Aku Seorang Mafia

Aku Seorang Mafia
episode 126


__ADS_3

boy tiba tiba memegang tangan Sinta,Sinta langsung menepis tangan itu " sorry saye tak sengaje " ucap boy merasa tidak enak.


"It's oke, ada apa?" tanya Sinta membalik badan


"Boleh tak saye anter kau pulang?" tawar boy


melihat kondisi boy yang tak bisa bela diri seperti tadi,Sinta mengiyakan ucapan boy yang akan mengantarkannya pulang,ia khawatir para perampok itu akan datang lagi dan menghajar boy.


"Baiklah," jawab Sinta singkat.


"bisa gak?" tanya Sinta melihat boy sedikit kesusahan menggunakan motornya.


"bise lah" jawab boy namun masih terlihat jika dirinya berusaha karena kaki Kanannya terlihat terkilir dan tanganya terluka tidak bisa kuat memegang stang motor .


"ya sudah sini kunci motor loe" ucap Sinta sembari merampas kunci motor boy dari tanganya.


Sinta langsung menunggangi motor itu,dan boy malah terlihat kebingungan dan tak bergeming dari tempatnya.


brum


BRUUUM


Sinta menoleh," ayok, , mau tetap di sini sampai para perampok itu datang kesini lagi? ujar Sinta


mendengar kata perampok saja sudah membuat boy merinding,mengingat kejadian beberapa jam yang lalu membuat dirinya bergidik, ia pun dengan cepat Meraih punggung si ta untuk berpegangan dan menaiki motornya.


"Haish,,dia kira gue tukang ojek apa? eeh tapi kan dia bukan siapa siapa gue ,ya sudah lah" gumam Sinta melihat boy yang berpegang pada pundaknya,


"Crazy, , aku di bonceng cewek, ,haish, , ! tak pe lah tuk kali ni saje" gumam boy yang merasaa malu .


Di jalan tidak ada satu katapun,yang terdengar hanyalah deruan mesin motor sport dan klakson jalan raya,entah apa yang di pikiran boy saat ini,hingga mereka sampai rumah boy pun dirinya tidak sadar .


Tin, ,tin


Sinta membunyikan klakson dari luar pagar rumah boy,rumah mama nya boy yang di beli sangat murah dari perkiraannya.rumah yang sederhana tanpa pagar menjulang tinggi,tanpa satpam dan hanya ada satu ART yang membantu mamanya untuk membereskan rumah itu,terlihat seorang paruh baya berbadan sebahu Sinta dan sedikit gemuk dengan wajah bulat menghampiri nya,dialah bik Hanum seorang pembantu rumah tangga skali gus ibu kedua dari boy,karena bik Hanum bekerja dengan keluarga SANJAYA sejak boy masih dalam kandungan mamanya,untuk itu boy merasa bik Hanum adalah ibu kedua baginya karena seringnya di tinggal sendiri di rumah jika orang tuanya pulang ke Malaysia.


"Astaga, , tuan muda kenapa?" panik bik Hanum yang melihat keadaan boy yang babak belur,


Sinta memarkirkan motonya dan membantu boy untuk masuk ke dalam Rumahnya,setalah itu boy duduk di kursi ruang tamu,ia mengedarkan pandangan seperti mencari seseorang,


"Bik, mama mane?" tanya boy

__ADS_1


"eemm, , nyonya, , " ucapnya seakan ragu


"bik, , " panggil boy lagi.


"Bik mending ambilkan air sama lap kering ya,buat kompres luka nya" ucap Sinta mengalihkan pembicaraan.


bik Hanum pun segera menurut dan mencari air serta lap bersih untuk tuan mudanya.


setelah beberapa saat bik Hanum kembali,dan segera mencelupkan lap itu ke dalam air,saat dirinya hendak mengompres luka di wajah boy,boy menghentikan nya dengan memegang tangannya


"Bibik belum jawab pertanyaan boy, , di mana mama?" tanya boy.


Sinta hanya diam melihat sikap boy yang masih selembut itu terhadap pembantunya.


"bibik Hanum" panggil boy,membuat bik Hanum tersentak,jika namanya sudah di sebut itu berarti boy sudah mulai emosi


" nyonya keluar mencari pekerjaan" jelasnya


"Astaga, , kenape di kasi? mama masih sakit ,biar boy yang kerja biar boy yang cari uang" bentak boy pada bik Hanum


bik Hanum menangis ,ini baru pertama kali boy membentak dan memarahi nya,


"Bik,maafin boy" ucap lirih boy melihat bik Hanum menangis,


"Bukan salah bibik,ini salah boy belum bisa kasi uang" ucapnya penuh penyesalan.


Sinta semakin kagum dengan sikap boy yang terlihat preman tapi di dalam punya hati selembut sutra.


"Siapa dia?" gumam Sinta.


"Sudah lah boy,loe tu harus obati dulu lukanya,nanti infeksi malah tambah sakit,gak bisaa cari kerja" ucap Sinta


Boy melirik Sinta,dan bodohnya dia,dia baru sadar jika Sinta masih bersamanya,lho apa yang loe fikir kan boy???


"kamu masih di sini?" tanya boy bingung


"Menurut loe? " jawab Sinta.


"kamu tau dari mane rumah ku?" tanya boy


"Loe lupa gue siapa,baby siapa? untuk urusan alamat rumah itu hujan hal yang besar bagi kami" sombong Sinta.

__ADS_1


boy pun teringat dengan baby," boleh tak boy jumpe dengan baby?" tanya boy


"Sembuh dulu baru ketemu,ya sudah gue balik ya" ucap Sinta mengangkat bokongnya .


"Bik , ,Sinta balik ya" ucap Sinta pada bik Hanum


"Iya nak Sinta!" sahut bik Hanum


boy semakin menyeritkan alisnya, berfikir sejak kapan Sinta kenal dan akrab sama bik Hanum.


"bik,kenal tak same Sinta?" tanya boy


bik Hanum tersenyum dan memandangi boy "bukanya tuan mudah sudah tahu?" tanya bik Hanum


boy menggeleng dan mengangkat kedua bahunya,


"Nak Sinta itu kan yang memberikan nyonya rumah ini, sebenernya rumah ini di kasi percuma,tapi nyonya merasa tidak enak ,untuk itu nyonya memberikan sejumlah uang untuk membayarnya,itupun sangat murah" jelas bik Hanum


"Appe?" boy tersentak mendengan nya


"Kenape mama tak bagi tahu boy?" tanya boy


"nyonya berfikir buat apa memberi tahu tuan muda,kan kita tetap bayar,yaah meskipun tidak seberapa! " jelasnya.


"bibik punya nomer telepon nya?" tanya boy


"iya ada,nanti bibik kirimkan ya" sahut bik Hanum meniggalkan boy sendirian,dengan langkah cepat ia memasuki rumahnya dan menutup pintu kamarnya.


"Siapa die?" gumam boy yang mulai berfikir kenapa Sinta sampai mau memberikan rumahnya kepada boy,dasb ia teringat dengan Zelda.


"Baby, pasti ini semue baby yang mengatur " gumam boy langsung menelpon Zelda.


Drrr


ddrrrt


suara ponsel Zelda berbunyi saat dirinya sedang berada di kamar mandi,


"Hallo baby,saye nak bicara!" ucap boy belum mendengar suara Zelda.


"Mau bicara apa?" jawab seseorang yang tak lain ialah Revin.

__ADS_1


Revin yang tadinya masuk ke kamar Zelda ingin mengajaknya makan malam,tapi tak menemukan Zelda di kamar,saat dirinya ingin mengetuk kamar mandi Revin mendengar suara deringan ponsel milik Zelda,Revin menatap layar ponsel itu dan tertera nama "boy", ia sebenernya enggan menjawab telepon itu,tapi melihat Zelda tak kunjung keluar dia pun memilih untuk menerima panggilan boy,baru saja menekan tombol hijau boy langsung menyambarnya dengan ucapan yang membuat Revin sedikit cemburu.


"Siape ni? " tanya boy


__ADS_2