Aku Seorang Summoner

Aku Seorang Summoner
Melawan Leonard


__ADS_3

Mendengar ucapan Theo mereka semua tidak habis pikir bagaimana cara menyelesaikan misi ini tetapi karena yang berkata Theo mereka mempertimbangkan kembali.


"Bagaimana caramu membasmi mereka," tanya Boby yang masih meragukan perkataan Theo.


"Kita akan langsung menyerang pusat kendalinya."


Mendengar jawaban Theo mereka semua menjadi kesal karena itu tidak semudah yang dibicarakan.


"Theo itulah masalahnya bagaimana kita bisa memasuki pusat pertarungan melewati ribuan Orc itu," tutur Lynna.


"Aku ada ide tapi sebelumnya kita memerlukan bantuan sebanyak mungkin terutama untuk sekarang, kita butuh bantuan dari Ksatria Leonard dan prajuritnya."


"Mereka segera pergi."


"Maka kita harus bergegas."


Segera semua party Theo menuju pintu masuk desa untuk menghhalangi mereka semua pergi.


Setelah beberapa saat terlihat Leonard dan para prajuritnya serta penduduk desa berbondong-bondong siap meninggalkan desa mati ini.


"Berhenti!" Seru Leonard memberi aba-aba dengan tangan terangkat.


Para prajurit dan penduduk desa seraya berhenti mengikuti perintah Leonard.


"Apa yang kalian lakukan minggirlah dari jalan!" perintahnya.


Tetapi Theo dan yang lain bergeming dari jalan dan malah mendekapkan kedua tangannya.


Melihat kata-katanya dihiraukan, Leonard menghunuskan pedangnya hendak mengusir party Theo.


"Jangan salahkan aku jika kalian terluka!" Ancam Leonard diikuti para prajuritnya.


Tetapi Theo dan yang lain tidak bergerak.


"Seandainya keberanian kalian digunakan untuk menghadapi para Orc," ejek Dana.


"Diam!"


Melihat Leonard dan kawanannya mulai terprovokosi, Theo berusaha menenangkan situasi.


"Tenanglah dulu, bagaimana jika kita bicara baik-baik."


"Apa yang perlu dibicarakan."


Theo mulai berbicara untuk mempengaruhi Leonard serta warga desa.


"Jika bersatu kita dapat membasmi para Orc itu."


"Jika hanya bicara itu mudah," teriak salah satu prajurit yang disambung dengan yang lain.


"Setidaknya dengarkan ideku dulu baru kalian bisa memutuskan untuk ikut atau tidak lagipula jika kalian meninggalkan desa ini kalian akan menjadi desertir (tentara yang melarikan diri dari tugasnya)."


Mendengar kata desertir membuat Leonard dan prajurit lain menjadi sedikit bimbang tetapi Mereka lebih takut mati konyol.


"Sudah cukup bicaranya jika kalian berpikir bisa membasmi Orc kalahkan kami dulu baru aku percaya," kata Leonard dengan seringai licik.

__ADS_1


Leonard berpikir jumlah mereka hanya sepuluh sementara dia dan pasukannya ada lima puluh lebih pasti akan menang mudah.


"Serbu!"


Dengan satu kata dari Leonard para prajurit mulai menyerang Theo dengan tombak dan pedangnya.


Theo mengamati tidak ada satupun Mage atau penyerang jarak jauh, mereka murni hanya terdiri dari prajurit bertombak dan berpedang.


"Jangan bunuh mereka cukup lukai sampai mereka tidak bisa bertarung."


"Siap ketua," jawab mereka semua.


"Termasuk kau Dana," tegas Theo karena tahu Assassin itu akan berbuat seenaknya.


"Iya-iya aku tahu huh..." gerutu Dana.


Saat tombak dan pedang prajurit hanya berjarak 10 meter, Theo mulai mengeluarkan skill pelindungnya.


"Air Curtain"


Sebuah tirai kasat mata melindungi Theo dan kelompoknya dari tajamnya tombak dan pedang prajurit.


"Isana selesaikan semua sendiri," perintah Theo dan Isana menjawabnya dengan anggukan.


Isana mulai melafalkan mantra, balok kayu mulai bermunculan dari tanah tempat prajurit berpijak.


KHUAGHH


teriakan kesakitan para prajurit mulai terdengar dimana-mana, Leonard yang menyaksikan itu kebingungan sejenak tetapi melihat kesempatan saat pelindung milik Theo mulai memudar.


"Bangun dan serang kembali mereka," perintah Leonard dan para prajurit menjadi lebih beringas.


Tetapi Isana tidak begitu saja menyerah malahan dia berdiri paling depan.


"Incar Mage itu!" seru Leonard sambil menunjuk Isana dengan pedangnya.


Bukan Isana sang penyihir hijau jika begini saja sudah menyerah.


"Root Wall"


Sebuah akar tanaman lebat tumbuh dengan sangat cepat dari tanah didepan Isana membentuk dinding pertahanan sayang sekali pasukan Leonard tidak memiliki penyihir api.


Mereka mencoba menusuk-nusukan tombaknya dan menebaskan pedangnya tetapi tetap tidak dapat menembus dinding akar tersebut.


Berikutnya mereka menjadi bulan-bulanan Isana dengan munculnya batang kayu dari tanah yang menerbangkan mereka dan jatuh dengan keras.


BUKK BUKK BAKK AAGHHH


Meskipun tidak mati tetapi rata-rata tulang mereka patah dan tidak dapat berdiri kembali.


Leonard yang menyaksikan pemandangan mengerikan mulai menggeratakan giginya tetapi dia tidak dapat menyerah begitu saja karena akan menjatuhkan harga dirinya dan memutuskan maju menyerang meskipun tahu akan kalah.


WHUSSSHHH


bagaikan angin sebuah bayangan muncul dari belakang Leonard dan menodongkan pisau ke lehernya.

__ADS_1


"Buang senjatamu pengecut jika tidak kepalamu akan menggelinding ke tanah," ancam Dana dengan suara dingin yang berhasil menyciutkan nyali Leonard dan memutuskan menjatuhkan pedangnya ke tanah.


Theo berjalan mendekati Leonard dengan langkah pelan.


"Bisa kita bicara kembali tuan ksatria," katanya dengan senyum tipis tetapi Leonard melihatnya seperti iblis, jika tidak menurutinya akan menyeretnya ke neraka.


"Ba-baiklah," katanya dengan putus asa.


********


Theo berdiri dihadapan Leonard yang duduk bersila dengan para prajurit dibelakangnya.


"Apa yang kau inginkan..."


Melihat Theo menatap tajam kearahnya Leonard mengubah cara bicaranya.


"Maksud saya apa yang anda inginkan padahal kelompok anda sendiri memiliki kekuatan sebesar ini yang bisa menghancurkan pasukan saya seorang diri." Kata Leonard yang memandang sekitar dengan prajurit yang masih mengerang kesakitan.


"Tentu saja aku masih membutuhkan bantuanmu, Mageku tidak akan bisa terus terusan bertarung karena ketika mananya habis menghadapi satu prajuritmu saja tidak mampu."


"Lalu apa yang anda butuhkan? Kami bahkan tidak akan mampu melawan gempuran para Orc."


"Kalian tidak perlu melawan cukup bertahan saja, jika kalian merasa tidak mampu nantinya, kalian boleh mundur."


Mendengar ide itu Leonard mulai penasaran dan sedikit tertarik.


"A-apa anda yakin kami boleh mundur saat situasi genting," tanya Leonard memastikan.


"Ya tentu saja, kau sendiri yang menilai situasinya kapan harus mundur dan lagipula ketika misi ini berhasil kau akan kembali menjadi Ksatria dengan kedudukan tinggi."


Leonard mendengarkan usul Theo dengan baik-baik dan tampaknya tidak ada ruginya baginya mengikutinya.


"Baik tuan aku setuju kami akan bergabung denganmu tetapi ada sedikit masalah."


"Apa itu."


"Banyak prajuritku yang terluka dan memerlukan perawatan sehingga kekuatan kami sedikit terbatas," sesal Leonard dengan melirik sedikit ke arah Isana dan segera mengalihkan pandangan ke tempat lain ketika Isana menatapnya balik.


"Tidak masalah," kata Theo dengan percaya diri.


"Summon"


Theo mengeluarkan Silphie yang terbang mengelilinginya.


Mereka dibantu Raissa mulai menyembuhkan para prajurit yang terluka satu persatu hingga hari menjadi petang.


Sisa dua hari, Theo memutuskan untuk menyerang para Orc keesokan harinya karena para Orc akan semakin kuat jika malam hari.


Keesokan harinya saat Theo sudah bersiap dengan timnya, Leonard dan semua prajuritnya sudah berbaris didepan penginapan tempat Theo menginap.


"Apa kalian siap!" tanya Theo.


"Siap tuan," jawab mereka serentak.


Theo sudah seperti komandan tentara yang memimpim pasukan dua peleton setelah menjelaskan rencananya kepada Leonard mereka sudah bersiap.

__ADS_1


"Baiklah ayo kita berangkat!"


"Siap tuan."


__ADS_2