Aku Seorang Summoner

Aku Seorang Summoner
Guild Pembunuh


__ADS_3

Theo mematikan kemampuan matanya karena dia tidak ingin merasakan sakit saat dalam pertarungan tetapi itu sudah cukup untuk mengguncang pikiran Wayne yang masih terpaku.


"Summon"


Kali ini Theo mengeluarkan Gotcha untuk bertarung melawan Wayne.


KIIIIKKKKK


Dengan teriakan, Gotcha menuju Wayne dengan pedang terhunus.


"Mau apa Goblin ini," kata Wayne sambil menebaskan Great Swordnya secara horizontal membelah goblin


didepannya menjadi dua bagian.


Wayne merasakan ada yang aneh, tebasannya sama sekali tidak merasakan adanya benturan atau daging yang teriris.


Wayne memperhatikan didepannya tidak ada mayat monster hijau tetapi wayne merasakan ada keanehan dengan pedangnya yang bertambah berat.


Ternyata Goblin itu berdiri diatas pedangnya dan hendak menyergapnya, untungnya Wayne masih memiliki respon tinggi dan segera memutar pedangnya untuk merusak kesimbangan Gotcha.


Gotcha yang menyerang dengan kecepatan tinggi bahkan lebih cepat dari Theo, menebas membabi buta dengan Dual Bladenya membuat Wayne cukup kewalahan.


"Kalian bantu dia," ujar Theo.


Segera Gald dan Ghost melesat menuju Wayne.


Wayne yang menghadapi Gotcha saja sudah sangat kesulitan apalagi ditambah kedua goblin membuatnya harus menggunakan skill rahasianya.


"Blade Tornado"


Wayne berputar putar dengan pedang raksasanya menciptakan angin topan disekitarnya.


Theo yang merasakan firasat buruk memerintahkan goblinnya untuk mundur sayangnya sudah terlambat dan hanya Ghost yang dapat mundur dengan cepat.


Angin topan di sekitar Wayne semakin meluas menghancurkan semua yang didekatnya.


[Gotcha sedang sekarat]


Gotcha yang menjauh masih terkena efeknya membuat darahnya sisa sedikit, andai Gotcha berada dalam pusaran maka dia akan mati seketika.


Sementara Gald dengan Black Armornya hanya sedikit membuatnya terluka, Theo masih mengagumi kehebatan dari Black Armor.


Tetapi Wayne sangat kecewa, skill yang dikeluarkannya tidak membunuh satupun mahluk panggilan Theo padahal skill ini paling menguras mananya.


"Maju lagi sini akan aku kubinasakan kalian."


Wayne berusaha menggertak untuk menakuti musuhnya karena dia sudah tidak memiliki mana untuk dapat menggunakan skill lainnya.


Theo berusaha mengamati pergerakan lawannya dan terlihat senyum tipis karena berhasil menarik kesimpulan.


"Sepertinya kau kehabisan mana."


Kata-kata Theo menusuk tepat dijantung Wayne.


"Sepertinya aku benar," kata Theo dengan senyum dingin.


Kelihatannya skill tersebut memang hebat dan mematikan tetapi pasti memiliki resiko yaitu membutuhkan mana yang banyak.

__ADS_1


"Terus kenapa jika manaku habis lagipula goblinmu tidak akan dapat menyentuhku."


Mendengar itu Theo tertawa terbahak-bahak.


"Gotcha"


Dengan satu kata Gotcha yang merintih kesakitan kembali hendak menyerang Wayne.


"Mau apa goblin ini, berjalan saja sudah kesusahan."


Wayne yang mengejek goblin Theo harus menghentikan ucapannya ketika melihat mata goblin itu berubah menjadi merah mengeluarkan sedikit darah.


"Bloodlust"


Gotcha yang tadinya berjalan tertatih tatih mulai berjalan normal, berikutnya berlari dan semakin cepat, semakin cepat hingga tidak terlihat.


Wayne yang melihatnya hanya bisa mengucurkan keringat deras, goblin yang tadinya sekarat kini menjadi bersemangat dan sangat cepat sampai matanya tidak dapat mengikutinya.


SRASSHHH SRAASHH SRASSHHH


Tebasan Gotcha sangat cepat hingga membuat Wayne hanya bisa mengerang kesakitan, dia mencoba bertahan sebisa mungkin agar tidak mati, skill semacam ini pasti memiliki batas waktu pikirnya.


Dan benar saja setelah tiga menit berlalu serangan itu akhirnya berhenti dan terpaksa Gotcha harus mundur dengan langkah lunglai karena tubuhnya menjadi semakin berat dan lambat akibat efek skill.


"Hah...hah... aku masih hidup."


dengan nafas tersengal-sengal dan tubuh penuh goresan Wayne bertahan dan merasa lega,


"Kau pikir ini sudah selesai," kata suara dingin dibelakang Wayne membuatnya begidik.


Saat Wayne fokus menghadapi serangan Gotcha Theo mengendap-endap mendekati Wayne dan mengeluarkan Urcelos Spear miliknya dan menancapkannya ditanah.


Tanah disekitar Theo menjadi medan listrik membuat tubuh Wayne kaku sama seperti terakhir kali.


Sebenarnya Wayne sudah menyiapkan skill penangkal untuk melawan ini tetapi sayang mananya habis sehingga usahanya sia-sia.


Theo berkata pada Swordsman yang berlutut didepannya karena tidak mampu menyanggah kakinya.


"Menyedihkan, aku tahu kau pasti mencari cara untuk menangkal serangan ini tetapi sayang kau kehabisan mana, sebenarnya aku tidak ingin menggunakannya tetapi karena tahu manamu habis jadi aku menggunakan skill ini lagi."


Theo melanjutkan kata-katanya.


"Aku masih punya ribuan cara untuk menghadapimu, kapanpun kau datang aku akan selalu siap."


Kata-kata Theo menancap tepat dijantung Wayne, tidak menyangka player didepannya sudah menebak semua rencananya dan dia seolah seperti kotak kaca yang dapat dilihat oleh lawannya.


Psikis Wayne benar-benar sudah hancur, Theo berani taruhan Wayne tidak akan berani menyerang dirinya lagi.


"Sebelum mati sampaikan kepada siapapun yang menyuruhmu, jangan repot-repot mencariku karena aku akan datang sendiri menghancurkannya...selamat tinggal."


SRAASSHH


[Player Wayne telah mati]


[Level Up]


Dengan kata penutup Theo, berakhir pula nyawa Wayne dan ada beberapa item yang terjatuh.

__ADS_1


Setelah memunguti semua item hasil pertarungannya Theo ingin logout dan mengatur ulang rencananya.


********


Di salah satu ruangan gedung pencakar langit terlihat dua orang sedang berbicara yang satu duduk dengan muka penuh urat didahinya yang satunya berdiri dengan ketakutan.


"Pak Dir apalagi alasanmu," katanya dengan nada dingin membuat lelaki yang berdiri didepannya semakin pucat.


"Ma-maafkan saya tuan karena telah gagal menjalankan perintahmu," ucapnya dengan terbata-bata.


"Aku tidak butuh alasanmu, bagaimana kau mempertanggungjawabkan kesalahanmu."


"Ma-maaf tuan, Wayne yang telah saya perintahkan untuk mengurus anak itu kini tidak bisa dihubungi dan telah keluar dari Guild sepertinya dia telah melarikan diri."


"Aku tidak peduli itu sekarang katakan bagaimana kau akan mengurus anak itu," katanya dengan mengibaskan gelas kopi yang ada didepannya membuat suara gaduh yang semakin membuat takut pria didepannya.


"Ma-maafkan saya tuan saya sudah menghubungi sebuah Guild di perancis yang salah satu playernya memiliki spesialisasi PK (Player Killer) dan tidak pernah gagal."


Mendengar perkataan pak Dir cukup meredam kemarahan ayah Arya.


"Saya pastikan kali ini tidak akan gagal tuan."


"Sebaiknya begitu...karena jika gagal lagi begitu juga dengan nasibmu."


"Ba-baik saya mengerti tuan."


**********


Didalam sebuah aula terdapat beberapa orang sedang berdiri menghadap satu orang dengan bendera besar dibelakangnya berlambang sebuah kastil dengan perisai dibelakangnya di namanya terdapat tulisan Chevalier sepertinya nama guildnya atau disebut Knight dalam bahasa inggris yang artinya Ksatria.


Begitu player yang duduk didepan bicara semua diam mendengarkan.


"Kita telah mendapatkan misi dari Guild besar yang jauh di asia dan itu adalah misi pembunuhan," katanya dengan suara menggema.


"Bayaran misi ini sangat tinggi sebesar 1000 emas."


Mulai terdengar suara hiruk pikuk karena mendengar uang besar.


"Apakah misinya ketua," tanya salah satu anggota.


"Membunuh seorang Summoner."


Terdengar kembali hiruk pikuk, sungguh tidak masuk akal hanya membunuh Summoner mendapatkan bayaran sebesar ini.


"Biarkan saya yang melakukannya."


"Tidak aku saja."


Mendengar tugas mudah banyak yang ingin melakukannya dan terjadi kebisingan dan pertikaian.


"DIAM!"


Ruangan yang tadinya ramai Tiba-tiba menjadi sunyi karena satu kata dari ketua mereka.


"Aku perintahkan kau untuk menjalankan tugas ini."


"Sang ketua menunjuk seorang Player dengan membawa senapan dipunggungnya yang sedari tadi hanya diam memperhatikan."

__ADS_1


"Baik ketua aku akan melakukannya dalam sekejab."


Dan Player itu pun berlalu pergi.


__ADS_2