Aku Seorang Summoner

Aku Seorang Summoner
Membuka Toko Baru


__ADS_3

Theo segera menerimanya dan segera menghubungi Bardar untuk rencana dia selanjutnya.


"Paman."


"Bos akhirnya kau menerimaku," kata Bardar dari panggilan.


"Maaf paman saya baru saja mengecek notifikasinya."


"Lalu apa rencanamu sekarang bos?" tanya Bardar.


"Baik paman sekarang anda pergilah ke tempat yang saya tandai dipeta," pinta Theo.


"Baik bos aku akan segera meluncur kesana."


Theo mengirimkan tanda di peta dan memintanya untuk kesana.


Tanda yang diberikan oleh Theo adalah desa Lanideen sekalian Theo ingin melihat perkembangan desa itu.


Theo menuju kedesa itu dengan menunggangi Remus agar tiba lebih cepat.


Ketika Theo tiba didesa itu terlihat tembok yang dulu terbuat dari kayu sekarang mulai dibangun lebih kuat, tebal dan kokoh dengan batu yang tidak akan mudah ditembus oleh para Orc.


Terlihat seorang ksatria senior yang Theo kenal sedang mengatur bawahannya.


Begitu ksatria itu menoleh kearah Theo, dia segera berlari menuju Theo dengan cepat.


"Salam tuan Theo," sapa Ksatria itu.


"Terima kasih tuan Leonard, bagaimana keadaan desa ini sekarang tuan," tanya Theo penasaran.


"Seperti yang anda lihat tuan, tembok disekitar desa mulai diperkuat agar para monster babi itu tidak mudah menjarah desa ini dan di masing-masing arah dibuat menara pengawas agar kita dapat bersiap


kami membentuk beberapa kelompok untuk untuk berburu Orc agar habitat mereka tidak cepat meningkat."


Theo sangat puas dengan laporan dari Leonard.


"Bagus sekali tuan Leonard terima kasih atas kerja kerasmu."


"Anda salah tuan seharusnya sayalah yang berterima kasih kepada anda, tanpa bantuan anda saya hanya akan menjadi ksatria pengecut."


"Baiklah tuan mari kita sama-sama berjuang demi kemajuan desa ini silahkan lanjutkan pekerjaan anda."


"Baik tuan saya pamit dulu."


Leonardpun pergi melanjutkan pekerjaannya dan Theo menuju kedai minum sambil menunggu Bardar datang.


Theo melihat desa ini masih sepi, sepertinya para Player dan NPC masih takut terhadap serangan para Orc tapi tenang saja Theo sudah tahu bagaimana membuat desa ini kembali ramai.


Dikedai Theo mencoba memesan beberapa Ale salah satu minuman keras, jika dikehidupan nyata dia akan dibawa ke kantor polisi tetapi di game masih belum ada peraturan yang melarang anak dibawah umur untuk minum.

__ADS_1


Setelah menunggu 30 menit dari pintu masuk kedai terlihat pria setengah baya dengan jenggot panjang dan wajah galak khasnya berjalan memasuki kedai dengan langkah menakutkan, dia mencari sesuatu ketika dia menatap Theo sepertinya dia menemukan yang dicarinya dan segera mendatanginya.


"Paman," sapa Theo.


"Bosku, kenapa kau memintaku ketempat ini, sangat sulit sekali mengakses ke tempat ini," keluh Bardar.


"Maafkan saya paman tetapi tempat ini wajib sekali anda datangi."


"Kenapa?" Tanya Bardar keheranan sambil memiringkan kepalanya.


"Karena aku ingin paman membuka Shop didesa ini," jawab Theo santai.


"BAH...jangan bercanda bos, siapa yang mau mau datang ke desa mati ini dan lihatlah desa ini seperti sudah terbuang jauh dari kota manapun dan dikelilingi oleh hutan, pasti banyak monster yang menyerang kesini meskipun ini permintaanmu aku tidak setuju," tolak Bardar yang sepertinya tidak akan mengubah pendiriannya kecuali ada maksud yang lebih baik.


"Tolong dengarkan penjelasanku dulu paman, saya mengerti dengan kekhawatiran anda tapi coba pikirkanlah toko anda tidak seremeh itu dan barang-barang yang anda jual berkualitas tinggi meskipun murah tetapi tidak murahan."


"Me-meskipun kau memujiku tetapi keputusanku tidak akan berubah," ujar Bardar yang wajahnya menjadi merah karena pujian Theo, meskipun mulutnya berkata tidak tetapi beda dengan perilakunya.


"Paman dengarkan aku, dengan sedikit promosi mereka akan berbondong-bondong kesini, ingat paman penjualan potion kita adalah nomor satu di pasar."


Bardar berpikir sebentar, meskipun meragukan tetapi yang dikatakan bosnya ada benarnya.


"Baiklah bos aku akan ikuti saranmu," ucap Bardar.


Theo tersenyum mendengarkan jawaban Bardar.


"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Tenanglah paman setelah ini aku akan datang ke kepala desa untuk meminta ijin dan berikutnya aku ingin kau membuat equipment andalanmu dulu."


"Apa itu?" Tanya Bardar kebingungan.


"Aegis Shield replica."


"HAH...kenapa aku harus membuat item busuk itu lagi jika kita bisa menghasilkan banyak uang dari potion saja."


"Hufff..."


Theo menghembuskan nafas panjang, sangat capek sekali berbicara dengan orang tua ini.


"Begini paman meskipun penjualan potion lebih laku dan menguntungkan tetapi perisaimu sangat berguna dalam pertempuran terutama bagiku akan menjadi benteng berjalan, jika membawa tamengmu saya akan lebih tenang untuk berburu potion yang baru."


Mendengar kata Potion baru telinga Bardar bergerak-gerak dan bersemangat.


"Tapi bos bahan pembuatan perisai itu sangat langka aku tidak yakin bisa mendapatkannya."


"Jangan khawatir paman untuk bahan aku yang akan menyiapkan tugas paman hanya membuatnya saja." kata Theo menenangkan bapak tua.


"Baiklah aku setuju bos."

__ADS_1


Setelah terjadi kesepakatan, Theo segera menuju kepala desa untuk meminta ijin mendirikan Shop


Dalam game jika hanya mendirikan toko tanpa ijin, para player akan dapat mencurinya tetapi jika sudah mendapatkan ijin akan ada sistem yang melindungi sehingga tidak ada seorangpun yang dapat mencurinya.


Theo meninggalkan Bardar yang sibuk untuk menyiapkan tokonnya sekarang yang jadi masalah adalah siapa yang akan diperintah Theo untuk mencari bahan-bahan tersebut


Theo tidak mau menyuruh kelompoknya yang saat ini sedang sibuk memperkuat diri


Theo harus mencari kekuatan lapis kedua yang juga dapat berguna untuk berlatih.


Theo mencoba membuka daftar pertemanan, setelah mencari Theo tersenyum lebar karena kebetulan menemukan satu orang cocok.


"Si bodoh ini sudah pindah ke Land of Valiant juga ternyata," seringainya.


Theo menggunakan sistem pemanggilan budak dan muncullah seorang pendekar pedang.


WAAA...


Swordsman itu kaget tiba-tiba tempat dia berubah dan melihat wajah yang membuatnya kesal.


"Ka-kau tidak bisakah berbicara dulu sebelum memanggilku," geram Freedom.


"Haha maafkan aku dan selamat sudah mencapai Land of Valiant."


"Tentu saja...tidak...kau memanggilku pasti ada sesuatu kan, bukan hanya untuk mengucapkan selamat," tanya Fredom memastikan.


"Tentu saja karena aku akan memberikan tugas penting kepadamu," ucap Theo dengan senyum cerah.


"Senyumanmu....tidak kau pasti berbohong."


Freedom menjadi lebih waspada karena terlalu sering dikerjai.


"Aku tidak bohong lagipula itu bisa menjadi tempat latihanmu."


Freedom memicingkan matanya memastikan dia tidak dibohongi.


"Baiklah apa perintahmu?" Tanya Freedom.


"Aku minta kau berburu di dungeon Saxum Serpent."


"Kenapa aku harus berburu disana, lagi pula itu bukan di Land of Valiant tetapi di Land of Romant, kau kejam sekali baru juga aku sampai disini dan sekarang kau memintaku kembali dan aku juga akan terkena penalti," kata Freedom setengah menangis.


"Kau tidak akan terkena penalti bawalah ini."


Theo menyerahkan sebuah emblem.


"Apa ini...wow bukankah ini hadiah juara yang kau dapatkan," seru Freedom.


"Kau benar dengan memakai ini kau tidak akan terkena penalti dan kau akan terus berburu disana sampai kau mencari orang untuk menggantikanmu."

__ADS_1


__ADS_2