
Freedom menyetujui usulan Theo bertarung satu lawan satu tanpa makhluk summon dan yang kalah harus menjadi budak.
Setelah sistem menerimanya dinding tak kasat mata kembali muncul melingkari mereka.
"Bersiaplah menjadi budakku kau summoner rendahan!" ancam Freedom.
"Iya-iya kau hebat."
Theo tidak mempedulikan ancaman kosong Freedom.
[Pertarungan dimulai]
Kembali Freedom menerjang ke arah Theo.
"Spell Scave"
Theo mengeluarkan pedang Silver Scar dan membuat posisi bertahan dengan pedang terhunus.
"Mau apa kau dengan membawa pedang?"
Saat sudah dekat Freedom langsung menggunakan langkahnya.
"Light Step"
Dengan gerakan cepat dari depan Freedom menerjang dan mengayunkan pedangnya tetapi dapat dihindari Theo dengan melompat ke belakang.
"Eh?"
Ayunan pedang Freedom hanya mengenai udara kosong.
'Bagaimana dia bisa menghindarinya,' pikir Freedom dengan kebingungan.
"Kau pasti bingung kan," ujar Theo seolah dia tahu apa yang dipikirkan Freedom.
'Aku sudah ribuan kali berlatih skill itu tidak sepertimu yang hanya modal kekayaan,' batin Theo.
Setelah mundur Theo kembali menyerang dengan skillnya.
"Triple Slash"
Tiga tebasan mendarat di tubuh Freedom.
"Ugghhh"
Mereka yang melihat membelalakan matanya dan masih meragukan matanya.
"Hei dia summoner kan?"
"Kau lihat sendiri para goblin antek-anteknya tadi."
[Player Freedom terkena Bleeding]
HP Freedom berkurang sedikit demi sedikit.
Freedom mundur dengan memegangi dadanya tempat darah terus keluar dari tubuhnya.
"Kau curang sialan!" hardik Freedom dengan kesakitan.
"Memang apa yang kulakukan."
"Kau summoner bagaimana mungkin menggunakan skill Swordsman."
"Entahlah."
Melihat Theo tersenyum merendahkan, darah Fredom semakin mendidih.
"Kau ingin bertarung atau berbicara, apa kau berpikir bisa mengalahkanku dengan mulutmu," hina Theo.
Terlihat dari wajah Freedom yang ketakutan, dia kebingungan apakah harus menyerang atau tidak sementara HPnya terus berkurang.
Semakin lama Freedom menunggu semakin menguntungkan Theo karena Cooldown skillnya juga selesai.
"Spell Scave"
__ADS_1
"Jika kau tidak maju aku yang akan maju," ujar Theo.
Theo berlari dengan gerakan seorang Swordsman.
"Akan kuajarkan bagaimana menggunakan skill yang benar," kata Theo.
Saat menerjang Theo segera menggunakan skill pinjamannya.
"Light Step"
Freedom kaget dengan Theo yang tiba tiba menggunakan langkah cepat membuatnya mengayunkan pedangnya dengan sembrono.
"Huaahh kena kau!"
Tapi sayang ayunan pedang Freedom kembali hanya mengenai udara dan sosok Theo tidak terlihat didepannya.
"Blink Step"
Theo sudah membelakangi Freedom dan memberikan tebasan ganda ke punggungnya.
"Double Slash"
Freedom memekik terkena serangan Theo.
Theo sengaja tidak menggunakan Slash karena dia tidak akan bisa memegang pedang sambil menunggu cooldown skillnya selesai.
"Kau bajingan rasakan seranganku!"
Theo yang mewaspadai serangan Freedom melangkah mundur beberapa langkah tapi Freedom yang kesurupan mengejarnya dengan membabi buta sambil melayangkan pedangnya.
Theo menghindarinya terus menerus dengan melompat ke belakang berkali kali hingga Freedom mengeluarkan skill terkuatnya.
"Waterfall"
Freedom melompat tinggi dengan pedangnya menyala merah dan semua partynya bersorak melihatnya.
"Mampus kau."
"Selesai sudah."
"Amatiran" ucap Theo lirih.
Saat Freedom berjarak hanya satu meter Theo melambaikan tangannya dan sebuah pelindung terbuat dari udara melindunginya.
"Air Curtain"
Benturan keras terjadi membuat debu disekitarnya berhamburan pelindung milik Theo mulai retak dan hancur begitu juga serangan Freedom yang ditahan dengan sempurna berhasil dinetralkan.
Melihat serangan terkuatnya dapat ditahan membuat Freedom terguncang dan merangkak melarikan diri.
"Pergi...jangan mendekat!"
ketakutan dan putus asa menghinggapinya tetapi Theo semakin mendekatinya dengan pelan bagaikan malaikat maut hendak mencabut nyawa mangsanya.
Theo menancapkan pedangnya ke punggung Freedom hingga menembus dadanya dan mengakhiri pertarungan.
[Pertarungan dimenangkan player Theo]
[Player Freedom menjadi budak player Theo]
"Tidaakkkk!"
Freedom menangis meraung-raung.
"Aku tidak mau menjadi budak hik hik."
Melihat Freedom menangis tersedu sedu Theo hanya membiarkannya saja, partynya bahkan tidak berani menatap mata Theo dan hanya menundukan kepala.
Setelah cukup lama Theo langsung mencoba sistem budaknya.
"Ehm...ehm...Berhenti menangis."
Freedom yang menangis langsung berhenti meskipun perasaanya masih ingin menangis tetapi dia tidak bisa karena ada sesuatu yang mengendalikannya.
__ADS_1
"Sekarang berlutut dihadapanku."
Freedom benar benar melakukan apa yang disuruhnya.
Freedom tak kuasa menolak apa yang diperintahkan oleh Theo membuatnya kehilangan harga dirinya.
Freedom berencana mengeluarkan semua itemnya dan membuat karakter baru meskipun dia harus mulai dari level 1 itu lebih baik daripada menjadi anjing summoner ini.
Party Freedom juga tidak bisa beranjak dari sana mereka kebingungan apakah harus meninggalkan Freedom si pemimpin party atau tidak.
Theo memberi titah kepada Frerdom.
"Pertama panggil aku tuan, kedua kau harus mematuhi semua perintahku jika kusuruh kau melompat ke dalam api melompatlah tanpa bertanya."
"Baik tuan"
Freedom menjawab meskipun bukan dari keinginannya sendiri.
'Bersenang senanglah kau sekarang kau akan kaget saat karakterku hilang,' batin Freedom.
"Terakhir...."
'Yaya terserah kau apa yang terakhir.'
"jangan pernah melepas equipment dan skill tanpa aku perintahkan."
Bagaikan terkena petir di siang bolong perintah terakhir Theo telah menggagalkan semua rencana Freedom dimana dia akan memindahkan semua item dan skillnya yang bernilai ratusan juta kepada karakter baru nantinya, dan semua hancur berantakan karena perintah terakhir Theo.
Sepertinya Theo sudah menduganya bahwa Freedom akan melakukan hal itu.
Theo berbalik dan berbicara kepada party Freedom.
"Kalian...jika tidak ada hal lain yang ingin kalian sampaikan pergilah, biarkan dia tetap disini."
Party Freedom melihat Freedom yang berlutut sudah seperti mayat hidup dengan tatapan kosong penuh keputus asaan.
"Apa yang akan kulakukan padamu ya?" kata Theo dengan memegang pipi dengan telunjuknya seolah sedang berpikir.
Freedom sudah tidak peduli lagi dengan dirinya sepertinya dia sudah pasrah terhadap perlakuan Theo kepadanya.
"Pergilah dan segera datang kepadaku jika aku butuhkan."
Freedom beranjak pergi dengan langkah lunglai.
Setelah Freedom menghilang dari pandangannya Theo menuju Gate menuju desa Beorn untuk meningkatkan levelnya.
Tanpa Theo sadari dari balik pepohonan dekat pertarungan mereka terlihat sosok player sedang mengawasinya.
"Tuan sepertinya aku sudah menemukan summoner yang tuan maksud."
"Segera habisi dia."
"Dilaksanakan tuan."
*******************
Begitu tiba di Beorn Village Theo segera menuju Beorn Forest tempat para Arm Kong untuk meningkatkan levelnya.
Theo mengeluarkan semua summonnya dan membantai setiap Arm Kong yang terlihat.
Setelah perburuan selama satu jam level Theo naik.
[Level Up]
'Masih terlalu lama untuk naik level padahal Arm Kong monster diatas levelku," keluhnya.
Theo mencari monster dengan membentuk formasi bertarung dan berjalan mencari tanah lapang.
"Keluarlah!" kata Theo kepada seseorang entah siapa.
"Aku bilang keluarlah dari persembunyianmu."
Tidak berapa lama sosok player keluar dari belakang pepohonan.
__ADS_1
"Wah wah padahal aku sudah bersembunyi dengan rapi tapi kau tetap menyadariku," kata pria asing itu.
Sosok yang muncul adalah warrior terlihat dari pedang besar di punggungnya dengan armor tanpa lengan berambut panjang berwajah garang, terlihat dari matanya yang tajam haus akan membunuh dengan seringai kejam.