Aku Seorang Summoner

Aku Seorang Summoner
Terpojok


__ADS_3

Tanpa menjawab Isana segera melafalkan mantra.


"Kalian semua merapat!" Perintah Theo.


Semua party dan prajurit Leonard merapat dengan cepat berikutnya sebuah akar menutupi mereka semua berbentuk kubah raksasa dan melindungi dari serangan Orc.


Akar Isana sangat kuat, setiap para babi itu menebasnya akan tumbuh akar yang baru untung saja mereka tidak memiliki serangan tipe api.


"Sementara kalian terlindung, segera sembuhkan diri kalian," perintah Theo.


Dengan waktu yang diberikan Isana mereka semua berusaha mengembalikan kesehatan dan mana sebanyak yang mereka bisa.


Melihat semua strategi ini Boby Begidik memandang Theo.


"Kau mengerikan," katanya pada Theo.


"Apa maksudmu?"


"Kau benar-benar mengeksploitasi para wanita sampai tenaga mereka habis."


"Hentikan ucapanmu gorila, mereka yang mendengar bisa salah paham."


Melihat perdebatan mereka Lynna segera memarahi mereka.


"Apa kalian memerlukan kopi untuk mengobrol," sindir Lynna dengan mata melotot dan mereka berdua langsung mematung.


Perdebatan mereka dibuyarkan oleh teriakan Isana.


"Theo berapa lama lagi," seru Isana dengan memicingkan matanya kelelahan.


"Tahan sebentar lagi."


"Sebentar kepalamu!...manaku sebentar lagi habis."


"Wanita itu menakutkan sekali," bisik Scand pada Theo.


"Aku dengar itu pemanah mesum."


Tidak ingin mendengar kemarahan Isana, Theo memerintahkan untuk kembali ke posisi mereka masing-masing.


"Ukh aku sudah tidak kuat lagi."


Isana yang tidak mampu mempertahankan Kubah Akar berlari mencari perlindungan.


Akhirnya akar mulai tembus dan tidak dapat beregenerasi tetapi para prajurit sudah berada di posisi menempati pertahanan masing-masing.


"Ayo maju sekali lagi," seru Theo pada mereka.


Dengan cara seperti itu mereka sedikit demi sedikit mendekati altar tempat Shaman Orc melakukan pemujaan.


Theo dan kelompoknya sudah tiba di depan sebuah lapangan terbuat dari batu penuh tangga berundak seperti tempat suku lama meminta hujan dan dipaling atas terlihat seekor monster dengan tubuh Orc tetapi lebih kecil dan memakai penutup kepala seperti dukun.


"Terlihat." seringai Theo sambil mengamati pergerakan Shaman Orc.


"Ranard, Dana dan Lynna ini saatnya kalian bersinar."

__ADS_1


Dengan perintah Theo mereka sudah paham apa yang harus diperbuat, sesuai rencana Theo, mereka akan bergerak individu untuk membunuh Shaman Orc tidak peduli siapa yang membunuhnya diantara mereka bertiga.


Theo tidak pernah melepaskan pandangannya sama sekali dari Shaman Orc dan terlihat dia mulai menari berikutnya jumlah Orc yang datang semakin banyak.


Mereka bertiga tertahan dan tidak dapat bergerak maju, Dana memutuskan segera menghilang untuk menyelesaikan misinya sesuai perintah dari Theo.


"Cloaking"


Tetapi rencana itupun gagal sepertinya Shaman Orc memiliki skill Deteksi tingkat tinggi dan mengarahkan para Orcnya untuk mengepung Dana.


"Summoner Noob bagaimana ini," katanya dengan suara hampir menangis.


Theo harus berpikir cepat jika tidak rencananya akan kacau mereka bertiga tidak akan bisa mencapai Shaman Orc.


"Summon"


Theo mengeluarkan Gornage dan langsung memberikan perintahnya.


"Gornage tutupi posisi Gald dan Gald buat jalan didepan."


Gald segera kedepan dan tempatnya telah ditempati Gornage yang beringas, tiap ayunannya berhasil menewaskan Orc dalam jarak ayunannya.


Gald mengangkat pedangnya tinggi dan menancapkannya ketanah


"Earthquake"


Tanah didepannya porak poranda seperti telah terjadi gempa bumi dan menghancurkan hingga membenamkan banyak Orc.


"Se-serangan gila!" Ujar Boby dengan mulut menganga dan yang lainpun masih kaget melihat efek kehancurannya.


Mendengar seruan Theo mereka bertiga sadar dan segera melanjutkan misinya.


Shaman Orc yang masih tidak menyangka pasukannya bisa porak poranda segera mengeluarkan kartu as terakhir, kembali dukun babi itu menari-nari dan berikutnya sembilan Orc berotot dengan tubuh kekar membawa kapak dari tubuhnya mengeluarkan aura hitam sepertinya skill Shaman Orc untuk meningkatkan kekuatan Orcnya.


Ranard, Lynna dan Dana tidak dapat bergerak jika ingin menuju Shaman Orc harus melewati mereka dan masing-masing melawan tiga Orc.


Ranard menggunakan kombinasinya sementara Lynna bergerak layaknya petir, meskipun serangan mereka berhasil melukai tetapi tidak dapat membunuhnya bahkan seperti tidak merasakan sakit.


Theo melihat sekitar para prajurit Leonard sudah kewalahan bahkan sebagian ada yang mati terkena tusukan tombak para Orc.


Silphie dan Raissa mulai kehabisan mana untuk menyembuhkan yang terluka.


"Bodoh lakukan sesuatu," teriak Boby.


"Theo cepatlah," sahut Scand.


Theo tidak punya pilihan tampaknya dia harus mengeluarkan rencana yang terakhir yaitu bergerak sendiri dan lepas dari formasi.


"Summon"


Theo mengeluarkan sisa monsternya yang tersisa dan mulai menaiki Remus sementara Remulus akan mengawalnya.


"Buka jalan."


Gornage membuka jalan meskipun kecewa ingin mengikuti tuannya tetapi mau bagaimana lagi tanpanya pertahanan akan runtuh.

__ADS_1


"Maju!"


Theo menunggangi serigala secepat angin dan langsung menuju Shaman Orc, terlihat Gobiru dan Gotcha menusuk dan menebas untuk membuat jalan melompati para Orc kerasukan yang sedang sibuk bergumul dengan Lynna, Ranard dan Dana sementara Theo dengan cepat melesat menaiki tangga meninggalkan yang lain dan hanya Gotcha yang dapat mengimbangi kecepatan.


"Yeea... maju Summoner Noob," teriak Dana memberikan dukungan.


Dengan beberapa detik Theo sudah sampai diatas dan berhadapan dengan Shaman Orc.


"Tidak!" Teriaknya kesal


ternyata Shaman Orc masih menyisahkan dua pasukan Orc yang kerasukan.


Theo harus cepat jika tidak para Orc akan menyusulnya naik keatas


"Kalian semua hadang Orc yang naik" perintahnya pada goblinnya termasuk kedua serigala


"Spell Scave"


Theo mengeluarkan Silver Scarnya dari Inventorynya


"Maju sini babi" maki Theo pada dua Orc kekar yang segera menerjang dengan mendengus


Begitu Orc sudah dalam jangkauan pedangnya Theo segera mengeluarkan kombonya


"Double Slash"


"Triple Slash"


"Wave Slash"


Tebasan bertubi tubi menggores tubuh para Orc meskipun sebagian tertangkis dengan kapaknya.


[Orc terkena Bleeding]


[Orc terkena Bleeding]


Darah mulai keluar dari bekas goresan tetapi kedua Orc bahkan tidak merasa kesakitan dan malah menyerang Theo tanpa mempedulikan lukanya.


"Ukh pantas saja mereka tertahan bagaimana caranya mereka bisa menghadapi tiga monster sendirian," gerutu Theo.


Shaman Orc tertawa terkekeh seolah berkata kemarilah jika bisa.


Theo harus cepat mengalahkannya jika tidak para Orc akan segera mencapainya dan pasukannya dibawah akan musnah.


Dia kembali menerjang dengan gegabah, saat dalam jangkauan serangan kedua Orc mengayunkan kapaknya tetapi Theo tidak berada di tempatnya.


"Blink Step"


Theo membelakangi kedua Orc dan hendak membelah Shaman Orc sayangnya salah satu dari kedua Orc berhasil mencengkeram punggung baju Theo dan melemparkannya ke tempat dia berdiri sebelumnya tetapi Theo belum putus asa dan mengeluarkan tombaknya setelah melafalkan mantra Spell Scave.


"Bullet Spear"


Theo melemparkan tombak dengan kecepatan penuh kedua Orc berusaha menahan tetapi sungguh sia-sia dan malah melubangi tubuh salah satu Orc.


Meskipun tubuhnya berlubang tetapi Orc tersebut masih tetap hidup dan tanpa kesakitan, sepertinya mantra Shaman Orc yang membuatnya tetap hidup.

__ADS_1


"Ada apa dengan Orc ini," keluh Theo.


__ADS_2