3 Cogan Dan Ry

3 Cogan Dan Ry
Story Aska Bukan Tukang Ojek


__ADS_3

" Janganlah menjadi wanita seperti bunga di taman. Memang cantik tapi banyak tangan yang bisa memetiknya. Jadilah wanita yang seperti bunga di tengah danau. Memang tak begitu cantik tapi jarang yang akan memetiknya."


...\=> Fiqrie Nafaz Cinta <\=...


Akhirnya kursi di aula terisi terisi penuh, banyak orang tua atau wali murid yang datang untuk menghadiri acara rapat sekolah. Pak kepsek, pak wakil kepsek dan beberapa guru ketua jurusan masuk ke dalam aula sekolah. Mereka duduk di kursi yang berada di depan. Kursi yang menghadap ke arah oranga tua atau wali murid.


Pak wakil kepsek berdiri sambil memegang mikrofon. Pak wakil kepsek memulai kata sambutan di dalam acara rapat. Lalu Pak wakil kepsek mulai pembahasan tentang siswa smk. Pak wakil kepsek membahas untuk siswa kelas 1 smk.


Banyak siswa kelas 1 smk yang mengambil jurusan yang salah tidak sesuai dengan bakatnya dan kemampuan yang mereka miliki.Sehingga pak wakil kepsek mengatakan kepada orang tua atau wali murid untuk membimbing atau mengarahkan anak mereka kepada bakat atau cita - cita mereka.


Ketika siswa mengambil jurusan yang salah tidak sesuai dengan bakat atau minatnya. Siswa tersebut akan cendrung malas sekolah tidak mempunyai semangat untuk bersekolah. Sehingga sebagai orang tua atau wali murid sangat penting untuk mengarahkan minat dan bakat buat siswa smk kelas1 agar tidak salah mengambil jurusan. Apabila yang sudah salah mengambil jurusan bisa pindah ke jurusan yang siswa itu minati dan punya bakat di jurusan itu.


Untuk siswa kelas 2 smk pak wakil kepsek memberitahu tentang pkl ( praktek kerja lapangan). Setiap siswa smk wajib melaksanakan pkl. Pkl di lakukan selama 3 bulan, Siswa smk melaksanakan pkl bisa dari kelas 2 semester 2 sampai kelas 3 semester 1.


Pak wakil kepsek memberitahukan bahwa sekolah akan membagi kelompok pkl itu menjadi 3 gelombang. Pak wakil kepsek juga memberitahukan bahwa pihak sekolah yang akan memcari perusahaan atau tempat untuk siswa melakukan pkl.


Pak wakil kepsek juga memberitahukan kalau ada orang tua atau wali murid yang ingin mencari tempat untuk pkl sendiri juga boleh. Sekolah hanya tinggal memberikan surat pengantar kepada perusahaan atau tempat yang akan di laksanakan pklnya.


Pak wakil kepsek juga memberitahukan rincian biaya untuk pkl. Pak wakil kepsek tidak membedakan biaya pkl tentang sekolah yang mencari tempat pkl atau orang tua sendiri yang mencari tempat pklnya.


Pak kepsek juga menjelaskan bahwa gelombang 1 pkl sudah akan di mulai 2 minggu lagi. Di harapakan siswa yang mau ikut gelombang pertama segera mendaftar. Lalu Siswa tersebut harus melunasi biaya untuk pkl. Siswa yang akan mengikuti pkl nilai lapor bayanganya harus tuntas atau lulus dalam semua mata pelajaran.


Pak wakil kepsek menjelaskan tentang siswa kelas 3 yang akan menghadapi Un. Pak wakil kepsek memberitahukan akan mengadakan bimbel buat siswa smk. Untuk mempersiapkan siswa kelas 3 menghadapi Un.


Acara rapat sekolah telah selesai seluruh orang tua atau wali murid meninggalkan aula sekolah. Ibu Ani berjalan menuju ke arah pintu aula. Sesampai di gerbang sekolah ibu Ani berdiri sambil menunggu angkot untuk pulang. Tetapi tidak ada angkot yang lewat akhirnya ibu Ani berjalan kaki.


Cuaca begitu panas terik karena masih siang hari. Ibu Ani berjalan kaki sambil melihat ke arah depan. Sebuah motor melewati gerbang sekolah. Lalu si pengendara motor itu melihat seorang wanita yang sedang berjalan kaki dengan cuaca yang panas.


Si pengendara motor mengendarai motor menuju ke arah wanita tersebut lalu si pengendara motor tersebut menghentikan motor di samping wanita tersebut.

__ADS_1


" Butuh tumpang buk?" Si pengendara motor menaikan kaca helemnya.


Ibu Ani yang menolehkan kepala ke arah si pengendara motor yang ternyata seorang pria yang dia temui di aula sekolah tadi.


" Lah kok diam aja buk?" Si pengendara motor itu yang masih melihat ke arah ibu Ani.


" Maaf gak usah pak, saya gak mau merepotkan pak." Ibu Ani yang mengelengkan kepalanya menolak si pengendara motor itu.


" Gak ngerepotin kok buk, lagian di sini jarang angkot yang lewat jadi lebih baik buk ikut saya," kata si pengendara motor tersebut.


Ibu Ani terdiam memikirkan tawaran dari si pengendara motor tersebut. Walaupun ibu Ani belum tahu nama si pengendara motor tapi terlihat dari wajahnya si pengendara motor tersebut orang baik.


" Kok diam aja buk, gimana kalau buk saya antar sampai rumah?" tanya si pengendara motor tersebut.


" Boleh pak," kata ibu Ani.


" Silahkan naik buk," kata pengendara motor.


Si pengendara motor tersebut melajukan motor ke arah alamat yang di beri tahu ibu Ani. Selama perjalanan menuju ke arah rumah Daniel ibu Ani dan si pengendara motor tanpa diam dan merasa canggung.


Akhirnnya si pengendara motor tersebut berhenti di depan pagar rumah Daniel. Lalu Ibu Ani turun dari motor kemudian ibu Ani mengeluarkan selembar uang berwarna hijau. Ibu menyerahkan uang tersebut kepada si pengendara motor.


" Apa ini buk?" tanya si pengendara motor tersebut kepada ibu Ani.


" Ongkos, karena pak udah ngatar saya sampai depan rumah," jawab ibu Ani.


" Saya bukan tukang ojek buk," kata si pengendara motor tersebut.


" Terus kenapa pak mau mengantarkan saya sampai rumah?" Ibu Ani yang melihat ke arah si pengendara motor tersebut.

__ADS_1


" Saya hanya mau berkenalan dengan buk, apa boleh?" tanya si pengendara motor tersebut.


" Boleh pak." Ibu Ani yang memasukan kembali selembar uang biru ke dalam saku celannya.


" Nama saya Suganda." Pak Suganda mengulurkan tangan ke arah ibu Ani.


" Ani." Ibu Ani yang menjabat tangan pak Suganda.


" Apa buk Ani ingat kita dulu pernah ketemu?" tanya pak Suganda.


" Maaf saya tidak ingat pak Suganda," jawab ibu Ani.


" Dulu kita pernah ketemu di depan kantor pengadilan agama," kata paka Suganda.


" Oh....Iya saya ingat pak. Terima kasih pak udah 2 kali mengantarkan saya." Ibu Ani yang tersenyum melihat ke arah pak Suganda.


" Sama - sama buk. Saya senang bisa bertemu ama buk. Apa boleh saya kapan - kapan main kerumah buk?" tanya pak Suganda.


" Maaf pak itu bukan rumah saya. Saya cuma bekerja jadi pembantu di rumah itu," jawab ibu Ani.


" Iya tidak apa - apa buk." Pak Suganda tersenyum melihat ke arah ibu Ani.


" Maaf kalau gitu saya permisi dulu pak, soalnya saya harus bekerja." Ibu Ani yang berpamitan kepada pak Suganda.


" Iya buk. Semoga saja kita akan bertemu kembali," kata Pak Suganda.


Pak Suganda yang melihat ke arah ibu Ani yang berjalan meninggalkan Pak Suganda.


Apakah pak Suganda akan bertemu kembali dengan ibu Ani?

__ADS_1


Tunggu di bab selanjutnya


...~ Bersambung ~...


__ADS_2