Aku Seorang Summoner

Aku Seorang Summoner
Gencatan Senjata


__ADS_3

Setelah keluar Theo dan Edmund membuang kainnya dan kedua penjaga kaget saat melihat ada dua sosok keluar dari kobaran api.


"Ka-kau berani sekali melarikan diri."


"Berhenti kau!" ancam mereka tetapi Theo tidak mengindahkan omongan mereka bahkan hendak menyerang mereka.


"Spell Scave"


Theo mengeluarkan pedangnya dan menebas mereka berdua.


KHUAGHH


Theo hanya melukai dan tidak berniat membunuh mereka.


"Jika ingin selamat jangan halangi kami," ancam Theo kepada dua elf yang terkapar.


Theo dan Edmund berlari mencari tempat sembunyi sambil berusaha menemukan cara keluar dari desa elf ini.


"Tahanan kabur!"


"Cari mereka!"


Terdengar teriakan dari para penduduk Elf, mereka semua berusaha menemukan keberadaan Theo dan Edmund.


"Theo apa yang kita lakukan berikutnya," tanya Edmund dengan suara lirih.


"Buat kegaduhan untuk mengalihkan perhatian mereka, apa kau punya ide."


"Tentu saja." kata Edmund nyengir sambil mengeluarkan beberapa Flamebert.


"Kau gila," kata Theo tertawa.


"Mulai."


Setelah mendengar aba-aba Theo, Edmund mulai melemparkan Flamebert dengan membabi buta membuat kebakaran dimana-mana.


"Kebakaran!"


"Disini juga!"


"Tolong sebelah sini"


Desa elf mengalami kepanikan dimana-mana, memanfaatkan momentum itu Theo dan Edmund segera berlari menuju pintu keluar yang sudah diketahuinya.


Mereka berlari dengan menghindari para elf yang sibuk memadamkan api.


"Itu dia!" sorak Theo setelah melihat sebuah terowongan.


Mereka terus berlari, saat 10 meter hampir mencapai pintu keluar Theo merasakan ada sesuatu yang tidak beres.


"Awas!"


Theo mendorong Edmund sampai jatuh menghindari anak panah yang menargetkan dirinya dan Edmund.


"Berlindung di belakangku," perintah Theo yang sudah memasang kuda-kuda bertahan.


Terlihat dari atas pohon seorang elf dengan rambut emas panjang terurai kebelakang dengan wajah liar menatap tajam ke arah Theo dengan membidikan panahnya.


"Kau beraninya merusak kampung halamanku!" Hardik Elf dengan murka.

__ADS_1


Sepertinya dia adalah salah satu petarung terkuat dari desa Elf terlihat panahnya berwarna emas seperti rambutnya dengan ukiran indah di busurnya.


SWING SWING


"Bukan salahku," elak Theo sambil menangkis panah yang menuju kearahnya.


Elf pemanah itu terus memanahi Theo dan Theo hanya berusaha menangkisnya.


"Terima ini."


Elf pemanah menembakan panah kearah dada yang ditahan Theo dengan pedangnya tetapi kali ini panah Elf membuat Theo terpental.


"Sialan!...panah ini selain cepat juga kuat," gerutu Theo.


Jika terus begini lama kelamaan pertahanan Theo akan tembus juga.


"Edmund Sembunyi," Theo mengambil tindakan dengan mencoba menyerangnya lebih dulu.


Elf menembakan panah kuat dan Theo menghindar kesamping dengan kesusahan dan melanjutkan larinya mendekati elf pemanah.


"Spell Scave"


Theo menggunakan Fireball membuat Elf harus melompat turun dari pohon pijakannya.


"Kau pikir apimu bisa mengenaiku," ejek Elf pemanah.


"Tidak...aku hanya mencoba mengusirmu."


"Blink Step"


Dengan sekejap Theo sudah didepan si elf dan menebaskan pedangnya yang ditahan Elf dengan busurnya.


Theo melambaikan tangan kirinya dan sebuah es muncul dari tanah dan membekukan elf pemanah.


"Ice Tower"


"Whoaaa Theo kau bisa menggunakan sihir juga," teriak Edmund dari samping penasaran dengan kemampuan Theo.


"Sudahlah kita sudah tidak punya waktu ayo segera pergi."


Mereka menuju gerbang terowongan meninggalkan Elf pemanah yang membeku.


Saat hendak keluar ada suara yang menghentikannya.


"Tunggu berhenti kalian."


Theo menoleh kebelakang dan yang berteriak padanya adalah salah satu dari tiga tetua Elf dan yang telah menyegel skill Theo.


"Kenapa aku harus menurutimu," kata Theo sinis.


[Perhatian skill Summon sudah dapat digunakan kembali]


Dengan skillnya yang sudah kembali Theo menjadi percaya diri.


"Theo ayo kita...."


Theo menghentikan Edmund dengan lambaian tangannya.


"Summon"

__ADS_1


Theo mengeluarkan semua monsternya karena takut skillnya akan disegel kembali, kali ini dia tidak mau ditangkap dan akan bertarung mati-matian.


Dengan munculnya monster para penduduk desa tidak berani sembarangan menyerang.


"Kau tenanglah kenapa kau membakar desa kami."


"Karena kami harus menyelamatkan diri."


"Manusia jangan harap kau bisa selamat setelah apa yang kau lakukan terhadap desa ini," kata tetua Elf yang menyegel skill Theo.


"Aku tidak takut dan aku akan melawan mati-matian dan jika aku kalah aku akan datang dengan bala bantuan sampai kalian hancur," ancam Theo.


Melihat situasi semakin keruh dan tetua Elf tahu jika pria didepannya ini membawa bala bantuan maka desanya akan rata dengan tanah dia berusaha mendinginkan suasana.


"Tenanglah kalian berdua... kau juga..tidak ada carakah agar kita bisa berdamai."


"Bagaimana bisa berdamai, kalian menangkapku begitu saja dan akan membiarkan kami membusuk di penjara kalian."


Theo masih marah dengan kejadian dimana dia bisa saja bernasib seperti Edmund yang akan mengubah semua kehidupannya.


"Itu karena kau telah menyusup ke desa kami tanpa ijin."


"Darimana aku tahu ini desa kalian tanpa ada penjelasan."


"Baiklah petualang bagaimana jika kita ketempatku dan berbicara baik-baik disana."


"Entahlah...bagaimana jika itu hanya tipuan dan kalian menangkapku lagi."


Tetua Elf mengucapkan sebuah mantra.


"Kami berjanji demi dewi Isell tidak akan menangkap atau menyakitimu."


Saat berkata tubuh tetua elf bersinar dan ketika selesai cahayanya menyebar dari tubuhnya.


"A-apa yang kau lakukan."


"Ini adalah Elf Vow sebuah sumpah dari bangsa elf yang tidak bisa dilanggar oleh siapapun, mari tuan ikuti saya."


Mendengarnya Theo mulai tenang entah kenapa Theo bisa mempercayainya begitu saja dan menurunkan senjatanya serta menarik summonnya lalu mengikuti Tetua elf meskipun dengan perasaan waspada.


Theo dan Edmund diantarkan kedalam ruangan pepohonan besar sepertinya kediaman tetua Elf.


Tetua Elf memperkenalkan dirinya sebagai Zevlar, dia adalah pemimpin didesa ini sementara dua dibelakangnya adalah Omars yang menyegel skill summon milik Theo dan satunya Pavel lalu nama desa tersembunyi ini adalah Leafald.


"Bisa kau jelaskan apa tujuanmu memasuki desa kami petualang," tanya Zevlar dengan sopan.


"Maafkan sebelumnya atas kejadian yang telah kami timbulkan tetapi saya tidak sengaja memasuki desa anda karena saya mencari Spring Orchid."


"Apa! beraninya manusia macam kau ..." Omars yang berteriak ke arah Theo dihentikan oleh Zevlar, sepertinya dugaan Theo benar Spring Orchid berada di desa ini.


"Maafkan saya petualang kau benar, Spring Orchid memang berada didesa ini tetapi kami minta maaf, kami tidak bisa memberikan tanaman itu," kata Zevlar dengan lembut.


"Kenapa Tetua? apakah ada alasannya?" Tanya Theo penasaran.


Tetua Zevlar menjelaskan lagi bahwa Spring Orchid adalah salah satu pusaka dari desa ini jika Theo mengambilnya maka desa ini akan menjadi layu dan kering dan dalam sekejap Leafald akan menjadi desa mati.


Mendengar penjelasan dari Zevlar Theo ragu apakah harus meneruskan misinya tapi tanpa menyelesaikan quest ini Theo akan sangat kesulitan mendirikan guild.


"Maaf Tetua apakah ada cara lain untuk saya mendapatkan tanaman ini tanpa merusak desa ini," Theo bertanya dengan sopan.

__ADS_1


"Manusia kau masih berani bertanya seperti itu..." geram Omars yang lagi-lagi dihentikan oleh Zevlar.


__ADS_2