
Zelda tersenyum penuh kemenangan pagi ini,sambil menatap punggung lebar itu menjauh dan menghilang di balik pintu besar layaknya gerbang istana itu .
Diwa sudah di pulangkan dari rumah sakit,di temani papa dan mama zelda Diwa sementara waktu tinggal di rumah Zelda selama masa pemulihan nya.diwa sebenarnya ingin tinggal di markas tapi tidak di izinkan oleh mama Selena,agar lebih mudah dalam masa pemulihan nya.
"ma,pa,,makasi ya udah mau nampung Diwa di sini" ujar Diwa yang kini sedang terduduk di kursi ruang keluarga rumah besar itu
"kamu anak kami juga,jadi jangan sungkan" ucap mama Selena membelai rambut Diwa
"Zelda gak pulang ma?" tanya Diwa
"kamu tau sendiri dia pulang dan pergi semau dia,tapi selama dia baik baik saja kami paham,di luar sana banyak yang membutuhkan dia bahkan kalian" ucap sendu mama Selena.
Ting
Ponsel Diwa berdering.
"mau ikut bermain? " notifikasi itu dari Zelda
"aah rasanya gue sudah tidak sabar untuk bermain" balas Diwa
" loe di rumah gue kan?" tanya Zelda
"iya" jawab Diwa
drrrt
drttt
pesan chat itu berganti telpon Video.
"Hai," sapa Zelda
"Hai zel,"
"hallo sayang" sapa mama dan papa Zelda.
"pinjam Diwa Ya ma,mau main" ujar Zelda sambil cengir
"sayang kamu serius ngajak teman kamu main dia baru keluar dari rumah sakit?" ujar mama Selena
"Tenang ma,Diwa cuma mau jadi penonton saja kok" ujar Zelda lagi
"Huh,kamu tu ya kalau sudah ada maunya gak bisa di bantah" ujar mama Selena lagi
"kakak,aku ikut main boleh" sahut zuita dari belakang
"Eeh zui gak sekolah?" tanya Zelda
"Libur kak,di sekolah guru sedang rapat,jadi aku boleh ikut main" tanya zuita lagi dengan semangat.
"Anak kecil di rumah saja" ujar Zelda membuat zuita cemberut dan kembali ke kamarnya dengan menghentakkan kakinya,bahkan tanpa berbicara apapun .
"anak itu " ucap mama Selena menggeleng.
"Ya sudah kamu hati hati ya ,mama mau ke kamar zui dulu" pamit mama Selena.
"oke ma,makasi ya" ujar Zelda kemudian menutup ponselnya.
"Kamu di anterin supir ya wa" ujar papa Handoko
"gak pa,nanti anak markas aja yang jemput" jawab Diwa
__ADS_1
"oh baiklah,papa ke ruang kerja papa dulu" pamit papa Handoko
"Iya pa"
****
"Honey,hati hati main mainnya ya" isi pesan Revin
Zelda tersenyum sambil mengetik " iya honey," jawab Zelda.
"Panggilan honey ternyata lucu juga" gumam Zelda hati melanjutkan jalanya menuju penjara TBW yang letaknya tidak jauh dari markas.
sementara itu di markas sudah sangat ramai dengan para Mafioso dan para dokter kepercayaan TBW,mereka hari ini akan mengadakan pemeriksaan masal secara rutin yang setiap tahun di gelas demi kenyamanan dan kesehatan para mafia.
**
"Hai paman,apa kabar?" ucap Zelda yang mulai memasuki ruang penjara paman Leon
paman Leon hanya terdiam.
hingga akhirnya Erland masuk di ikuti Sinta,Diwa,Andi dan Tiara.
"Erland,kamu anak kurang ajar,tega kamu sama paman mu sendiri hah?" bentak paman Leon
"hahah,tidakkah kata tega itu lebih pantas untukmu paman??" jawab Erland berjalan santai ke arah paman Leon
"Bagaimana aku harus memulai untuk menghukum mu paman?" ucap Erland.
Erland berjalan mengitari paman Leon yang masih dalam keadaan kaki dan tangan di ikat.
BUGH
satu pukulan di layangkan di rahang paman Leon.
"ini untuk kelancangan mu memasuki rumahku paman" ujar Erland
BUGH
satu pukulan lagi mendarat di mata paman Leon sampai terlihat membiru
"eeuuh" jeritnya pelan,kepala paman Leon mulai berkurang.
"ini untuk pandangan mu ke mama,sangat tidak pantas mata Hina mu memandang mama ku" sinis Erland
sementara yang lain hanya menonton pertunjukan ini,masing masing membawa satu buah senjata tajam yang berbeda.
"hahaha,belum puas? " tawa remeh Pama Leon
"Oh,jelas aku sangat belum puas paman,yang tadi hanya perkenalan saja" ujarnya membuat siapa saja merinding mendengarnya.
"Sin" panggil Erland,
Sinta yang merasa di panggil namanya pun segera saja mendekat dan menyerahkan sebuah gunting kuku,tapi bukan gunting kuku yang pada umumnya,gunting kuku yang di pegang Sinta ukuran nya lebih besar dan lebih tajam.
"tidak kah pamanku yang baik ini melihat apa yang aku pegang?" ujar Erland berhasil membuat paman Leon susah menelan ludahnya.
Erland mendekat dan berbisik
"Satu kali saja ya" pintanya kemudian sedikit berjongkok dan erland langsung mengarahkan gunting kuku itu ke jari kaki paman Leon..
"Jangan,jangan" ucapnya tapi sangat terlambat
__ADS_1
ctaak
"Aaaark" jerit tertahan paman Leon merasa kesakitan
"uuuuh,,uuuhh" jeritnya lagi mengatur nafas .
"ini untuk kaki mu yang sangat lantang berjalan ke rumahku dan menculik mamaku" ujar Erland
"Brengs3k kau anak durhaka" geram paman Leon
"Ini belum seberapa paman,jika di lihat apa yang kamu lakukan pada orang tuaku," sinis Erland.
"Diwa" panggil Erland lagi
Sinta yang merasa di sebut namanya pun mendekat dan memberikan sebuah pecut kuda,namun pecu kuda ini bukan pecut sembarangan,pecut yang satu ini sangat beracun,jika terkena tubuh,seketika tubuh akan mengalami gatal gatal hebat,bahan membuat tubuh jadi mengelupas.
Erland dengan santai mengambil pecut itu,kemudian berjalan santai ke arah paman Leon,
"Mau apa kamu" suara parau paman Leon
"Masih tanya lagi"
Slash, , ,
slash, , ,
dua kali pecutan di tubuh pamam Leon membuat dirinya menjerit hebat
"Aaarrrkk"
"aaarkk"
"Uuuuuuuh sakit ya " ledek Diwa
"Bunuh aku sekarang,bunuh saja" ujar paman Leon
"Tidak segampang itu paman" ujar Erland.
"Itu untuk kelancangan tubuh mu yang mau menyentuh tubuh mamaku" geram Erland mengingat bahwa paman Leon pernah ingin memperkosa mamanya.
"lepaskan paman erland" jeritnya
"Gampang sekali mulut anda mengatakan lepas,tidakkah anda merasa kasihan dengan wanita yang anda culik dan anda siksa selama beberapa hari hah" bentak Erland
"Dia adalah seorang wanita yang notabene nya Adalah kakak ipar anda sendiri,istri dari kakak kandung anda ,wanita yang seharusnya anda hormati dan anda lindungi,bukan anda culik dan anda siksa layaknya binatang" geram Erland Sudah mulai emosi,nafasnya naik turun memburu .
"Andi" panggil nya
Andi yang merasa dirinya di panggil segera mendekat dan memberikan sebuah benda yang sangat familiar di mata paman Leon,sebuah korek api,korek api biasa pada umumnya namun bukan korek apinya yang istimewa tapi pasangan dari korek apinya itu,sebuah obor dengan besi sebesar genggaman.
"Jangan kejam kejam Erland,kasihan orang tua itu" ledek Andi di balas senyum kecut Erland.
mata paman Leon semakin melotot melihat senjata yang kini di pegang oleh Erland,tidak perlu di tanya lagi senjata itu sudah pasti akan berakhir di tubuh gembulnya itu.
"Erland kau mau apa dengan besi dan api itu Erland" teriak paman Leon
Erland segera saja menyalakan obor itu dengan korek api yang di berikan oleh Andi tadi,Erland duduk santai di samping obor dengan tangan terulur ke depan sambil memegang besi itu.
(bersambung)
semangat 💪 ngehalu
__ADS_1
salam kity-kity 😻