Anak Kembar Empat

Anak Kembar Empat
............


__ADS_3

Nyonya Ducal tercengang ketika Peter bertanya kepadanya.



Karena Marry mendengar perintahnya untuk mengirim orang untuk diam-diam memaksa Cindy dan keempat anaknya pergi dari sini.



Anak-anak itu pasti tahu sesuatu, makanya mereka menyerang balik seperti anak anjing.



Namun, dia tidak bisa memberitahu alasan sebenarnya kepada Peter.



Dia berpikir dan menjawab, "Pasti karena anak-anak itu sangat nakal dan tidak dididik, makanya mereka begitu berani lakukan ini."



"..."



Raut wajah Peter menjadi serius. Dia sama sekali tidak percaya dengan alasan ini.



Nyonya Ducal mengambil kesempatan untuk berargumen, "Kamu harus lakukan sesuatu untuk Marry. Dia adalah keponakanku dan memanggilmu paman. Bagaimana cara aku beritahu orang tuanya bahwa dia telah diganggu di sini? Tentu saja kamu tidak mau ada konflik antara keluarga kami karena hal ini kan?"



Ada maksud tersembunyi di balik perkataan Nyonya Ducal. Dia tidak akan segan untuk meminta keluarganya untuk mendukung Marry.



Tampaknya, Nyonya Ducal bersikeras untuk mendapatkan hasil.



"Aku akan beri kamu penjelasan mengenai ini. Kamu pulang dulu."



"Oke. Aku akan menunggumu."



Setelah selesai berbicara, Nyonya Ducal membalikkan badannya dan pergi dari sana.



Peter diam-diam berpikir dan menyuruh orang untuk membawa Cindy dan anak-anaknya ke sini. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.



Sesaat kemudian, pelayannya kembali dan melaporkan, "Tuan, mereka berada di halaman pribadi anda. Bahkan pengawal juga tidak berani masuk ke dalam."



Peter sedikit terkejut. Ternyata anak-anak ini cukup pintar untuk bersembunyi ke tempat yang siapapun tidak berani masuk.



Sepertinya, dia sendiri yang harus turun tangan.



Peter datang ke halaman kecil dan langsung masuk ke ruangan begitu melihat ada cahaya di dalamnya.



Kedatangannya yang begitu mendadak mengagetkan anak-anak itu.



Shelly mengedipkan mata besarnya, "Kakek, kamu kok ke sini?"



Akhirnya Cindy mengerti. Ternyata kakek yang terus dibicarakan oleh anak-anak adalah Peter.



"Jangan sembarang manggil dia adalah Peter Ducal." Cindy menolehkan kepalanya dan memandang Peter dengan hormat, "Mereka masih kecil, semoga anda tidak tersinggung."



Eh? Mami bilang orang ini adalah Peter Ducal?



Tidak disangka, dia adalah orang yang paling berkuasa di sini. Pantesan saja, ketika pertama kali bertemu dengannya, dia memberitahu bahwa dia adalah tuan rumah di sini.



Mereka mengira dia adalah tuan rumah halaman ini. Tetapi mereka tidak menyangka bahwa dialah tuan rumah di Kediaman Ducal.



Peter memandangi anak-anak yang terus menatapnya dengan mata mereka yang bulat, dan senyum yang hangat dan lembut pun muncul di wajahnya yang dingin.



"Tidak apa-apa. Aku merasa sangat dekat jika dipanggil begitu. Aku sangat menyukai mereka."


__ADS_1


Berarti kami bisa terus memanggilnya Kakek?



Bahkan Peter merasa dekat dan menyukai mereka?



Wow, anak-anak seketika merasa bahwa hubungan mereka dengan Peter menjadi semakin dekat lagi.



Shellh menatapnya dengan gembira dan tiba-tiba bertanya, "Kakek kan Tuan rumah, berarti bisa atur si nenek sihir dan Marry, si wanita jahat itu kah?"



Cindy tercengang. Dia segera mengulurkan tangannya dan menarik Shelly.



Mana boleh mereka memanggil istri Peter dengan panggilan nenek sihir di hadapannya.



"Shelly, jangan sembarang omong."



Shella melihat Ibunya yang sedang gugup, dan memberitahunya dengan nada rendah, "Mami... tidak apa-apa kok manggil nenek sihir. Sebelumnya kami juga memanggilnya seperti itu di hadapan Kakek."



Sebelumnya?



Cindy seketika merasa sakit kepala.



Apa yang telah anak-anak ini katakan di hadapan Peter?



"Tuan Ducal, kamu tidak perlu dengerin mereka. Mereka masih kecil jadi tidak mengerti apapun."



Sepertinya Peter sama sekali tidak keberatan dengan panggilan nenek sihir terhadap istrinya.



Dia memandang Cindy. Dibawah cahaya jingga yang hangat, wajahnya terlihat lembut dan cantik. Dengan senyum gugup terpancar di wajahnya, dia mirip sekali dengan Agata.



"Tidak apa-apa. Aku ke sini untuk cari tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara anak-anak ini dan Marry?"




Bobby melanjutkan, "Dia kirim orang untuk menyiramku dari atas dan membuatku basah kuyup. Dia juga minta orang untuk masukkin kami ke dalam karung. Tidak tahu apa yang akan dia lakukan pada kami."



Shelly juga mengeluh, "Dia, dia memukulku dengan bola. Sakit sekali."



Adrian terdiam. Tidak tahu apakah dia beruntung karena tidak diganggu atau dia berhasil menghindarinya.



Melihat Mami yang tidak mengucapkan sepatah katapun, dia berkata, "Mami didorong ke kolam oleh orang yang dia kirim. Mami tidak akan selamat jika airnya lebih dalam."



"Iya. Kami hanya balas dendam saja!"



"..."



Cindy tidak mengucapkan sepatah katapun dan tidak menghentikan anak-anaknya, karena apa yang mereka katakan adalah fakta.



Saat ini, dia ingin tahu apa yang akan Peter lakukan setelah mengetahui hal ini.



Raut wajah Peter menjadi cemberut dan tatapan matanya menjadi dingin.



Dia tidak menyangka Marry telah memperlakukan anak-anak seperti ini. Bahkan mendorong Cindy ke dalam kolam. Dia benar-benar kejam!



Istrinya juga menyakinkannya untuk memberi penjelasan kepada Marry. Menurut Peter, Marry memang pantas untuk menerimanya.



Ketika dia sedang merenung, Rendy dan Bimo berjalan ke halaman.

__ADS_1



Karena Bimk tidak menyadari bahwa Peter ada di sana, jadi dia berteriak sebelum masuk ke dalam ruangan, "Nyonya, nenek berbisa itu sudah pergi. Dia mungkin tidak akan beraksi lagi malam ini. Jadi kami bisa bawa anak-anak pintar ini kembali."



Peter menoleh dan memandang ke luar ruangan.



Nenek berbisa. Tentu saja ini sebutan untuk istrinya.



Namun panggilan nyonya ini untuk siapa?



Cindy?



Ketika dia sedang bertanya-tanya, dia melihat Rendy dan Bimo melangkah masuk.



Rendy merasa terkejut melihat Peter. Bahkan Bimo pun tercengang.



Setelah sekian lama tinggal di Kediaman Ducal, ini adalah pertama kali mereka berinteraksi dengan Peter dalam jarak yang begitu dekat. Sebelumnya, mereka hanya menatapnya dari jauh.



Barusan, karena Rendy khawatir akan terjadi konflik dengan Peter, maka dia sengaja melepaskan topengnya yang menakutkan itu agar identitas Roni tidak terungkap. Yang terlihat saat ini adalah wajah aslinya.



"Siapa mereka?" tanya Peter dengan penasaran.



Sebelumnya, demi menyembunyikan tujuan sebenarnya, Cindy mengikuti kata-kata Zenitsu untuk tetap tinggal di sini dan membuat kebohongan bahwa mereka saling mencintai.



Jika dia memberitahu identitas asli Rendy kepada Peter, maka alasan yang dia pakai sebelumnya akan menjadi tidak valid.



Bahkan Peter mungkin akan curiga bahwa dia mendekati Zenitsu karena memiliki maksud tersembunyi, dan akan memeriksa mereka.



Dengan ragu-ragu dia menjawab, "Mereka adalah pengawalku."



Pengawal?



Mata tajam Peter yang seolah-olah bisa melihat apapun, menatap Rendu.



Aura bangsawan yang dipancarkan oleh orang ini bukanlah sesuatu yang bisa dimiliki oleh seorang pengawal.



"Pengawal?"



Peter menatap Cindy dengan senyumnya yang bermakna. Dia merasa ada yang janggal dengan panggilan nyonya dan identitas pengawal ini.



Cindy tidak tahu mengapa Peter tersenyum, jadi dia juga ikut tersenyum.



Rendy merasa tidak nyaman melihat kedua orang ini saling bertatapan dan tersenyum.



Sepertinya Cindy sedang berusaha untuk menyenangkan pria ini.



Rendy meremas jarinya. Dia menatap Cindy dan bertanya dengan nada dingin, "Aku adalah pengawalmu?"



Cindy mengencangkan hatinya. Pengawal adalah jawaban yang paling aman.



Akan sangat merepotkan jika aku mengatakan bahwa kamu adalah ayah dari anak-anakku dan pria yang aku cintai.



Demi menyelesaikan masalah ini, dia mengangguk dan mengedipkan matanya, "Iya, kamu adalah pengawalku."



"..."

__ADS_1



Rendy diam-diam menggertakkan giginya. Wanita ini benar-benar tidak mengakuinya. Apakah dia merasa malu untuk mengakui bahwa dia adalah suaminya? Atau, dia ada pemikiran lain?


__ADS_2