
Dari penyimpanannya tiba-tiba Goddux keluar dengan sendirinya.
Theo masih tidak terbiasa dengan summon yang keluar masuk dengan sendirinya.
"Selamat tuan telah menyelesaikan misi tetapi perjalanan masih panjang untuk dapat menyelesaikannya."
"Aku tahu itu, beritahu aku jika kau menemukan informasi keberadaan raja goblin berikutnya."
"Dilaksanakan tuan."
Dan berikutnya Goddux kembali ketempat penyimpanannya.
Theo mendesah melihat kelakuan Goddux.
"Goblin itu....sudahlah..."
Setelah mengambil semua rampasan perang Theo kembali ke desa Falldrift dan menemui Osmur untuk melaporkan Questnya.
Saat Theo tiba didepan rumah Osmur, terlihat kakek tua itu sedang duduk di kursi kayu di teras rumahnya dengan secangkir Teh di mejanya, Theo segera menghampirinya.
Theo menceritakan kisahnya secara singkat dan berikutnya Osmur memegang tangan Theo dan menempelkan kedahinya, Theo melihat tubuh kakek tua itu bergetar dan merasakan basah dipunggung tangannya.
"Terima kasih banyak tuan, sudah bertahun tahun kami mengalami kesulitan didesa ini dan sekarang anda telah menyelamatkan kami," katanya dengan terbata-bata.
"Mulai sekarang tidak akan ada goblin yang menyerang desa anda," ucap Theo berusaha meyakinkan.
"Dan bahkan para goblin..."
Sebelum Theo menyelesaikan kalimatnya dari pagar dinding bermunculan para goblin dari membawa senjata tajam sampai panah berikutnya goblin dengan menunggangi serigala dan yang paling akhir dua goblin kekar menggunakan armor.
Melihat itu wajah Osmur menjadi pucat pasi dan melepaskan pegangannya dari Theo, dia tidak pernah melihat goblin sebanyak ini bahkan ada serigala dan yang paling menakutkan goblin menggunakan baju besi.
Para warga desa yang melihat itu berusaha mengumpulkan keberanian dan mengambil senjata meskipun Theo memperhatikan kaki mereka gemetaran.
"Apa ini tuan bukannya anda bilang mereka tidak akan menyerang," Kata Osmur yang ketakutan dan juga marah pada Theo.
"Tenanglah," kata Theo sambil mengelus punggung Osmur.
"Mereka kesini untuk meminta maaf dan berjanji akan melindungi desa ini," kata Theo berusaha menjelaskan.
"Benarkah itu tuan?"
Osmur masih meragukan yang didengarnya bagaimana mungkin sejumlah besar goblin mau melindungi desa kecil dan bukan melakukan pembantaian.
"Bagaimana jika anda pergi dan mereka berkhianat."
"Jangan khawatir mereka tidak akan berkhianat mereka sudah bersumpah yang tidak akan dapat dilanggar, mereka akan melindungi desa ini dari ancaman luar."
Satu goblin Champion perwakilan maju tampaknya dia yang ditunjuk menjadi pemimpin menggantikan Grimgar.
Goblin Champion itu mendekat mengucapkan kata-kata yang tidak dimengerti, Osmur menoleh pada Theo tetapi dia hanya mengangkat bahu.
__ADS_1
Untungnya Goddux tiba-tiba keluar dan Theo sangat membutuhkannya kali ini.
Melihat Goddux yang muncul mendadak sudah tidak membuat kaget Osmur.
Goddux segera menjelaskan bahwa Goblin itu dan pasukannya menyesal telah berbuat jahat dan meminta maaf sebegai gantinya dia ingin memberikan Goblin Token kepada kakek itu.
"Token apa itu?" Tanya Theo keheranan.
"Token itu adalah bukti bahwa semua goblin dibawah naungan token itu akan mematuhi perintah pembawa token dan dia juga akan mengerti bahasa goblin."
"APA!!! TOKEN ITU...."
Theo sebenarnya sangat menginginkan token itu karena akan sangat berguna baginya tetapi tidak mungkin Theo akan merebut token itu dari Osmur.
Mendengar penjelasan Goddux Osmur segera membuktikan kebenarnanya dan benar saja sekarang dia dapat berkomunikasi dengan para goblin itu.
"Tuan Theo terima kasih telah melakukan semua kebaikan ini kepada desa kami sekarang kami dapat membangun desa ini menjadi lebih baik."
"Haha tentu saja tuan tidak masalah," kata Theo yang memaksakan senyumnya.
'Sial aku sangat menginginkan token itu,' katanya dalam hati sambil menangis.
Berikutnya sebuah pemberitahuan muncul berturut-turut.
[Berhasil menyelesaikan quest dari Osmur mendapatkan 5 emas]
Theo sudah menduga pemberitahuan itu tetapi pemberitahuan berikutnya tidak terduga.
[Affinitas dengan desa Falldrift 100%]
[Desa Falldrift akan berada dipihakmu apapun yang terjadi]
Mendengar pemberitahuan itu cukup mengobati kesedihan Theo setidaknya desa ini menjadi sekutunya dan akan membantunya apapun yang terjadi.
Setelah semua kejadian itu Theo berpamitan untuk pergi sayangnya didesa ini tidak ada Warp Gate sehingga Theo harus menempuh perjalanan jauh menuju kota Igana.
Kepergiannya diantar oleh seluruh warga desa dan para goblin, pemandangan yang aneh.
Setelah menempuh perjalanan jauh yang melelahkan akhirnya Theo tiba di kota Igana dan langsung logout.
***************
Dikelas saat jam Istirahat seperti biasa Arya hanya tidur-tiduran dikelas dan seperti biasa gadis cantik selalu datang dengan mengagetkan.
"Arya!" Teriaknya seperti biasa dari pintu kelas.
Dan seperti biasa juga Arya menunjukan wajah bodohnya saat melihat Varia datang.
"Ada apa Var?" Sahutnya seperti biasa.
Tetapi kali ini tidak seperti biasa, Varia membawa berita baru.
__ADS_1
"Arya apa kau tahu sekarang ada ekskul baru," sergahnya.
"Oh...aku kira ada apa ternyata cuma ekskul."
"Cih...dengarkan aku dulu, ekskulnya berbeda dengan yang lain, ekskul ini adalah ekskul game."
Mendengar kata game membuat Arya menjadi antusias.
"Apa maksudmu Var?" tanyanya mulai antusias.
"Hihihi...sekarang kau tertarik kan, jadi sekolah kita telah mendatangkan sepuluh kapsul dan diletakkan di gedung baru yang sudah direnovasi, menurut kepala sekolah, kita tidak boleh ketinggalan teknologi termasuk dalam game yang sudah menjadi kehidupan sehari-hari kita."
Varia bercerita panjang lebar yang hanya membuat Arya bingung dan tidak mengerti, yang dia pahami adalah sekarang ada ekskul game.
"Daripada panjang lebar bagaimana jika langsung kesana," kata Varia sambil menarik tangan Arya.
"Dasar pasangan serasi," kata salah satu teman kelasnya.
"Sial aku iri," sahut yang lain.
Mereka masih tidak percaya sampai sekarang bahwa Arya teman sekelasnya yang cupu bisa dekat dengan Varia bahkan lebih terlihat si wanita yang mengejarnya.
Dan datang lagi hal yang tidak biasa, sahabat Arya juga mendatangi kekelas dan kaget ketika melihat mereka berdua keluar bersama.
"Hey Arya apa kamu..."
"Sudah tahu," potong Arya datar.
"Ada..."
"Ekskul kan"
"Iya tapi Ekskulnya..."
"Game"
"....."
"Ada lagi yang ingin kau sampaikan."
"Tidak ada brengsek," jawab Boby kesal yang ingin sekali meninju muka Arya tetapi bukannya takut malah disambut dengan gelak tawa oleh Arya.
"Daripada bertengkar disini lebih baik kita kesana melihatnya langsung," saran Varia menengahi dan mereka berdua mengikutinya.
Dari jauh terlihat banyak murid berdesak-desakan ingin melihat apa yang terjadi didalam dan banyak pula yang ingin mendaftar.
Tampaknya untuk bergabung ada seleksi yang harus dilakukan dan terlihat anak kelas 3 berkacamata yang Arya tahu bernama Gilang seorang maniak game menjelaskan dengan pengeras suara untuk bergabung dengan ekskul akan dilakukan seleksi dengan cara bertarung satu lawan satu menghadapinya dan 4 anggotanya minimal dapat bertahan selama 10 menit.
Sepertinya Gilanglah yang mengajukan untuk pembuatan ekskul itu hingga disetujui dari sekolah dengan syarat sumbangan perbulan untuk pembangunan sekolah.
'Dasar sekolah kapitalis,' batin Arya.
__ADS_1