Aku Seorang Summoner

Aku Seorang Summoner
Summoner Vs Swordsman


__ADS_3

"Lalu bagaimana jika kau kalah apa yang akan kau berikan kepadaku," ucap Theo dengan enteng.


"K-kenapa aku harus memberikan sesuatu kepadamu lagipula itu itemku."


"Ini itemku aku mendapatkannya dengan adil jika kau menginginkannya kau harus mempertaruhkan yang setara."


Mendengarnya Freedom semakin geram tetapi dia tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh Theo.


Fredom dan partynya berdiskusi apa yang harus mereka lakukan.


"Sudahlah ikuti saja permainannya."


"Bagaimana jika aku kalah aku akan kehilangan lebih banyak itemku,"protes Freedom.


"Jangan bilang kau takut dengan summoner itu."


"A-aku tidak takut."


Dan akhirnya mereka memutuskan untuk menantangnya.


"Baik aku akan melawanmu aku akan mempertaruhkan pelindung bahu ini."


"Item itu sungguh tidak layak."


"Lalu apa yang kau inginkan?"


"Biarkan aku melihat item dan skillmu."


"Kau gila itu sama saja menelanjangiku."


"Jika tidak mau kita batalkan saja."


Freedom yang semakin naik pitam tidak punya pilihan dan memperlihatkan status karakternya.


'Lihat saja akan kucincang dia,' batin Freedom.


Theo melihatnya dengan seksama dan memang dari item dan skill semuanya mahal, sayang dia tidak pernah melatihnya.


'Hanya orang kaya bodoh,' pikirnya.


Theo tertarik pada satu skill di pasaran harganya lumayan mahal dan cukup sulit didapatkan.


Syarat skillnya tidak melihat jobnya hanya dengan memiliki skill Triple Slash sudah bisa menggunakannya.


"Baiklah jika kau kalah berikan skill Wave Slash mu."


"Huh?...mau apa kau dengan skill itu."


Freedom kebingungan memikirkan apa yang akan dilakukan Summoner dengan skill Swordsman.


Menurut Freedom skill ini tidak terlalu berguna dan mustahil dia kalah dari summoner, tapi pedang itu sangat susah dicari dan digunakan untuk membuka suatu quest tidak semua orang memiliki pedang itu.


"Baik aku setuju."


Mereka memasukan ke system taruhan dan setelah itu terdapat dinding tak kasat mata.


Freedom yang sudah memegang erat gagang pedangnya bersiap untuk maju.


"Freedom hancurkan dia."


"Buat dia merasakan pahitnya kekalahan."


Party Freedom dari samping memberikan dukungan padanya.


"Akan kuselesaikan dengan cepat," ujar Freedom dengan percaya diri.


"Summon."


Theo hanya mengeluarkan beberapa summonnya yaitu Gort, tim Gowan dan tim Gotcha minus Gotcha.


"Ini saja sudah cukup untuk membungkamnya."

__ADS_1


Melihat summon Theo pendukung Freedom semakin tertawa menjadi-jadi, hanya tanker yang tidak tertawa setelah melihat perlengkapan Gort.


'Tamengku...'


"Lihatlah summonnya semuanya goblin haha..."


"Beraninya dia menantang Freedom."


Freedom yang melihatnya pun semakin meremehkannya.


"Job sampah dan summonnya juga sampah."


[Pertarungan dimulai]


Begitu terdengar aba-aba Freedom langsung melesat dengan cepat.


Theo tidak membiarkan begitu saja, panah berterbangan menyerangnya.


"Zigzag Step"


Freedom dengan cekatan menghindari dengan skillnya bisa bergerak zigzag dengan cepat.


Dan didepannya sudah ada Gort yang menyambut.


Freedom menebaskan pedangnya berkali-kali dan dapat dihadang dengan sempurna.


"Coba tahan yang ini."


"Thousand Slash"


Fredom menebaskan pedangnya lebih cepat dan Gort tidak dapat menahan semua serangannya.


"Bagaimana rasanya hah!" ejek Freedom.


"Rasa apa," jawab Theo dengan santai.


"First Aid"


"Aku tidak ada waktu menghadapi teri ini," kilah Freedom.


Freeedom menghindari Gort dan langsung menyerang Theo tetapi dihadang oleh Grass dan Gross.


"Brengsek!" umpatnya.


"Dan lihatlah kau sudah terkepung."


Freedom baru sadar kalau dia sudah terkepung sehingga mengeluarkan skill AoE nya.


"Wave..."


Belum sempat Freedom mengeluarkan skillnya dia sudah diserang dengan hantaman perisai.


"Shield Bash"


Sebuah perisai menghantam pipinya dengan keras membuat dia terguling guling kesamping.


"Tahan dia," perintah Theo kepada goblinnya.


Kedua tangan Freedom ditahan oleh Grass dan Gross membuatnya tidak bisa bergerak.


"Pengecut kau! hadapi aku sendiri," hardik Freedom dengan marah.


"Kau pikir jobku apa harus menghadapimu sendiri."


Theo menanggapinya masih dengan santai sementara Freedom gigi gerahamnya mulai bergemeratak.


"Kau tidak layak menjadi lawanku," Theo berkata dengan dingin sambil menodongkan crossbow ke kepala Freedom.


Seumur hidupnya belum pernah dia dipermalukan seperti ini dan musuhnya melihat dengan tatapan merendahkan.


"Mati!"

__ADS_1


Tembakan panah tertancap di kepalanya membuatnya mati seketika.


[Player Freedom telah kalah dalam pertaruhan]


Sebuah bola cahaya keluar dan menuju tangan Theo.


[Player Theo mendapatkan skill core Wave Slash]


Mereka semua tidak bisa bernafas melihat kejadian di depan matanya dan Freedom kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun.


"K-kau bajingan summoner aku tadi lengah," ucapnya dengan terbata-bata saking marahnya.


"Kenapa aku.... aku sudah bertarung dengan adil kan atau kau mau bertaruh lagi," kata Theo dingin.


Freedom dan partynya tidak mampu berkata-kata mendengar ucapan Theo.


Situasi hening ini membuat mereka tertunduk malu.


"Kau Kembalikan tamengku," kata Tanker setelah hening lama.


"Silahkan jika kau menginginkannya mari bertaruh dengan adil."


Kata-kata Theo membuat si Tanker mundur, Swordsman saja dihajar sepihak tanpa mengeluarkan keringat apalagi dirinya.


"K-kau kembalikan semua item ku atau akan kubunuh kau, akan kuincar kau terus menerus bunuh bunuh dan bunuh...."


"Jika sudah tidak ada keperluan lagi silahkan pergi aku sedang sibuk," potong Theo dengan santai.


Mereka tidak bisa membalas perkataan Theo sama sekali dan akan pergi dengan tertunduk.


Saat hendak pergi Theo memanggilnya lagi.


"Hei tuan Swordsman."


Freedom tidak menjawab dan hanya menunjukan seringainya.


"Maukah kuberi kesempatan satu kali lagi."


Freedom penasaran apa maksudnya dan hanya diam memperhatikan.


"Bagaimana jika kita bertarung satu lawan satu tanpa summonku."


Freedom dan anggota partynya tidak percaya dengan apa yang didengarnya, apakah dia serius bertarung sendiri tanpa monsternya.


"Kau tidak membohongiku kan?" tanya Freedom memastikan.


"Kenapa aku harus berbohong dengan sistem taruhan kita tidak akan bisa ingkar."


'Dia benar, si brengsek ini tidak akan bisa mengakali sistem,' pikir Freedom.


"Tapi syarat taruhannya adalah siapapun yang kalah akan menjadi budak yang menang," kata Theo dengan senyum hangat.


Bak tersambar petir, Freedom tidak percaya summoner ini mengatakan menjadi budak dengan begitu santainya.


Ketika player menjadi budak dia tidak akan memiliki kebebasan untuk bergerak sendiri, sama saja dengan mati.


Freedom tidak langsung menyetujui tantangan Theo tetapi memilih untuk berunding dengan partynya.


"Terima saja tantangannya," ucap si assasin.


"Enak kau mengatakannya tetapi jika kalah aku yang akan menjadi budaknya bukan kau," memikirkannya membuat Freedom begidik.


"Lihatlah dia hanya Summoner....dia bertarung tanpa monsternya apa yang kau takutkan."


Freedom berusaha berpikir jernih bagaimana mungkin summoner berani menantangnya satu lawan satu pasti ada yang tidak beres tapi dia tidak dapat menemukan apa itu.


"Kalau kau takut lupakan saja kata-kataku dan pergilah dengan kepengecutanmu," ujar Theo dengan senyum mengejek.


Theo berusaha memancing emosi Freedom dan tampaknya pancingannya berhasil.


"B-baiklah ayo kita lakukan memang apa yang bisa dilakukan summoner"

__ADS_1


"Wah-wah lihatlah si pemberani ini." Seringai Theo.


__ADS_2