Aku Seorang Summoner

Aku Seorang Summoner
Penyergapan


__ADS_3

Echo melanjutkan pengajarannya.


"Tapi perlu diingat skill ini kebanyakan tidak berguna kepada para Player karena mereka biasa berpikir jika menerjang Archer secara langsung pasti ada jebakannya dan player akan memilih jalan memutar."


Theo mengangguk-anggukan kepala mendengar penjelasan dari Echo.


"Bagaimana jika kita mencobanya," saran Echo.


"Itu yang aku tunggu."


Mereka mencari monster yang cukup kuat dan kebetulan mereka menemukan Red Horn Bear yang sendirian mengais pohon.


"Baiklah aku akan memasang ranjau disini" kata Echo dengan meletakan benda dan menutupinya didalam tanah, pemasangannya sangat rapi seperti tampak tidak pernah ada bekas galian.


"Kau tunggulah disana," perintah Echo sambil menunjuk sebuah pohon.


Theo menurutinya dan bersandar pada sebuah pohon sambil memperhatikan yang dilakukan Echo.


Echo menuju Red Horn Bear dan menembakinya dengan panahnya sayangnya panah Echo hanya melukai sedikit.


Red Horn Bear yang kesakitan mencari pelaku yang menyerangnya dan melihat sesosok manusia dan mengejarnya.


Echo berlari menuju jebakan yang telah dipasangnya ketika berjarak 20 meter dia berhenti dan memancing beruang dengan menembakinya lagi


Melihat beruang mengejarnya Echo tetap tenang dan benar saja beruang berlari menuju Echo dan...


DUAARRR


Ledakan keras terjadi dan menyisakan potongan daging dari beruang.


[Red Horn Bear telah mati]


Theo bertepuk tangan melihat kejadian didepan matanya dan memuji Echo atas penampilannya.


"Kau hebat kawan," puji Theo.


"Tidak, biasa saja semua Archer juga bisa jika hanya begitu saja."


"Katakan itu pada Scand."


"Errr...mungkin selain dia."


Mereka berdua tertawa mendengar guyonan mereka sendiri.


"Baiklah Theo jika sudah mengerti aku pergi dulu tapi ingat kau harus mengambil jarak yang pas atau kau akan terkena ledakannya."


"Terima kasih atas pelajaranmu."


"Sama-sama sobat."


Setelah berpamitan Echo pun pergi dan Theo ingin mempraktekan ajaran dari gurunya tadi.


Theo mencari monster dan menemukan Orc yang tersesat sendirian, Theo segera menggunakan skillnya tetapi ada pemberitahuan.

__ADS_1


[Anda tidak memiliki item peledak]


Theo menyadari betapa dungunya dirinya dan segera menghubungi Bardar apakah memiliki peledak dan Bardar segera mentransfernya 100 Explosive Ball.


"Banyak sekali," seru Theo.


Harga Explosive Ball tidak terlalu mahal hanya 2 Silver tiap bolanya tetapi bagi pemula itu seperti uang saku sekolah mereka tiap hari.


Kali ini Theo menguburnya dan benar berhasil, selanjutnya Theo memancing Orc itu.


Theo menebas dari belakang dan hanya melukainya sedikit selanjutnya dia berlari menuju tempat dia memasang peledak, Theo seperti melihat titik dikepalanya dimana dia menanam bom tersebut sepertinya itu adalah sistem agar player mengetahui posisi bom yang telah ditanamnya, bayangkan jika tidak ada sistem itu dan mereka lupa maka akan menjadi senjata makan tuan.


Si Orc mengejar Theo dengan geram dan Theo sudah mendekati lokasi tetapi si Orc mengikuti Theo dengan tajam sehingga jarak mereka tidak begitu jauh.


Setelah Theo melewati bom disusul Orc dibelakangnya.


DUAAAARRRR


Theo salah langkah, karena Orc mengejarnya dengan sangat dekat sehingga ledekan itu mementalkanya dan membentur ke pohon dengan keras.


[Orc telah mati]


[Anda sedang sekarat]


Theo merintih kesakitan dan meminum Health Potion untuk mengembalikan darahnya.


"Ukhh...Orc sialan," katanya memaki mayat Orc yang tergeletak.


Theo berpikir apakah ada yang salah dengan taktiknya dan menemukan alasannya, cara yang dipakai Echo adalah menembakan panah sehingga dia bisa menjaga jarak dari musuhnya sementara dirinya menebas langsung sehingga jarak musuh yang mengejarnya sangat dekat.


Theo sempat berpikir untuk menggunakan panah tetapi mengurungkan niatnya karena para player akan menyadari itu.


Jarak aman ledakan adalah 20 meter apakah jaraknya bisa dikurangi mungkin menjadi 5 meter,


Theo mencoba menjelaskan kondisinya itu kepada Bardar barangkali pria tua itu memiliki solusinya.


"Hmm..ada bom yang ledakannya memiliki radius lebih kecil tapi aku minta waktu untuk membuatnya."


"Berapa waktu yang diperlukan untuk membuat satu bom itu paman?"


"Ehm....sekitar sepuluh menit," jawab Bardar singkat.


"Cukup lama juga ya paman."


"Itulah kenapa aku tidak pernah membuat itu meskipun mengetahui resepnya karena selain pembuatannya lama juga sepi peminat lebih menguntungkan bom dengan ledakan besar bisa mengenai banyak musuh sekaligus dan jika bicara masalah keuntungan bom yang biasanya lebih cepat pembuatannya dan harga jualnya lebih tinggi."


"Baik paman tolong buatkan aku akan membeli semuanya."


"Bah... tidak perlu kau suruh dua kali aku sudah membuatnya jadi tunggulah."


"Baik terima kasih paman aku menunggu hasilnya."


Theo mematikan saluran panggilannya, sambil menunggu, dia memilih untuk leveling.

__ADS_1


Tiga puluh menit berlalu bom tersebut dikirimkan sejumlah 3 buah kepada Theo.


Tanpa basa-basi Theo segera menanamnya dan memancing monster beruang dengan menebas punggungnya.


Seperti perkiraan beruang tersebut mengejar Theo dan berikutnya terjadi ledakan yang menghancurkan beruang berkeping-keping.


Alhasil dengan jarak lima meter Theo selamat dari ledakan.


Theo membutuhkan item ini dalam jumlah banyak dan meminta Bardar untuk menyediakannya baik itu membuat ataupun membeli dari toko lain.


Untungnya Bardar memiliki banyak koneksi dan bisa menyediakan banyak dengan cepat meskipun sambil menggerutu.


Theo berlatih lagi hingga menghabiskan puluhan bom sampai menguasai timing dan jarak ledakan.


Untuk melawan monster Theo sudah menghafal polanya tetapi yang ingin dipraktekannya adalah untuk melawan player dimana kesulitannya berkali-kali lipat bahkan Echopun tidak menyarankan untuk mempraktekannya.


Saat Theo berjalan menyusuri Hutan Rudovan, Theo merasa ada yang mengawasinya.


Terdengar suara gemerisik disekitarnya, awalnya Theo mengira itu suara monster hutan tetapi lama kelamaan mencurigakan karena terus mengikutinya.


"Bagaimana jika kalian keluar sekarang," ujar Theo.


Sesaat belum ada yang keluar berikutnya beberapa Player muncul dari balik semak-semak.


Ada satu player yang Theo kenal.


"Kau!" Geram Theo.


"Lama tidak bertemu tuan Summoner," sapanya dengan lambaian dua jari di pelipis.


"Kau masih menjadi anjing dari Guild Egotist rupanya," ejek Theo.


"Yah....selama menguntungkan kenapa tidak," kata Wayne enteng.


Theo melihat dia tidak sendirian tetapi membawa beberapa anak buah.


Akhirnya kekhawatiran Theo terjadi juga mulai sekarang dirinya akan menjadi incaran ayahnya.


"Kulihat kau tidak sendiri sekarang, setakut itukah dirimu dengan seorang Summoner."


Theo terus memprovokasi Wayne tetapi dia tetap tenang dan hanya tersenyum.


"Terserah kau mau berkata apa yang jelas aku akan menghabisimu."


Theo terakhir mengecek Wayne sudah tidak bergabung dengan Guild Egotist tetapi mendirikan guild sendiri.


Dipikirnya Wayne akan berhenti mengejarnya tetapi perkiraannya salah, Wayne malah semakin menempelnya seperti roh jahat.


Theo selalu mengecek lawan-lawannya agar dapat menggunakan strategi yang terbaik.


Theo memperhatikan ada sembilan Player termasuk Wayne membuatnya sedikit takut dan Wayne sepertinya menyadari itu.


"Baiklah akan kuberikan pilihan pertama jatuhkan semua itemmu dan juga item yang pernah aku jatuhkan dan pergilah atau pilihan satunya aku akan membunuhmu dan mengambil itemmu begitu hidup akan kubunuh lagi dan begitu seterusnya," kata Wayne dengan menunjukan seringai kejam.

__ADS_1


__ADS_2