
Theo baru ingat dan menyadari betapa bodohnya dia, bagaimana mungkin dia bisa lupa yang satu ini dan sekarang dia kebingungan harus memberi nama apa.
"Apakah aku bisa mengganti namanya nanti?"
"Bisa dengan membayar 50 emas lagi," kata Govic dengan kilatan emas dimatanya.
"Jangan harap...biarkan aku berpikir sebentar," katanya dengan cemas.
Theo terus memutar kepalanya berpikir nama apa yang cocok untuk guild dan dirinya, tidak mungkin dia akan memberi nama seperti Avengers atau sejenis Super Hero, Boby akan menertawakannya habis-habisan.
Theo mencoba mengingat-ingat apa nama yang bagus dan tidak mempermalukan dirinya.
Setelah lama berpikir dia kepikiran satu nama.
"Aku akan memberi nama Guildku."
Theo mengambil pena dan menuliskan nama guildnya.
GENESIS
"Genesis?" Tanya Govic memastikan dan Theo hanya mengangguk lalu menandatanginanya.
"Baik dengan ini sudah selesai sekarang anda resmi sebagai pemilik Guild Genesis."
Setelah kesepakatan,Theo pergi dan bersorak dalam hati telah membuat Guild.
Theo tidak dapat berlama-lama bahagia dan harus menuju rencana berikutnya yaitu merekrut anggota guild karena dia tidak mau memiliki Guild yang tidak ada anggotanya tetapi Theo tidak mau asal merekrut harus orang yang bisa dipercaya oleh Theo.
Theo pertama menghubungi Boby karena Theo takut jika tidak menghubungi dia dulu wajahnya akan bonyok oleh pukulannya.
Theo melihat Boby offline sehingga dia memutuskan untuk logout.
Theo melihat Boby sedang berada di depan komputer sepertinya sibuk mencari sesuatu
"Hei bodoh apa yang sedang kau lakukan, aku sekilas melihat gambaran seekor gorila menggunakan komputer"
"Diam kau, ada apa menggangguku?"
"Aku sudah membuat Guild."
Mendengar itu Boby menghentikan dirinya menatap layar komputer dan berpaling ke Arya.
"Kau apa..."
"Hei apa telingamu harus dibersihkan sudah kubilang aku sudah membuat guild."
Boby hanya menganggukan kepala dengan mata berbinar.
"Bagus lalu apa nama guildnya."
"Genesis," jawab Arya singkat dan terlihat Boby sedang berpikir.
"Sial!" Teriak Boby mengejutkan Arya.
__ADS_1
"A-apa ada yang salah?" Tanya Arya kebingungan.
"Tidak ada, hanya saja namanya bagus aku tidak punya celah untuk mengejekmu."
"Kau bajingan Gorila sudah kuduga jika aku memberikan sembarang nama kau akan meledekku habis-habisan."
"Lalu sudah berapa orang yang tahu," tanya Boby dengan nada tajam.
"Baru kamu yang tahu, dan kulihat kau offline makanya aku langsung logout untuk menemuimu."
"Benarkah?" tanya Boby memastikan.
"Tentu saja benar lihatlah Guildku masih kosong tidak ada anggota lain."
Mendengar jawaban Arya, Boby senang karena dia merasa diistimewakan oleh sahabatnya.
"Aku senang mendengarnya sini cium aku."
"Enyahlah."
Setelah tertawa cukup lama mereka kembali mode serius.
"Lalu apa kau dapat bergabung ke Guildku?" Tanya Arya penuh harap.
"Tentu saja aku akan bergabung ke Guildmu apapun yang terjadi masalahnya aku masih terikat guildku dan tidak bisa sembarangan keluar jika tidak ada ijin ketua Guild."
"Kalau begitu biarkan aku bertemu ketua Guildmu."
"Untuk apa."
"Kau yakin?" Tanya Boby ragu.
"Kau jangan meragukan sahabatmu ini," ucap Theo sambil menepuk dadanya.
Boby tersenyum melihat sahabatnya dan berhasil meyakinkannya.
"Baik mari temui ketua Guildku jika dia tidak mengijinkanku keluar maka aku akan mogok kerja."
Mereka sudah sepakat dan berniat login kembali untuk menemui ketua guild.
"Ngomong-ngomong kau sedang mencari apa di komputer," tanya Arya penasaran.
"Aku sedang mencari petunjuk tentang Job Questku Galahad tetapi tidak menemukan petunjuk apapun," desah Boby.
"Memang questnya seperti apa dan perkembangan terakhirnya seperti apa."
"Ehhmmm quest terakhir membunuh 30 bayangan gelap di hutan Elbris mana tempatnya sangat jauh," keluh Boby.
"Lalu apa yang kau dapatkan dari penyelesaian quest."
"Aku mendapatkan sebuah emblem, kau lihat sendiri."
Boby menunjukan emblem itu dari layar monitor yang dipandanginya berjam-jam dan Arya mendekat untuk melihatnya.
__ADS_1
Arya melihat emblem indah berwarna perak dan mencoba memelototinya tetapi sayangnya tidak menemukan petunjuk apapun.
"Sudahlah ayo kita login dan menemui ketua Guildku," kata Boby sambil mematikan komputer.
"Maafkan aku tidak bisa membantumu," kata Arya menyesal.
"Bodoh! Kenapa kau meminta maaf, aku yang mencari berhari-hari saja belum menemukan petunjuk."
"Bagaimana caramu mengalahkan bayangan gelap itu," Tanya Arya penasaran
"Kebetulan aku memiliki skill Holy Sword yang dapat membunuh mahluk dengan atribut kegelapan."
"Itu dia! menurutku jika Job Quest yang kau cari adalah benar Galahad dari ksatria meja bundar maka mungkin quest berikutnya berhubungan dengan Holy Grail karena Galahad juga dikenal sebagai Ksatria suci maka banyak skill atribut suci yang akan kau kuasai."
Boby terkejut dengan penjelasan Arya yang terdengar masuk akal dan dengan sedikit masukan Arya setidaknya dia tahu harus mulai darimana mencari petunjuknya.
"Kau sungguh jenius sahabatku," pujinya.
"Jangan samakan aku denganmu," dengus Arya.
"Iya-iya tuan Jenius mari kita segera pergi."
Mereka segera berdiri dan menuju kapsul untuk login kembali .
[Selamat datang Player Theo]
Begitu login Theo segera membuka saluran percakapan dan menghubungi Boby.
"Gorilla dimana kau?"
"Aku berada di guildku, markas Guildku berada di Kota Igana sebelah timur kota Rudovan kemarilah."
"Baik tunggu aku disana."
Sayangnya Theo belum pernah ke kota Igana sehingga dia tidak dapat menggunakan sarana teleportasi dan memutuskan satu-satunya rute menuju kota Igana adalah dengan berjalan kaki atau dengan kereta kuda sayangnya saat ini tidak tersedia, Theo membutuhkan waktu yang cepat untuk segera kesana dan itu sudah ada dalam pikirannya.
"Summon"
Theo mengeluarkan dua monster serigala Remus dan Remulus, sebenarnya Theo hanya membutuhkan satu tetapi kedua serigala ini seperti saudara kembar, Theo mengelus janggut kedua serigala dan terlihat kedua serigala menunjukan taringnya sepertinya itu adalah senyuman mereka, karena untuk tujuan inilah Theo membutuhkan monster Serigala, terlihat ukurannya lebih besar dari serigala yang biasanya mungkin karena kenaikan level.
Theo tidak ingin membuang waktu dan segera menaiki punggung Remus untuk segera menuju kota Igana.
Meskipun tidak memiliki skill ride, Theo dapat menunggangi Remus dengan lancar dan Remulus berlari disampingnya, Theo merasakan hembusan angin menerpa wajahnya dan menyapu rambutnya.
Perjalanan yang seharusnya ditempuh selama setengah hari dapat ditempuh kurang dari satu jam, dan akhirnya Theo tiba di kota Igana.
Pemandangan kota Igana mirip dengan Kota Rudovan hanya saja tampak lebih kecil tetapi kota Igana memiliki banyak sungai yang indah bahkan dibelakang kota Terlihat air terjun raksasa bagaikan benteng membuat kota benar-benar terlihat sangat indah, Theo hampir melupakan tujuannya karena terpesona dengan air terjunnya.
Theo segera membukan percakapannya dan menghubungi Boby.
"Hei bodoh dimana kau, aku sudah sampai."
"Hah? jangan bohong baru juga setengah jam kau kan masih belum punya portal kesini."
__ADS_1
"Aku tidak bohong, sudahlah kau ada dimana."
"Tunggu saja di gerbang kota aku menuju kesana."