Aku Seorang Summoner

Aku Seorang Summoner
Mode Rampage


__ADS_3

Theo sebenarnya sudah malas menjelasakan terkait jobnya karena setiap bertemu orang baru pasti menanyakan jobnya dulu tapi dia akan tetap menerangkan jobnya.


"Aku seorang Summoner," jawab Theo singkat.


"Tidak mungkin kulihat kau membawa pedang serta skill yang dipakai Swordsman," bantah Rash.


"Bagaimana dengan skill perlindunganku, fireballku, juga goblin yang kau lihat tadi apakah itu skill Swordsman," mendengar kata -kata Theo Rash hanya terdiam tidak dapat menyangkal.


"Theo juga menggunakan tombak tadi," tambah Ira.


"Baik aku akan menjawabmu tapi kau juga harus menjawab pertanyaanku " katanya pada Rash dan Rash menyetujuinya.


Theo menjelaskan awal mula Summoner mulai mendapatkan skill dan bagaimana melatih skill tersebut serta lain-lain, seperti biasa orang yang baru pertama mendengarkan mulutnya akan mengangah tidak percaya dan memandang dengan takjub, setelah Theo bercerita mereka tampak kebingungan dan tidak percaya tapi yang didepan mereka benar-benar nyata.


"Baik sekarang giliranku bertanya," kata Theo pada Rash.


"Apa yang mau kau tanyakan."


"Begini, dalam pertarungan tadi bukannya kau sudah menggunakan jurus bayangan empat orang tapi kenapa kau bisa menggunakan bayangan dua orang juga berikutnya."


"Ehm...jadi jurus bayangan awalnya adalah memunculkan bayangan kembar lainnya tetapi itu hanya sekedar bayangan yang akan hilang apabila terluka satu kali tetapi bayangan bejumlah 3 adalah skill tambahan yang aku dapatkan karena penggunaan skill bayangan awal dimana bayangan itu cukup kuat untuk bertarung seolah kemampuan kita dibagi menjadi empat."


Mendengar mendapatkan skill baru membuat Theo semakin bersemangat untuk mengetahuinya, karena di forum belum pernah ada yang memberi info terkait tambahan skill baru dari job Ninja.


"Bagaimana syarat mendapatkan skill itu," tanya Theo dengan penuh semangat.


"Ini dia...semakin menjadi aneh saja jobnya," potong Freedom yang segera terdiam ketika Theo mendelik kearahnya.


"Sebenarnya ini rahasia tapi janji tetaplah janji caranya adalah hanya memiliki skill Bayangan dan memasuki tempat terdalam di Cave of Shadow saat bulan purnama."


"Wah kenapa syaratnya aneh begitu," sahut Freedom dengan kasar.


Theo tidak menghentikannya karena Theo juga penasaran, bagaimana dia bisa mengetahui syarat seperti itu.


"Aku juga tidak menyangka padahal tujuanku hanyalah untuk Leveling tapi tiba-tiba ada pemberitahuan mendapatkan skill baru lalu aku memberitahukan kejadian tersebut pada teman ninjaku dan dia tidak mendapatkan pemberitahuan apa-apa akhirnya kusimpulkan hanya memasukinya pada saat bulan purnama karena memang pada saat itu bulan purnama."


Theo memahami penjelasan Rash dan berniat mencobanya nanti.


"Baik terima kasih atas penjelasannya."


"Kau akan menjadi semakin kuat dengan banyaknya skill campuran yang kau miliki," puji Rash dan Theo hanya tersenyum kecut.


Karena Theo tahu permasalahan skill miliknya adalah karena borosnya mana setiap penggunaan skill Spell Scave memerlukan 15 mana jika menggunakan skill contohlah Slash dimana mananya dibawa 15 tidak mengurangi mana lagi tetapi jika skill diatas 15 maka akan mengambil mana tambahan, makanya Theo hanya bisa menggunakan skill Spell Scave tidak untuk pertarungan lama karena akan kehabisan mana meskipun memiliki item Artoq Ring.


Setelah berjalan melintasi lorong terlihat sumber cahaya diujungnya sepertinya berasal dari lumut yang mengeluarkan cahaya di langit-langit gua.


Terlihat sebuah jalan setapak menuju tanah luas dengan sekelilingnya jurang yang tidak terlihat pangkalnya dan hanya ada satu jalan yaitu jalan yang dilalui Theo tadi.

__ADS_1


Akhirnya kelompok Theo tiba di pintu masuk tempat bos berada.


Terlihat sebuah pintu raksasa terbuat dari batu yang kokoh sepertinya tidak akan terbuka sebelum mengalahkan penjaga dari pintu tersebut.


"Sudah cukup bicaranya sepertinya gerombolan itu sudah menyadari keberadaan kita" ujar Theo karena melihat bos Mage yang pernah dipenggalnya dan disusul para anak buahnya muncul dari lorong tempat Theo masuk.


"Akhirnya kalian tidak bisa lari...hei kenapa ada empat orang sekarang?"


"B-bos dia si Summoner itu."


"Hah!"


Setelah bos Mage memperhatikan Theo baik baik barulah dia menyadari bahwa yang dilihatnya memang benar si Summoner terkutuk itu.


"K-kau....apa yang kau lakukan disini aku tidak ada urusan denganmu aku hanya berurusan dengan mereka " ujar Bos Mage kepada Theo sambil menunjuk Ira dan Rash.


"hanya numpang lewat," jawab Theo enteng.


"K-kau jangan pikir kau bisa mengalahkan kami, jangan samakan dengan di hutan kali ini tidak akan ada gorila yang akan membantumu."


"Entahlah."


"Kalian jaga pintu keluar sisanya habisi mereka."


Dua orang menjaga pintu masuk dan sisanya akan mengeroyok kelompok Theo.


Theo berlari menuju tempat pintu bos sambil diikuti mereka bertiga.


"Kenapa kita menuju pintu bos?" tanya Freedom Khawatir.


"Aku punya rencana."


"Apa!" Kata Freedom semakin tidak sabaran.


"Ini" Theo menyentuh bola merah di dekat pintu, dan ketika menyentuhnya terdapat pemberitahuan.


[Anda telah mengaktifkan mode Rampage]


Dua buah patung batu tiba-tiba bergetar dan mulai hendak bergerak serta dari pinggiran jurang banyak monster tengkorak mulai bermunculan.


Jalan setapak pintu masukpun tenggelam dan menghilang ke dalam jurang, situasinya benar-benar kacau sekarang.


"Ini rencanamu," protes mereka bertiga.


"Ya...para anggota RATS pasti akan kacau."


"Termasuk kita," berang Rash.

__ADS_1


"Lalu apa yang akan kita lakukan," tanya Ira mulai cemas.


"Jangan khawatir kita cukup bertahan."


"Bertahan kepalamu," kata Ira dongkol.


"Temanmu gila," ucap Rash pada Freedom.


"Aku sudah Tahu itu," jawab Freedom dengan sinis


Sementara anggota RATS tidak kalah berantakan.


"B-bos apa yang terjadi."


"A-aku juga tidak tahu bangsat!" kata Bos Mage dengan panik.


"Pasti ulah si Summoner itu bos."


"Grrr...dulu Gorilla sekarang tengkorak dan monster batu berikutnya apa lagi, Naga kah," murka Bos Mage yang menatap Theo dengan penuh kebencian.


Melihat kejadian sekelilingnya para RATS menjadi kacau, tidak memperdulikan kelompok Theo lagi dan berfokus hanya bertahan hidup.


"Setidaknya para RATS itu tidak memperhatikan kita lagi kan haha."


'Dasar psikopat gila,' batin mereka bertiga.


"Hei kalian bagaimana jika kita gencatan senjata, kita akan bekerjasama untuk keluar dari sini," usul Bos Mage.


Menurut mereka usul dari pimpinan RATS tersebut adalah yang paling masuk akal, tidak mungkin mereka berempat mampu bertahan dari pertarungan ini.


"Tidak," tolak Theo dan ketiga temannya memandang dengan tidak percaya.


"Theo kita tidak akan mampu bertahan hanya berempat," saran Ira.


"Dia benar cobalah berpikiran rasional," tambah Rash.


"Aku tidak melarang jika kalian menyetujui usulan mereka dan kau jangan coba ikuti mereka," kata Theo pada Freedom.


"Tapi bagaimana mungkin..."


"Coba pikirkan baik baik begitu kita lolos dari sini apa kalian berpikir mereka akan melepaskan kalian."


Mereka berpikir sejenak dan membenarkan pemikiran Theo.


"Sudah cukup bicaranya kawanan tengkorak sudah datang bersiaplah,"


Party Theo dalam kondisi siaga.

__ADS_1


__ADS_2