
"Baiklah memang berapa yang dihasilkan dia tiap bulan," tanya Theo lagi.
"Separuh pemasukan guild ini adalah dari jerih payah tuan Garahad kurang lebih 5 emas," jawab Waller dengan yakin.
"Baik, bagaimana jika begini aku akan memberikan power potion 3 buah tiap bulan tetapi ada syaratnya."
Dengan tawaran Theo memberikan 3 buah potion, Waller yakin dapat menutup kekurangan penghasilan dari Guild tanpa bersusah dan tidak perlu membayar gaji Garahad yang besar sehingga bisa menambah pemasukan Guild tetapi Waller masih mewaspadai syarat dari Theo.
"Jika seperti itu kami siap melepas tuan Garahad tetapi kami harus mendengar syaratnya dulu."
"Syaratnya mudah saja, bantu guild kami kapanpun kami membutuhkan bantuan apabila diserang oleh guild lain," kata Theo.
"Hah? Hanya itukah," tanya Waller memastikan betapa murahnya bayarannya Guildnya mendapat pemasukan 5 emas lebih hanya dengan memberikan perlindungan lagipula mana ada guild yang akan melawan mereka guild baru yang tidak memiliki musuh sungguh tawaran mudah.
"Jika hanya itu keinginan tuan, saya setuju dengan syaratnya."
"Baiklah mari kita menggunakan sumpah tertulis agar tidak ada yang dirugikan dan tidak ada yang mengkhianati."
Theo mengeluarkan sebuah perkamen untuk menulis perjanjian dimana Theo akan membayar 3 power potion tiap bulan dan Guild Havoc akan melindungi dirinya dan Guild Genesis dari serangan player atau Guild lain apabila ada yang melanggar level semua anggota Guild akan tereset ke level 1, perjanjian bisa dibatalkan apabila disetujui oleh kedua belah pihak.
Setelah menandatangani perjanjian Waller membebaskan Boby dari keanggotannya dan setelah meminta ijin dari Theo, Waller yang sudah tidak sabar mengambil semua potion yang ada dimejanya dan memasukannya kedalam Inventorynya dengan wajah tamaknya.
Waller Tidak habis pikir bagaimana Summoner ini bisa mendapatkan power potion dalam jumlah banyak, sepertinya dia adalah anak orang kaya yang memiliki keanggotaan VIP di toko Bardar.
'Tetapi mengelola Guild tidak semudah yang dia bayangkan,' batin Waller.
"Baiklah tuan Waller karena sudah semua kami akan segera pergi."
"Oh baiklah saya tidak akan menahan anda lama-lama dan tuan Garahad terima kasih atas jerih payah anda selama ini dan selamat tinggal jika anda membutuhkan bantuan jangan sungkan hubungi kami."
"Baik terima kasih ketua kami pergi dulu."
Theo dan Boby meninggalkan bangunan Guild Havoc dan menelusuri jalanan Kota Igana yang ramai.
"Kau bodoh," celetuk Boby.
"Kenapa?" Tanya Theo kebingungan.
"Kau telah ditipu olehnya, rubah tua itu pasti tertawa tidak henti hentinya, aku bukan penyerang terbaiknya masih ada 3 lagi yang lain."
"Aku tahu yang kamu maksud Swordsman ditangga, Archer yang menyapamu dan Knight dengan Armor motif petir yang menatapmu dengan siniskan."
"Ba-bagaimana kau tahu lalu kenapa kau setuju, 50 power potion itu sungguh berlebihan."
"Tidak apa, itu sebagai tanda aku menghargaimu lagipula aku rasa itu kurang menurutku," ucap Theo sambil merangkul pundak Boby seperti sahabat membuat Boby terharu, untuk menutupi malunya dia buru-buru menyingkirkan tangan Theo.
"Lepaskan tanganmu nanti orang berpikir kita pasangan lagi."
"Oh sayang kamu pasti malu kan," kata Theo gemas.
__ADS_1
"Menjijikan aku ingin muntah sekarang."
Dan mereka tertawa terbahak-bahak membuat orang disekitar memperhatikannya.
"Lalu untuk apa kau beri dia tambahan 3 potion tiap bulan hanya untuk keamanan ini sungguh pemerasan," protes Boby.
"Tidak tidak itu juga masih kurang seharusnya aku memberikannya lebih."
"Kenapa?" Tanya Boby kebingungan.
"Kau tahukan siapa yang akan kita hadapi nanti."
"Siapa? Ayahmu."
"Benar dan kau tahu apa Guild ayahku."
Setelah mendengar penjelasan Theo Boby tidak dapat menahan tawanya hingga harus memegangi perutnya.
"Ka-kau benar licik si Waller akan bekerja keras dan jujur saja aku merasa kasihan padanya sekarang," kata Boby dengan sedikit iba.
Musuh utama Theo adalah ayahnya dan begitu tahu Theo sudah berada di Land of Valiant ayahnya akan terus memburunya sampai dia hancur dan Guild Havoc akan menjadi seperti Bodyguard pribadinya.
Membayangkan itu Boby tidak henti-hentinya tertawa.
"Sudah diam lihat mereka semua memperhatikan kita," kata Theo dengan sedikit kesal.
"Haha maaf lalu apa rencana kita berikutnya," tanya Boby.
Setelah mengirimkan pesan. Mereka berdua menuju restoran tersebut yang tidak jauh dari tempat mereka terlihat lambang pisau dan garpu yang menandakan sebagai tempat makan.
Theo memesan sebuah tempat khusus yang cukup besar karena yang diundangnya ada banyak dan mereka berdua menunggu sambil bercanda.
********
30 menit kemudian para player yang diundang Theo mulai berdatangan satu persatu.
"Yo Theo," sapa Scand sambil mencari tempat duduk.
Disusul party Lynna, Gain, Raissa dan Echo.
"Arya," sapa Lynna dengan senyum manisnya yang dijawab Theo dengan senyuman bodoh.
"Hey Var," sapa Boby tiba-tiba membuat Lynna terkejut karena dia merasa tidak kenal dengan Knight raksasa ini dan hanya memiringkan kepalanya.
"Aku Boby," katanya sambil menunjuk muka sendiri.
"Oh Boby maaf aku tidak mengenalimu karena wajah dan penampilanmu berbeda."
"Oh tentu saja aku terlihat lebih keren dan gagah kan."
__ADS_1
"Pfffttt."
Arya dan Lynna menahan tawa mendengar perkataan Boby yang kebingungan apa yang salah dengan ucapannya.
"Selamat siang tuan Theo," kata Gain dengan sikap berdiri sempurna.
"Hei Gain terima kasih atas hadiahmu saat terakhir kali," ucap Theo dengan tulus.
"Tidak masalah tuan jika itu membuat anda lebih kuat saya dengan senang hati memberikannya pada anda."
"Ada apa dengan pria ini," bisik Boby di telinga Theo.
"Dia penggemarku," jawab Theo dengan lirih.
"Apa!" Teriak Boby dengan berdiri membuat kaget semua orang dan Theo menariknya agar duduk kembali.
"Mana mungkin orang gila macam kamu memiliki penggemar," katanya dengan suara lirih yang lebih mirip bisikan.
"Diam bodoh."
Setelah saling menyapa party Lynna segera menempati tempat duduk dan hanya Lynna yang duduk di sebelah Theo.
"Kenapa kau duduk sana," protes Raissa.
"Karena tempat duduknya kosong tentu saja kita boleh duduk dimana saja benarkan Theo," kata Lynna dengan senyum manis tapi entah kenapa terlihat menakutkan.
"Y-ya tentu saja," kata Theo dengan sedikit merinding.
"Sudahlah ayo duduk," kata Echo sambil menyeret Raissa yang masih hendak protes.
'Menakutkan,' batin para laki-laki serentak.
Berikutnya seorang Player pria disusul dengan dua wanita, satu pendekar pedang dan lainnya seorang Mage.
"Theo aku senang sekali kau mengundangku," kata Rannard dengan ramah.
"Aku juga senang kau datang."
Isana hanya menganggukan kepala yang dibalas dengan senyuman sementara Catrain bahkan tidak menyapa dan langsung mencari tempat duduk.
"Wow ada apa dengan perkumpulan ini kenapa banyak cewek cantik dan seksi."
Theo baru menyadari jika Scand memiliki sifat mesum.
"Theo apa kau hendak mengumpulkan para gadis cantik," tambahnya.
"Apa! Aku...tidak..." kata Theo kebingungan.
"Wah tidak kusangka...."
__ADS_1
DIAM
bentak para gadis bersamaan membuat Scand membeku dan tidak berkata lagi.