Aku Seorang Summoner

Aku Seorang Summoner
kehebatan Freedom


__ADS_3

"Jika Swordsman bertarung satu lawan satu melawan job Support dan kalah lalu apa gunanya dia," kata Freedom merajuk.


Theo sepertinya bisa merasakan kesedihannya dan ingin menghiburnya.


"Jangan sedih bukan kau yang lemah tetapi aku yang terlalu kuat," kata Theo sumringah dengan menepuk pundak Freedom.


Bukannya menghiburnya malah membuat Freedom semakin terpuruk.


"Hei sudahlah serangan apimu hampir membunuhku dalam sekejab, apalagi dari cara bertarungmu sudah mulai berubah yang dulunya sembrono sekarang menjadi penuh perhitungan."


Freedom hanya diam tidak memperhatikan sepertinya dia trauma berat karena job PvP bisa dikalahkan oleh job Support apalagi hanya seorang Summoner tanpa panggilannya.


Saat Theo hendak berkata lagi dia melihat seorang player dengan job yang sama dengan miliknya, sepertinya player itu terinspirasi dengan Theo.


Terlihat Summoner itu bertarung menggunakan monster serigala yang berjumlah 3 ekor menghadapi serigala yang berjumlah 5 ekor.


"Woohhoooo kalahkan mereka semua," teriaknya dengan penuh semangat.


Meskipun dengan penuh perjuangan akhirnya Summoner itu dapat mengalahkan monster lawannya.


Theo berteriak dari jauh mencoba memanggilnya.


"Hei kau!"


Summoner itu menoleh kearah suara yang memanggilnya dan dia sempat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya bahkan sempat menggosok matanya.


"Theo!...astaga aku tidak percaya apa yang kulihat."


"Aku adalah penggemarmu," tambahnya sambil menggandeng tangan Theo.


Setelah perkenalan singkat datang dua temannya seorang Mage dan Swordsman datang dengan berlari menghampiri Theo dan Summoner yang baru ditemuinya.


"Hei Dart kenapa kau pergi sendiri meninggalkan formasi," protes seorang Swordsman dengan nafas tersengal-sengal.


"Hehe maafkan aku sepertinya aku sudah bisa bertarung sendiri dengan monsterku," katanya dengan tanpa rasa bersalah.


Freedom berpikir dalam hati apa semua Summoner adalah makhluk Egois dan semaunya sendiri.


"Kau tidak bisa begitu kawan," kata seorang Mage mencoba menasehati.


"Oh iya tuan Theo apakah ada nasehat yang ingin kau berikan kepadaku," kata Dart yang menghiraukan semua perkataan temannya.


Theo mencoba memanfaatkan situasi ini untuk keuntungannya.


"Ehm...mungkin ada..."


"Benarkah..."


"Tapi ada syaratnya," potong Theo.


"Apa itu."


"Kau harus melawan temanku yang ada disana," kata Theo sambil menunjuk Swordsman yang duduk terpuruk.

__ADS_1


"Maksudku kalian bertiga."


"Apa!"


Freedom yang sedari tadi hanya terdiam tiba-tiba bangkit karena tidak tahan dengan permintaan Theo yang tidak masuk akal.


"Ka-kau gila sampai sejauh mana kau ingin menghinaku," kata Freedom dengan muka memelas.


"Kenapa tidak kau coba saja, tidak ada ruginya meski kau dihajar mereka kan," ucap Theo dengan senyum lebar.


Freedom tidak percaya dengan apa yang didengarnya, dia sangat kesal dengan perlakuan tuannya yang semena-mena, bagaimana dia yang hanya Swordsman melawan seorang saja kesusahan dan sekarang harus menghadapi tiga orang.


Sebuah pelindung tidak terlihat mulai berbentuk, Freedom memperhatikan ketiga lawannya yang sepertinya merasa sebal harus melawannya kenapa harus bertiga padahal satu orang sudah cukup.


Untuk Summoner sepertinya masih level rendah tetapi untuk Swordaman dan Mage sepertinya sudah selevel dengan dirinya.


[Pertandingan dimulai]


"Aku saja sudah cukup untuk melawanmu."


"Summon"


Tiga serigala muncul didepan Summoner dan segera berlari dengan beringas hendak mengoyak-ngoyak Freedom.


Saat serigala sudah dekat menunjukan taring dan cakarnya Freedom mengeluarkan salah satu skillnya.


"Triple Slash"


[Serigala telah mati]


[Serigala telah mati]


[Serigala telah mati]


"Hah?"


"Apa?"


"Tidak mungkin?"


Hanya dengan sekali tebasan ketiga serigala terbunuh membuat mereka bertiga terkejut tetapi yang paling terkejut adalah Freedom itu sendiri.


"Bagaimana...." Freedom yang masih tidak percaya dengan apa yang dilakukannya kebingungan dan dia menoleh kepada Theo tetapi bukannya menjawab dia hanya tersenyum dan memberikan jempol kepada Freedom.


"Sudahlah yang penting kalahkan mereka dulu."


Freedom maju menyerang dihadang oleh Swordsman dan saling beradu pedang, Freedom menyerang dengan membuat Swordsman sebagai tameng agar Mage tidak bisa membidiknya sementara Dart sudah tidak berguna dan hanya bisa meratapi kematian ketiga monsternya, dia yang awalnya sangat membanggakan ketiga serigalanya masih tidak percaya bisa dihabisi hanya dengan sekali serangan.


Freedom tidak mau membuang-buang waktunya dengan melawan sesama Swordsman sementara Mage mengintainya dari belakang sehingga dia mencari celah untuk menyerang Mage.


"Zigzag Step"


Dengan gerakan Zigzag Freedom melepaskan diri dari Swordsman yang kebingungan.

__ADS_1


Dengan langkah cepat Freedom menghampiri si Mage yang panik membacakan mantra


"Fireball"


Bukannya menghindar Freedom menahannya dengan pedangnya dan bola api itu seperti terserap bagai busa yang menyerap air.


Si mage semakin panik dan menembakan bola api sekali lagi.


"Fire..."


Terlambat, sebelum selesai membaca mantra, Freedom sudah mengayunkan pedangnya membuat kepala si Mage menggelinding di rerumputan.


Kali ini Freedom mengayunkan pedangnya kebelakang menghadang serangan si Swordsman yang mengikutinya.


Mereka beradu skill dan ketangkasan sayangnya si Swordsman tidak mampu mengimbangi kemampuan Freedom sehingga harus menelan pahit kekalahannya.


[Swordsman Telah mati]


Dan yang tersisa tinggal seorang Summoner tanpa mahkluk panggilannya


"A-aku menyerah" kata Dart dengan mengangkat kedua tangannya


[Pertandingan berakhir pemenangnya Freedom]


Mereka tidak percaya dengan Swordsman didepan mereka kenapa bisa begitu kuat tetapi yang paling heran adalah Freedom sendiri, Ia masih memandangi kedua tangannya tak percaya dengan kemampuannya sehingga dia menuju Theo untuk meminta penjelasannya.


"Theo...maksudku tuan," ucap Freedom dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah kubilangkan kan bukan kamu yang lemah tetapi karena aku yang kuat...Kau sering berlatih denganku dan kalah apalagi setelah melihat turnamen kemarin yang penuh dengan player berbakat sehingga kepercayaaan dirimu menurun padahal jika kau melawan player lain kau bisa lihat sendiri hasilnya jadi mulai sekarang lebih percaya dirilah."


Freedom masih tidak percaya dengan dirinya sendiri dan masih tidak menyangka dengan kemampuannya tetapi rasa percaya dirinya telah tumbuh.


"Hahaha benar juga ternyata aku memang Swordsman yang kuat para wanita pasti lebih kagum kepadaku," katanya dengan suara keras membuat yang mendengarnya ingin menebasnya.


'Si brengsek ini, mungkin lebih baik membuatnya terpuruk saja,' batin Theo penuh penyesalan.


Dart dan rombongannya menghampiri Theo seolah meminta imbalan atas bantuan mereka.


"Theo apakah ada nasehat untukku?" tanya Dart dengan penuh harap.


Theo mencoba berpikir sebentar dan menyampaikan beberapa kata


"Jika kau ingin menjadi Summoner sepertiku lupakanlah."


Mendengar langsung dari idolanya membuat punggung Dart merosot.


"Tetapi jika kau memang ingin menjadi Summoner, kau harus berpikir sendiri akan menjadi Summoner seperti apa kau nantinya dan monster apa yang cocok untukmu kau harus memikirkannya sendiri," tambah Theo.


Dart mendengarkan setiap kata dari Theo dengan sebaik-baiknya dan mencoba meresapinya.


"Baik tuan terima kasih atas nasehatnya dan jika nanti aku menjadi player besar dengan bangga akan mengatakan bahwa yang memberiku nasehat adalah Theo."


Setelah nasehat singkat, mereka bertiga berpamitan untuk melanjutkan leveling karena sepertinya monster disini hanya memberikan Exp sedikit bagi level mereka.

__ADS_1


__ADS_2