
Perut Dana mengeluarkan darah sayangnya tebasan Theo kurang dalam tapi itu sudah cukup untuk membuatnya syok terlihat dari muka dana yang pucat pasi.
[Player Dana terkena Bleeding]
"Kenapa, belum saatnya kau terkejut."
Arena yang tadinya ramai seketika menjadi sepi, mereka yang tadinya mencaci sekarang berteriak mendukung Theo.
Ayah Dana yang berteriak dari awal pun terdiam.
"Ayo Summoner kalahkan dia."
"Buktikan kau bisa menang."
"Dasar munafik," teriak Gain yang sedari awal mendukung Theo.
"Jika kau tidak menyerang kau akan kehabisan darah," pancing Theo.
"Kita lihat saja siapa yang bakal mati lebih dulu," ujar Dana dengan Berang.
Dana menghilang lagi dan berniat menyergap lagi.
Theo sudah mengetahui Dana menyerang dari samping kanan dan Theo menebaskan pedangnya, kali ini Theo hanya mengenai udara karena Dana sudah lebih sigap, sepertinya dia memastikan apakah yang tadi hanya kebetulan dan ternyata tidak Theo memang sudah mengetahuinya sehingga Dana memutuskan untuk pertarungan terbuka.
Dana mulai menyerang dengan kombinasinya dari melempar pisau hingga jarum beracun meskipun dapat ditangkis oleh Theo dilanjutkan bom asap yang mengacaukan pandangan Theo.
"Mati kau," ucap Dana dengan sadis.
"Sonic Blow."
Dana menusukan pisaunya secepat kilat berkali-kali dengan cepat, siapapun yang terkena dengan telak akan mati seketika.
Tetapi bukan Theo namanya jika tidak dapat menghadangnya.
"Air Curtain."
Tirai pelindung tembus udara melindungi Theo bahkan ujung pisau milik Dana tidak mampu menggores tubuh Theo sekalipun.
"K-kau Summoner Gila," teriak Dana dengan murka sambil melompat mundur menghindari tebasan Theo.
"Sudah banyak yang bilang begitu," ucap Theo dengan santai.
Sementara teriakan penonton semakin menggila bukan hanya peserta yang bersemangat tapi yang menontonpun ikut bersemangat.
Sementara Anakin dari ruang tunggu tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha bagus Theo lanjutkan aksi gilamu."
Kembali ke arena terlihat wajah dana semakin pucat serta kebingungan apa yang harus dilakukannya, Theo kembali memprovokasinya.
"Sayang sekali di arena tidak boleh menggunakan item sepertinya kau sedang sekarat."
"Diam kau."
Dana menyerang dengan membabi buta tetapi tidak membuahkan hasil karena pertahanan Theo sangat kokoh.
"K-kenapa kau tidak menggunakan summonmu," tanya Dana dengan putus asa.
"Untuk menghadapimu sepertinya tidak perlu."
Mendengar jawaban Theo Dana merasa seperti diremehkan tapi dia tidak mampu membalas ucapan Theo.
[Perhatian Player Dana sedang sekarat]
__ADS_1
Tidak berapa lama serangan Dana mulai mengendur dan dia Terjatuh di depan Theo kehabisan darah.
"Player Dana tidak mampu melanjutkan pertarungan pemenanganya Theo."
Sorakan terdengar dari tribun penonton bahkan ancaman dan sumpah serapah dari ketua guild Hate Sword tidak terdengar, dengan lambaian tangan Theo suara penonton semakin keras dan membuat seluruh arena berguncang.
"Gila Summoner itu bagaimana bisa dia mengalahkan Assassin."
"Mungkin Assassinnya lemah."
"Kau bodoh, apa kau tidak lihat serangan kombinasi assassin tersebut."
Saat Theo menuju ruang tunggu ada suara yang menghentikannya.
"Kau!"
Theo menoleh dan yang memanggilnya adalah Dana, sepertinya sistem membuat darah peserta habis tetapi tidak sampai membunuhnya untuk dinyatakan kalah.
"Ada apa," kata Theo dingin.
"Hmm... gara gara kamu aku kalah dan orang menilaiku Assassin lemah."
Theo hanya diam tidak menanggapi.
"Pokoknya jangan sampai kalah, kau harus jadi juara agar mereka tahu bukan aku yang lemah tapi kau yang terlalu kuat."
Setelah itu Dana menghilang tanpa memperdulikan jawaban Theo.
Saat masuk ruang tunggu Theo disambut oleh Anakin dengan tosnya.
"Luar biasa Theo kau membungkam semua penonton."
"Tentu saja berikutnya kau yang membungkam mereka."
"Selamat Theo," ucap Lynna tulus.
"Kau keren sekali bung," kata Scand sambil tos juga.
Sepertinya para peserta lain mulai menganggap Theo sebagai saingan yang tidak bisa diremehkan.
"Pertandingan bagus kawan,"
Mereka menoleh dan yang menyapa Theo adalah peserta yang memenangkan pertandingan pertama Ranard.
"Pertandinganmu juga bagus."
"Aku lawanmu berikutnya mari kita melakukan pertandingan yang bagus," kata Ranard dengan mengulurkan tangan.
"Tentu saja," jawab Theo menjabat tangan Ranard.
Pertandingan ketiga dimulai yang akan bertanding adalah Scand.
"Hei kalian, lihatlah pertarunganku," kata Scand dengan percaya diri.
"Theo kita akan bertanding jika terus menang upss bukan bermksud meremehkanmu teman," ucap Scand pada Ranard.
"Tidak masalah kawan semoga kau juga terus menang," kata Ranard tenang.
Scand segera keluar untuk bertanding dan Theo melihat pertandingan dari layar.
Pertandingan Scand berjalan dengan cepat seorang Knight bahkan tidak mampu mendekati Scand yang lincah.
Scand terus menghujani musuhnya dengan panah ketika musuhnya mendekat Scand menghindar dengan teknik langkahnya bahkan Scand juga menghindar keudara dengan Wind Step.
__ADS_1
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya si knight tumbang dan Scand kembali ke ruangan menghampiri Theo.
"Satu kali menang aku akan menghadapimu kawan."
"Tentu saja."
Pertandingan berikutnya juga tidak kalah seru seorang Mage dengan element tumbuhan Isana namanya pertarungan berlangsung cepat lawannya Assassin bahkan tidak mampu mendekatinya dan ketika kakinya tertangkap dia menjadi mainan Isana sampai mati.
Pertarungan yang lain tidak terlalu penting hingga pertarungan Lynna di ronde ke enam.
Para penonton berteriak Kencang mendukung Lynna.
"Apa dia yang dijuluki Lightning Maiden."
"sepertinya iya dari perawakannya dan skillnya."
Lawan dari Lynna juga Swordsman tetapi tidak mampu menghadapi kecepatan Lynna dengan efek petirnya sehingga dalam sekejap lawannya harus tumbang dan mengakui kehebatan Lynna.
"Theo bagaimana penampilanku."
"Luar biasa," puji Theo dan yang lain.
Pertandingan terus berlanjut giliran Anakin masih lama sehingga mereka menunggu hanya mengobrol sambil sesekali memperhatikan pertandingan.
Hingga sampai pertandingan ke-12 giliran Anakin, Terdengar celoteh para peserta lain
"Hei kasihan dia benar benar tidak beruntung harus menghadapi peserta unggulan juara."
"Wiscard akan mengulitinya."
Theo berusaha menghiburnya.
"Jangan dengarkan me..."
"Theo aku pasti menang."
Meskipun mendengar itu Anakin tetap percaya diri dan yakin dengan kekuatannya.
"Silahkan kedua peserta memasuki arena."
Anakin dan Wiscard memasuki Arena di satu sisi banyak yang mengeluh-eluhkan Wiscard di satu sisi banyak yang mencemooh Anakin.
Wiscard memasuki Arena dengan melambaikan tangan seolah sudah jadi pemenang sejak awal, sementara Anakin memasuki arena dengan biasa saja.
"Lihat ada Summoner lagi."
"Tidak mungkin dia seperti Theo tadi kan."
"Tidak mungkinlah, temanku pernah mencoba job itu ujungnya dia melakukan reset karakter."
"Memangnya dia pikir semudah itu memakai job Summoner apalagi lawannya favorit juara sungguh mustahil dia bisa menang."
Anakin dan Wiscard saling berhadapan terlihat mereka saling menatap mata dalam tatapannya Wiscard terlihat sedikit meremehkan Anakin.
"Monster apa yang kau miliki semoga dapat menghiburku," ledek Wiscard.
"Jangan khawatir dia akan menghiburmu sampai kau puas."
Mendengarnya Wiscard semakin geram.
"Akan kuselesaikan dengan cepat."
"Lakukan semaumu."
__ADS_1
"Pertandingan dimulai."