Aku Seorang Summoner

Aku Seorang Summoner
Ninja


__ADS_3

Dua monster Skeleton dengan membawa pedang datang menghampiri, mereka masing-masing menghadapi satu.


"Kemarilah manusia tulang," pekik Freedom.


Dentingan pedang saling beradu, Freedom dengan cepat memotong tangan dan membelah tubuhnya membuat tubuh tengkorak jatuh berantakan.


"Mudah."


"Jangan senang dulu," Theo memperingatkan.


Setelah beberapa detik tubuh tengkorak kembali seperti semula.


"Ehm... Theo."


Freedom menoleh ke Theo dan melihatnya menebas kepala tengkorak sampai hancur dan terlihat tengkorak tidak bangkit kembali.


[Tengkorak telah mati]


"Jika ingin membunuh tengkorak hancurkan kepalanya jika tidak hancurkan tengkorak itu sampai menjadi bubur."


"Oke aku paham."


Setelah paham Freedom langsung mempraktekannya.


"Hiaah!"


Freedom menyerang menghindari tebasan tengkorak dan membelah kepala tengkorak seperti semangka.


[Tengkorak telah mati]


"Mudah," ucapnya lagi dengan sombong.


"Jangan senang dulu masih banyak rintangan yang menghadang," tegur Theo.


Setelah memasuki dungeon cukup jauh Theo berhasil menghindari banyak jebakan seperti tombak di dalam lubang, menepis panah terbang maupun tembok yang bergerak berkat goblinnya.


Lima tengkorak pun tidak berarti dihadapan mereka Theo menghancurkan dua dan Freedom membantai ketiganya.


"Spell Scave"


Sambil menjelajahi dungeon Theo terus menumpuk skillnya.


[Peringatan anda harus mengaktifkan yang pertama untuk menggunakan skill lagi.]


Mendengar peringatan Theo tahu bahwa Spell Scave dapat ditumpuk sampai tiga kali.


"Sssttt"


Theo menarik Freedom untuk bersembunyi di tembok karena mendengar langkah kaki mendekat.


Terlihat dua player seperti sedang mencari sesuatu dari pakaiannya mereka Warrior.


"Kemana dua kecoa itu pergi."


"Tidak tahu kenapa, bos menyuruh kita berpencar."


"Sudahlah ayo kita cari lagi."


Theo mendengar suara player sedang berbicara, sepertinya mereka sedang mengejar player lain.


Dari perkataan mereka ada dua orang yang mereka buru.


Saat suara mereka mendekat Theo memberi Isyarat kepada Freedom.


"Aku akan menyerang dulu berikutnya habisi mereka."


Theo berlari dengan pedang terhunus dan mengejutkan mereka.


"Hah?"


"Siapa..."


Kedua Warrior terkejut belum sempat memasang posisi bertahan penyerangnya sudah tidak terlihat dari hadapan mereka.

__ADS_1


"Blink Step"


"D-dibelakang"


Mereka yang terkejut saat menoleh sudah dihajar dengan kombo pedang.


"Double Slash"


"Triple Slash"


"Khughhh."


"Sialan kau!"


Saat hendak mencabut senjata, mereka dikejutkan oleh kedatangan player dibelakang mereka.


"Strike Slash"


Tebasan seperti sambaran petir menghabisi mereka.


[Player telah mati]


[Player telah mati]


"Gila aku bisa menghabisi mereka dengan mudah," kata Freedom sambil menyarungkan pedangnya.


"Tentu saja itu karena mereka lengah," ucap Theo menjelaskan.


Dan berikutnya Theo mencari RATS yang sendirian atau berdua itulah yang akan menjadi target Theo.


TAP TAP TAP


Langkah kaki seorang Warrior mendekat dan berikutnya dengan serangan kejutan Warrior tersebut telah menjadi jasad.


*********


Disebuah ruangan luas di dalam Dungeon terdapat 5 player seperti sedang mencari sesuatu.


"B-bos Gustam tiga anggota kita telah mati," kata salah satu anggota dengan wajah pucat.


"Aku juga tahu itu bodoh," jawab bos Mage itu dengan dahi berkerut.


"Dilihat dari mereka mati sepertinya berada di selatan Dungeon."


"Suruh mereka yang berpencar atau sendirian agar berkumpul siapa tahu mereka berdua menggunakan trik licik untuk membunuh anggota kita."


**********


"Kita harus segera pergi dari sini, sebentar lagi mereka semua akan kemari," kata Theo.


"Apa! Bagaimana kau tahu," tanya Freedom penasaran.


"Kau bodoh ya, kita sudah membunuh tiga anggota mereka di tempat ini, pasti ada pemberitahuan dalam party jika ada yang mati, dan sesuai dengan lokasi patroli mereka yang mati kawanan mereka akan mencari disini."


Freedom hanya mengangguk-anggukan kepala tanda dia mengerti.


"Tapi sayang sekali kita hanya berhasil membunuh tiga dari mereka sisanya masih banyak," kata Freedom kecewa.


"Jangan khawatir ini masih dalam prediksiku."


"Wah siapa kau? Dewa kah kau bisa memprediksi semua," ejek Freedom tak percaya.


"Kau lihat saja nanti," kata Theo tersenyum.


Mereka bergegas berlari meninggalkan selatan dungeon menuju barat dungeon, meskipun banyak tengkorak yang menghalangi dengan cepat mereka membersihkannya,


Saat berada di ruangan besar Theo menjadi waspada.


"Freedom hati-hati,"


Dan benar saja setelah memperingati sesosok bayangan tiba-tiba menyerang Freedom dari kirinya, untungnya berhasil ditangkis dilanjutkan dua pisau terbang menargetkan dada Theo yang berhasil ditebas keduanya oleh Theo.


Terlihat seorang wanita menggunakan tonbak yang berhadapan dengan Freedom dan yang melemparkan pisau sepertinya jobnya Assassin dari mulut yang ditutup kain.

__ADS_1


"Wow ada ninja," seru Theo dengan mata berbinar.


Job Ninja adalah yang diinginkan Theo dari awal, dimana dia memilih Assassin yang akan dia ubah menjadi Ninja seperti film ninja kesukaannya saat kecil.


"Sial mereka sudah menyadari kehadiran kita," umpat Freedom.


"Kita harus cepat mengalahkan mereka dan segera melarikan diri, kau hadapi lancer itu aku akan melawannya," perintah Theo.


Freedom segera menebaskan pedangnya yang beradu dengan tombak.


Sementara si ninja mengeluarkan pedang pendeknya dan berlari menuju Theo dengan gerakan cepat dimana Theo sudah menghadangnya.


Saat jarak sekitar sepuluh meter wujud ninja itu menghilang sepertinya menggunakan skill yang disebut Cloaking.


Untungnya Theo memiliki item Tracker Bracernya, sungguh item yang curang untuk mengcounter para Assassin.


Theo memfokuskan tubuhnya dengan pedang sudah siaga dan benar saja si Ninja menyerang dari arah kiri yang berhasil ditangkis dengan sempurna oleh Theo.


"Hah?"


Si Ninja terkejut bagaimana mungkin teknik menghilang bisa ditangkis dengan sempurna.


Saat Theo hendak menebas, si Ninja segera melompat mundur dengan cekatan.


"Kau itu apa? Summoner kenapa bisa menggunakan pedang."


"Entahlah cukup hadapi saja," ucap Theo dengan seringai.


Meskipun kelihatan tenang tetapi Theo sangat mencemaskan keadaannya bagaimana jika gerombolan mereka datang dan mengeroyoknya.


Si Ninja maju lagi dengan mengambil pisau satu lagi menjadi dual dagger.


Ninja itu melakukan gerakan tebasan demi tebasan dengan sangat cepat, secara kecepatan dan kelincahan Theo kalah dari ninja tersebut.


Theo hanya berusaha mengimbangi serangan ninja tersebut dengan bertahan mati-matian.


"Apa kemampuanmu hanya bertahan saja hah?" Hardik si Ninja.


"Cobalah lebih keras memprovokasiku."


Sepertinya sia sia saja memprovokasinya dan si Ninja mulai menggunakan tekniknya.


Ninja melompat mundur ke belakang, menyarungkan kedua pisaunya, merapatkan kedua tangannya dan melakukan gerakan jari yang aneh dan dari tubuhnya muncul tiga kembaran dirinya.


"Bunshin"


"Wow jurus bayangan," seru Theo dengan kagum.


'Sial bukan saatnya untuk kagum, bisa mati aku sekarang,' batin Theo.


Salah satu bayangan melempar pisau lempar yang disebut kunai yang ditangkis Theo dan ketiganya mulai menyerang dengan liar.


Tebasan demi tebasan dilakukan oleh keempat Ninja, Theo sudah tidak mampu bertahan lagi dan keempatnya mulai bersiap untuk mencincangnya tapi...


"Wave Slash"


Tebasan seperti gelombang dikeluarkan Theo, menebas dengan membabi buta dan menghilangkan para bayangan serta melukai yang Asli.


"Dasar Swordsman penipu!" umpat si ninja dengan tubuh terluka meskipun tidak parah.


Si Ninja menyimpulkan musuh didepannya adalah seorang Swordsman yang berpura-pura menjadi Summoner.


"Ayo keluarkan jurusmu yang lain," ujar Theo dengan antusias.


"Hei Rash apa kau belum mengalahkan summoner itu segera bantu aku lawan Swordsman ini!" teriak wanita Lancer sambil beradu senjata dengan Freedom.


"Dia bukan Summoner tapi Swordsman," kata Rash menjelaskan.


"Hah! tidak mungkin."


"Kau akan lebih terkejut jika melawannya terus," goda Freedom dengan nyengir.


"Ukhh.. menyebalkan."

__ADS_1


__ADS_2