
Melihat ibunya yang tampak tercengang, Anton menghela nafas panjang.
"Bu, kamu seharusnya tidak mengundang Nissa. Dia adalah sepupunya bibi kedua, kamu lihat dua orang itu, mereka sengaja mempersulit kakak ipar!"
Agnes: "Aku tidak pikir panjang dalam hal ini, aku hanya pikir keluarga Adiguna dan keluarga Sabyan sudah berteman sangat lama, jadi mengundang mereka datang adalah hal yang sangat wajar. Sekarang harus bagaimana?"
Melihat Cindy yang bersikap tenang, Anton mengerutkan alisnya. Tapi dia percaya, Cindy bukan orang yang bisa sembarang injak oleh siapa pun.
Meskipun Cindy tidak bisa mengurus hal ini, Rendy juga tidak akan duduk diam.
Berpikir sampai sini, Anton memutuskan untuk diam dulu.
Nissa memainkan lagu yang sangat sulit.
Ekspresinya waktu memainkan piano dikontrol sangat baik, dia tampak sangat fokus.
Di bawah ketukan jari Nissa yang kurus, keyboard piano yang berwarna hitam dan putih menghasilkan suara yang sangat enak di dengar.
Nada lagunya sangat sederhana dan kaya.
Terkadang lembut seperti matahari di musim dingin, terkadang kuat seperti laut yang menderu---
Lagunya terdengar sangat cerah, mengguncang hati dan jiwa orang.
Sudut bibir Cindy terangkat, senyuman yang tipis muncul di wajahnya. Dia mendengarkan lagu yang dimainkan Nissa dengan serius.
Tidak bisa tidak mengaku, Nissa benar-benar sangat berbakat dalam bermain piano.
Sementara Rendy terus memandang Cindy dengan tatapan yang penuh cinta kasih, mau seberapa menarik perhatiannya Nissa pun, Rendy sama sekalit idak meliriknya.
Lagu berakhir, Nissa berdiri dan mengucapkan terima kasih dengan senyuman tipis, kemudian disambut oleh tepuk tangan yang meriah.
"Bagus, benar-benar sangat enak di dengar"
"Nissa dipenuhi oleh aura gadis kaya. Diasuh dengan cermat sejak kecil benar-benar sangat berbeda!"
"Benar, Nissa itu bagai burung phoenix!"
Berkata sampai sini, tetua keluarga Adiguna pun melirik ke Cindy. Mereka tidak mengerti mengapa Rendy tidak mau burung phoenix seperti Nissa, tapi malah menyukai ayam kampung seperti Cindy.
Pandangan Rendy memilih wanita benar-benar sangat buruk.
"Nona cindy, kamu rasa bagaimana kemampuan Nissa?"
Bibi kedua bersuara lagi.
Begitu bersuara, kata-katanya menargetkan Cindy lagi.
Cindy berkata dengan terus terang: "Nona Sabyan sangat hebat. Seharusnya sudah terlatih sejak kecil?"
Nissa menjawab dengan senang, "Iya, sejak kecil aku mempelajari berbagai hal. Orang tuaku mengundang pelatih yang profesional untuk mengajari aku. Bagaimana kalau nona Cindy juga mainkan satu lagi? Biarkan telinga kami menikmati bakatmu!"
Suruh dia main piano?
Cindy menjawab tanpa ragu: "Aku tidak bisa main piano"
Setelah mendengar jawaban Cindy, Nissa sengaja memasang ekspresi kaget dan tidak bisa percaya.
"Nona Cindy, kenapa main piano saja kamu..."
Apakah tidak bisa main piano sangat memalukan?
__ADS_1
Cindy mengalami kesusahan sejak kecil. Dia melewati hari-hari di keluarga Amanda dengan tidak mudah. Kesempatan untuk mempelajari bakat benar-benar tidak ada.
Melihat para tetua yang mulai mencari kesalahannya lagi, Cindy langsung beraksi.
Dia meninggikan volume suaranya dan berkata: "Oh iya, aku merasa bersalah mendengar piano nona Sabyan begitu saja. Kalau tidak..."
Berkata sampai sini, Cindy berjalan ke sisi Rendy dan mengulurkan tangannya.
"Tuan adiguna , kita tidak boleh mendengarkan musik piano orang begitu saja. Nona Sabyan berusaha sangat keras tadi, seharusnya kita memberi dia sedikit uang sebagai penghargaan!"
Mendengar kata-kata Cindy, ekspresi Nissa pun berubah.
Memberi uang?
Cindy menganggap dia sebagai apa?
Pemusik yang datang memberi kesenangan?
Rendy mengeluarkan kartunya dengan kerja sama, namun dia menyimpan kembali kartunya lagi setelah meragu sejenak.
Rendy menoleh ke Anton dan berkata, "Uang di kartuku terlalu sedikit. Apakah kamu ada kartu yang saldonya 200 juta? Karena Cindy menyukai lagu tadi, beri dia 200 juta saja."
Beri dia 200 juta, Rendy mengatakan kata-kata itu dengan nada suara yang sangat tidak senang.
Cindy merendahkan dia dan Rendy juga ikut memperlakukannya seperti itu?
"Bang, 200 juta aku sih ada. Tapi, aku cukup kasih 100 juta saja"
Berkata sampai sini, Anton menoleh ke Nissa dan berkata, "Mari kita nego sebentar, kamu minta lebih dikit saja?"
Ekspresi Nissa langsung memucat. Dia mengepalkan jari-jarinya dengan erat, kukunya yang panjang menusuk ke dalam kulit tapi dia juga tidak merasa sakit.
Melihat anak gadisnya diperlakukan seperti itu, Agus pun berdiri dan menatap ke Hendy.
Bella yang diam saja dari tadi tidak bisa menahan diri dan ketawa.
"Berniat baik? Konyol"
"Kalau benaran berniat baik, seharusnya dia tahu diri. Pemeran utama hari ini adalah kakak ipar, dia menggunakan wajah yang tidak berniat baik itu sengaja mencari perhatian, merebut tepuk tangan. Dikasih uang masih tidak senang? Kalau tidak senang kamu duduk diam aja jangan bergerak, jangan mencuri perhatian!"
"Kamu, kenapa kamu berbicara seperti itu?!" Agus melihat ke Bella dengan marah.
Bella memasang wajah tidak peduli, kemudian menjawab dengan nada suara tidak lambat ataupun cepat.
"Aku memang begitu. Keluargaku mengajari aku harus bersikap jujur, tidak seperti keluarga kalian, tidak ada yang bisa memenangi tingkat tidak tahu malu kalian"
"Kamu... kamu... melihat wajah ayahmu, aku tidak akan memarahi kamu"
"Karena wajah ayahku, kamu ingin marah aku pun kamu tidak akan berani!"
"............."
Agus tidak tahu harus berkata apa, kemarahan membuat tubuhnya gemetar.
Tiba-tiba, darah menyerang jantung Agus dan dia duduk jatuh ke atas kursi.
"Ayah, ayah, kamu kenapa?"
Nissa panik total.
Semua orang juga ikut cemas.
__ADS_1
Anton melirik ke Bella, bergegas suruh Nissa antara Ayus ke rumah sakit.
Suara teriakan yang cemas membuat seluruh ruang tamu terasa sangat ramai.
Cindy berjalan ke sisi Agus, mau memeriksa denyut nadinya.
Nissa melarangnya dengan ketakutan: "Kamu mau buat apa?"
"Mau ayahmu selamat?"
"........"
Nissa tahu Cindy adalah dokter jenius Bermoth.
Tapi, kalau ayah diselamati olehnya...
"Kondisi ayahmu saat ini sangat darurat. Mau aku selamatkan dia atau tidak, lebih baiknya kamu membuat keputusan sekarang"
Di masa seperti ini, ada apa yang lebih penting daripada nyawa ayah?
Sepertinya perhatian yang Nissa sengaja mencuri tadi telah sia-sia, Tuhan memang berniat memberi perhatian tersebut kembali ke Cindy
Yang mencuri perhatian hari ini, ujung-ujungnya adalah Cindy juga.
"Mau, selamatkan ayahku"
Begitu Nissa memberi jawaban, cindy segera memeriksa nadi Agus, "Lepaskan atasannya"
Nissa bertingkah sesuai perintah Cindy.
Di tengah jangka waktu itu, Cindy meminta agnes untuk mengambilkan tiga jarum perak. Setelah disinfeksi, Cindy membidik titik akupunktur yang tepat dan menusuknya dengan gerakan terlatih.
Yang lain sibuk berbisik, tidak mengerti mengapa Cindy tahu cara akupunktur.
"Kalian tidak tahu kan? Kakak iparku adalah dokter jenius Bermoth yang terkenal"
"Dokter jenius Bermoth?"
"Tidak kenal? Coba google, dia sangat terkenal"
Ada beberapa dari mereka yang pernah mendengar tentang dokter jenius Bermoth.
Hanya saja, mereka tidak berani percaya Cindy adalah dokter jenius Bermoth.
Begitu mendengar kata-kata Anton, ada yang segera mengeluarkan ponselnya dan mencari informasi tentang dokter jenius Bermoth di google.
Melihat foto profil di google, melihat ke Cindy lagi. Mereka tidak percaya wanita ini adalah dokter jenius Bermoth yang terkenal itu.
Bahkan ada yang segera meragukan hal ini.
"Kalau dia memang memiliki keterampilan medis yang begitu hebat, kenapa tidak terus bekerja dan mengembangkan diri di industri medis?"
"Penasaran?" Anton melirik ke anak-anak yang sedang bermain di halaman.
"Karena dia ingin melahirkan beberapa anak lagi bersama abangku"
"Apa? Bukannya mereka sudah ada 4 anak?"
"4 anak termasuk apa? Mau bagaimanapun juga harus melahirkan 10 atau tidak 8 anak"
"..........."
__ADS_1
Apakah mereka mau melahirkan satu tim bola basket?
Pada saat itu juga, Anton sadar seorang wanita sedang menatapnya dengan tatapan yang penuh arti. Tiba-tiba dia sadar seharusnya tidak membahas hal ini.