3 Cogan Dan Ry

3 Cogan Dan Ry
Rumah Baru


__ADS_3

"Cinta itu ibarat shalat taraweh, bukan tentang siapa yang datang lebih awal. Tapi tentang siapa yang bertahan hingga akhir."


...\=> Fiqrie Nafaz Cinta <\=...


Papi melihat ke arah Daniel yang terlihat binggung harus memilih apa.


" Karena proyek itu gagal, kita mendapatkan masalah," kata papi.


" Masalah apa pi?" tanya Daniel.


" Rumah ini papi jadikan jaminan saat meminjam uang untuk proyek itu di bank. Karena proyek itu gagal papi mengalami kerugian," jawab papi.


" Terus bagaimana pi?" Daniel yang wajah terlihat khawatir setelah mendengarkan perkataan papi bahwa rumah menjadi jaminan di bank.


" Karena papi gak bisa membayar hutang di bank rumah ini akan di sita oleh bank." Papi yang wajahnya terlihat lesu dan sedih.


" Apa rumah ini akan di sita?" Daniel yang terkejut mendengarkan perkataan papi.


" Iya. Sekarang kamu sudah harus mengemasi barang - barang yang akan kamu bawa," kata papi.


" Kenapa kita gak minta bantuan ama perusahaan cabang di medan dan di jambi untuk membayar hutang di bank pi?" tanya Daniel.


" Semua perusahaan papi saat ini sedang mengalami banyak masalah Daniel. Besok kita harus meninggalkan rumah ini. Kamu kasih tahu bibik Ani dan Aska juga ya," Papi berdiri dari sofa lalu berjalan meninggalkan Daniel yang masih terduduk di sofa.


Daniel berjalan ke arah kolam renang yang ada di rumahnya. Sesampainya Daniel di kolam renang yang berada di samping rumah.



Daniel melihat Aska yang sedang membersihkan kolam renang. Daniel berjalan ke arah kursi yang ada di dekat kolam renang. Daniel lalu duduk di kursi lalu Daniel memanggil nama Aska.


" Ska sini dulu," kata Daniel.

__ADS_1


" Eh....ternyata ada abang." Aska yang menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Aska lalu berjalan ke arah Daniel.


" Sini duduk." Daniel yang menyuruh Aska untuk duduk di kursi samping dia.


" Iya, ada apa abang?" Aska yang duduk di kursi samping Daniel.


" Ada yang ingin abang bicarakan ama Ska," jawab Daniel.


" Abang mau bicara apa?" tanya Aska.


" Keluarga abang lagi ada masalah Ska." Wajah Daniel yang terlihat lesu dan sedih.


" Masalah apa abang?" tanya Aska.


" Perusahaan papi lagi mengalami kerugian karena ada proyeknya yang gagal Ska," jawab Daniel.


" Inalilahi abang." Aska yang terkejut mendengarkan perkataan Daniel.


" Jadi gimana sekarang abang?" Aska yang terlihat cemas untuk mendengarkan jawaban dari Daniel.


" Karena papi gak bisa bayar hutang rumah ini di sita. Jadi Ska dan bibik Ani harus mengemasi barang - barang yang akan di bawa," kata Daniel.


" Terus kita akan tinggal dimana abang?" tanya Aska.


" Abang belum tahu Ska," jawab Daniel.


Esokan Harinya...........


Daniel sekeluarga, bibik Ani dan Aska sudah berdiri di depan rumah Daniel sambil membawa koper dan tas. Daniel sekeluarga terlihat begitu sedih saat akan meninggal rumah itu. Rumah yang penuh dengan kenangan indah.


Daniel sekeluarga harus merelakan rumah yang penuh dengan kenangan indah harus di sita oleh bank. Dengan berat hati Daniel sekeluarga harus pergi meninggalkan rumah itu. Daniel sekeluarga, bibik Ani dan Aska meninggal rumah itu.

__ADS_1


Daniel sekeluarga, bibik Ani dan Aska sudah sampai di depan sebuah rumah.



Aska memakir motornya lalu turun dari motornya. Aska berjalan untuk membuka pintu pintu pagar rumah itu. Aska membuka pintu pagar rumah itu. Mobil papi yang membawa mami, bibik ani dan berserta barang - barang masuk ke dalam halam rumah. Lalu motor sport Daniel juga masuk ke dalam rumah.


Papi membuka kunci rumah lalu papi menyuruh kami semua untuk masuk ke dalam rumah. Papi mengajak kami untuk berkeliling melihat rumah ini. Bagi Daniel dan mami rumah ini jauh sekali dari rumah mereka yang berlantai dua dan sangat besar.


" Pi ini rumah siapa?" tanya Daniel.


" Ini rumah kita saat ini," jawab papi.


" Pi dapat uang dari siapa untuk membeli rumah ini?" tanya mami.


" Maaf mi, mobil kita yang Pajero sport warna merah papi jual buat bisa beli rumah ini." Papi wajahnya terlihat sedih.


" Gak masalah buat mi. Yang terpenting sekarang kita punya tempat tinggal. Lagian kita masih punya mobil fortuner warna putih." Mami yang mencoba untuk menghibur papi agar terlihat tidak sedih lagi.


" Terima kasih ya mi. Udah mau mengerti kondisi ekonomi kita untuk sekarang." Papi yang melihat ke arah mami. Papi yang memeluk tubuh mami.


" Iya pi. Mi yakin kita bisa melewati semua cobaan ini pi." Mami yang mengusap punggung papi.


" Mami Papi, aku juga mau pelukan dong." Daniel yang berjalan menghampiri mami dan papinya. Daniel sudah berdiri di hadapan mami dan papinya.


" Sini sayang." Mami yang melepaskan pelukannya dari papi. Mami, papi dan Daniel berpelukan.


Bibik Ani dan Aska melihat Daniel sekeluarga sedang berpelukan. Ada rasa rindu Aska terhadap sosok seorang ayah sehingga saat melihat Daniel berpelukan ama mami dan papinya. Aska hanya bisa berdoa suatu saat natik dia bisa memiliki keluarga yang utuh seperti Daniel.


Bibik Ani yang melihat ke arah Aska lalu memeluk Aska. Bibik Ani mengerti perasaan Aska yang ingin memiliki keluarga yang lengkap seperti Daniel. Tetapi bibik Ani belum bisa memberikan sesuatu yang di inginkan oleh Aska.


Apakah suatu hari natik ayah Aska kembali ke Aska atau Aska mendapatkan ayah baru?

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2