
Arya berangkat pagi untuk kesekolah setiap harinya tetapi kali ini dia berpapasan dengan Varia yang terlihat sangat cantik seperti biasanya.
Ketika mata mereka bertatapan Arya melambaikan tangannya untuk menyapa Varia tetapi Varia memalingkan muka dan pergi.
'Sepertinya dia masih marah denganku....tapi apa sih salahku?' Tanya Arya dalam hati.
"Sepertinya ada yang sudah putus nih."
"Iyalah mana mungkin wanita cantik mau dengan pemuda miskin macam dia."
Mereka yang melihat kejadian itu mengejek Arya tetapi Arya hanya menghiraukannya.
"Hei bajingan kau tidak pantas dengannya."
Arya mendengar suara beringas yang dikenalnya, suara Jaka tetapi Arya tidak mempedulikannya.
"Hei kau dengar aku kan," kata Jaka dengan nada mengancam sambil memegang pundak kanan Arya.
"Lepaskan tanganmu," kata Arya dingin.
"Atau apa."
"Atau ini."
Arya memegang tangan Jaka dan membanting ke depan membuat tubuh Jaka melayang diudara diikuti dengan bunyi keras suara benda jatuh membuat Jaka kesakitan.
Jaka masih tidak percaya dengan kejadian yang dialaminya bagaimana dia bisa menatap langit-langit bahkan dua temannya juga hanya menatap mereka berdua.
Sepersekian detik ketika sadar Jaka bangun hendak memukul Arya tetapi Arya menendangnya hingga membuat dia terjungkal, kedua temannya hendak menyerang tetapi berhasil dirobohkan dengan cepat.
Mereka bertiga kesakitan dan kaget bagaimana mungkin pemuda yang setiap hari dijahilinya sekarang menggigit balik.
"K-kau akan menyesali ini," ancam Jaka meskipun dengan ketakutan.
"Kenapa aku menyesal " kata Arya dengan dingin yang membuat mereka menggigil gemetar.
"Kalian cuma sampah yang hanya bisa mengandalkan orang tua," tambahnya.
Arya dan Jaka menjadi pusat perhatian dan yang menyaksikan pun terkejut bagaimana mungkin Anak yang tiap hari dibully sekarang membalas balik.
***********
Kejadian tadi pagi menjadi pembicaraan semua siswa di sekolah bahkan dikelas Arya pun ramai membicarakannya.
"Whoa Arya bagaimana kau bisa mengalahkan si Jaka."
"Memang pantas dia mendapatkannya."
Dani dan Ehsan, Dua orang dari kelas Arya tiba tiba mengajak bicara Arya.
Arya merasa sebal karena mereka sebelumnya tidak pernah sekalipun mendekati Arya sekarang ketika dia menjatuhkan Jaka mereka semua berkerumun seperti ngengat.
"Sudah diam," kata Arya acuh.
"Hah apa katamu."
"Hei kau seharusnya bersyukur kami mengajakmu..."
"Diam!" Bentak Arya membuat mereka berdua mematung.
Situasi canggung tersebut dipecahkan oleh siswa yang memanggilnya.
__ADS_1
"Arya kepala sekolah memanggilmu kau diminta untuk ke ruangannya."
'Ini dia,' batin Arya.
Arya berjalan menelusuri lorong menuju ruangan kepala sekolah sesampainya di pintu besar terdapat papan tulisan bertuliskan kepala sekolah, Arya segera mengetuk pintunya dengan pelan dan terdengar suara dari dalam menyuruhnya untuk masuk.
Seorang pria paruh baya mengenakan kacamata baca menyambutnya.
"Nak Arya bagaimana kabarmu," sambutnya dengan ramah.
"Baik pak Sukamto." jawab Arya singkat.
Pak sukamto mempersilahkan Arya untuk duduk dan menyajikan teh untuk menghilangkan perasaan tegang Arya.
Pak Sukamto langsung berbicara menuju materi utama alasan kenapa Arya dipanggil.
"Nak Arya bapak dengar tadi pagi kau berkelahi dengan nak Jaka," tanya Pak Sukamto dengan ramah dan Arya hanya diam menundukan kepala tidak menjawabnya.
"Nak Arya bukankah bapak pernah mengatakan kepadamu agar jangan pernah terlibat perkelahian karena itu akan membahayakan beasiswamu."
Arya masih tetap diam saja hanya mendengarkan dan pak Sukamto melanjutkan kata-katanya.
"Nak Arya bapak minta maaf sepertinya bapak sudah tidak bisa melindungimu lagi."
Arya yang hanya mendengarkan sepertinya sudah habis kesabarannya.
"Kapan bapak pernah melindungiku, hampir setiap hari Jaka selalu menghajarku bapak dimana."
"Nak Arya bagaimanapun perkelahian dilarang disekolah..."
"Maksud bapak jika aku memukul Jaka bapak melarang sementara jika Jaka memukulku itu tidak apa-apa."
"Saya tahu Jaka anak pengusaha yang memberikan banyak sumbangan kepada sekolah ini jadi dia bebas melakukan apa saja kepada anak orang miskin seperti saya."
Kepala sekolah tidak mampu menjawab dengan argumen dari Arya, setelah keheningan sesaat pak Sukamto mulai berkata lagi.
"Nak Arya maafkan bapak tetapi beasiswamu harus dicabut karena kamu melanggar peraturan sekolah."
"Cabut saja saya tidak peduli."
"Maaf."
"Silahkan cabut beasiswa milik saya, mulai sekarang saya akan bersekolah dengan membayar sendiri sama dengan siswa yang lain."
"Biaya sekolah disini mahal..."
"Saya tahu, tetap saja saya akan membayarnya."
Arya sudah muak dengan perlakuan Jaka serta komplotannya dan dia sudah tidak peduli jika beasiswanya dicabut, dia bisa membayar sendiri.
Meskipun Arya membenci ayahnya tetapi dia mulai menyukai game buatannya, karena berkat game ini nasibnya berubah.
"Jika tidak ada lagi yang mau bapak sampaikan saya akan pergi," kata Arya sambil berdiri dan berbalik hendak meninggalkan kepala sekolah.
"Nak Arya," kata Pak Sukamto dan Arya berhenti sejenak.
"Maafkan bapak tidak bisa melindungimu."
Arya tidak menjawab dan berjalan kembali menuju pintu untuk keluar.
Setelah menutup pintu kepala sekolah Arya meniup nafas panjang seperti beban hidupnya berkurang banyak.
__ADS_1
"Ar."
Arya kaget dan menoleh ke arah panggilan dimana Varia berdiri dengan anggun.
"Varia apa yang kau lakukan disini," tanya Arya.
"Kudengar kau dipanggil kepala sekolah," kata Varia dengan kepala tertunduk.
"Iya dan dia mencabut beasiswaku," kata Arya santai tetapi terjadi keheningan.
"Maafkan aku."
"Kenapa kau harus minta maaf."
"Ehm..kamu sudah banyak masalah dan aku malah marah ke kamu," kata Varia masih berasa bersalah.
Arya merasa lucu melihat Varia malu-malu dan itu membuatnya senang masih ada orang yang memperhatikannya selain ibu dan si gorilla.
"Sudahlah tidak apa-apa terima kasih sudah menghiburku," kata Arya sambil mengelus kepala Varia.
"Ehhpp."
"Ada apa Var," tanya Arya panik.
Arya tidak tahu apa yang terjadi pada Varya sepertinya dia sakit karena melihat wajahnya memerah seperti orang demam.
"Apa kau sakit Var wajamu tiba tiba memerah," tanya Arya lagi.
"Kau bodoh," kata Varya dengan mengembungkan pipi dan semakin membuat bingung Arya.
Varya tiba-tiba berjinjit di depan Arya, dan Arya hanya diam saja melihat wajah Varia mendekat ke wajahnya.
Arya melihat Varia menutup matanya dan bibir merahnya terlihat dengan jelas, Arya tidak bisa berpikir logis dan diam hanya memperhatikan wajah Varia yang cantik.
Saat bibir mereka hampir bersentuhan terdengar suara memanggil mereka.
"Hei kalian."
Mendengar itu mereka berdua mendadak sontak balik kanan masing- masing dan menjadi salah tingkah.
Mereka menolah dan melihat Boby dengan wajah berang.
"Kau masih sempat sempatnya bermesraan," geram Boby karena melihat Arya cengengesan dan Varia menutupi wajahnya yang seperti tomat.
"Arya aku pergi dulu dah Boby," kata Varia dengan berlari meninggalkan mereka berdua.
Setelah Varia pergi Boby melanjutkan kata-katanya.
"Kau...kudengar kau dipanggil kepala sekolah dia pasti ingin mencabut beasiswamu...tidak bisa dibiarkan."
Dengan wajah galak Boby mencoba memasuki ruangan kepala sekolah tetapi berusaha dihentikan oleh Arya.
"Hei Bob tenang dulu," kata Arya sambil melingkari tubuh Boby berusaha menahannya.
"Diam kau, jangan coba hentikan aku atau kulempar kau."
"Bob tolonglah biarkan aku bicara dulu."
Mendengar bujukan Arya akhirnya Boby menjadi tenang sebentar.
"Baik...katakan."
__ADS_1