Aku Seorang Summoner

Aku Seorang Summoner
Mencari Informasi


__ADS_3

Mereka semua juga keheranan bagaimana mungkin NPC yang hanya sebuah program bisa merubah quest yang telah ditentukan oleh sistem.


"Kalian semua terlalu menganggap ini hanya sebuah game."


"Memang ini game kan, jangan berpikir bahwa ini adalah dunia lain," protes Scand dan didukung mereka semua.


"Itulah kenapa, karena kalian hanya terfokus bahwa dunia ini game yang tidak mungkin bisa diubah, asal kalian tahu saat kita berinteraksi dengan NPC seolah kita memang berbicara dengan manusia hidupkan."


Mereka semua mengangguk menyetujui Theo.


"Karena para NPC itu adalah AI (Artificial Intelligence) yang bisa berpikir sendiri seperti kita jadi jika melakukan negoisasi yang adil maka mereka pun akan menerima."


Mendengar penjelasan singkat Theo mereka baru menyadari pentingnya komunikasi dengan NPC dan meningkatkan affinitas dengan mereka.


"Summoner Noob kau hebat," kata Dana.


Theo tidak tahu itu pujian atau sindiran.


"Itu pujian Summoner Noob."


Mereka semua tertawa mendengar itu.


Kelompok party Theo menuju kedai minum terdekat untuk mencari informasi karena ditempat itulah banyak informasi meskipun belum tentu kebenarannya.


"Sobat kenapa kita perlu informasi, bagaimana jika kita langsung menghancurkan mereka saja lagipula levelku sudah cukup jika hanya membasmi kawanan Orc," saran Boby dan dibenarkan oleh yang lain tetapi Theo tidak setuju dengan itu.


"Apa kalian tidak aneh, bagaimana mungkin quest pembasmian Orc memiliki level C."


Mereka yang mendengar kata-kata Theo merenungkannya sejenak.


"Kau benar aku tidak pernah memikirkannya bagaimana mungkin hanya membasmi Orc memiliki level C," kata Isana yang memiliki Quest ini.


"Aku rasa quest ini tidak semudah kelihatannya mari kita dapatkan informasi sebanyak-banyaknya."


Theo membagi mereka menjadi 3 kelompok untuk mencari info, mereka semua mulai berpencar mencari info dan Theo bertiga dengan Catrain dan Dana tetap seperti rencana awal menuju kedai minum.


Yang pertama masuk adalah Theo dan melihat sekitar hanya ada sedikit pengunjung termasuk para penjaga yang libur jaga, tempat ini sebenarnya khusus untuk orang dewasa tetapi karena di dalam game anak dibawah umurpun bisa datang ke kedai minum untuk mencicipi rasanya minuman keras, bahkan banyak player memainkan game hanya untuk dapat meneguk minuman jenis bir.


"Aku mau memesan Ale," ucap Dana dengan riang.


"Hentikan kita kemari bukan untuk itu," larang Theo sambil mencengkeram kerah leher dana.


"Iya aku tahu dasar Summoner Noob," kata Dana dengan pipi mengembung.

__ADS_1


Theo tidak habis pikir sepertinya Assassin ini adalah Player masih SMP dan berusaha memaklumi sikapnya.


Theo mengamati sekitar dan melihat seseorang yang menarik minatnya tanpa pikir panjang Theo segera mendatanginya.


Theo berdiri didepan seorang Ksatria yang mabuk berat bahkan tidak dapat mengangkat kepalanya dan meletakannya dimeja, sepertinya dia adalah ksatria yang telah melakukan kesalahan hingga ditugaskan ditempat terpencil.


"Permisi tuan." Sapa Theo


Ksatria itu hanya diam saja tidak menyahut panggilan Theo.


"Permisi tuan."


Theo mengulanginya kali ini sedikit lebih keras membuat si Ksatria kembali sadar meskipun hanya sedikit.


"Ada apa kau teriak-teriak petualang hik." katanya dengan cegukan.


"Maafkan saya tuan, kami menjalankan misi membasmi Orc apakah tuan ada petunjuk untuk kami."


"Hmmm...petunjuk..."


Ksatria itu bicara antara sadar dan tidak karena dari yang Theo lihat mata ksatria itu bahkan tidak dapat fokus.


"Saranku lebih baik kau batalkan niatmu membasmi Orc hik."


Theo tidak mengerti kenapa dia harus membatalkan quest ini dan tetap bersikeras menanyakan apa maksudnya.


"Silahkan saja jika kalian mau mencari mati dan jangan bilang aku tidak memperingatkanmu."


"Tolonglah tuan informasi apapun akan kami terima," desak Theo.


"Bah!...gara gara kau hilang mabukku."


Ksatria itu berdiri dan keluar dari kedai minum, dia menuju drum berisi air untuk mencuci mukanya agar mabuknya hilang Theo dan yang lain mengikuti dibelakangnya menunggu ksatria itu selesai membenahi dirinya.


"Baiklah aku sudah sadar dan aku akan menjelaskan terkait Orc yang ada disekitar sini."


Mereka bertiga mulai memperhatikan ucapan si Ksatria.


"Sebelumnya perkenalkan namaku Leonard dan aku adalah Ksatria dari kerajaan Rudovan dan kebetulan aku ditugaskan didesa Lanideen ini."


"Kamu pasti diasingkan kedesa ini," celetuk Dana yang buru-buru dihentikan Theo dengan menutupi mulutnya.


"Maafkan dia karena telah lancang," kata Theo meminta maaf.

__ADS_1


'Ya ampun kenapa harus aku yang mengasuh bayi ini,' keluh Theo dalam hati.


Leonard melanjutkan ceritanya.


"Ehm...ehm...baiklah begini ceritanya asal kalian tahu percuma saja jika kalian membasmi Orc di Lanideen Forest karena jumlah mereka banyak dan mereka akan menyerang dengan ganas sepertinya ada yang memberikan komando."


Theo dan yang lain memperhatikan dengan serius, Leonard melanjutkan ceritanya lagi.


"Cara satu-satunya adalah membunuh yang memberikan komando dengan begitu keberanian mereka akan hilang dan mereka akan porak poranda tanpa adanya komando itu tetapi saranku tinggalkanlah desa ini karena dalam waktu 3 hari desa ini akan lenyap dari peta, aku dan para pasukanku juga akan segera pergi."


Mereka bertiga terkejut mendengar penjelasan Leonard.


"Ka-kau akan meninggalkan desa dan penduduk disini," ujar Theo tidak percaya.


"Pengecut," cibir Dana.


"Terserah kalian mau berkata apa, desa ini sudah tamat segera pergilah kalian."


Selesai menjelaskan Leonard pergi tanpa mempedulikan makian Dana.


"Tunggu jika kita menyerang mereka lebih dahulu kita bisa menjaga desa ini," kata Theo dengan memegang pundak Leonard.


"Singkirkan tanganmu petualang, desa ini sudah tidak ada harapan," ujar Leonard sambil menepis tangan Theo dari bahunya dan dia berlalu pergi.


"Dasar prajurit pengecut!" seru dana dengan kesal.


Theo sepertinya mulai mengerti mengapa ada batas waktunya, sepertinya itu adalah waktu Orc akan menyerang desa ini.


Theo harus berpikir cepat karena waktu akan terus berjalan dan apabila pertarungan dilakukan didesa ini akan sangat tidak menguntungkan karena tidak adanya pertahanan didesa ini.


Sesuai kesepakatan mereka semua berkumpul di pohon besar di pinggiran desa dan Theo adalah grup terakhir yang datang.


"Kau lama sekali," sergah Boby tidak sabaran tetapi Theo menghiraukannya.


"Bagaimana?" Tanya Theo pada mereka.


"Cih desa ini sepertinya tidak ada harapan para Orc akan segera menyerang, mereka semua sudah mulai berbondong-bondong untuk pergi," kata Boby menjelaskan.


"Para prajurit juga sudah bersiap-siap untuk segera pergi dari desa ini dan yang memutuskan tinggal hanya kepala desa sendiri itulah kenapa dia memberiku misi ini," tambah Isana.


"Menurut petualang sebelumnya mereka membatalkan quest karena melihat jumlah Orc hampir ribuan," kata Ranard.


"Theo sepertinya misi ini sangat tidak mungkin bagi kita, lebih baik kita menyerah saja," saran Lynna dan disetujui oleh yang lain.

__ADS_1


Theo melihat semua satu persatu, berpikir sebentar dan melihat semua kemungkinan.


"Tidak kita akan menyelesaikan misi ini."


__ADS_2