
Arya memasuki kapsul dan menyebutkan ID nya.
[Selamat datang Player Theo]
Arya segera menuju Arena yang telah disiapkan untuk tes.
[Player Theo memasuki arena]
Ketika suara AI terdengar seisi gedung tampak kebingungan dan kaget.
"Hei kau dengar suara tadi menyebutkan Theo."
"Theo yang dimaksud juga seorang Summoner kan."
"Apakah pikiran kalian sama sepertiku."
"Jangan-jangan Arya adalah Theo si Summoner."
Suara hiruk pikuk terdengar membahas terkait kemunculan Arya tetapi Jaka tidak terima dengan itu.
"Kalian jangan bodoh mana mungkin Summoner miskin itu bisa menjadi Theo, kalian lihat item yang dikeluarkannya harganya puluhan juta mana mungkin orang miskin itu adalah dia."
"Benar juga perkataannya tidak mungkin dia adalah Theo yang itu."
"Mungkin dia hanya ingin meniru buat gaya-gayaan saja."
"Sudahlah kita lihat saja bagaimana dia mempermalukan dirinya sendiri."
Mereka semua kembali fokus ke layar pertandingan dan ingin melihat kekonyolan yang dilakukan Arya.
"Ehm kau menggunakan job Summoner bagaimana jika kau melawan Mage," saran gilang.
Theo menggelengkan kepalanya dan menunjuk Gilang sebagai lawannya.
"Apa?... Aku?"
"Aku ingin melawanmu senior," kata Theo mantap.
Terjadi keributan di dalam gedung melihat pilihan pertarungan Theo.
"Yang benar saja apa dia gila."
"Summoner melawan Swordsman Mau sekonyol apalagi dia."
"Ternyata benar dia hanya Summoner badut."
Terdengar hinaan dan Cacian seluruh gedung ditujukan kepada Theo.
"Apa kau yakin benar-benar menantangku," tanya Gilang memastikan lagi barangkali dia salah tunjuk tetapi melihat Theo mengangguk akhirnya Gilang memasuki arena.
[Pertandingan antara Smile melawan Theo dimulai]
"Summon"
Theo mengeluarkan goblin kesayangannya Gotcha yang muncul dengan kedua pedang terhunus.
"Hei bahkan Summonya pun disamakan."
"Iya sama-sama memakai goblin."
"Memang benar-benar gila dia."
__ADS_1
Saat Gilang menerjang segera Gotcha menghadangnya agar tidak mendekati Theo.
Tetapi Gilang memilih untuk manuver memutar menghindari Gotcha sayangnya si goblin dapat mengikutinya dan tetap menghadangnya.
Gilang berpikir untuk menuju Summoner itu tampaknya dia harus mengalahkan goblin kecil didepannya.
Dengan terpaksa gilang berusaha membunuh goblin itu dengan tebasan tajam dan cepat.
TINGGG
tetapi Gotcha dapat menangkisnya, Gilang merasa ada yang aneh kenapa goblin ini sangat cepat bahkan dapat menangkis serangannya lagi dan lagi.
Gilang yang melancarkan serangan bertubi-tubi dapat dihadang dengan sempurna oleh Gotcha membuat Gilang mulai kelelahan.
"Ada apa dengan goblin ini?" Keluhnya.
Melihat pertarungan dilayar monitor seisi gedung terdiam dan hanya membuka mulutnya lebar-lebar bahkan Jaka tidak dapat menutupi ekspresi terkejutnya.
"Lihat sekarang para idiot ini hanya bisa terdiam," komentar Boby bangga seolah-olah dia yang bertarung, Varia hanya cekikikan melihat seisi gedung.
"App-apaan goblin itu dia bahkan bisa mengimbangi kecepatan seorang Myrmidon."
"Jangan-jangan benar dia adalah Theo sang Summoner."
"Sudah kubilang itu memang dia."
"Kapan kau bilang begitu."
Orang-orang yang awalnya meragukan dan mengejek Theo berputar 180 derajat mulai mendukung dia.
Meskipun tidak secepat Lynna tetapi Gotcha setidaknya masih bisa mengimbangi kecepatan Gilang.
"Summon"
Disaat Gilang fokus dengan Gotcha, Gotu menembakan panah dari titik buta.
Meskipun Gilang dapat menghindarinya tetapi Fokusnya terbagi dua antara bertarung dengan Gotcha dan mewaspadai tembakan Gotu.
Jika seperti ini tinggal menunggu waktu sampai Gilang kelelahan sementara Theo hanya melipat tangannya tak bergerak dan hanya mengawasi.
Gilang mencari ide lain, sepertinya tidak akan selesai sebelum membunuh pemiliknya, dia memakai semua skill peningkat kecepatan.
"Adrenaline Rush"
Gilang membuat tubuhnya mengeluarkan cahaya merah yang cukup menyeramkan untuk meningkatkan kecepatan dan kekuatan sayangnya skill ini memiliki efek samping setelah waktu habis akan melemahkan kekuatan dan kecepatan pengguna sehingga bagaimanapun Gilang harus berhasil menghabisi Theo selama skill aktif.
Gilang bergerak dalam sekejab bagaikan angin, melewati Gotcha yang hendak menebasnya berikutnya menghindari Goblin besar yang menghalanginya dengan tamengnya, sehingga Gilang memilih menyerang dari samping dimana terlihat Theo tak bergerak melipat lengannya dalam keadaan lengah.
"Kena kau," ujar Gilang dengan percaya diri.
Saat Gilang berjarak dua meter dan akan menebaskan pedangnya kearah leher Theo sesuatu yang tidak disangka terjadi.
DUARRRR
sebuah ledakan menghancurkan Gilang seketika.
[Player Smile telah mati Player Theo pemenangnya]
"Hah? Apa yang terjadi?"
"Kenapa ada ledakan."
__ADS_1
Seisi gedung kebingungan apa yang terjadi, bagaimana mungkin ada ledakan didalam arena, padahal Terlihat dari awal Theo tidak bergerak sama sekali dan tidak menyiapkan apapun.
Semua orang bertanya-tanya apa yang terjadi tetapi yang paling bingung justru Gilang sendiri tidak tahu apa yang terjadi dan tiba-tiba mati.
Gilang mulai mengingat apa yang terjadi, dia mengeluarkan skill Buff melewati goblin dengan dua pedang menghindari goblin besar dengan tameng karena ada goblin pemanah sebelah kiri Theo sehingga Gilang memilih menyerang dari kanan, melihat pertahanan si Summoner kosong tanpa banyak pikir dia segera menyerang dan terjadi ledakan yang menewaskannya.
Semuanya sudah direncanakanya dari awal, Gilang hanya menari diatas telapak tangan Theo, monster besar bertameng itu bukan untuk bertahan tetapi menghalangi pandangannya saat si goblin pemanah memasang peledak.
"Sial!" seringainya.
Bukannya marah, Gilang malah makin bersemangat, orang gila mana dalam pertarungan satu lawan satu sempat memasang Mine Trap.
'Dia akan menjadi anggota tim...tidak dia harus menjadi anggota,' pikir Gilang.
Saat Arya keluar dari kapsul terdengar sorakan yang memuji-mujinya.
"Kau hebat sekali Arya."
"Kau mengalahkan seorang Swordsman bahkan tanpa bergerak sekalipun."
"Ternyata kau benar-benar Theo sang Summoner."
Arya tetap berjalan menghiraukan pujian mereka sama seperti saat dia menghiraukan hinaan mereka.
Dia berjalan dengan santai menuju Jaka saat mata mereka bertatapan Arya mengucapkan sepatah kata.
"Aku seorang Summoner."
Mendengar itu wajah Jaka memerah, dia tidak dapat membalas perkataan Arya sehingga hanya menatapnya dengan amarah.
Sepertinya provokasi Arya tidak berhasil sehingga dia memutuskan kembali ke temannya.
Saat Arya berjalan beberapa langkah terdengar teriakan dari belakang berasal dari Jaka sepertinya dia sudah mengumpulkan keberaniannya.
"Kau hanya beruntung," teriak Jaka.
Arya berhenti sejenak dan berbalik kearah sumber teriakan.
'Berhasil,' pikir Arya.
Arya kembali mendekati Jaka yang terlihat gemetar, dia tidak dapat menyembunyikan ketakutannya didepan Arya.
"Hmm...menurutmu aku hanya beruntung," kata Arya dingin.
"Be-benar kau hanya beruntung."
"Bagaimana jika kau membuktikannya apakah pertarunganku tadi hanya keberuntungan."
Mendengar tantangan Arya mulut Jaka mematung tidak berani bicara.
"Ya ampun ternyata kau hanya pengecut yang bisanya berteriak, job Holyblade sepertinya hanya pajangan."
Arya berusaha memprovokasi Jaka didepan semua orang dan teman-temannya.
'Akan kupancing dia sedikit lagi,' pikir Arya.
"Job Holyblade tidak cocok untukmu bagaimana jika kau menggantinya dengan Orator karena kau bertarung hanya dengan mulutmu."
Jaka sudah kehilangan kesabarannya dan akhirnya berani menantang Arya.
"Cu-cukup ayo kita bertarung satu lawan satu," tantang Jaka.
__ADS_1