Aku Seorang Summoner

Aku Seorang Summoner
Ira dan Rash


__ADS_3

Rash si Ninja menyatukan tangan lagi dan kelihatannya lawannya ini tidak berniat menganggunya.


Kelemahan job Ninja adalah lamanya penggunaan skill dengan tangannya yang disebut dengan segel.


Sama seperti Mage yang melakukan Casting seorang Ninja juga harus melakukan casting hanya saja menggunakan tangannya.


Seorang Ninja harusnya waspada dengan penyerangnya karena pada saat menggunakan segel akan rawan mendapat serangan kritikal.


Tapi lihatlah Summoner didepannya ini jangankan berniat menyerang tetapi dia malah menunggu dengan antusias layaknya menonton pertunjukan sulap.


'Lihat saja akan kubuat kau menangis bajingan RATS' batin Rash.


Setelah menyelesaikan segelnya Rash mengeluarkan bola api dari telapak tangannya.


"Fireball"


Theo yang tidak kalah sigap juga mengeluarkan skillnya.


"Fireball"


Meskipun mengeluarkan skill yang sama tapi cara mereka berbeda.


Rash terkejut bagaimana Swordsman ini bisa mengeluarkan Fireball.


Kedua bola api berbenturan menyebabkan ledakan, membuat debu bertebaran dan sekelilingnya hancur.


Tapi itu semua hanya pengalih perhatian bagi Rash, ternyata klonnya sudah berada di belakang Theo dan siap menikamnya.


"Mati kau!" Hardik Rash.


"Tidak semudah itu."


Sebuah pelindung mengalangi Rash membuat pedangnya tidak mampu menyentuh tubuh Theo.


"Glass Shield"


Theo melancarkan serangan balik pada Rash dan berhasil menancapkan pedangnya pada tubuh Rash sayangnya itu bukan tubuh aslinya karena langsung berubah menjadi asap.


Tapi sepertinya serangan Rash tidak Berakhir sampai disini.


Sebuah Shuriken Raksasa meluncur dari arah ledakan tetapi berhasil ditangkis Theo dengan pedangnya.


Sayangnya itu bukan shuriken biasa karena begitu menangkisnya pedang Theo langsung membeku.


"Ice Shuriken"


[Anda tidak bisa menggunakan pedang]


"Sepertinya kau tidak bisa menggunakan pedangmu lagi," ejek Rash seakan akan sudah menang.


Sepertinya taktik Rash sebenarnya adalah melucuti senjata Theo.


Theo hanya tersenyum tipis mendengar ejekan Rash.


"Memang kenapa kalau pedangku tidak bisa digunakan."


"Spell Scave"


Theo memasukan pedangnya dan mengeluarkan Urcelos Spear.


Rash mulutnya menganga ketika melihat Theo mengeluarkan tombaknya bahkan gadis penombak juga terkejut melihatnya.

__ADS_1


"Bagaimana kau terkejut kan," kata Freedom kepada gadis itu.


"Ya ampun kau itu makhluk apa sebenarnya kenapa sekarang menggunakan tombak," protes Rash.


"Kau yang menyuruhku mengeluarkan senjata ini," kata Theo kalem.


Kali ini giliran Theo yang menyerang tidak menunggu Rash menggunakan segel lagi.


"H-hei aku masih punya banyak jurus apa kau tidak mau melihatnya," kata Rash dengan menghindari serangan tombak Theo.


"Oke silahkan tunjukan lagi," kata Theo berhenti menyerang sambil menancapkan tombaknya ke tanah.


Rash mulai membuat segel lagi tampaknya segelnya cukup lama karena menggunakan skill yang kuat.


"Entah kau itu sombong atau bodoh tapi terima kasih semoga lain kali kau menjadi lebih pint...."


Rash tidak dapat menyelesaikan kalimatnya karena dipunggungnya menancap anak panah yang mengeluarkan sengatan listrik.


"Blitzsting"


[Player Rash terkena Paralysis]


Terlihat seekor goblin mengawasi dari kegelapan yang tampaknya telah bersiaga menunggu perintah dari tuannya untuk menembakan panah.


"Bagus sekali Gotu," puji Theo sambil melambaikan tangannya kearah goblin yang terlihat menari-nari karena dipuji.


"Hmm apa yang akan terjadi saat aku menusukkmu pada saat kau menggunakan segelmu ya," kata Theo tersenyum licik.


'Summoner licik ini seolah olah penasaran dengan jurusku tetapi sebenarnya mencari waktu yang tepat untuk menyerangku saat aku dalam keadaan lengah,' batin Rash.


'Tidak kusangka dari awal dia telah mempermainkanku dengan jebakannya, para bajingan RATS ini punya anggota yang hebat juga,' tambahnya yang sudah pasrah.


"Mati kau RATS!" Hardik Theo.


Saat tombak hendak menghancurkan kepala Rash terdengar teriakan gadis pengguna tombak dan berhasil menghentikan gerakan Theo.


"Tunggu Arya!"


Theo yang mendengar nama aslinya langsung menoleh.


"B-bagaimana kau tahu nama asliku," kata Theo dengan pucat.


"Ini aku Tia"


"Kau Tia?"


"Iya"


"Bagiamana kau bisa mengenaliku?" Tanya Theo penasaran.


"Kau ingatkan waktu kutanya job katamu seorang Summoner tapi berlatih tombak, itu membuatku kepikiran terus, saat aku melihat seorang Summoner menggunakan tombak yang kuingat pertama kali adalah dirimu."


Mendengar penjelasan Tia sepertinya cukup masuk akal dan Theo menarik lagi tombaknya.


"Tunggu jangan-jangan kalian adalah dua orang yang dicari para RATS busuk itu."


Mendengar itu Tia dan Rash cukup kaget.


"Berarti kamu bukan orang suruhan RATS kan?"


"Kenapa aku harus menjadi suruhan para bajingan itu," kata Theo sambil mengulurkan tangan membantu Rash berdiri.

__ADS_1


"Baik ceritalah sambil kita berjalan, kita harus pindah tempat karena pertarungan kita telah memancing para monster dan mungkin anggota RATS juga menyadarinya."


"Oh iya kalau di game namaku Ira dan si ninja itu Rash."


terlihat Rash mengangguk pelan.


"Kalau aku Theo dan dia Freedom."


Sambil berjalan Ira dan Rash menjelaskan alasannya memasuki Lassart Dungeon, mereka terpaksa karena dikejar gerombolan RATS.


Saat mereka dikeroyok hendak di PK, Ira dan Rash malah berhasil membunuh beberapa termasuk salah satu Swordsman dan mengambil itemnya.


Gerombolan itu tak terima dan mengejar untuk membunuh mereka, merasa terpojok Ira dan Rash memasuki Lassart Dungeon.


"Bagaimana dengan kalian apa alasan kalian memasuki Dungeon ini?" Tanya Ira.


"Kami ingin menaklukan dungeon ini," jawab Theo tegas.


Ira dan Rash saling pandang tak mempercayai pendengarannya.


"Kalian gila sudah berapa orang yang mencoba dan tak pernah berhasil," seru Rash mengingatkan.


"Ya aku juga berkata seperti kalian," sambung Freedom dan Theo memandanginya dengan mata melotot.


"Theo apa kamu tidak tahu, mereka yang mencobanya saja membuat party penuh 30 orang selalu gagal dan kalian hanya berdua ayolah," ucap Ira berusaha menasehati.


"Mereka bakal dibantai," tambah Rash.


"Ah...aku juga sudah bilang yang itu," sahut Freedom dan Theo jengkel melihatnya.


"Diam kamu atau petir saja yang akan membuatmu diam," ancam Theo.


Mendengar ancaman Theo tubuh Freedom seakan menyusut.


"Tenang saja aku sudah punya rencana dan pasti berhasil," kata Theo dengan percaya diri.


"Silahkan jika kau ingin bunuh diri tapi jangan libatkan kami, aku dan Ira hanya ingin keluar dengan selamat dari sini," kata Rash.


"Rasshhh," protes Ira seolah tidak setuju dengan perkataan Rash.


"Tidak, pokoknya tidak, jika kau ingin membantunya lakukan saja sendiri," tegas Rash.


"Kalian tenang saja kami berdua bisa mengatasinya sendiri dan aku akan membantu kalian keluar dari sini dengan selamat."


Dengan perkataan Theo sepertinya mereka mencapai kesepakatan.


"Lalu bagaimana caranya?" tanya Rash.


"Pertama kita pergi ke tempat pintu bos nanti akan aku jelaskan disana dan jangan Khawatir selama pintu bos tidak dibuka kita tidak akan menghadapi bosnya."


"Tapi serius Theo sebenarnya apa jobmu itu?" Tanya Rash dengan kebingungan dan Ira juga memperhatikan.


"Jangan khawatir aku awalnya juga begitu," sahut Freedom.


"Diam"


"Diam kau"


"Bisa diam tidak"


Ketiganya merespon ucapan Freedom dengan bentakan membuat Freedom merosot.

__ADS_1


"Oke oke aku akan diam saja aku adalah patung."


__ADS_2