
Saat Arya hendak ke atap sekolah di lobbi sekolah ada seseorang menepuk punggungnya dari belakang.
"Arya jangan lupa sepulang sekolah yah."
Arya kaget ada suara wanita dari belakang menegurnya.
"Y-ya tentu saja nanti jam 3 kan."
Arya masih belum terbiasa dengan Varia di dekatnya dan masih membuat hatinya berdebar.
"Aku sudah mengumpulkan partyku lho jangan sampai tidak datang karena kami akan kekurangan orang dan aku akan marah," ancam Varia dengan senyum manis.
"Y-ya tentu saja karena aku bakal menggendong (menjadi andalan) partymu," ucap Arya dengan nada bercanda.
"Kamu bisa saja, senangnya kalau Summoner bisa menggendong aku yang Swordsman ini," Varia tertawa geli.
Melihat semua orang memperhatikan mereka Arya merasa tidak nyaman dan mengakhiri percakapan.
"Oke aku pergi dulu sampai jumpa nanti Var."
Arya segera pergi dengan lambaian tangan dibalas dengan lambaian juga oleh Varia.
Karena kejadian ini mereka menjadi perbincangan hangat di sekolah.
"Mereka pacaran kah."
"Bagaimana mungkin gadis cantik sepertinya bisa terpikat oleh pria macam dia."
Dan seperti itulah gosip panas yang terjadi di sekolah.
*************
Sepulang sekolah Arya langsung menuju kamar Boby untuk segera login dan ternyata Boby sudah siap menyambutnya.
"Selamat datang bapak Arya apakah sudah siap berkencan hari ini?" Kata Boby dengan membungkukan badannya bak pelayan.
"Enyah kau sialan!"
Boby tertawa terbahak bahak mendengarnya.
"Ya sudah aku login dulu,"kata Arya dengan senyum sumringah.
"Tumben pamit dulu."
Arya tidak menjawab dan langsung login.
[Selamat datang Player Theo]
Theo berada di kota Romant dan menuju Warp Gate untuk pergi ke desa Beorn.
Setelah dipindahkan ke desa Beorn Theo menuju gerbang desa sesuai kesepakatan mereka akan berkumpul disana.
Saat Theo menuju gerbang terlihat empat petualang sedang menunggu yang terdiri dari dua player wanita dan dua player laki-laki.
"Aryaaa!"
Terlihat player wanita melambaikan tangan dari jauh sambil memanggil Theo.
"Hei Varia bagaimana kau tahu kalau itu aku."
__ADS_1
"Tentu saja aku tahu siapa lagi yang memakai pakaian Summoner selain kamu disini," jawab Varia gemas.
Theo memandang sosok Varia dari wajahnya yang putih dengan telinga lancip tampaknya Varia mengambil ras Elf dan rambutnya berwarna perak berponi dengan ikat ke belakang dan pakaian besi dan perawakannya yang anggun terlihat seperti peri, Theo melihat sebuah Rapier di pinggang kirinya menandakan dia seorang Swordsman.
"Hei jika disini namaku Theo," ujar Theo mengingatkan.
"Maaf lupa hehe," ucap Varia dengan menjulurkan lidahnya sambil berkedip.
"Kalau aku Lynna."
"Hmm," Theo hanya mengangguk.
"Kenalkan juga ini Echo seorang Archer."
Echo menjabat tangan Theo dengan tersenyum ramah.
"Salam kenal Theo."
"Iya sama sama."
"Dan ini Raissa seorang Mage juga healer."
"Hai Theo," sapa Raissa dengan manja dan Theo membalasnya dengan senyuman.
Theo penasaran bagaimana seorang Mage juga bisa menjadi seorang Healer.
"Dan yang duduk disana itu Gain."
Seorang lelaki besar dengan kapak dua mata pisau dan gagang panjang disampingnya terlihat bahwa dia adalah ras raksasa.
Gain hanya berdecak, bahkan tidak melihat Theo dan sepertinya suasana hatinya sedang buruk.
"Sudah cukup perkenalannya," potong Gain dengan dingin.
"Kalau begitu mari kita bahas strategi," Lynna berusaha mencairkan suasana.
"Strategi macam apa dengan player job Summoner yang bisa kau usulkan," Kata Gain dengan jengkel terlihat kerutan didahinya.
"Baik aku jelaskan strateginya karena tidak ada tanker Gain yang bertugas di depan, aku dan Echo akan membantu serangan, Raissa bantu menyerang jika ada kesempatan, tetapi fokus pada penyembuhan Gain karena jika Gain mati sama saja quest kita akan gagal dan Theo support siapapun yang membutuhkan bantuan."
Theo memahami strategi Lynna dan menganggukan kepala.
Theo baru sadar ternyata Lynna juga pandai membuat strategi.
"Mungkin kalian sudah paham kita sering gagal karena banyaknya Treant yang menyerang dan belum pernah sampai ke tempat Boss, jika kali ini kita berhasil ketempat Boss maka yang akan melawan adalah Gain berikutnya aku secara bergantian sampai Boss berhasil dikalahkan."
"Ehm Lynna bagaimana jika yang bertugas sebagai tanker biar aku saja,"ujar Theo mengusulkan.
"Kauuu!" Gain semakin geram melihat Theo.
"Memang apa yang bisa kau lakukan dengan menjadi Tanker," tambahnya dengan menunjuk nunjuk Theo.
"Memang monster apa yang kau punya, golem?" Gain berusaha menekan amarahnya.
"Goblin," jawab Theo singkat.
"Apa!!!" Brengsek kau dengan goblin mau menjadi Tanker.
"Mungkin Theo memiliki monster yang lainnya," kata Lynna berusaha melerai.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya punya monster goblin saja tidak ada yang lain."
"..."
Mereka semua terdiam dan Lynna juga bingung harus berkata apa.
Gain yang berusaha menahan amarah sedari tadi menjadi naik pitam.
"Sudah cukup aku keluar, berparty dengan bajingan ini tidak akan berhasil," geramnya.
"Gain tenanglah dulu," Echo dan Raissa yang dari tadi hanya mendengarkan berusaha menenangkan Gain.
"Kalian gila jika masih ingin lanjut quest ini dengan Job busuk seperti dia."
Lynna yang ingin melerai juga kebingungan tidak menemukan cara untuk memenangkan quest ini.
Tiba tiba Theo maju selangkah
"Kita pasti bisa menyelesaikan quest ini."
Mendengar ucapan Theo Gain sudah ingin membelahnya menjadi dua tetapi Lynna menghalanginya.
"Atas dasar apa kau berkata seperti itu," tantang Gain.
Theo menarik nafas panjang dan mengeluarkan senjata dari penyimpanannya yaitu Gornage Axe.
"Jika kita gagal kapak ini akan jadi milikmu."
Gain memandang kapak itu dengan mata melotot.
Theo menyerahkan kepada Gain agar dapat mengetahui status Gornage Axe dan Gain benar benar terpana dengan deskripsinya.
Gain tidak mendengarkan perkataan Theo dan hanya fokus pada kapak yang dipegangnya.
"K-kau jangan bohong kau."
"Aku tidak bohong bagaimana jika kita menggunakan sistem taruhan."
Sistem taruhan adalah salah satu fitur di dalam game yang digunakan seseorang untuk melakukan ikatan atau perjanjian dan tidak bisa dilanggar dengan cara apapun.
Theo mengambil kapaknya lagi dari tangan Gain.
"H-hei aku belum selesai melihatnya!" teriak Gain kecewa.
Gain tampak berpikir sejenak dan langsung menyetujuinya karena tidak ada ruginya jika kalah dia akan kehilangan item tapi mendapatkan kapak ini sebagai gantinya.
"Baik aku setuju," kata Gain mantap.
"Dengan catatan kau harus mengikuti perintahku selama quest tidak boleh sengaja kalah."
'Pikirnya siapa dia bisa memerintahku tapi sepertinya dia hanya player kaya bodoh, jaman sekarang siapa coba yang menggunakan job usang macam summoner,'
"Ya-ya terserah kau saja," kata Gain setengah malas.
Setelah menyetujui taruhan, mereka berangkat menuju hutan di sebelah timur desa Beorn.
Lynna masih bingung dengan apa yang terjadi bagaimana mungkin party yang tadinya akan bubar tiba tiba bersatu, dengan Gain berada paling depan dengan memanggul kapaknya.
Dan mereka berjalan menelusuri jalan hutan dengan berhati hati.
__ADS_1