
tak, , tak , ,tak , ,tak
Langkah kaki terdengar sangat pelan dalam koridor rumah sakit yang kini di tempati mama JJ. Johan dan Jihan meski tidak di izinkan ia berusaha untuk tetap kerumah sakit untuk melihat keadaan mama mereka,mereka berjalan dengan beriringan,membuah siapa saja yang melihatnya dan tidak mengetahui mereka kembar,maka akan terlihat seperti sepasang kekasih yang sangat serasi.
di depan pintu ruangan itu,Johan menghentikan langkahnya melihat di dalam masih ada seorang laki laki yang telah memutuskan hubungan dengan mereka,
"Kenapa?" tanya Jihan
"Papa, masih ada di dalam?" jawab johan
"Ya sudah ayok,kenapa diam ,kita mau lihat mama kan!" lanjut Jihan ingin membuka pintu itu namun segera di halangi Johan
"Jihan sabar,kamu tahu kan apa yang papa katakan sama kita saat itu?" tanya Johan
Jihan diam dan mengingat saat kejadian di mana dia mengaku telah hamil,di saat itulah papanya mengatakan bahwa mereka bukan lagi anak nya.
Jihan merasa bersedih " iya ,aku ingat" jawabnya
"Ya sudah kita tunggu di sana dulu,setelah papa keluar kita masuk" ucapnya
Jihan pun menurut dan memilih bangku kosong sebelah ruangan itu untuk menunggu papa mereka keluar dari sana.
setelah menunggu beberapa saat papa JJ terlihat keluar dari ruangan itu,Johan dan juga Jihan langsung saja masuk ke dalam.
cklek
"ma, ," panggil Jihan
merasa ada yang memanggil,mamanya pun menoleh dan langsung membuang mukanya,
"Ma, ,maafin Jihan ma, , hik, , hik" Jihan langsung meminta maaf ,tapi mamanya malah diam saja tak mau melihatnya.
"ma, ,jangan giniin Jihan,Jihan gak bisa ma, please" bujuk Jihan
"Mah, ! " panggil Johan
"buat apa kalian kesini ? saya sudah tidak Sudi melihat kalian lagi!"
"ma please,Jihan dan kak Johan sayang sama mama ,mama jangan gini?"
"Kalau kamu sayang,kenapa kalian melakukan ini semua hah?" tanya mamanya
Johan dan Jihan tak bisa menjawab, mereka hanya diam menunduk.
"Kalian tidak bisa jawab kan?" ucap mamanya
"Jihan salah" lirihnya
"Johan juga salah ma" lanjut Johan
__ADS_1
cklek
pintu terbuka,terlihat papa JJ masuk dengan membawa dokter.
"Siapa yang menyuruh kalian masuk hah" marah papa JJ pada mereka.
"Pa, , maafin Jihan pa,tapi Jihan hanya mau melihat mama ?" ujar Jihan
"maaf pak,bisa saya periksa pasien dahulu?" ucap dokter itu melihat sedikit perdebatan di antara keluarga itu.
"silahkan dokter" ucap papa JJ
Jihan dan Johan pun langsung mundur dan menunggu di sofa dekat ranjang.
setelah dokter memeriksa mama JJ dan langsung menjelaskan keadaan mama JJ yang hanya perlu istirahat saja, setelah itu dokter itu pun pergi meninggalkan keluarga itu .
"Kalian bisa pergi dari sini!" usir papa JJ
"pa, , tapi, , !" ucapan johan di sambar langsung oleh papanya
"Kalian kesini hanya mau melihat keadaan Istri saya bukan. dan kalian juga sudah mendengar apa yang di katakan dokter bukan,jadi silahkan kalian keluar" ucapnya mengusir mereka.
"Pa, ," tangis Jihan
papanya hanya diam dan menghampiri istrinya yang sedang terbaring.
mereka pun keluar dari ruangan itu,di luar sudah ada beberapa orang yang menunggu Johan,
"maaf pak kami tidak dapat melacak mereka" lapor salah satu dari mereka
Johan hanya melirik" kita bicara di markas" jawab nya.
setelah di markas Jihan duduk di sebelah Johan ,dengan anak buahnya di depan mereka dengan berdiri.
"apa maksud kalian tidak bisa melacaknya? caranya Johan
" Data data tentang dia sama skali tidak ada di komputer bos!" lapornya
"terus kalian pulang dengan melacak dari komputer saja,? buat apa saya mahal mahal membayar kalian jika kerja kalian tidak becus!" omel Johan
"Maaf bos,kami hanya berhasil mengambil alamat ini saja" ucapnya memberi sebuah alamat.
Johan mengambilnya,dan langsung menyambar kunci mobilnya,
"Mau kemana?" tanya Jihan
"mau ke rumahnya lah,kamu sudah tahu kan dia siapa ,dan kamu juga tahu lawan kamu bukan orang yang biasa" jelas Johan
"lantas kamu mau ngapain kesana? mau menyerahkan nyawa?" tanya Jihan
__ADS_1
Johan menoleh " hanya memastikan" jawabnya kemudian berjalan
Jihan hanya bisa diam memandang kepergian Johan,ia menghela nafas panjang dan menatap ke atas sembari memejamkan matanya mengingat semua yang di alaminya sampai membenci teman masa kecilnya itu sampai sekarang.
"Hmm,,hidup gue penuh drama" gumamnya
Jihan teringat saat dirinya belasan tahun lalu sedang bermain bersama teman temanya di sebuah taman ,merdeka bermain berlima, tiga laki laki dan dua perempuan,salah satu dari mereka ya memang Jihan dan Johan,saat itu Jihan ingin memetik bunga tapi tidak di jangkau olehnya,Jihan berusaha susah payah untuk mengambilnya tapi tetap tidak bisa,say dirinya sedang berusaha mengambil bunga itu,teman laki lakinya dari arah belakang langsung memanjat dan mengambil bunga itu, pastilah senang yang di rasakan jihan,tapi siapa sangka bunga yang di bawa teman lelakinya itu bukan untuknya , melainkan untuk teman perempuan yang satu lagi yang sedang duduk di sebelah sepeda sepeda mereka yang terparkir di samping taman.
"Iiih kok di Ambil sih?" kesal Jihan
"Siapa suruh kamu pendek" sahut nya
"Aaaaa kesel deh" Jihan merajuk
teman cowoknya yamg satu lagi juga berjalan ke arah Jihan dan juga memetik bunga yang sama
"Buat aku ya!" ujar Jihan tersenyum
"wlek, bukan lah" sahut nya lagi memberikan bunga itu juga pada teman perempuan nya itu.
"iiih" kesal Jihan menghentakkan kakinya
Johan terlihat menghampiri dari belakang,ia tadi pergi membeli minuman buat Jihan
"Eeeh kamu kenapa?" tanya Johan
melihat Johan,Jihan pun menangis
"Huaaa,mereka jahat,tadi aku yang mau ambil bunganya tapi mereka petik dan malah kasi ke dia, ,huaaaaa" tangisnya
"cengeng banget sih gitu saja" sahut teman cowoknya itu
"nih buat loe" ucapnya memberikan bunga yang sudah rusak.
"Gak mau" sahut Jihan
"Ya sudah nanti Kakak ambilkan ya, kamu duduk sini dulu" ucapnya memberikan sebotol minuman dan berjalan ke arah bunga itu kemudian memanjat dan langsung memetiknya yang banyak.
"Nih, jangan nangis lagi ya?" ujar Johan memberikan banyak bunga pada Jihan
"Yeeeee, , ,aku punya banyak bunga" senang Jihan
"wllekk" Jihan berlari menjulurkan lidahnya ke arah teman temannya.
Bukan hanya di taman saja,di sekolah juga Jihan selalu merasa di kucilkan jika ada dia,
"Awas saja besar nanti,aku balas kamu" gumamnya dalam hati
Jihan setiap kali termenung akan selalu mengingat saat saat itu, terlebih orang yang memberikan perhatian lebih pada teman perempuan nya itu adalah orang yang Jihan sukai,untuk itu Jihan sangat membencinya sampai sekarang.
__ADS_1