
Cindy mendorongnya menjauh saat dia melihat jelas wajah Roni.
Sebuah suara di dalam hati mengingatkannya bahwa ini bukan Dia, bukan dia, bukan dia ……
Dia menenangkan diri dan meminta Roni untuk kembali beristirahat.
Roni mengangguk. Ketika Roni berjalan keluar dari ruang kerja, dia melihat kembali ke Cindy yang masih panik, tatapannya yang dalam penuh dengan kegelisahan.
Berbalik, mengepalkan jarinya dan pergi selangkah demi selangkah.
Cindy menenangkan diri untuk sementara waktu, kemudian berjalan kembali ke kamar tidur dengan ekspresi datar.
Keesokan harinya.
Dia baru saja tiba di Perusahaan Amanda, Zenitsu datang untuk mencarinya lagi.
Cindy sangat terkejut. Dia sudah mengatakannya dengan sangat jelas kemarin. Zenitsu datang lagi hari ini buat apa?
"dia bilang dia tidak akan pergi jika dia tidak bertemu denganmu."
Kepribadian Zenitsu yang keras kepala, Cindy sudah mengalaminya kemarin.
Jadi, jangan habiskan waktu dengannya, lebih baik memperjelas segalanya saja.
"Biarkan dia masuk."
Zenitsu berjalan ke kantor dengan senyum halus di wajahnya, "Pagi."
"Kenapa kamu datang lagi? Bukankah aku sudah menjelaskannya kemarin?"
Zenitsu tersenyum, "Memang sudah jelas, jadi perasaanku padamu juga semakin jelas."
"……"
Raut muka Cindy sangat datar dan suram.
Apa maksudnya?
Zenitsu memandang ekspresi Cindy yang heran, jadi dia mengambil inisiatif untuk menjelaskan, "Aku awalnya mengira semua wanita di dunia ini menyukai keangkuhan dan akan mengambil inisiatif untuk merayu aku karena status dan identitasku, tetapi aku tidak berpikir demikian sekarang, karena kamu bukan wanita seperti itu."
" …… " Tatapan Cindy penuh dengan ketidakjelasan.
Zenitsu menatapnya dengan penuh kasih sayang, "Aku benar-benar sangat menyukaimu, beri aku satu kesempatan."
"……"
Sialan, kemarin juga begini.
Dia datang lagi hari ini, terus menjeratnya tanpa lelah, mengapa?
"Pasti ada banyak wanita terkenal yang cocok denganmu di luar. Aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa kamu terus menjerati aku yang sudah memiliki 4 anak?"
"Karena cinta."
“Tidak, kamu pasti punya alasan lain.” Cindy memandangnya dengan pasti.
Sentuhan ketegangan muncul di wajah Zenitsu, lalu tersenyum halus, "Apakah kamu ingin tahu alasannya?"
"Katakan."
__ADS_1
"Alasannya terkait dengan keluargaMu. Aku hanya bisa memberitahumu jika kamu menikah denganku."
"……"
Apakah ini rahasia keluarga Ku?
Sialan, apakah akan ada malapetaka yang tejadi setelah mengetahui alasannya.
Lupakan saja, Cindy tidak ingin tahu alasannya lagi.
"Kamu pergi saja, aku tidak ingin tahu dan aku tidak akan menikah denganmu."
"Cindy, aku akan membuat kamu terharu dengan ketulusanku dan membuatmu mau menikah denganku."
Zenitsu menatapnya dengan penuh kasih sayang, seolah-olah dia pasti akan menang.
Cindy ingin membujuk Zenitsu untuk menyerah saja, tetapi sebelum dia bisa berbicara, Zenitsu sudah berbalik dan pergi.
Ia melihat ke pintu kantor yang tertutup dan menghela nafas.
Roni yang ada di rumah terus membawa bayangan Rendy di depannya dari waktu ke waktu, menyebabkan dia disiksa oleh kerinduan.
Ada lagi Zenitsu yang terus menjeratinya, tidak tahu tujuannya apa.
Kekacauan perusahaan juga membuatnya hancur, hari-hari yang menggemparkan ini benar-benar membuat hatinya hancur.
Sangat ingin minum bir, mabuk dan menghilangkan kesedihan.
Lupakan semua ini untuk sementara.
Memikirkan hal ini, Cindy dengan canggung mengambil ponsel dan menelepon Bella.
"Pergi mana untuk bersantai?"
"Bar."
Bella menebak bahwa Dia pasti sedang dalam suasana hati yang buruk. Sejak kematian Rendy, dia telah menanggung banyak hal sendirian dan inilah saatnya bagi dia untuk melampiaskan semua kesedihan di hatinya dan bersantai-santai. Jadi dia setuju dengan senang hati.
"Oke, sampai jumpa malam ini."
Setelah pulang kerja,Cindy berpamitan dengan empat anaknya dan pergi ke bar dengan senang hati.
Bella melambai padanya dengan penuh semangat.
"Kakak ipar, di sini."
Cindy berjalan ke arahnya. Mereka berdua memulai dengan buka anggur dan mengobrol sambil minum.
Di tengah percakapan, Bella menatap Cindy dengan heran, "Kamu, kamu bilang Zenitsu agak aneh?"
"Ya, sangat aneh, kalau tidak mengapa dia ingin membuang-buang waktu untukku?"
"……" Bella berpikir dengan diam.
"Lupakan saja, jangan bicarakan dia, ayo minum lagi."
"……"
Ketika mereka sedang minum dengan bergairah, lengan Bella tiba-tiba ditarik ke atas bahu seseorang.
__ADS_1
"Siapa yang tidak punya mata yang berani menyinggung aku, cari mati saja!"
"Wedhus Gembel, apakah kamu masih punya tujuan jika kamu terus minum?"
Bella menoleh dan melihat bahwa itu adalah Anton, dia tertegun. Mengulurkan tangan dan meraih telinga Anton.
"Oke, kamu berani datang ke tempat pesta seperti ini lagi dan tertangkap olehku!"
"Sialan, Wedhus Gembel, bukankah kamu sedang menjungkar balik keadaan? Jelas-jelas aku yang telah menangkapmu!"
“Tangkap aku?” Bella sudah agak mabuk, kemudian menunjuk ke Cindy di sebelahnya dengan linglung, "Dia perempuan, aku minum dengan perempuan. Sesama jenis, jadi tidak apa-apa."
Saat Anton melihat Bella dengan bodoh menunjuk Cindy, dia memukul tangannya, "Itu kakak ipar, jangan asal tunjuk."
Bella berpikir sejenak, "Ya, ya, tidak, tidak, aku di sini untuk minum dengan kakak ipar. Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu datang untuk mencari wanita?"
"Tidak, tidak, aku di sini untuk mencari pria."
Tatapan Bella terhadap Anton seperti sedang menatap orang cabul, "Kamu, kamu suka pria? Kamu, kamu ……"
"Tidak, aku menemukan bahwa direktur yang telah berbuat buruk kepadaku di perusahaan datang ke sini untuk bersenang-senang, jadi aku datang ke sini untuk mengambil foto."
"Foto?"
"Ya, setelah mengambil foto, aku akan kembali dan mengeditnya, menempatkan mereka pada pencarian panas untuk membuat mereka didiskreditkan. Dengan cara ini, aku punya alasan untuk membiarkan mereka meninggalkan posisi semula tanpa mempengaruhi kepentingan perusahaan, jadi mereka tidak bisa lagi menunjukkan jari ke arahku. Wedhus Gembel, Apakah kamu merasa aku sangat pintar?"
Bella meliriknya dengan jijik, "Bertindak dengan cara seperti itu, kamu benar-benar tidak cocok untuk mengelola perusahaan."
"Aiyo, sepertinya kamu benar-benar mabuk dan mengatakan yang sebenarnya."
"Aku tidak mabuk, aku masih bisa minum, minum, minum ……"
"Sudah, sudah, aku akan membawa kalian pulang dulu."
Anton awalnya ingin mencari orang untuk membawa mereka pulang, tetapi dia merasa tidak aman. Jadi dia memutuskan untuk membawa Cindy kembali ke Villa Royal Garden dan kemudian membawa Bella kembali ke rumah keluarga Indrajaya.
Villa Royal Garden.
Anton meminta pengurus rumah untuk mengirim beberapa pelayan untuk memapah Cindy masuk dan segera kembali ke mobil untuk mengurus Bella.
Kaki Cindy sedikit tidak bertenaga, tetapi dia masih bergumam dengan enggan, "Aku tidak mabuk, jangan pegang aku, aku tidak minum banyak ……"
Roni yang sedang memangkas tanaman pot di ruang tamu, melihat Cindy kembali setelah minum seperti ini, tatapannya tenggelam ke titik ekstrim.
Tiga jam yang lalu, Cindy menelepon empat anaknya untuk pamit, mengatakan bahwa dia akan pergi bersantai, tetapi tidak sangka bersantai yang dia maksud adalah pergi berfoya-foya.
Tidak tahu minum dengan siapa, berani minum sampai seperti ini.
Pelayan itu memapahnya ke kamar tidur, merapikan tempat tidurnya, membantunya baring di tempat tidur, melepas sepatunya dan menutupi selimutnya.
Cindu yang pusing dan mabuk sedang berbaring di tempat tidur, tiba-tiba menyebut nama di mulutnya.
"Rendy, Rendy ……"
Tampaknya terus memanggil. Setelah beberapa saat, tidak ada gerakan lagi.
Pelayan mengira Cindy sudah tertidur, mereka saling mengedipkan mata dan pergi dengan diam-diam.
"Ketika nyonya memanggil nama Presdir Adiguna barusan, aku melihat dia meneteskan air mata."
__ADS_1