Aku Seorang Summoner

Aku Seorang Summoner
Lassart Dungeon


__ADS_3

"Baiklah kata-katamu benar sekali aku harus bertarung layaknya Summoner,"


Kata Theo dengan senyum menakutkan.


"T-tuan maksudku Th-Theo... kau bukan ingin membullyku kan" kata Freedom dengan ketakutan.


"Tentu tidak, kan kita Sparring" masih dengan senyum yang membuat badan Freedom menggigil.


"Baiklah ayo mulai."


Theo dan Freedom sama-sama dengan pedang terhunus.


"Summon."


Gotcha langsung menyerang begitu muncul.


Dengan pedang gandanya Gotcha menebas membabi buta Freedom.


"H-hei Theo! goblin macam apa ini kenapa serangannya seperti ini," ujar Freedom dengan menangkis serangan Gotcha.


"Ini belum selesai," kata Theo.


"Haste"


Tiba tiba kelincahannya Gotcha meningkat, serangan normal saja membuatnya kesusahan apalagi ditambah kecepatan.


SRASS SRASSS


"GOBLIN GILA!" umpat Freedom dengan menahan sakit.


Berikutnya Theo berlari ke arah Freedom dan menebasnya berkali-kali.


[Player Freedom telah kalah]


Belum sempat berbuat apa-apa Freedom sudah mati.


"Gi-gila...apa yang terjadi barusan."


Freedom masih belum percaya apa yang dialaminya.


"Hei ayolah ini baru pemanasan," kata Theo tersenyum kejam.


"To-tolong aku siapapun."


Setelah bertarung lebih dari sepuluh kali dengan berbagai macam strategi dari Theo hasilnya Freedom kalah telak tanpa satupun kemenangan hingga membuatnya frustasi.


"K-kau hanya ingin membullyku kan, iya kan, mengaku saja,"


"Tidak tidak, Kita kan latihan dan aku mengikuti saranmu hasilnya sungguh luar biasa," ucap Theo dengan senyum malaikat.


'Dasar Iblis'


'Tapi dengan begitu memang pantas dia menjadi tuanku,' tambahnya dengan bangga.


"Baiklah latihannya selesai aku harap kau menjadi lebih kuat besok ikutlah denganku."


"Kemana kau mengajakku?" Tanya Freedom yang masih marah.


"Lassart Serpent"


"Hah...apa?"


Freedom memastikan bahwa dia tidak salah dengar.

__ADS_1


"Kau gila...apa anda tidak mengetahui quest itu, sampai saat ini belum ada yang berhasil menyelesaikannya bagaimana anda bisa berpikir menyelesaikannya."


"Tenanglah aku punya rencana, percayalah padaku"


Mendengar perkataan Theo, Freedom cukup menaruh kepercayaan bahwa Theo bisa melakukannya melihat semua hal yang mustahil bisa dilaluinya.


"Baiklah aku akan ikut lagipula aku adalah budakmu bagaimana mungkin aku menolak jika kau perintahkan."


Baiklah besok kita berkumpul disini dan langsung menuju Valgan Hill tempat Lassart Dungeon berada.


Dengan anggukan mereka berpisah dan Theo kembali ke kota untuk Log out.


************


Lokasi Valgan Hill dari Oloff Grassland tinggal keutara sampai menemukan sebuah portal dungeon.


Sebelum berangkat Theo menuju Bardar Shop untuk mengambil pesanannya seharusnya sudah jadi.


Tanpa barang ini resiko kegagalan akan semakin besar.


"Selamat datang bosku," sambut Bardar.


"Paman apakah pesananku sudah selesai?"


"Tentu saja sudah, silahkan periksa hasil karya terbaikku," jawab Bardar dengan sombong.


Bardar menyerahkan sebuah perisai tangan bulat terdapat lima batu berwarna merah empat di tiap penjuru yang berpusat ditengahnya.


Theo mengagumi karya Bardar yang memang tidak pernah mengecewakan.


"Karya paman memang luar biasa," puji Theo.


"Tentu saja semua orang juga sudah tahu."


"Baiklah paman terima kasih, saya pergi dulu untuk pembayaran..."


"Terima kasih banyak paman."


Theo meninggalkan Bardar Shop dan menuju Skill Shop untuk membeli skill yang akan digunakan untuk penaklukan dungeon dengan uang dari Freedom, karena Theo membuat kesepakatan budak tiap koin yang dihasilkan akan dibagi dua dan Freedom mengiyakan saja karena sepertinya dia tidak terlalu membutuhkan koin yang bisa dibelinya dengan mudah.


Setelah memberikan skill tersebut kepada goblin, Theo menuju tempat perjanjian kemarin dan terlihat Freedom sudah menunggu sambil berlatih mengayunkan pedangnya.


"Theo akhirnya datang juga lama sekali aku menunggumu," protesnya.


"Haha maaf karena ada sesuatu yang harus kusiapkan."


Mereka segera menuju utara menyusuri padang rumput yang luas sambil menghindari monster karena untuk menghemat tenaga.


Perjalanan Theo dan Freedom menuju bukit Valgan semakin menanjak dengan tiupan angin sepoi-sepoi seperti anak sekolah akan melakukan kamping bedanya perjalanan Theo banyak monster.


Setelah berjalan kurang lebih 2 jam Theo menemukan sampai di perbukitan dan melihat pemandangan dibawahnya Oloff Grassland seperti lukisan.


Theo menemukan sebuah Gua deskripsinya persis seperti dungeon yang akan dimasuki Theo.


"Itu dia tempatnya Theo," seru Freedom.


"Hush kecilkan suaramu..." bisik Theo sambil menutup mulut Freedom.


Tetapi sebelum mendekati kesana sudah ada segerombolan orang yang mencoba memasuki dungeon tersebut dan itulah sebabnya Theo menyuruh Freedom merunduk agar tidak ketahuan.


"Temukan mereka secepatnya!" perintah seorang Mage.


"T-tapi tuan dungeon ini sangat berbahaya bahkan dengan jumlah banyak belum tentu berhasil."

__ADS_1


"Aku tahu sialan makanya cepat tangkap mereka dan segera keluar lagi."


Para gerombolan itu segera memasuki dungeon.


"Sepertinya aku tahu siapa mereka," kata Theo lirih.


"Memang siapa mereka?" Tanya Freedom penasaran.


"RATS."


"Hah? Darimana tuan tahu?"


"Aku kenal dengan pimpinannya yang seorang Mage dan terlihat dari dada kirinya lambang kepala tikus."


"Kenapa para bajingan itu berani menantang dungeon ini, cukup punya nyali juga mereka."


"Tidak mungkin para berandalan itu berani menantang dungeon, sepertinya mereka sedang memburu seseorang dan orang itu melarikan diri kedalam dungeon."


"Lalu bagaimana, apa kita menundanya lain waktu," ujar Freedom meminta pertimbangan Theo.


"Tentu saja tidak, kita tetap lakukan sesuai rencana, lagipula aku sudah janji setiap bertemu mereka akan kubantai tanpa sisa hingga mereka tidak berani memasang logo RATS di dada mereka."


"T-tapi jumlah mereka ada banyak, ini bukan Beorn Forest bagaimana...." kata Freedom khawatir.


"Tenanglah aku punya ide," ucap Theo dengan senyum sadis.


Melihat senyuman Theo, Freedom sudah tidak takut dengan para RATS karena menurutnya ada yang lebih menakutkan."


Sebelum memasuki dungeon terdapat pemberitahuan.


Lassart Dungeon


Syarat masuk : minimal level 25, jumlah 1 s.d. 30


Saat ini : 27/30


Dengan melihat pemberitahuan Theo mengetahui di dalam ada 27 orang dengan mereka akan menjadi 29.


"Ayo masuk," perintah Theo.


Freedom mengikutinya dengan patuh.


"Spell Scave"


Theo mengaktifkan skill andalannya agar selalu siaga dengan pedangnya, untungnya skill ini dapat di tumpuk sehingga tidak menghilangkan efek yang lama.


"Summon"


Theo mengeluarkan satu goblin karena jika mengeluarkan banyak monster akan berbahaya karena banyaknya jebakan di dalam dungeon serta lorong yang sempit.


Goblin ini adalah yang terakhir dari monster Theo yang belum memiliki skill.


Skill yang diberikan adalah Trap Detection, skill pasif untuk mengetahui adanya perangkap.


Theo sebenarnya tidak ingin memberikan skill ini, seharusnya skill yang diberikan skil yang dapat dia pelajari, tetapi mau bagaimana lagi dia sangat membutuhkan skill ini untuk memasuki dungeon ini.


Beda cerita jika bersama Scand atau job Assassin dia tidak perlu cemas adanya perangkap karena job mereka bisa mendeteksinya.


Tetapi kali ini Theo sengaja tidak mengajak mereka karena ingin melatih Freedom.


"Tapi Theo kenapa namamu tidak berwarna merah padahal kau membunuh banyak player?"


"Karena yang kubunuh juga PK (Player Killer) jadi tidak masalah dan kita malah mendapatkan Exp."

__ADS_1


Freedom mendengarkan dengan mengangguk-anggukan kepala.


"Sudah cukup bicaranya lihat didepanmu."


__ADS_2