
Tetua Zevlar mengangkat tangannya dan semua penduduk desa langsung terdiam.
Theo menyerahkan Aqualith kepada Tetua Zevlar dan tetua Zevlar menerimanya dengan khidmat.
Dengan kedua tangannya tetua Zevlar berjalan menuju patung dewi Isell dan meletakannya diatas telapak tangan patung tersebut.
Seketika sebuah cahaya terang menerangi desa dan air dikolam yang tadinya hanya sedikit sekarang meluap dengan kejernihan yang luar biasa, pohon pohon yang sebagian kering sekarang kembali tumbuh dengan lebat dan dipenuhi dengan buah-buahan yang belum pernah Theo lihat.
Theo dapat merasakan perbedaan desa tersebut sebelum dan sesudah adanya Aqualith, Theo juga mulai memperhatikan patung dewi Isell yang dipuja mereka terlihat kecantikan dari tubuhnya dengan sebuah selendang dan posisi tangan kanan memegang Aqualith seolah dewi Isell itu sendiri yang ada didepan Theo.
Setelah cukup lama bersuka ria Theo kembali keurusannya dan mendekati tetua Zevlar.
"Tetua..."
Belum sempat Theo menyelesaikan kata-katanya Tetua Zevlar menghentikan dengan tangannya.
"Aku tahu penyelamat sekarang ikuti aku."
Theo mengikuti tetua Zevlar menuju tempat pohon terbesar di desa Leafald, Theo memperhatikan pohon tersebut dan terlihat sebuah tanaman dengan bunga berwarna merah muda memancarkan cahaya sepertinya itu adalah Spring Orchid yang dicari oleh Theo.
"Silahkan ambil penyelamat."
Theo menoleh sebentar ke Zevlar merasa tidak enak takut terjadi sesuatu dengan desa Leafald.
"Apakah tidak apa-apa tetua?" Tanya Theo dengan agak khawatir.
"Jangan khawatir penyelamat desa ini sudah tidak membutuhkan tanaman itu lagipula dewi Isell akan senang jika memberikannya padamu orang yang telah menyalamatkan desa kami."
"Apa yang kau pikirkan anakku tanaman itu adalah hakmu," kata Omars dengan memegang pundak Theo.
Akhirnya Theo memantapkan hatinya dan memetik bunga itu, Theo memperhatikan sekitar tidak ada yang berubah dan memutuskan menyimpan didalam inventorynya .
Sebuah pemberitahuan muncul.
[Berhasil menyelesaikan misi membawa Aqualith mendapatkan Spring Orchid]
Setelah mendengar pemberitahuan Theo mengepalkan tangannya sedikit atas keberhasilannya.
Karena sudah tidak ada yang Theo perlukan disini, Ia ijin berpamitan untuk meninggalkan desa Leafald.
Kepergian Theo diantarkan hampir oleh seluruh penduduk desa.
"Terima kasih sudah menyelamatkan desa kami tuan pahlawan " ucap Zevlar dengan tulus.
"A-anakku sering-seringlah mampir ke desa ini," kata Omars dengan menangis sesenggukan, Theo seolah melihat karakter yang berbeda dari Omars yang dulunya pemarah menjadi penyayang.
"Sampai jumpa kak," salam Soran dan Theo menepuk pundaknya.
"Hei."
__ADS_1
Ada suara kasar yang memanggilnya, Theo menoleh terlihat 3 Warrior dari desa Leafald Elmar, Ruven dan Nathal.
"Kau...maksudku penyelamat terima kasih sudah menyelamatkan desa kami, aku tidak malu dikalahkan oleh manusia sepertimu."
Theo bingung apakah ini pujian atau ejekan.
"Aku anggap ini pujian lain kali kita akan bertanding kalian harus lebih kuat," kata Theo sambil memberikan jabatan tangan dan diwakili oleh Elmar.
"Tentu saja," mereka bertiga mengangguk dengan mantap.
Sesaat Theo akan pergi ada seorang Elf berlari sepertinya salah satu penjaga yang Theo kalahkan, dengan nafas tersengal-sengal penjaga itu sepertinya ingin menyampaikan hal yang penting.
"Ada apa penjaga?" tanya Zevlar.
"Tetua maafkan kami baru melaporkan sekarang karena yang lain sepertinya sangat sibuk."
"Sudahlah apa yang mau kau sampaikan," sergah Omars yang sifatnya sudah normal kembali.
"Begini Tetua, kami telah menangkap tiga penyusup dan sekarang sudah kami masukan kedalam penjara."
Theo penasaran dengan penyusup ini siapa tahu mereka adalah temannya dan apabila temannya, Theo tidak akan membiarkan mereka membusuk dipenjara Elf, tidak semua orang bisa meloloskan diri seperti dirinya dan Edmund.
"Tetua bolehkah aku ikut melihatnya," pinta Theo.
"Tentu saja penyelamat selama tidak merugikan desa engkau bisa melakukan segalanya didesa ini."
Theo bersama 3 Tetua menuju penjara yang dulu mengurungnya, ada tiga orang kemungkinan dugaan Theo benar.
"Kami tidak bersalah."
"Kami tidak sengaja bisa masuk kemari."
"Kalian!" Seru Theo.
"Theo!" Ujar Neck terkejut.
"To-tolong bantu kami keluar dari sini," tambahnya dengan suara gemetar.
Isana yang dari tadi duduk diam sekarang memperhatikan Theo.
Sepertinya mereka sudah melakukan segala cara seperti yang Ia lakukan dulu dan menjadi putus asa, Theo berniat membantu mereka keluar tetapi sepertinya dia punya ide yang lebih bagus.
Theo mulai berbicara dengan Zevlar dan terlihat dari ekspresi Zevlar setuju untuk melepaskan mereka dan Theo kembali menuju penjara.
Saat Theo datang kecuali Isana mereka berdua sangat penuh harap.
"Ehm...ehmm mereka akan membebaskan kalian dengan satu syarat."
"Syaratnya kalian harus melupakan tempat ini dan tidak boleh melawanku dalam keadaan apapun."
__ADS_1
Mereka kebingungan jika untuk syarat kedua tidak masalah tetapi untuk syarat pertama bagaimana cara mereka melupakan sementara dunia ini adalah sistem bukan sihir asli sepenuhnya.
"Apa."
"Hanya itu saja."
Neck dan Ezarr yang khawatir dengan persyaratannya sempat cemas tetapi setelah mendengar perkataan Theo mereka mulai tenang.
"Bagaimana denganmu Isana?" Tanya Theo dan kedua temannya menoleh kepadanya.
Isana yang sedari tadi hanya terdiam akhirnya membuka mulutnya.
"Syarat pertama tidak masalah tetapi syarat kedua Itu berarti aku tidak akan pernah bertarung melawanmu, aku belum mengembalikan hutangku padamu," katanya sambil menggosok lehernya, sepertinya itu adalah tebasan yang memenggal lehernya saat terakhir kali mereka bertarung.
"Jangan Khawatir aku akan memberikan kesempatan itu saat kita akan melakukan latih tanding."
Isana yang awalnya tidak setuju dan memilih untuk membusuk di penjara akhirnya menyetujui keinginan Theo.
"Baiklah aku setuju," jawabnya.
"Karena kalian sudah setuju, ikutilah kata-kata beliau."
Tetua Zevlar berada disamping Theo dan segera menggunakan skill Elf Vownya.
Theo berpikir betapa bergunanya skill ini nanti jika dia bisa mempelajarinya.
Setelah selesai melafalkan mantra dan party Isana mengikutinya mereka dibebaskan dari kurungannya dan Theo segera berpamit dengan membawa mereka.
"Baiklah Tetua dan yang lain kami segera pamit dari sini."
Theo segera keluar bersama Isana dan kawan-kawan.
"Terima kasih sudah membebaskan kami dan Theo kenapa kau meminta syarat itu," tanya Neck.
"Aku kasihan jika kalian terjebak disana karena aku sendiri pernah merasakan dan sebelumnya ada player bernama Edmund dia terjebak disana selama setahun setiap dia login pemandangan yang dilihatnya adalah penjara itu."
Mendengar penjelasan Theo mereka semua begidik tidak bisa membayangkan apa yang menimpa mereka jika tidak ada Theo.
"Lalu bagaimana dengan syarat kedua,"
"Aku hanya tidak ingin membuat masalah dengan kalian di masa depan terutama kau Isana, aku ingin kau bertarung disampingku sebagai rekan bukan sebagai lawan."
Isana yang mendengar itu hanya diam tetapi Neck sedikit melihat wajahnya memerah.
Setelah cukup jauh keluar dari Fairy Garden mereka berpisah dan Theo segera menuju rumah Dorcan untuk menyelesaikan questnya.
"Hei nak apa kau berhasil menyelesaikan questnya."
"Tentu saja tuan."
__ADS_1
"Hah?..apa!..."