Aku Seorang Summoner

Aku Seorang Summoner
Satu lawan Tiga


__ADS_3

Zevlar tidak menjawab dan hanya diam sepertinya menerawang jauh dalam pikirannya.


"Dulu sekali..." Akhirnya Zevlar mulai menjelaskan semoga saja sesuai dengan harapan Theo.


"Desa Leafald adalah desa damai yang memuja dewi Isell sebagai dewi kesuburan, desa kami sangat subur dimana dewi Isell memberikan berkahnya berupa Aqualith yang menjernihkan air dan tanaman disekitarnya menjadi subur tetapi kedamaian itu hancur ketika datang bangsa Orc menyerang yang dipimpin oleh Orc yang mengenakan baju zirah hitam, mereka membunuh para Elf dan mengambil Aqualith sehingga desa kami menjadi tandus, akibat serangan para Orc anak lelaki ketua Omars diculik termasuk banyak Elf lain dan yang mati tidak sedikit, ketika desa sudah terpuruk kami berdoa kepada dewi Isell dan dewi Isell masih memberikan berkahnya berupa Spring Orchid sehingga desa kami menjadi subur kembali, setelah kejadian masuknya Orc, kami meningkatkan pertahanan dan membuat mantra yang bisa melindungi desa kami tetapi sebagai akibatnya kami juga tidak bisa keluar dari desa ini sehingga kehidupan kami juga terputus dari dunia luar."


Setelah mendengarkan cerita ketua Zevlar dengan seksama Theo menjadi sadar kenapa dia mendapat sambutan kejam ketika memasuki desa Leafald.


Theo memiliki harapan dapat mendapatkan Spring Orchid meskipun sangat sulit.


"Ketua jika aku dapat mengembalikan Aqualith apakah aku dapat memiliki Spring Orchid " tanya Theo dengan hati-hati.


"Lancang kau manusia! Apa kau pikir akan semudah itu mengalahkan para Orc itu, kami di desa Elf saja tidak mampu mengalahkannya apalagi kau cuma seorang diri."


Perkataan Omars ada benarnya desa Elf yang memiliki banyak petarung seperti Elf pemanah dan Omars saja tidak dapat mengalahkannya apalagi hanya Theo seorang diri.


"Tidak aku pasti bisa " kata Theo percaya diri.


"Atas dasar apa kau bicara begitu mengalahkan petarung desa ini saja kau tidak akan mampu."


Theo melihat ada kesempatan dan ingin memanfaatkannya.


"Apakah anda berani bertaruh," tantang Theo.


Tetua Omars sempat terdiam dan menimbang-nimbang, melihat itu Theo kembali menekan.


"Kenapa? Apakah anda ragu petarung anda akan kalah."


Saat Theo terus menekan terdengar pintu terbuka dengan keras dan terlihat 3 orang salah satunya adalah Elf pemanah.


"Tetua maafkan kami tapi kami sudah tidak tahan dengan sikap kekurangajarannya," kata Elf di tengah sambil menunjuk Theo.


"Tetua Omars lihatlah mereka begitu bersemangat apa kau akan membiarkan para kstaria Elf dipermalukan orang luar, jika kau mau aku akan melawannya bertiga secara langsung."


DANGGG


Terdengar hentakan tombak yang dipegang elf ditengah.


"Kurang ajar kau!" Terlihat raut wajah kemarahan dari ketiga Elf petarung.


"Hentikan, aku tidak akan membiarkan kesombonganmu manusia, apa yang kau pertaruhkan."


"Jika aku kalah aku akan pergi dan tidak akan mencari Spring Orchid dan aku akan bersumpah tidak akan membocorkan tempat ini dari dunia luar, kalian dapat memberikan sumpah kalian kepadaku," ketiga Tetua menganggap ini syarat yang bagus.


"Tetapi bagaimana jika aku menang," seringai Theo.


"Apa yang kau inginkan manusia," tanya Omars.

__ADS_1


"Ajari aku skill yang kau gunakan kepadaku."


"Kurang ajar kau..."


Skill yang diminta Theo adalah skill yang dapat menyegel salah satu skill lawan dan skill ini bahkan tidak pernah diketahui publik kemungkinan skill ini adalah skill tersembunyi dari desa Elf.


"Yah...kau tidak perlu mengajariku jika kau percaya dengan kemampuan mereka," Theo masih berusaha memanasi Tetua Omars.


"Baik aku setuju," jawab Omars dan seketika muncul pemberitahuan.


DING


Quest : kalahkan tiga Elf petarung terkuat Elmar, Ruven dan Nathal dari desa Leafald


Kesulitan : D


Syarat : -


Hadiah : Skill dari Omars


Gagal : tinggalkan desa Leafald dan rahasiakan sampai akhir hayat


Terima/Tolak


Theo menerimanya dengan senang hati meskipun kekalahannya akan menyebabkan semua questnya gagal tapi Theo yakin bisa mengalahkan mereka bertiga.


"Theo aku rasa ini buka ide yang bagus," bisik Edmund ke telinga Theo.


"Mau bagaimana lagi jika aku tidak bertarung maka questku akan gagal."


"Tapi lihatlah mereka apa kau yakin dapat mengalahkan mereka."


"Kalau belum dicoba siapa yang tahu."


Percakapan mereka dipotong oleh salah satu Elf petarung.


"Jangan harap kau akan selamat," ancam Elf yang memegang tombak namanya Elmar sepertinya dia adalah petarung terkuat desa ini.


"Aku belum mengeluarkan semua kemampuanku," kata Nathal, Elf pemanah yang pernah dikalahkan Theo.


"Aku juga belum berkeringat," balas Theo membuat mereka semua geram.


Salah satu Tetua memberikan aba-aba bahwa pertandingan akan dimulai dan siapa yang memiliki darah sekarat dinyatakan kalah, aturannya tidak jauh berbeda dengan turnamen hanya saja sekarang 1 Vs 3.


"Mari kita hancurkan kesombongan petualang ini," ujar Elmar dan dibalas anggukan oleh mereka berdua.


Theo mengamati ketiga petarung Elf, dimana Nathal akan menggunakan serangan jarak jauh dan Elmar akan menjadi Tankernya sementara Ruven sepertinya tipe assassin dilihat dari senjatanya sebuah pedang pendek.

__ADS_1


Mereka saling berhadapan dan hanya menunggu aba-aba pertarungan.


[Pertarungan dimulai]


"Spell Scave"


Theo segera mengeluarkan pedangnya begitu mendengar aba-aba sementara Nathal melompat kebelakang hingga berada di titik terjauh tembakan panahnya, Elmar langsung menerjang menusukan tombaknya menuju kepala Theo yang dapat dihindari dengan melompat ke belakang.


Dengan tusukan-tusukan beruntun Theo hanya bisa menghindar, saat hendak menyerang dari samping anak panah terbang menargetkan titik buta Theo.


Saat Theo mengawasi keduanya dari belakang Ruven mengincar leher Theo yang masih dapat dihindari dengan tipis.


"Mana kesombonganmu yang kau tunjukan tadi huh," ejek Elmar.


Theo tidak membalas ejekannya dan hanya berfokus bagaimana cara mengalahkan mereka.


Selama beberapa menit Theo hanya bertahan sampai menunggu Stack skill Spell Scave 3 kali.


"Hanya mulutmu yang besar terima ini," Elmar mulai meraung dan mengeluarkan skill miliknya.


"Thousand Stab"


Elmar memberikan tusukan secara bertubi-tubi hendak melubangi seluruh tubuh Theo.


Theo yang terpojok tampak tidak bisa menghindar dan mengeluarkan skill pertahanannya.


"Air Curtain"


Sebuah selubung udara melindunginya dari gempuran tombak Elmar tetapi hanya bertahan sebentar dan selanjutnya Theo terkena tusukan bertubi-tubi.


SRASH SRASH SRASH


tombak Elmar berhasil melukai Theo membuat darahnya berkurang hampir setengah, Theo mencoba mundur dengan terseok-seok.


"Rasakan kau"


"Bunuh dia Elmar"


Teriakan kegirangan datang dari warga desa Elf karena melihat orang yang membakar desa mereka akan mati.


Tapi tidak selesai sampai disitu, Ruven yang menyusup menebaskan pisau yang mengarah ke leher Theo


Tebasan Ruven berhasil dihindari tetapi berhasil melukai bahu Theo meskipun tidak dalam, berikutnya dua buah panah menukik tajam menargetkan Theo yang berusaha menghindar sayangnya satu panah menancap dibetisnya.


KHUAGGHH


[Perhatian darah tinggal seperempat]

__ADS_1


__ADS_2