ngelamun kayak tadi bapak langsung tahu," jawab bapak.
" Bapak benar mas lagi pusing memikirkan kekurangan uang hantarannya," kata Raka.
" Emang berapa lagi kurangnya?" tanya bapak.
"20 juta bapak," jawab Raka.
" Jadi mas butuh uang berapa?" tanya bapak.
" Gak usah bapak. Mas gak mau ngerepotin bapak, mas yang mau nikah jadi biar mas yang cari uang buat nikah." Raka yang menolak bantuan dari bapaknya.
"Bapak ngerti maksud mas. Bapak mau ngasih tahu uang yang mas kirim selama ini bapak beli tanah kosong 1 hektar. Tanah kosong itu bapak suruh orang lain itu menanam sawit. Sekarang menjadi kebun sawit, kebun sawitnya sudah menghasilkan banyak buah setiap panen uangnya bapak simpan buat mas," kata bapak.
"Jadi bapak punya kebun sawit?" Raka yang terkejut mendengar perkataan bapakanya.
" Bukan bapak tapi mas, soalnya itu uang mas," jawab bapak.
" Iya bapak yang mengelola tapi mas investornya. Jadi mas udah bisa ngambil modal awalnya untuk uang hantaran," kata bapak.
Esokan Harinya.........
Siang Harinya keluarga besar Raka sudah duduk di ruangan tamu rumah Ambar. Keluarga besar Ambar dan keluarga besar sudah berkumpul di ruangan tamu. Keluarga besar Raka dan keluarga besar Ambar telah memutuskan 1 bulan lagi akan di adakan pernikahan Raka dan Ambar.
Raka tampak bahagia karena akan menikah dengan Ambar dalam waktu satu bulan lagi. Raka menyerahkan uang hantaran kepada Papa Ambar. Papa Ambar menerima uang hantaran dari Raka. Raka juga mengantar barang seserahan untuk Ambar. Malam ini Raka dan Ambar tampak bahagia.
Berbeda dengan Rika dan emak yang hanya lebih banyak diam di acara Raka dan Ambar. Emak dan Rika masih belum bisa menerima Ambar akan menikah dengan Raka. Emak dan Rika tidak terlalu antusias atas pernikahan Raka dan Ambar.
Emak memutuskan hanya akan mengadakan acara mendoa kecil - kecilan setelah Raka dan Ambar menikah. Pesta pernikahan Raka dan Ambar akan di adakan di hotel yang mewah di Pekan Baru.
Seminggu kemudian.......
Ambar yang mengurus segala persiapan pernikahan dari undang pernikahan, tempat pernikahan, baju pernikahan, wo pernikahan dan lain - lain.
__ADS_1
Hari ini Raka dan Ambar akan melakukan foto praweding. Raka berpakaian formal dalam foto praweding sementara Ambar memakai baju gaun. Raka dan Ambar berangkat mengunakan mobil milik Ambar. Raka yang mengendarai mobil Ambar.
Dua orang cowok sudah menunggu kedatangan Raka dan Ambar untuk melakukan foto praweding. Dua orang cowok itu sibuk dengan kameranya untuk mempersiapkan pengambilan foto praweding. Dua orang cowok itu juga sibuk mempersiapkan tempat untuk di jadikan foto praweding.
Raka dan Ambar sudah sampai di tempat foto praweding. Ambar dan Raka melihat ke arah dua orang cowok yang sedang berdiri sambil memegang kameranya.
" Aska itu klain kita." Ridho yang menyenggol tangan Aska. Ridho menujuk ke arah Ambar dan Raka yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka.
" Aska." Ambar dan Raka berjalan ke arah Aska dan Ridho.
" Eh ternyata yang di tunggu udah datang. Apa kabar kakak Ambar dan abang Raka?" tanya Aska.
" Alhamdulillah kita baik Aska," jawab Ambar.
" Kamu udah kenal ama mereka?" tanya Ridho.
" Udah," jawab Aska.
" Kapan kok Aku gak tahu?" tanya Ridho.
" Apa bisa kita mulai sekarang foto praweding?" tanya Raka.
" Bisa abang," jawab Ridho.
Ambar dan Raka melakukan berbagai macam posisi sesuai dengan arahan Ridho. Aska yang menjadi fotografer mereka. Aska mengambil berbagai macam gaya Raka dan Ambar. Setelah selesai melakukan foto praweding Aska menyuruh Ambar dan Raka untuk melihat hasil fotonya.
Raka dan Ambar melihat hasil foto Aska lalu mereka memilih satu foto yang akan di jadikan foto praweding di acara pernikahan mereka. Foto itu juga akan di pakai dalam undangan mereka.
Itulah foto praweding Raka dan Ambar pilih untuk di letakkan dalam undangan pernikahan. Aska yang akan mencetak undangan pernikahan Raka dan Ambar.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1