Aku Seorang Summoner

Aku Seorang Summoner
Penyihir Tanaman


__ADS_3

"Summon"


Theo mengeluarkan Gotcha tanpa menunggu perintah Gotcha sudah paham dan dengan cepat menyerang Isana.


"Wood Pillar"


Sebuah balok kayu runcing muncul tapi sayangnya tidak sebanding dengan kecepatan Gotcha, Isana cukup terkejut dengan kecepatan monster hijau ini.


Sebuah tembok akar muncul di depan Gotcha tetapi dengan tebasan ganda dinding akar terbelah tetapi muncul dinding akar baru berikutnya balok kayu muncul dari segala sudut mengurung Gotcha.


"Goblinmu akan menjadi hamburger," ejek Isana.


"Call"


Gotcha kembali ke Theo sebelum balok Kayu menusuknya.


"Sayang sekali kau tidak bisa menggunakan goblin berpedangmu lagi."


Isana berusaha memprovokasi Theo karena sangat percaya diri dengan pertahanannya yang tidak pernah tertembus.


"Kuberi kesempatan terakhir untuk menyerangku lagi," Kata Isana dengan merendahkan.


Theo sepertinya cukup kesal dengan provokasi Isana dan ingin membungkam mulut sombong Isana.


"Spell Scave"


"Jika itu keinginanmu bersiaplah," seringai Theo.


"Jangan banyak bicara maju saja."


'Sepertinya kau yang bicara dari tadi' batin Theo.


Theo berlari menuju Isana dengan pedang terentang di tangannya dia berlari zigzag untuk menghindari balok kayu dan sama seperti Gotcha menebas dinding Akar pohon sebelum tumbuh lagi Theo sudah melewatinya, berikutnya akar sulur dari kanan dan kiri siap menangkap Theo.


"Blink Step"


Theo menghilang membuat sulur akar gagal menangkapnya dan Isana yang kebingungan mencari keberadaan Theo dan benar saja Theo sudah dibelakangnya Isana segera membuat bola akar yang mengelilinginya dengan sangat cepat Theo menempelkan telapak tangannya ke bola akar dan meneriakan spell.


"Fireball"


Bola api keluar dari telapak tangan Theo dan memusnahkan pelindung Isana berikutnya pedang Theo berhenti tepat di leher Isana.


Isana yang tidak menyangka kejadian ini wajahnya menjadi pucat pasi bahkan tidak dapat mengucapkan sepatah katapun.


Bahkan penonton juga tidak menyangka kejadian ini karena berlangsung dengan cepat.


"G-gila dia menggunakan mantra api sekarang."


"Itu Fireballkan."


"Hei Theo jobnya Summoner kan?"


"Jangan tanya aku."


Dari semuanya yang paling keheranan adalah Isana dia tidak menyangka Theo bisa menggunakan skill Fireball sekarang nyawanya berada di tangan Theo dengan satu gerakan pedangnya leher Isana akan menggelinding di lantai.


"Nona Isana," Ucap Theo dengan nada dingin membuat Isana berkeringat dingin dimana Isana bahkan tidak mampu menjawabnya.


"Terima kasih sudah memberikanku kesempatan untuk menyerangmu lebih dulu Bagaimana jika kita bertarung secara serius."


Isana yang tidak mampu menjawab hanya menganggukan kepala dan terlihat wajahnya sudah merah padam.

__ADS_1


"Lihat wanita itu pasti dia malu sekali."


"Jika aku jadi dia aku lebih memilih menebas leherku sendiri."


"Baru tahu rasa dia sekarang."


"Sayang sekali padahal Theo sudah bisa menang."


Theo memindahkan pedangnya dari leher Isana dan berjalan menjauh dari Isana menuju tempat awal saat dia hendak bertarung.


Pertarungan dimulai lagi terlihat Isana benar benar serius dari air mukanya dan mewaspadai gerakan Theo.


'Aku akan mengalahkanmu, akan kubalas perlakuanmu tadi,' batin Isana.


Mereka sepakat menunggu aba-aba dari wasit.


[Pertandingan dimulai]


Begitu aba-aba dimulai Isana menyerang Theo dengan gencar, balok kayu tajam mulai bermunculan dari arena menghancurkan lantai tetapi itu sudah diprediksi oleh Theo sebelum balok kayu muncul Theo sudah berpindah.


Meskipun gerakannya tidak secepat Gotcha tetapi dengan sedikit analisa Theo dapat berpindah tanpa terkena serangan.


'Kita lihat sampai kapan kau akan bertahan,' batin Isana.


Isana tidak berani berkata langsung karena malu akan kejadian yang pertama.


Sepertinya Isana merubah taktik serangan dari tangannya tampak bercahaya berbentuk bulatan kecil berwarna hijau terang.


"Seed of life"


Sebuah biji sihir dijatuhkan dari tangannya ke arena, sepertinya meresap ke dalam tanah.


Theo mulai kesulitan untuk menghindar dan Isana sudah tidak dapat menahan egonya.


"Haha rasakan kau," teriaknya.


"Wah wah sudah mulai sombong rupanya," Theo meresponnya hanya dengan senyum tipis.


"Perhatikan baik-baik nona cantik."


"Spell Scave"


Theo mengeluarkan Urcelos Spear dan kembali mengejutkan semua orang


"Hei kau lihat itu sekarang dia menggunakan tombak."


"Job apa sebenarnya yang dia gunakan."


"Gain itu tombak yang didapatnya saat berparty dengan kita," ujar Raissa.


"Iya aku tahu tuan Theo memang hebat, tidak salah aku mengaguminya."


Isana sedikit bingung dengan kelakuan Theo, memang apa yang akan dilakukannya dengan sebuah tombak.


Dengan satu gerakan Theo menancapkan Urcelos Spear ke lantai arena membuat lantai sekitar dialiri listrik meskipun dengan diameter yang tidak begitu besar.


"Apa gunanya itu," ejek Isana yang merapal mantra tetapi dia merasakan keanehan, Isana tidak dapat mengeluarkan skillnya di sekitar Theo.


'Apa tombak itu penyebabnya,' pikir Isana.


"Bagaimana, apa kesombonganmu masih ada," ejek Theo.

__ADS_1


"Tidak masalah aku masih punya skill yang lain."


"Vines"


Isana menumbuhkan beberapa pohon didekatnya dengan banyak sulur yang siap menangkap Theo untuk menyeretnya keluar dari tombaknya tetapi Theo sudah menduganya.


"Summon"


Theo mengeluarkan Gort dengan posisi bertahan dan menjaga Theo.


"Apa gunanya goblinmu meskipun pertahanannya tinggi akan kutangkap juga."


Tanaman sulur menjulur menuju Gort dan mengikatnya tetapi yang tidak disangka adalah semua tanaman yang mengikatnya terbakar bahkan yang berada di sekitar Gort juga terbakar, Isana masih belum dapat mencerna apa yang terjadi, apa yang dilakukan Summoner itu.


"Terkejutkah," seringai Theo.


Gort dapat melakukan semua itu karena dia mengenakan Lassart Armor yang memiliki skill Burning Aura yang memiliki efek Burn bagi lawan yang ada disekitarnya dengan mengurangi 1 mananya tiap detik.


"K-kau juga hanya bisa bertahan, serang aku jika bisa."


Isana sudah kehabisan ide untuk menyerang Theo sehingga hanya bisa memprovokasinya.


Dengan provokasinya Theo meletakan jarinya di pelipisnya pura-pura berpikir.


"Bagaimana jika aku mengalahkanmu tanpa menggunakan seujung jariku," ujar Theo sambil mengangkat jari telunjuknya.


"Ja-jangan membuatku tertawa kau tidak lihat goblinmu yang cepat saja tidak dapat berbuat apa-apa."


"Kau pikir Gotcha adalah goblinku yang paling cepat," Theo menunjukan senyum menakutkannya membuat Isana gemetar.


"K-kau hanya menggertak."


"Summon"


Theo mengeluarkan Gupi dan Ghost goblinnya yang paling mahal membuat penonton kembali bergemuruh.


"Lihat dia mengeluarkan goblin aneh lagi."


"Dari penampilannya mirip Assassin dan satunya seperti Mage."


"Kau bodoh mana mungkin goblin menjadi Mage."


"Tapi itu goblin milik Theo lho."


"..."


Kembali ke Arena Ghost sudah bersiap untuk menyerang tinggal menunggu perintah Theo dan Isana memperhatikan dengan keringat mulai mengucur deras.


"Eksekusi dia."


KIIKKKKK


Dalam sekejap goblin dengan pakaian hitam compang camping sudah menghilang dari hadapan Theo.


"K-kemana dia," kata Isana dengan nada gemetar.


Isana mengeluarkan semua serangan balok kayunya secara asal dan serampangan dan mulai melindungi tubuhnya dengan pelindung akar.


FIREBALL


Sebuah bola api raksasa menyerang dan menghanguskan semua tanaman yang dilewatinya.

__ADS_1


__ADS_2