Aku Seorang Summoner

Aku Seorang Summoner
Summoner Lainnya


__ADS_3

Begitu pertandingan dimulai Wiscard mengeluarkan pedang dari sarung di samping pinggang sebelah kiri.


Pedang itu mengeluarkan petir berwarna kuning yang menyelimuti bilah pedangnya.


Semua penonton terkejut dengan pedang yang dipegangnya.


"Itu pedang langka Ghid."


"Gila bagaimana mungkin bocah itu bisa memiliki pedang tingkat Epic."


Kembali ke Arena Wiscard tidak langsung menyerang tetapi memilih memamerkan pedangnya.


"Berapa lama kau akan bertahan dengan pedang milikku ini."


"Mungkin selamanya."


Wiscard yang sudah berang memutuskan menyerang Anakin.


"Summon"


Sebuah naga kecil muncul di arena lebih tepatnya Drake yang muncul langsung mengaum mengintimidasi.


Penonton menjadi riuh melihat monster yang di summon oleh Anakin.


"Summoner ini tidak kalah gila dengan yang pertama."


"Seekor Drake, bagaimana seorang Swordsman sendirian melawan Drake yang seperti bos Dungeon."


"Tapi bagaimana dia bisa mempunyai seekor Drake."


"Entahlah jangan tanya aku."


Di arena pun tidak kalah menyesakkan, Wiscard yang awal mulanya sangat percaya diri sekarang menciut.


"K-kau monstermu seekor Drake."


"Iya kenapa, kalahkan dia dengan pedang hebatmu itu," ejek Anakin.


"Sial!"


Wiscard menyerang dengan skillnya.


"Slash"


"Thousand Slash"


Semua skill tebasannya tidak dapat menembus kulit Drake bahkan efek petirnya juga tidak terasa.


"Hanya itukah kemampuanmu," pancing Anakin.


"Lihat saja."


Ghid pedang milik Wiscard yang semula diselimuti petir kuning sekarang menjadi merah gelap.


"Armor Break."


Tebasan vertikal dengan kuat dilakukan Wiscard untuk menembus kulit Drake tetapi itu hanya sia-sia Kulit Drake lebih keras berkali kali lipat dari Stone Golem.


"T-tidak mungkin."


Wiscard melangkah mundur beberapa kali sepertinya berniat mengeluarkan serangan terkuatnya.


Wiscard mengambil ancang-ancang seperti hendak membelah kayu.


Jika musuh yang lain dalam gerakan ini akan gampang diserang tetapi Anakin hanya membiarkannya.


"Tsunami"


Tebasan besar seperti ombak raksasa menghancurkan lantai yang dilewatinya menabrak Drake secara tegak lurus.


Serangan tersebut berhasil menembus sedikit kulit Drake tapi tidak sampai meneteskan darah.


"Jika itu serangan terkuatmu maka menyerahlah," kata Anakin kepada Wiscard yang tubuhnya gemetar.


Wajah Wiscard mulai pucat tidak tahu apa yang harus dilakukan.

__ADS_1


"Drake!"


Dengan satu kata dari Anakin Drake menyerang Wiscard.


'Masih ada kesempatan, kenapa aku harus susah-susah mengalahkannya cukup mengalahkan tuannya maka pertandingan selesai,' pikir Wiscard.


Saat Drake hendak mengoyak tubuh Wiscard dengan cakarnya, Wiscard menggunakan teknik langkahnya dengan lihai.


"Light Step"


"Agile Feet"


"Agile Boost"


Dengan sangat cepat Wiscard menuju Anakin yang tidak memiliki pertahanan sama sekali.


Saat akan sampai Ekor Drake mengibas Wiscard tetapi bukan unggulan juara namanya jika tidak memiliki ide lain.


"Blink Step"


Wiscard menghilang dan ekor Drake hanya menyapu udara.


Jarak Anakin dan Wiscard hanya satu meter dengan sekali tebas anakin akan tewas.


"Apa!" Kata Anakin kaget.


"Mati kau!" teriak Wiscard dengan tebasan.


Penonton yang melihatnya semakin ricuh.


"Memang cocok jadi juara dia bisa menggunakan otaknya."


Tetapi tidak sesuai harapan Wiscard pedang itu membentur dinding tak kasat mata.


DAANG


"Maaf becanda kau tidak bisa mengalahkanku sebelum membunuhnya," kata Anakin sambil menunjuk Drakenya yang mengeluarkan dengusan.


"S-sial tidak mungkin."


Drake segera menerjangnya,dengan sekali sapuan Wiscard terlempar dan menjatuhkan pedangnya.


[Perhatian player Wiscard sedang sekarat]


"Pedang yang bagus," kata Anakin memuji dengan senyum lebar.


"H-hentikan kumohon."


Drake berdiri di depan Ghid pedang milik Wiscard.


"A-ku menyerah... tolong."


Tapi terlambat Drake sudah menginjak pedangnya sampai patah.


"TIDAKKK!....KUBUNUH KAU."


tetapi ancaman Wiscard tidak berarti apa-apa dan hanya menjadi ancaman semu, bersama teriakannya dia mati terinjak Drake.


"Pemenangnya adalah Anakin."


Sesaat suasana menjadi sunyi berikutnya gemuruh datang dari penonton.


"Gila ternyata ada Summoner satu lagi lebih gila dari yang tadi."


"Dia mengalahkan unggulan pertama."


"Berarti dia sekarang favorit juara."


"Apa aku ubah saja jobku menjadi Summoner."


"Sudah kubilang tidak semudah itu menjadi Summoner butuh skill yang kuat."


Anakin keluar arena dengan melambaikan tangan.


Saat di ruang ganti suasana menjadi berbeda, para peserta yang awalnya meremehkan Anakin sekarang mulai mewaspadainya.

__ADS_1


"Gila bagaimana cara mengalahkan Drakenya."


"Siapa yang punya pedang pembunuh naga di level kita."


Sudah banyak diketahui pedang sekelas Balmung dan Gram memiliki keefisienan dalam membunuh naga, memiliki buff untuk menyerang monster tipe naga, juga ada Title yang bernama Dragon Slayer yang dimiliki salah satu Ranker yang dapat menambah damage sekitar 20% saat melawan monster tipe naga, selain Title itu belum ada yang mengetahui lagi untuk melawan naga.


"Kau keren sekali," puji Theo.


"Kau menakutkan kawan," tambah Scand.


"Serius jika aku berhadapan denganmu aku lebih memilih menyerah," kata Scand serius.


"Kalau kau bagaimana Theo," tanya Anakin.


"Hmmm...aku akan melawanmu dengan semua yang aku punya," kata Theo.


"Serius Theo," ujar Scand tidak percaya.


"Pasti akan seru sekali saat melawanmu," ucap Anakin.


Pertandingan dilanjutkan lagi tetapi setelah pertarungan Anakin semua pertarungan terasa membosankan hingga pertandingan putaran kedua dimulai kembali.


Pertandingan putaran kedua dimulai antara Ranard melawan Theo.


Saat pembawa acara menyebut nama Theo dan Ranard situasi menjadi hidup kembali.


"Giliran Theo dimulai lagi pasti seru."


"Siapa yang akan menang ya antara Mereka berdua."


"Theo dengan Summoner berpedangnya melawan Ranard dengan kemampuan berpedang dan magicnya."


"Mungkin kali ini Theo tidak memiliki kesempatan."


Kedua peserta naik ke arena dan saling berhadapan.


"Mari berikan yang terbaik Theo" kata Ranard ramah.


"Tentu saja."


Bel tanda pertandingan dimulai dibunyikan.


"Spell Scave"


Begitu mendengar aba-aba pertandingan, Theo segera mengaktifkan skill dan mengambil pedangnya bertepatan dengan menahan serangan dari Ranard.


Antar pedang berbenturan, Theo hanya mengambil posisi bertahan dan Ranard terus menyerang Theo dengan ganas.


Begitu tidak membuahkan hasil Ranard mundur mengambil ancang ancang hendak menusuk.


"Bull Thrust"


Dengan kecepatan tinggi Ranard menerjang Theo dengan ujung pedangnya dan Theo berusaha menahan dengan pedangnya tetapi dia menyadari tindakannya adalah kebodohan, selain kecepatan serangan, Ranard juga memiliki kekuatan membuat Theo terdorong mundur dan melukainya.


GHUAGHH


Theo memuntahkan darah, memang game yang sangat realitis dan para penonton bersorak semakin riuh.


"Blink Step"


Sadar akan kesalahannya dengan cepat Theo berpindah karena jika tidak pilihannya mati terkena tusukan atau terdorong keluar arena oleh Ranard.


"Sudah kuduga kau akan berpindah," kata Ranard mengantisipasi perpindahan Theo dan dia mengulurkan tangan kirinya kearah Theo.


"Wind Cutter"


Sebuah pisau tajam terbuat dari angin hendak mengoyak tubuh Theo.


"Agile Boost"


Sebuah skill yang didapatnya dari mengembangkan skill Agile Feet salah satu goblinnya.


Gerakan Theo menjadi cepat dan menghindari semua pisau anginnya bahkan hendak menyerang balik Ranard.


Theo mengincar leher Ranard tetapi masih dapat ditahan,berikutnya Theo menebas dengan membabi buta menargetkan bagian-bagian vital dari tubuh Ranard, meskipun dengan kesusahan Ranard masih bisa bertahan dengan kecakapannya menggunakan pedang.

__ADS_1


Setelah satu menit gerakan Theo kembali seperti semula sehingga dia memilih mundur untuk mengatur strategi berikutnya.


__ADS_2