3 Cogan Dan Ry

3 Cogan Dan Ry
Story Raka Ngobrol Ama Bapak


__ADS_3

⚠️ Dilarang! boom like di novel ini.


" Padahal banyak nama yang singgah di hatiku, tapi mengapa nama kamu selalu menyingkirkannya."


Seminggu Kemudian.........


Raka berangkat kerja lebih pagi untuk menghindari Riska yang pagi - pagi udah kerumah Raka. Raka sudah berada di kantornya di lagi berdiri di depan ruangan hrd untuk menemui Risa. Risa yang merupakan kakak dari Riska.


Raka sekeluarga benar - benar merasa terganggu ama Riska yang seperti muka tembok. Raka sekeluarga sudah berulang mengusir dia. Bahkan menyuruh Riska untuk tidak datang menemui Raka lagi. Karena Raka sudah memiliki calon istri yang akan ia nikahi dalam beberapa bulan lagi.


Risa yang berjalan ke arah ruangannya, Risa sudah berdiri di depan Raka.


" Akhirnya lu datang juga." Raka yang melihat ke arah Risa.


" Kamu nunggu aku ya?" Risa yang berdiri di hadapan Raka.


" Iya ada yang gue omongin ama lu," kata Raka.


" Ayo masuk ke ruangan aku aja!" Risa yang membuka pintu ruangan Hrd.


Risa dan Raka sedang duduk di kursi yang berhadapan di dalam ruangan Hrd.


" Kamu mau ngomong apa Raka?" tanya Risa.


" Ini soal Riska," jawab Raka.


" Emang ada apa dengan Riska?" tanya Risa.


" Gue sekeluarga merasa gak nyaman sikap Riska," jawab Raka.


" Emang kenapa ama sikap Riska?" tanya Risa.


" Riska itu setiap pagi datang ke rumah gue. Gue sekeluarga merasa gak nyaman ama sikap adek lu yang setiap pagi udah datang ke rumah gue . Selain itu Riska bersikap agresif dan camuk ama gue sekeluarga," jawab Raka.


" Wajar dong Riska tiap pagi ke rumah kamu, secara Riska dan Rika itu teman satu sekolah. Riska mau jemput Rika biar bisa berangkat sekolah bersama," kata Risa.


" Iya Rika dan Riska itu satu sekolah tapi mereka hanya saling mengenal nama saja bahkan Mereka gak berteman," kata Raka.

__ADS_1


" Kamu aja yang geer berarti, Riska itu cuma mau dekatin Rika buat jadiin temannya aj," kata Risa.


*Percuma aja gue ngomong ama Risa, lagian Rika itu gak mau berteman ama Riska yang cewek agresif kayak gitu. Kalau tahu kayak gini ogah banget deh gue kesini baut nemui Risa. Benar - benar percuma ngomong ama Risa gak ada hasilnya mah.


Risa mah tetap bela adeknya, padahal kelakuan adeknya benar gak ada akhlak. Baru ini aku bertemu ama cewek yang agresif. Kalau Ry yang agresif itu gue bakal cepat nikahin dia. Habis gak tahan gue kalau lama dekat Ry bawaanya pengen muuuaah terus ah batin Raka*.


Raka yang berdiri dari kursi meninggalkan Risa begitu saja. Raka malas mendengarkan omongan Risa yang lebih membela adeknya. Risa juga mendukung yang Riska lakukan sehingga Raka merasa percuma saja berbicara dengan Risa.


Malam Harinya.......


Emak dan Rika sudah tidur ke dalam kamar masing - masing. Hanya tinggal Raka dan bapak yang masih berada di rungan keluarga.


Bapak mematikan televisi lalu melihat ke arah Raka.


" Mas ada masalah ya?" bapak yang melihat ke arah Raka.


" Iya bapak." Raka yang melihat ke arah bapak.


" Mas ada masalah apa coba cerita ama bapak?" tanya bapak.


" Mas binggung kenapa?" tanya bapak.


" Uang mas cuma cukup untuk akat nikah bapak. Tetapi om Dokin mau akat dan resepsi pernikahan berdekatan bapak," kata Raka.


" Itu sih wajar mas, Mentary anak yang bungsu. Selain itu akat dan resepsi pernikahan ke dua kakak Ry itu acara mewah dan meriah jadi sebagai orang tua pastinya mereka juga mengingatkan hal yang sama untuk mas dan Mentary," kata bapak.


" Mas juga ngerti bapak. Tapi masalahnya tabungan mas belum cukup buat resepsi pernikahan." Raka yang wajah terlihat lesu melihat ke arah bapak.


" Emang om Dikin sudah mengatakan soal uang hantaran yang harus mas berikan ama om Dikin. Berapa banyaknya?" tanya bapak.


" Gak, om Dikin cuma mengatakan seberapa mampu mas aja. Tapi mas gak mungkin ngasih sedikit buat bantu - bantu acara resepsi pernikahan kita bapak," kata Raka.


" Iya sih, malu mau di taruk di mana muka kita sekeluarga Raka. Kalau kita memberi uang hantaran yang kecil ama keluarga Ry," kata bapak.


" Gini aja deh bapak, jual aja kebun sawit mas yang 1 hekter itu, gimana?"tanya Raka.


" Jangan mas. Sayang kalau kebun harus di jual buat modal nikah," jawab bapak.

__ADS_1


" Terus gimana dong bapak?" tanya Raka.


" Mendingan surat tanah yang ada kebun sawit itu kita sekolahkan saja di bank, gimana mas?" tanya bapak.


" Mas setuju bapak, asalkan mas bisa nikah ama Mentary,"jawab Raka.


" Jadi mas udah ngebet banget nikah ama Mentary ya?" Bapak yang tersenyum melihat ke arah Raka.


" Hehehe, iya bapak. Habis mas takut kalau sering berduan ama di bisa kebablasan bapak." Raka yang tertawa sambil memegang tengkuk kepalanya.


"Coba aja dari dulu mas nurut ama bapak. Mas mau nerima perjodohan itu mungkin sekarang bapak udah bisa gendong cucu nih," kata bapak.


" Maafin mas ya bapak. Mas nyesal gak nurutin kata bapak dan emak tentang perjodohan itu ." Raka yang wajah berubah lesu karena merasa bersalah dan menyesal tidak menurut permintaan kedua orang tuanya tentang perjodohan itu.


"Ambil aja hikmah ya mas. Kalau jodoh juga gak kemana, buktinya dulu mas nolak perjodohan hanya demi bisa menikahi wanita yang mas cintai ternyata mas salah memilih wanita. Pada akhirnya pilihan bapak, emak dan Rika yaitu Mentary lah yang berhasil membuat mas jatuh cinta," kata bapak.


"Awalnya si mas gak suka ama Mentary. Tapi setelah mengenal dia semakin dekat mas merasa tertarik ama sifat dia yang ramah, cerewet, kekanak - kanakan, cengeng, suka merajuk dan manja,"kata Raka.


"Hmmmm, awalnya mas udah punya rasa suka ama Mentary tapi karena mas udah punya pacar makanya mas sering jutek ama Mentary. Kalian berdua udah saling menyukai waktu bapak melihat kalian berdua berciuman." Bapak yang sengaja berdehem.


" Bapak tahu aja sih." Raka yang merasa malu karena bapaknya mengetahui perasaan terhadap Ry.


" Mas itukan anak bapak, udah pasti bapak tahu perasaan mas,"kata bapak.


" Yang bapak katakan memang benar, maafin mas belum bisa membahagiakan bapak dan emak." Raka berpindah duduk di samping bapak lalu Raka memeluk badan bapak.


" Kalau mas mau bahagiakan bapak dan emak ada satu cara sih." Bapak yang membalas pelukan Raka.


" Apa itu bapak?" Raka yang melepaskan pelukan dari bapak lalu Raka melihat ke arah Raka.


" Kasih bapak dan emak cucu dari Raka dan Mentary," kata bapak.


"Beres soal itu bapak. Apa boleh mas nyicil dulu buat cucu untuk bapak dan emak?" tanya Raka.


" Gak boleh." Bapak langsung memukul bahu Raka dengan tangannya.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2