
"Selamat Theo atas kemenanganmu," kata Lynna dengan wajah cerah.
"Terima kasih Var."
"Benarkah apa yang kudengar itu," kata Anakin yang menghampiri Theo.
Theo hanya tersenyum dan menganggukan kepala.
"Gila padahal waktu itu aku ingin mencoba mengadu antara ular itu melawan Drakeku siapa yang lebih kuat."
"Kalian berdua cocok menjadi duo summoner gila," kata Scand.
"Hei Scand berikutnya giliranmu kan," ucap Anakin.
"Benar sekali jika aku menang berikutnya aku akan melawanmu," kata Scand sambil meninju perut Theo.
"Ya berusahalah jangan sampai kalah," kata Theo dengan mengibaskan tangan.
"Yaya tunggu aku kembali saksikan kemenanganku dari layar sana," kata Scand sambil menunjuk layar tempat peserta menonton pertandingan.
[Pertandingan selanjutanya antara pemanah Scand melawan Isana sang penyihir]
Kedua peserta memasuki arena dengan percaya diri dan saling berhadapan.
"Wow lihat ini ada penyihir cantik," goda Scand saat melihat Mage cantik dengan rambut hijau dan setelan gaun panjang juga dominan warna hijau.
"Bisa diam tidak."
"Bisa jika kau mau minum kopi bersamaku."
"Tidak tertarik."
[Pertandingan dimulai]
Begitu mendengar bel pertandingan dimulai ekspresi Scand berubah serius dan melompat ke belakang menjaga jarak.
Sepertinya akan menjadi pertarungan jarak jauh.
Scand menembakan beberapa panah untuk melihat bagaimana dia menghindar tetapi dengan kibasan tangan akar pepohonan tumbuh dengan cepat dan membentuk dinding menahan panah Scand.
Penonton bergemuruh melihat pertandingan mereka yang cukup menarik untuk disaksikan.
"Bagaimana dia melafalkan mantra dengan cepat?"
"Tahun ini banyak peserta diluar dugaan."
Kembali ke arena Scand mulai mengambil anak panah berikutnya.
"Kau sungguh tidak beruntung, panahku banyak mengandung api." ujar Scand
"Kita lihat apa kau masih cerewet nanti," ancam Isana.
"Fire Arrow"
Scand menembakan panah yang langsung membakar akar milik Isana tetapi Isana memunculkan akar berikutnya.
Scand tidak mau kalah dia terus menembakan panah apinya berkali-kali dan begitu juga sebaliknya tembok akar Isana selalu muncul menggantikan yang lama dan itu membuat Scand kesal.
"Blast Arrow"
Berikutnya Scand menembakan panah peledak tetapi efeknya sama saja ledakannya tidak dapat menjangkau Isana.
"Apa kau cuma akan bertahan bagaimana kau bisa menang," cibir Scand.
"Jika itu yang kau inginkan aku akan menyerang sekarang," balasnya.
"Wood Pillar"
__ADS_1
Sebuah batang kayu berujung runcing muncul dari tempat Scand berdiri dan dalam sepersekian detik Scand berhasil menghindar dengan skill Light Step.
Tetapi batang kayu lain muncul dari tempat Scand berdiri.
Meskipun berhasil menghindar tetapi batang kayu lain terus bermunculan seolah ingin melemparkan Scand ke udara.
Ketika kecepatan Scand menurun sebuah batang kayu mengenai Scand dan melemparnya ke udara membuat darahnya banyak berkurang.
KHUAGGHH
tetapi Scand sepertinya masih belum menyerah dan mengeluarkan Skillnya.
"Wind Step"
Sesaat akan terkena serangan Scand menggunakan langkah diudara sehingga tidak terkena secara telak dan mengambil ancang-ancang untuk menembak.
"Multi Shoot"
Scand menembakan panah diudara dari tembakanya berpencar menjadi lima yang mengincar tubuh Isana dari berbagai posisi.
"Kena kau!" hardik Scand.
Sebelum mengenai Isana akar pohon membentuk bulatan melindungi Isana dari semua tembakan.
"Maaf mengecewakanmu."
Semua serangan Scand bahkan tidak dapat membuat Isana berpindah dari tempatnya berdiri.
"Yang benar saja," keluh Scand.
Scand kehabisan ide untuk menyerangnya dan tidak mungkin dia menggunakan Brahm Cannon serangan terkuatnya yang memerlukan casting satu menit, bisa menjadi bubur dia dihajar dengan batang pohon, satu satunya cara yang tersisa adalah menyerang dia secara langsung.
Begitu hampir menyentuh tanah Scand berguling menghindari batang pohon yang menerjangnya dari bawah dan berlari menuju Isana sambil menghindari batang pohon dan akar.
Saat berjarak satu meter Scand hendak menancapkan Blast Arrow miliknya yang akan meledak jika menabrak benda lain.
"Kali ini kau tidak bisa menghindar," seringai Scand.
tetapi semua itu hanya jebakan Isana sebuah sulur menangkap tangan dan kaki Scand dan berikutnya akar pohon mengikat semua tubuhnya bahkan mulutnya membuat Scand tidak bisa bergerak ataupun berbicara.
"Kena tipu kau....bagaimana aktingku...coba bicara lagi ups kau kan tidak bisa bicara," ejek Isana sambil salah satu akar mengambil panah milik Scand.
"Apa kau menyerah," tanya Isana dengan mencibir.
"Uphh umm uhgh"
"Maaf aku tidak bisa dengar."
Akar Isana menancapkan panah Scand ke kepalanya dan meledak membuat Scand gugur dalam pertandingan.
[Pemenangnya Isana]
Dan disambut dengan sorakan penonton yang meriah.
"Uhh wanita itu kejam sekali."
"Pemanah itu dihancurkan bahkan tanpa membuatnya berkeringat."
Scand yang sudah disembuhkan menghampiri Isana.
"Dasar wanita Iblis."
"Bagaimana masih ingin mengajakku minum kopi...mungkin akan kutambahkan sedikit racun untukmu."
Mendengarnya membuat Scand bergidik dan menjauh pergi.
Sementara Theo, Anakin dan Lynna tertawa terbahak-bahak melihat Scand dipecundangi.
__ADS_1
"Semoga dengan kekalahannya membuat dia menjadi agak pendiam," kata Theo penuh harap.
"Aku meragukan itu," sahut Anakin dan mereka berdua tertawa sementara Lynna hanya tersenyum tanpa sadar seorang penyihir berambut hijau dibelakang mereka.
"Sepertinya kau masih bisa tertawa setelah melihat pertarunganku tuan Summoner."
Theo menoleh terlihat Isana sedang menatap dengan senyum tajam kearahnya dan Theo merasa tidak enak.
"Tidak...maafkan aku itu karena temanku..."
"Semoga kemampuanmu tidak selemah temanmu tadi."
"Tentu saja...."
"Oh...sungguh menyenangkan melihatmu percaya diri semoga kau tidak mengecewakan seperti temanmu."
Setelah itu Isana pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Fiuuuhh wanita yang menakutkan," kata Anakin.
"Meskipun cantik," tambah Theo.
"Aku setuju."
"Apa!" kata Lynna dengan nada seram
Mereka tidak menyadari masih ada Lynna disampingnya.
"Sepertinya sekarang giliranku aku pergi dulu,"
Theo dan Anakin diselamatkan dari bel pertandingan.
OUCCHH
Lynna pergi dengan menginjak kaki Theo.
Pertarungan Lynna berakhir cepat dengan kemenangan gemilang, mereka bertiga memutuskan pergi sampai saatnya pertandingan Anakin.
Pertandingan putaran kedua yang terakhir antara Anakin menghadapi seorang ninja dapat dimenangkan dengan mudah oleh Anakin ketika lawannya menggunakan teknik bayangan menjadi banyak, Drake Anakin menggunakan Fire Breath dan membakar semua bayangan beserta yang asli membuat Anakin menjadi pemenangnya dalam sekejap.
Pertandingan sudah memasuki perempat final yang menyisakan delapan peserta, pertarungan pertama adalah giliran Theo menunggu panggilan.
"Pertandingan pertama perempat final akan segera dimulai antara Theo sang Summoner melawan Isana seorang Mage."
Kedua peserta memasuki Arena dan saling berhadapan para penonton penasaran pertarungan Theo berikutnya.
"Bagaimana pertarungan Theo berikutnya aku penasaran."
"Mungkin keberuntungannya akan habis sekarang kau lihat lawannya bahkan dalam pertarungan sebelumnya tidak bergerak seincipun."
"Belum tentu, mungkin Theo masih memiliki senjata rahasia lain."
"Memang senjata apa yang dapat mengalahkan wanita itu dari segi pertahanan dan serangan sangat sempurna."
Berbagai macam asumsi dikeluarkan penonton terhadap pertarungan Theo tidak terkecuali di dalam arena sendiri.
"Tunjukan kehebatanmu tuan summoner," kata Isana angkuh.
"Tentu saja," ucap Theo dengan senyum tipis.
[Pertandingan dimulai]
"Spell Scave"
Theo mengeluarkan pedangnya seperti biasa memasang kuda-kuda
Dan seperti biasa pula Isana hanya berdiam diri bahkan kali ini mendekapkan tangannya seolah memprovokasi Theo.
__ADS_1
"Majulah Summoner."
"Sesuai keinginanmu."