
Bobby yang telah basah kuyup tanpa curiga, mengulurkan tangannya dan menyeka air dari wajahnya. Dia mengangkat kepalanya dan melihat seseorang yang menggunakan topeng, melompat dari dinding dan pergi dengan tergesa-gesa.
"Berhenti! Berani sekali isengin aku. Akan kukulitin kamu!"
Orang itu sudah tidak terlihat lagi setelah dia selesai berteriak.
Adrian berlari kemari dan melihat penampilannya yang menyedihkan dan bertanya, "Lihat mukanya gak?"
"Gak terlalu jelas karena dia pakai topeng. Kayaknya ada yang sengaja isengin kami. Kami mesti hati-hati. Aku pergi ganti baju dulu."
Bobby memasuki rumahnya dengan keadaan basah kuyup dan membuat Momo yang sedang keluar dari kamar tidurnya terkejut.
"Kamu jatuh ke dalam kolam,?"
Bobby menggelengkan kepalanya. "Gak. Mana mungkin aku jatuh ke dalam kolam. Ada yang isengin kami. Kepala Mimi barusan dipukul. Kamu mesti hati-hati juga."
Ada yang isengin mereka?
Mengapa?
Shella terkejut dan menatap keluar dengan pandangan tidak percaya. Melihat Bobby yang berjalan ke kamar mandi, lalu dia berjalan ke arah halaman.
Shelly dan Adrian sedang duduk dan bermain di kursi kayu juga tidak melihat kejanggalan apapun.
Dia terus berjalan ke halaman luar dan melihat sekitarnya.
"Hei, aku rasa Kenken itu tidak sengaja jatuh ke dalam kolam. Dia merasa malu makanya sembarangan omong."
Setelah selesai berbicara, dia berbalik arah ke halaman dan ada satu pot bubuk putih jatuh dari atas kepalanya.
Dalam sekejap sekujur tubuh Shella menjadi putih.
Apa yang sedang terjadi di sini?
Dia mengulurkan tangannya dan menyeka bubuk putih dari wajahnya, dan melihat sekelilingnya. Tetapi dia sama sekali tidak melihat satu bayangan orang pun.
"Siapa yang berani ganggu aku. Keluar!"
Ada keheningan di sekitarnya setelah dia berteriak.
Orang jahat itu larinya cepat banget!
Dia mengulurkan tangannya dan membersihkan bubuk putih di tubuhnya. Banyak banget. Gak bisa bersihin semuanya. Mendingan balik kamar dan ganti baju saja.
"Lihat, apaan itu, anjing putih kah?"
Shelly membuka matanya dengan lebar dan melihat Shella yang menundukkan kepalanya dan melangkah ke depan dengan tubuhnya yang penuh dengan bubuk putih. Dia bertanya kepada Adrian yang berada di sebelahnya.
Shella yang mendengar perkataannya, mengangkat kepalanya dan menatapnya, "Bukan anjing putih, tapi kakakmu!"
Adrian langsung berdiri, "Shella, apa yang terjadi padamu?"
"Ada yang isengin aku."
Adrian mengerutkan alisnya. Kenken basah kuyup. Shella berubah menjadi anjing putih yang menyedihkan. Kepala Shelly diserang oleh bola. Mungkinkah dia yang akan menjadi target berikutnya?
Sepertinya ada yang sedang mengawasi mereka.
__ADS_1
Orang itu harus ditangkap sesegera mungkin.
Bobby yang sudah mandi dan ganti pakaian baru, terkejut ketika melihat sekujur tubuh Shella yang menjadi putih.
"Apa yang terjadi padamu?"
"Sama seperti kamu. Diisengin."
Eh, ini adalah permainan yang sudah direncanakan untuk menganggu mereka.
"Sialan! Aku akan segera periksa siapa yang berani sekali menganggu kami!"
Setelah selesai berbicara, dia langsung berjalan keluar dengan marah. Tiba di halaman, dia menjadi terkejut lagi.
"Mami, ada apa denganmu?"
"Mami, kamu kenapa?"
Beberapa anak kecil tampak tercengang melihat Cindy yang baru kembali dari luar.
Tubuhnya penuh dengan air dan lumpur. Wajahnya juga sangat kotor dan terlihat sangat menyedihkan.
Cindy menghela napas, "Entah siapa yang dorong mami ke dalam kolam. Mami berusaha keras untuk manjat ke atas. Kalau saja airnya lebih dalam, bisa jadi nyawa Mami tidak terselamatkan."
Mereka bahkan menganggu Mami. Apa mereka berencana untuk menganggu mereka sekeluarga?
Sungguh kejam!
Bobby dan Adrian diam-diam mengepalkan tinjunya. Apabila mereka berhasil menangkap pelaku di balik semua ini, mereka akan menghajarnya sampai orang tuanya pun tidak dapat mengenalnya, dan setelah itu dia akan dilempar ke laut untuk menjadi santapan hiu.
Cindy berjalan masuk ke kamarnya. Bobby dan Adrian segera berdiskusi cara pembalasannya.
"Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?"
Adrian berpikir, "Kita pasti telah diawasi seseorang. Posisi kami tidak menguntungkan. Lebih baik pindah ke tempat yang lebih aman dulu supaya mereka gak ada kesempatan untuk bertindak."
Bobby mengangguk, "Kamu teringat pada tempat itu?"
"Tempat itu paling aman karena tidak ada yang berani masuk ke sana selain kakek itu."
"Benar. Sekalian beri tahu Mami juga nanti."
"Oke."
Setelah selesai berdiskusi, mereka menunggu Shella dan Cindy selesai mandi dan ganti pakaian baru dan memberi tahu mereka tentang ide ini.
Shella sangat setuju.
Cindy terkejut dan penasaran. Dimana tempat yang dibicarakan oleh empat anak ini?
Terlebih lagi, siapa kakek yang sedang mereka bicarakan?
Empat anak itu membawanya ke tempat tersebut dan Cindy melihat tempat itu dengan cermat. Ini adalah halaman kecil yang dirancang dengan teliti dan baik. Tempatnya sederhana namun terkesan elegan namun terlihat tidak cocok dengan rumah mewah ini.
"Mami, di dalam sini gak ada orang. Ayo masuk"
Cindy mengikuti empat anak itu masuk ke dalam ruangan. Desain ruangannya sama seperti dengan halamannya. Sederhana, elegan dan bersih.
__ADS_1
Dia tidak menyangka ada tempat seperti ini di rumah megah ini.
"Mami, duduk dan istirahatlah sebentar."
"Oke."
Cindy duduk di kursi kayu dan memandang sekelilinya. Entah kenapa tempat ini membuat dia merasa sangat nyaman. Seolah-olah dia pulang kembali ke rumahnya.
Dia merasa aneh karena telah memiliki perasaan seperti ini di tempat yang asing.
"Mami, ini apaan ya?"
Shelly melihat ornamen antik di sebelahnya dengan penasaran, dan mengulurkan tangannya untuk mengambilnya.
"Shelly, jangan sembarangan sentuh barang yang ada di sini."
Setelah itu, dia juga memberi tahu empat anaknya bahwa mereka tidak diperbolehkan untuk menyentuh apapun yang ada di sana.
"Kami tahu, Mami."
"Mami, kamu di sini dulu bersama Shellly dan Shella. Aku dan Adrian akan pergi cari tahu siapa yang sedang mengganggu kami."
Awalnya Cindy ingin mengikuti mereka juga, tetapi dia mengurungkan niatnya dan berpikir untuk melatih mereka lebih banyak lagi.
Dua anak cowok ini sangat pintar. Bagi mereka, masalah ini bukanlah hal yang sulit.
Dia dengan tenang berkata, "Kalian berdua harus hati-hati. HP pegang dengan baik. Ada apa-apa langsung kabarin Mami."
Dua bocah itu mengangguk dan berjalan keluar halaman.
Mereka berdua diam-diam mendekati kediaman dan ketika mereka melihatnya, mereka langsung mencari tempat persembunyian untuk bersembunyi.
Orang jahat mengawasi halaman rumah mereka, jadi mereka bersembunyi diam-diam untuk mengawasi orang jahatnya.
Dua anak itu terus menunggu. Setelah menunggu dalam waktu yang lama, mereka tidak melihat pergerakan apapun.
Bobby memegang perutnya yang berbunyi, "Lapar aku. Mau pergi makan dulu gak?"
"Gak boleh! Gampang ketahuan kalau bolak-balik terus. Kami harus berhasil." Wajah keren Adrian penuh dengan keseriusan.
Bobby hanya bisa menahan lapar dan berjongkok bersamanya.
Upaya mereka membuahkan hasil. Sepuluh menit kemudian, tiba-tiba ada dua pelayan yang mendekati halaman rumah mereka.
Ketika hampir mendekati halaman rumah, mereka melihat sekeliling mereka dan tidak menemukan siapa pun, jadi mereka segera mengeluarkan topeng dan memakainya.
"Sialan, orang yang menyiramku kemarin memakai topeng. Pasti orang itu adalah salah satu di antara mereka."
"Tangkap dan interogasi mereka dengan 'baik-baik'."
"Aku pergi nangkap. Sudah lama aku tidak latihan taekwondo, jadi pas banget ada mereka."
Bobby berdiri dan berjalan ke arah dua pelayan itu dengan cepat.
Dua pelayan itu diam-diam menyelinap masuk ke dalam halaman.
"Pasti anak-anak itu ketakutan gara-gara diisengin. Jadi pada sembunyi dirumah dan gak berani keluar."
__ADS_1