
"Selamat telah lolos kau hebat," ucap Gilang sambil mengulurkan jabat tangan.
"Aku tahu," kata Jaka menggigit bibirnya dan menepis uluran tangan Gilang.
Sepertinya Jaka kecewa karena tidak bisa mengalahkannya padahal sudah omong besar.
Jaka keluar dari kapsul dan berjalan dengan tertunduk malu tidak berani menatap orang lain ataupun mengeluarkan kata-kata.
"Lihatlah player dengan job Rare juga tidak bisa mengalahkannya."
"Ternyata hanya omong besar saja."
"Huuu...."
Tampaknya Jaka sudah tidak tahan lagi dengan hinaan mereka dan mulai meraung.
"Diam kalian, coba saja mengalahkan dia jika bisa dengan kemampuan sampah yang kalian miliki," ujarnya dengan penuh amarah.
Arya berpikir job Holybladenya sebenarnya sangat berguna tetapi bukan lawan yang tepat untuk menghadapi player tipe kecepatan.
"Dasar bodoh," ucap Arya lirih dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Baik peserta berikutnya silahkan maju," seru salah satu dari anggota gilang.
Kali ini giliran Varia yang tampil seketika suasana menjadi riuh karena dia sudah terkenal bahkan disekolahnya, sekedar info Varia sering menjadi model Iklan dengan penampilan cosplay karakternya.
"Akhirnya sang dewi telah muncul."
"Aku yakin dia pasti lolos."
"Hei belum tentu mereka berdua sama-sama memiliki kecepatan."
Arya juga penasaran bagaimana pertarungan akan terjadi jika sama-sama menggunakan kecepatan siapa yang akan menang.
[Player Lynna memasuki arena]
Begitu karakter Varia muncul terdengar keriuhan sekali lagi bahkan ada yang bersiul.
Gilang dan Varia sama-sama mengambil posisi bertarung.
Pertarungan antar Swordsman dengan cabang yang mengambil kecepatan akan terjadi antara Myrmidon melawan Fencer.
Arya sudah mengamati, keduanya sama-sama memiliki kelebihan dan kekuatan.
Kelebihan Myrmidon adalah pada kecepatan, kegesitan dan serangannya yang tajam karena menggunakan katana pedang tipis dari jepang tetapi memiliki darah yang tipis beberapa serangan sudah cukup membunuhnya.
Sementara Fencer memiliki kelebihan dan kekurangan yang sama mengandalkan kecepatan dan kegesitan tetapi serangannya fokus pada tusukan.
Tinggal melihat siapa yang lebih cepat daalam pertarungan.
[Pertarungan dimulai]
Begitu suara pertandingan dimulai keduanya bergerak maju saling menyongsong.
Gilang menebaskan pedangnya tetapi Lynna bergerak dengan cepat seolah terlihat dirinya menjadi dua atau tiga dan membalasnya dengan tusukan-tusukan.
Pertarungan seru terjadi, sejenak berada disini berikutnya disana membuat mata yang penonton kelelahan karena mengikuti kecepatan berpindah mereka.
"H-hei bodoh," kata Boby pada Arya.
"Diamlah jangan mengangguku aku sedang fokus," ujar Arya kesal.
"Apa Lynna memang secepat ini saat pertarungan dengan para Orc."
__ADS_1
"Tidak...dia tidak bisa dibandingkan dengan kecepatannya yang sekarang."
"Tapi bagaimana mungkin dia menjadi secepat ini dalam sekejab."
"Aku tidak tahu dan diamlah kau lihat saja pertarungan ini," sergah Arya.
"Ckkk."
Boby kesal tetapi tidak berbicara lagi dan kembali melihat layar pertandingan.
Pertarungan seru terjadi membuat yang menonton hanya membelalakan matanya tetapi mulai kelihatan siapa yang lebih unggul soal kecepatan.
Gilang mulai terpojok dan melancarkan skill miliknya.
"Flashing Strike."
pedangnya bercahaya dan menebaskan dengan serangan cepat dan tajam serta menghasilkan damage tinggi dan hanya terlihat kilatan-kilatan tajam.
Sayangnya Lawannya adalah Lynna player tercepat yang pernah Arya temui yang bahkan lebih cepat dari Carpara dapat menangkis semua serangan dengan elegan.
Tetapi gilang tidak putus asa dan menyambungkan dengan skill lainnya.
"Fatal Finesse."
Sebuah serangan dengan memfokuskan pada titik-titik lemah musuh, meningkatkan critical hit dan menghasilkan damage ekstra.
Tetap saja dengan kecepatan Lynna seperti Iblis dengan mudah dia menghindarinya.
"Kugh..."
Gilang hanya mengerang melihat semua serangannya dapat dipatahkan.
Arya pun tidak menyangka bagaimana caranya dia melakukan kecepatan dan akselerasi seperti itu bahkan Arya saja tidak yakin dapat menghindari serangan gilang tanpa menggunakan skill tapi Lynna hanya dengan gerakan biasa dapat mengatasi semua itu.
"Sekarang giliranku," balas Lynna membuat Gilang semakin waspada.
Tetapi itu tidak masalah dengan jumlah serangan yang banyak dan akumulasi darah Gilang berkurang dengan cepat hingga akhirnya Gilang hanya terdiam tak bergerak.
Seisi ruangan kebingungan dan penuh pertanyaan apa yang terjadi dengan Myrmidon itu.
"Kenapa Gilang hanya diam saja."
"Apa alatnya rusak."
Arya memperhatikan dengam saksama pada tubuh Gilang dan melihat kilatan petir di tubuhnya.
"Lightning Touch"
Ternyata Lynna menggunakan skillnya di pedang Epee ( jenis pedang yang digunakan dalam olahraga anggar) diselimuti dengan petir setiap serangan yang mengenainya akan meningkatkan waktu Paralysis pada target dan Gilang terkena serangan beruntun membuatnya kaku seperti patung.
Lynna memberikan serangan penghabisan dengan skill serangan terkuatnya.
"Lighning Blow"
Sebuah tusukan dengan elemen petir membuat tubuh gilang berlubang dan mati dalam sekejab.
[Player Smile telah mati pertandingan dimenangkan player Lynna]
Sejenak terjadi kesunyian dalam gedung berikutnya suara riuh mulai bergemuruh tanpah henti.
"Pertarungan yang sangat gila."
"Kecepatan macam itu."
__ADS_1
"Oh mataku sakit melihat terangnya cahaya dewi Varia."
"Jadikan aku pacarmu nona Varia."
Varia keluar dari kapsul dengan disambut puluhan lelaki yang mirip serigala yang diacuhkan semuanya dan dia berjalan mendatangi Jaka sambil tersenyum.
Jaka yang melihat Varia mendatanginya wajahnya sedikit merona merah hingga tiba didepannya dan mengucapkan sepatah kata.
"Itulah yang disebut dengan mengalahkan," kata Varia dengan tersenyum manis dan berikutnya dia berlalu pergi menuju Arya.
Perasaan Jaka bercampur aduk mendengar itu antara marah dan malu bahkan ada yang menertawakannya meskipun tidak secara terang-terangan.
"Gara-gara bajingan miskin itu," umpatnya dengan lirih.
PLAKKK
Arya dan Varia melakukan toss dan disambut dengan tatapan iri orang-orang yang melihatnya.
"Sialan bidadariku sudah jadi milik orang lain."
"Bajingan aku iri."
"Semoga dia mati hik hik."
Dan begitulah Gumaman seluruh ruangan.
"Kau hebat sekali sampai mataku tidak bisa mengikuti gerakanmu," puji Arya.
"Hentikan kau hanya membuatku malu jika dibandingkan dengan kemampuanmu," tolak Varia.
"Tapi serius bagaimana kau meningkatkan kecepatanmu ceritakan rahasiamu."
"Nanti akan kuceritakan," kata Varia dengan mengedipkan mata.
"Janji."
"Iya janji."
"Ehm...ehm..."
Mereka berdua melihat kearah suara dehaman Boby.
"Teruskan saja aku disini hanya patung dan tidak terlihat."
"Wow kau menjadi Assassin sekarang," sindir Arya.
"Assassin kepalamu."
Mereka bertiga tertawa dengan gurauan mereka dan dihentikan dengan suara mikrophone.
[Silahkan petarung selanjutnya]
"Arya sekarang giliranmu," ucap Varia.
"Tunjukan kehebatanmu bung," kata Boby sambil menepuk pundak Arya.
Arya berjalan santai menuju kapsul dan dari jauh terdengar teriakan Jaka.
"Job busuk mau bertarung satu lawan satu," ledek Jaka dengan suara yang dikeraskan.
"Summoner bisa apa," sahut teman-temannya yang lain.
"Huuuu....."
__ADS_1
"Pertarungan ini tidak menarik segera selesaikan dengan cepat."
Teriakan kebencian dan caci maki menghujani Arya tetapi Arya sama sekali tidak terganggu bahkan seolah tidak mendengar apapun.